
“Papa tak habis pikir, apalagi yang kamu lakukan, Dian! Kamu terus menerus melakukan hal seperti ini!” bentak papanya.
“Dimana otakmu?!”
Plak!
Tamparan itu kembali lagi mendarat.
Karena mendengar keributan di luar, istrinya langsung ke luar.
“Jawab! Apa kamu tidak memikirkan orang tuamu yang sudah tua ini?!” geram papanya.
“Pah, dengarkan dulu penjelasan Dian. Belum tentu benar, jika anak yang di kandung oleh wanita itu adalah darah dagingku!” jawab Dian.
“Heh, kamu jangan sembarang menuduh. Kamu sengaja menjebakku bukan?!” Dian menatap wanita itu dengan tajam.
“Dian, kamu sudah tidur denganku, lalu kamu menuduh anak ini bukan darah dagingmu! Pria macam apa kamu ini?! Hiks ...” seru wanita tersebut sembari mengeluarkan isak tangisnya.
Dian kembali melihat sang Papa yang tengah menatapnya dengan tajam.
“Aku sudah muak dengan kelakuanmu! Aku tidak mau lagi melihat wajahmu di rumah ini!” menunjuk wajah Dian.
“Pah, dia anak kita Pah!” istrinya berusaha membujuk suaminya, agar tidak mengusir Dian.
“Diam kau! Ini semua juga karena dirimu! Akibat terlalu memanjakan dia!” bentaknya.
Ia berlalu pergi, sebelum pergi ia menatap sejenak wanita yang ada di hadapannya tersebut yang masih terisak.
“Dian, aku tidak mau tahu. Kamu harus bertanggung jawab, bagaimana kalau orang tuaku mengetahui ini? Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus segera menikah denganku!”
“Kamu sudah gila!”
Karena mereka berada di teras rumah, takut jika ada orang yang mendengar perdebatan mereka di teras Dian langsung menarik tangan wanita tersebut dengan kasar.
“Dengar baik-baik. Sampai kapanpun aku tidak akan bertanggung jawab, belum tentu itu darah dagingku! Lagian, kita hanya sekali melakukannya!” menatap wanita itu dengan tajam.
Tanpa sadar Dian mengatakan hal tersebut di depan ibunya sendiri.
Wanita itu tampak menyeringai.
“Apa Dian? Jadi kamu ....” ibunya tampak terkejut mendengar pengakuan putranya tersebut.
__ADS_1
“Shit!” umpatnya dalam hati.
Ia baru ingat, jika ibunya masih berada di ruang tamu tersebut. Karena kemarahannya, ia sampai melupakan keberadaan ibunya.
“Tante dengar sendirikan. Bagaimana jika ini terjadi pada anak perempuan Tante?” wanita tersebut menghampiri wanita setengah baya itu, dengan terisak.
Wanita paruh baya itu terduduk lemas, sembari memegang dadanya yang terasa sesak.
Dian tidak menyangka jika akan menjadi seperti itu, pikirnya setelah perceraiannya dengan Celine dirinya tidak mendapatkan masalah lagi. Namun, kini datang masalah baru yang membuat papanya sangat membenci dirinya.
“Kau! Keluar dari rumahku sekarang! Keluar!” bentaknya pada wanita tersebut.
“Baik, aku akan pergi. Tapi, jangan berpikir masalah ini bisa selesai sebelum kamu bertanggung jawab!” tantang wanita tersebut sembari mengusap air matanya.
“Jika dalam 24 jam tidak ada itikad baik untukmu bertanggung jawab, aku akan menyeretmu ke polisi dengan dugaan pemerkosaan anak di bawah umur hingga hamil! Bahkan aku mempunyai buktinya,” tambah wanita tersebut.
Dian menghela napas kasar, ia mendorong tubuh wanita tersebut untuk keluar rumah lalu menutup pintu dengan kasar.
“Silahkan mengusirku sekarang, aku pastikan kau mengemis padaku setelah ini!” ancam wanita tersebut dengan setengah berteriak.
“Ma, jangan dengarkan wanita gila itu! Ma ... aku melakukannya secara tidak sadar! Bahkan tidak ingat bagaimana bisa aku melakukannya padanya.”
Sang ibu meninggalkan Dian putranya tanpa berkata apapun, dari raut wajahnya terlihat jika dirinya sangat kecewa pada putranya tersebut.
***
“Clara, apa kamu tidak punya sopan santun lagi? Jika masuk ke ruanganku harus mengetuk pintu terlebih dahulu!” kesal Damar melihat Clara langsung masuk ke dalam ruangannya.
