Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 45


__ADS_3

Yana mengerjapkan kedua matanya, melihat di sampingnya sudah tidak ada suaminya. Yana sudah menduga, jika suaminya saat ini sudah pergi bekerja.


Yana duduk di tepi kasur, Karena pertempuran dengan suaminya semalam membuatnya kelelahan.


Yana perlahan berjalan menuju kamar mandi, ia membersihkan diri terlebih dahulu.


Saat membuka pintu kamar mandi, karena selesai membersihkan diri. Yana sedikit terkejut karena melihat sang suami ternyata belum berangkat ke kantor, masih dengan pakaian santainya.


“Pagi Sayang,” sapa Damar memperlihatkan senyumnya pada sang istri.


“Pagi,” sahut Yana dengan wajah datarnya.


“Masih marah?” tanya Damar memeluk istrinya dari belakang, sesekali dirinya mengecup punggung polos istrinya yang putih mulus itu.


Yana menggelengkan kepalanya, Yana membiarkan suaminya untuk memeluknya.


“Apakah dia sudah tumbuh di dalam sana?” tanya Damar.


Sebelumnya dirinya dan Yana ingin menambah satu anak lagi, agar menjadi genap empat orang. Tapi, Damar tidak memaksakan kehendaknya, jika istrinya tidak bersedia.


Yana terdiam sejenak, ia juga belum mengetahui apakah dirinya sudah hamil atau belum. Karena dalam sebulan ini dirinya belum juga datang bulan.


“Bersiap dan berdandan lah yang cantik, aku akan membawamu bertemu dengan Ayah,” ujar Damar perlahan melepaskan dekapannya.


Walaupun dirinya belum yakin, jika ayah menerima kedatangan istrinya tersebut.


Yana menatap suaminya sejenak.


“Serius?” tanya Yana masih belum percaya.


“Iya. Jangan menggodaku pagi-pagi begini, jika tidak kamu akan menanggung akibatnya.”


Mendengar ucapan suaminya itu, dengan cepat Yana mengenakan pakaiannya.


Setelah selesai, Yana sarapan bersama suaminya. Damar yang begitu perhatian, tak membiarkan istrinya makan dengan tangannya sendiri.


“Aku bisa sendiri, Mas.”


“Cepat makanlah, jangan banyak bicara!” Yana hanya bisa menuruti apa yang di ucapkan oleh suaminya.


“Mas,” panggil Yana.


“Hm ...” deham Damar sembari makan.


“Apa kamu yakin kita akan ke rumah Ayah?” tanya Yana.


Sebenarnya dirinya juga ragu, bukan karena takut. Namun, terlalu mendadak, Yana masih belum mempersiapkan dirinya.


“Bukankah semalam kamu mengatakannya padaku, jika kita akan bersama menghadapinya. Kalau tidak sekarang, kapan lagi,” sahutnya.


Yana mengangguk pelan.


“Sebentar,” ujarnya karena mendengar suara ponsel miliknya berdering.


Saat suaminya tengah berbincang dengan benda pipihnya tersebut, Yana kembali melanjutkan sarapannya.


Ia juga tak lupa mengirim pesan kepada tiga putranya yang berada di tanah air, sebenarnya ia tak tega meninggalkan mereka. Tapi demi rumah tangganya dan kebaikan mereka juga Yana terpaksa meninggalkan mereka.


“Siapa?” tanya Yana ketika melihat suaminya selesai berbicara.


“Dari kantor, sepertinya ke rumah Ayah kita tunda dulu. Ada pekerjaan mendadak dan aku akan kembali malam hari.”


Cup ... cup ... damar memberi kecupan di seluruh wajah istrinya, lalu mencari pakaiannya untuk di pakai ke kantor.


Yana beranjak dari duduknya untuk membantu sang suami memilih pakaiannya.


Damar kembali memeluk istrinya dari belakang, tak henti-hentinya mengecup pipi istrinya sejak tadi.


“Jangan pernah keluar dari apartemen ini kalau tidak bersamaku atau Alex, oke. Kamu baru pertama kali datang kemari, aku takut terjadi sesuatu padamu. Kamu dengarkan, Sayang?!” ucap Damar lembut di telinga istrinya.


“Iya,” sahut Yana setelah berhasil menemukan pakaian yang cocok untuk suaminya.


Damar langsung melepaskan pakaiannya, tanpa malu di depan istrinya.


Yana mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena masih malu dengan suaminya tersebut.

__ADS_1


“Kenapa kamu mengalihkan pandangan, apa kamu masih malu dengan suamimu ini?” goda Damar.