Clara terdiam, ia melirik Yana terlihat tersenyum padanya. Clara beranggapan jika Yana tengah mengejek dirinya.
“Maaf, Tuan.”
“Huft ... ada apa?” tanya Damar menghela napas kasar.
“Aku hanya ingin mengantar makan siang untukmu, Tuan. Seperti biasanya, aku yang selalu membawakan Tuan makan siang.” Clara masih berusaha mengambil hati Damar, walaupun usahanya sudah berulang kali gagal.
“Huh, baiklah. Letakkan di meja saja, kemarilah duduk. Ada yang ingin aku katakan padamu,” ujar Damar menunjuk kursi kosong di sebelah Yana.
Clara tampak sumringah, kali ini ia tidak akan gagal pikirnya, ia seperti mendapatkan angin surga.
“Clara, ini surat mutasi kerja untukmu. Hari ini kamu terakhir bekerja di kantor ini dan akan di gantikan oleh Yana. Besok kamu harus berangkat ke tempat kerja baru, semua biaya di tanggung oleh kantor.”
__ADS_1
Duarr!
Bagaikan di sambar petir mendengar perkataan Damar, usahanya untuk memiliki Damar sudah pasti akan gagal jika dirinya pindah dari kantor tersebut.
“Apa, Tuan? Apa tidak salah? Aku sudah sangat lama bekerja di kantor ini, kenapa aku yang harus pindah?! Seharusnya, karyawan baru seperti Yana saja yang di mutasi!” protesnya.
“Jadi kamu protes dengan keputusanku?” tanya Damar menatap Clara yang tampak protes.
Clara terdiam.
“Jika kamu protes dengan keputusanku, silahkan membuat surat pengunduran diri! Aku juga memintamu pindah, karena aku sangat tahu kemampuanmu mengatasi masalah pekerjaan. Seharusnya kamu senang, karena memindahkanmu di kota tempat tinggalnya!” seru Damar.
Clara tidak bisa berkata lagi, tenggorokannya tercekat hingga kesulitan untuk menela salivanya.
“Kenapa diam? Aku butuh jawaban darimu sekarang! Kamu mau di mutasi, atau berhenti dari perusahaan ini?” tanya Damar.
Clara tampak menghela napas berat.
“Aku akan mengundurkan diri dari kantor ini! Ini sangat tidak adil bagiku, Tuan. Tuan berlaku curang padaku, Yana yang baru saja bekerja di kantor ini dengan mudah naik jabatan! Lalu kenapa harus aku yang di mutasi!” Clara masih melayangkan protes pada Damar.
“Aku tidak mau basa basi! Aku menerima pengunduran dirimu! Kembali besok untuk mengambil gajih terakhirmu!” seru Damar.
“Tuan, Clara benar. Seharusnya aku saja yang di pindahkan, aku masih perlu belajar memahami pekerjaan ini,” ucap Yana tampak kasihan pada Clara yang melayangkan protes.
Karena ucapan Clara memang benar adanya.
“Yana, keputusan ini di buat kami bersama saat di ruang meeting tadi. Claralah yang terpilih, karena Clara cukup pandai dan pasti akan bisa mengatasi pekerjaan disana. Jika ada yang protes, berarti orang itu siap mengundurkan diri!” melirik Clara.
“Saya permisi!” Clara terlihat kesal keluar dari ruangan tersebut.
“Yana, tolong jangan protes ini sudah jadi keputusan kami bersama. Coba bayangkan, bagaimana jika kamu pindah? Diki dan Deva juga pasti akan sedih, karena mereka jarang bertemu dengan Mamanya. Sebelum mengambil keputusan ini, aku sudah memikirkannya matang-matang.” Damar berusaha memberi pengertian pada Yana, karena keputusannya ini sudah sangat tepat.
Yana tersenyum, lalu mengangguk.
“Iya, Tuan. Maafkan aku,” ucap Yana lirih.
Damar tersenyum.
“Jangan berterima kasih dan jangan juga merasa bersalah. Karena ini sudah keputusan kantor, sebenarnya Clara itu sangat beruntung. Karena, di mutasi ke kantor cabang yang bertepatan dengan tempat tinggalnya. Ia bisa setiap hari bertemu dengan orang tuanya, sungguh aneh jika ia menolak di mutasi.”
“Sudahlah, aku akan bicara lagi dengannya nanti. Sekarang kamu kembali bekerja,” ucapnya.
__ADS_1
Yana mengangguk, lalu keluar dari ruangan tersebut.
***