Yana hanya terdiam.


“Semalam kamu yang paling menikmatinya, kenapa harus malu?”


“Banyak bicara,” kesal Yana karena malu harus membahas pertempuran mereka semalam.


“Hahaha ... padahal kita sudah hampir tiga bulan menikah, kenapa kamu masih malu?” ucap Damar tertawa lepas.


Setelah puas menggoda istrinya, Damar menarik istrinya ke dalam pelukannya lalu kembali mengecup seluruh wajah istrinya sejak tadi dirinya tak henti-henti mengecup wajah sang istri.


“Kemarin bersikeras memintaku untuk pulang! Sekarang seakan enggan untuk berpisah denganku padahal hanya ke kantor!” protes Yana.


“Itu beda lagi. Sudah jangan di bahas, habiskan sarapanmu.”


Mengecup bibir istrinya cukup lama disana.


“Iya,” sahut Yana singkat.


Setelah itu Yana mengantar suaminya ke depan pintu.


“Aku jalan dulu, di rumah ada Alex dan Bibi bersamamu.”


Yana kembali mengangguk.


Setelah suaminya tak terlihat lagi, Yana kembali masuk ke dalam kamar miliknya.


Hingga siang hari Yana sangat bosan hanya berdiam di dalam kamar, satu jam lalu ia baru saja selesai menghubungi ketiga putranya. Namun, saat ini dirinya kembali bosan.


“Apa yang harus aku kerjakan saat ini?” tanyanya dalam hati.


Timbul di benaknya, ingin datang ke rumah ayah mertuanya. Hanya ingin bersilahturahmi saja pikirnya tanpa ia tahu jika sangat berbahaya baginya.


Namun, seketika ia teringat ucapan suaminya jika dirinya tidak di perbolehkan oleh suaminya untuk keluar tanpa dirinya.


“Tapi, aku bisa membawa Alex bersamaku. Mas Damar melarangku jika aku pergi sendirian,” gumamnya lagi tampak sumringah.


Yana kembali bersiap mengenakan pakaian yang pantas lalu memberi polesan di wajahnya agar tetap segar.


“Alex,” panggil Yana saat keluar dari kamarnya.


“Ikut bersamaku,” ujar Yana.


“Kemana, Nyonya? Bukankah Tuan melarang anda untuk keluar tanpa dirinya?” Alex mencoba mengingatkan Yana.


“Iya, itu jika tanpa dirimu juga. Makanya aku mengajak dirimu, cepatlah.”


“Apa sudah meminta izin pada Tuan?” tanya Alex lagi, karena sebenarnya dirinya juga takut jika keluar tanpa izin Damar apalagi membawa Yana istrinya.


“Aku sudah menghubunginya, tapi tidak di angkat. Jadi, aku hanya mengirim pesan saja.”


“Cepatlah! Apalagi yang kamu pikirkan?” seru Yana melihat Alex masih mematung.


Alex mengangguk, lalu mengikuti langkah Yana.


Alex memakai mobil milik Damar yang terparkir rapi di parkiran apartemen, Yana meminta Damar membawanya ke mall ingin membelikan sesuatu untuk ayah mertuanya tersebut.


Karena Yana tahu, jika ayah mertuanya itu sangat kaya. Jadi tidak mungkin membelikan barang yang murah untuk buah tangan mereka.


Setibanya di mall, Yana tampak kebingungan karena mall tersebut cukup besar dan ini juga pertama kalinya untuk dirinya.


“Alex, bantu aku untuk mencarikan pakaian yang cocok untuk Ayah mertuaku. Kamu pasti pernah melihat Ayah mertuaku, bukan?” tanya Yana.


Alex mengangguk.


Yana mengikuti arah belakang Alex, namun Yana tidak sengaja menabrak seorang pria tua karena terlalu fokus dengan ponsel miliknya.


Bruak!


Barang yang di bawa pria itu terjatuh ke lantai, refleks Yana langsung membantu untuk mengambil barang terjatuh tersebut.


“Maaf, Tuan. Aku tidak sengaja, apa Tuan baik-baik saja?” tanya Yana dalam bahasa Inggris.


“Iya, aku baik-baik saja. Terima kasih,” ujar pria itu langsung berlalu pergi setelah mengambil barang tersebut dari tangan Yana.

__ADS_1


Alex langsung menarik tangan Yana agar cepat bersembunyi.


“Alex, kamu jangan kurang ajar! Kenapa kamu menarikku?!” geram Yana menatap tajam Alex.


Alex langsung membungkam mulut Yana dengan tangannya dan menahan tubuhnya agar tetap bersembunyi.


Yana yang ketakutan, langsung terdiam.


Ketika semua sudah aman, Alex tampak menghela napas lega.


“Maaf, Nyonya. Aku tidak bermaksud kurang ajar,” ujarnya.


“Ada apasih? Kenapa kamu menarikku seperti tadi? Apa yang mengintai kita?” tanya Yana penasaran.


“Iya,” sahut Alex singkat, sehingga membuat Yana semakin penasaran.


“Apa Nyonya masih mau melanjutkan belanjanya atau kita pulang saja?” tanya Alex karena menurutinya saat ini mereka sedang dalam bahaya.


Yana mengangguk.


Mereka kembali melangkah, Alex juga membantu Yana untuk memilih pakaian yang cocok untuk Ayah mertua Yana.


Begitulah perempuan, Yana tidak puas jika tidak membelikan banyak barang. Contohnya saat ini, ia membelikan pakaian yang cukup banyak untuk ketiga putranya.


“Alex, sepertinya ini sudah cukup banyak. Ayo kita ke kasir,” ucapnya.


Bagaikan kerbau di cucuk hidungnya, Alex mengangguk menuruti perintah Yana.


Setelah selesai melakukan pembayaran, Alex membawa barang milik Yana ke dalam mobil.


“Alex, aku ingin ke rumah Ayah mertuaku. Kamu pasti mengetahui alamatnya, bukan?” tanya Yana.


Alex membulatkan matanya sedikit terkejut dengan keinginan Yana yang ingin bertemu dengan ayah mertuanya itu.


“Nyonya serius? Apa sebaiknya Nyonya menghubungi Tuan terlebih dahulu? Ini cukup bahaya jika Nyonya datang sendirian tanpa di temani oleh Tuan.” Alex berusaha agar Yana tidak pergi kesana sendirian, mereka pasti akan terkejut karena sebelumnya mereka pernah bertemu tanpa menyadari satu sama lain.


“Mas Damar sangat sibuk, hingga sekarang Suamiku itu belum membalas pesanku. Aku percaya padamu, jika kamu pasti akan menjagaku dari bahaya.”


Alex menghela napas berat.


“Nyonya, aku tidak ingin mengambil risiko. Dalam situasi tegang saat ini, sebaiknya Nyonya menunggu Tuan Damar saja.”


“Alex, kalau tidak sekarang kapan lagi. Percayalah padaku,” sahut Yana yang bersikeras ingin bertemu dengan ayah mertuanya itu.


“Baiklah, jika itu kemauan Nyonya. Tapi ....” Alex menggantungkan ucapannya.


“Tapi apa? Kamu jangan menqkutiku, Alex! Aku ingin rumah tanggaku baik-baik saja dan keinginan terbesarku adalah mendamaikan anak dan Ayah itu. Seharusnya kamu mendukungku!” seru Yana.


Alex menutup matanya sejenak, ia bingung dalam kondisi saat ini.


“Baiklah, Nyonya. Jika tidak mendapatkan respon yang baik dari Tuan besar, saya berharap Nyonya mengerti dan segera pergi dari rumah itu.”


Yana mengangguk, hening sejenak.


“Apa Ayah mertuaku segalak itu? Kenapa kalian sepertinya sangat takut?!” tanya Yana penasaran.


“Bukan galak, tapi lebih ke kejam dan arogan Nyonya. Jika tidak sesuai kehendaknya, ia bisa melakukan apa saja.”


Yana menelan salivanya dengan kasar.


“Apa kita lanjut atau kita pulang ke apartemen saja?” tanya Alex karena melihat raut wajah Yana yang berubah.


“Tidak! Kita tetap lanjut, aku tidak pantang menyerah. Alex, bukankah Ayah mertuaku sudah cukup tua?” tanya Yana lagi.


“Usianya memang sudah tua, tapi beliau sangat tegas. Yaitu, yang aku bilang sebelumnya hingga di takuti oleh siapa saja.”


Yana mulai mengangguk mengerti, di dalam mobil kembali hening.


30 menit kemudian, mobil mereka tiba di depan pagar rumah milik ayah mertuanya.


Yana menelan salivanya dengan kasar, karena melihat rumah besar yang sangat megah tersebut.


“Nyonya, apakah anda yakin untuk masuk ke dalam?” tanya Alex lagi.


“Hah, iya. Harus yakin,” sahutnya berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Walaupun ia tahu risiko yang ia hadapi setelah datang ke rumah ayah mertuanya tanpa sepengetahuan suaminya tersebut.


***


__ADS_2