Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 21


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Yana mendengar suara keributan di ruang tamu, dirinya tergesa-gesa keluar kamar putranya karena membantu kedua putranya untuk bersiap pergi ke sekolah.


Di tengah anak tangga, Yana melihat Celine yang tengah menunjuk mamanya dengan marah-marah.


“Apa ini Celine?! Begitulah caramu berbicara dengan orang yang lebih tua!” geram Yana sambil melangkah mendekati mereka.


Kali ini darah Yana terlihat langsung mendidih, apalagi cara Celine bersikap kurang ajar pada mamanya.


“Apa maumu?!” ketus Yana.


“Dimana suamiku? Pasti dia bersamamu kan?!” tanyanya menatap Yana dengan tajam.


Yana tersenyum kecut, menaikkan sudut bibirnya tipis.


“Untuk apa aku menyembunyikan Suamimu?! Bagaimana bisa kamu tidak mengetahui keberadaan Suamimu sendiri?!” melipat tangannya.


“Celine, Suamimu tidak ada di rumah ini. Sekarang kamu keluar dari rumahku, jangan membuang waktumu untuk datang kemari. Karena kamu tidak akan menemukan Suamimu!” tegas Yana.


“Awas saja kau jika berbohong! Ku pastikan kau akan menyesal!” ancam Celine menunjuk wajah Yana dengan tatapan murka.


“Heh, di jaga Suaminya agar keluyuran terus!” ketus mama Yana yang juga terlihat kesal pada Celine, karena tanpa permisi datang ke rumahnya.


Dengan kesal Celine melangkah keluar dari rumah tersebut.


“Dasar, tak punya malu!” geramnya melihat punggung Celine.


Saat hendak memasuki mobil, terlihat ada Damar yang berhenti di samping mobilnya.


“Apa yang wanita ini lakukan datang kemari sepagi ini? Oh, pasti sedang mencari suaminya!” tebak Damar.


Damar segera keluar dari mobil, lalu mengetuk kaca mobil milik Celine.


Celine sangat mengenal pria yang ada di hadapannya ini, karena sebelumnya Dian pernah mengajaknya untuk pertemuan di salah satu restoran.


“Ada apa? Aku tidak punya urusan denganmu!” ketus Celine memasang wajah yang tidak bersahabat.


“Seharusnya aku yang bertanya? Untuk apa datang kemari, sepagi ini?” tanya Damar.


“Bukan urusanmu! Apa salah suamiku? Sehingga kau memecatnya dengan sepihak!” menatap Damar dengan tajam, tanpa takut sedikit pun.


“Kamu bertanya kenapa suamimu ku pecat?! Dia pantas mendapatkan itu! Jika ada Hama di dalam kantorku, aku akan membasminya agar tidak mengganggu!”


“Termasuk dirimu! Ini terakhir kalinya dirimu menginjak kakimu ke rumah Yana, aku sangat tahu wanita sepertimu! Aku akan menghancurkan seluruh keluargamu, jika kamu berani menghina atau menyakiti Yana maupun orang tuannya!” tambah Damar dengan penuh penekanan.


Terlihat Celine sangat takut dengan ancaman Damar, bahkan tangnya bergetar memegang setir mobil.


“Oh, ya. Pasti kamu sedang mencari keberadaan suamimu saat ini?” menatap Celine sembari menyeringai jahat.


Celine tampak terkejut mendengarnya, karena Damar tahu apa yang sedang di pikirkan olehnya saat ini.

__ADS_1


“Sebaiknya kau datang ke klub yang ternama di kota ini,” ucapnya langsung meninggalkan Celine setelah mengatakan itu.


Celine terdiam sejenak, masih mencerna apa yang di ucapkan oleh Damar.


Saat hendak bertanya lagi, Damar sudah menghilang masuk ke dalam rumah milik Yana.


Namun, ia menatap curiga. Pasti ada hubungan spesial antara Damar dan Yana.


Tapi, Celine tersadar jika terpenting saat ini adalah keberadaan suaminya.


Ia langsung menghidupkan mobilnya, lalu melaju ke klub yang di katakan oleh Damar tadi.


Sesampainya disana, klub itu terlihat sudah tutup. Karena buka hanya pada malam hari saja.


Terlihat salah satu pria yang baru keluar dari pintu kecil dari klub tersebut, sepertinya pintu tersebut memang untuk para karyawan keluar dan masuk. Ia juga melihat mobil suaminya yang terparkir di bahu jalan.


“Maaf, apa kamu melihat foto pria ini?” tanyanya memperlihatkan foto dari ponsel miliknya.


Pria itu mengambil ponsel tersebut, lalu melihatnya dengan teliti.


“Sepertinya tidak, Nona. Tapi, ada pria dan wanita tengah tidur di kamar. Saya tidak tahu apa itu pria ini atau bukan,” sahutnya.


Deg!


Hati Celine mulai gusar mendengarnya, ia berusaha tenang dan berpikir positif berharap pria itu bukanlah suaminya.


“Apa aku boleh masuk? Aku hanya memastikannya saja,” ucap Celine meminta izin.


“Saya Istrinya,” sahutnya.


Pria itu terdiam sejenak, melihat sekelilingnya. Lalu mengangguk.


“Ikut saya, Nona.”


Celine mengangguk, lalu mengikuti pria itu dari belakang.


Di klub tersebut, memang ada kamar yang bisa di sewakan untuk beristirahat.


Karena pintu tidak terkunci, sehingga begitu mudah untuk membuka pintunya. Sebelumnya, wanita yang berada di kamar tersebut keluar dan memberi uang pada pelayan klub itu untuk menyewa kamar tersebut, sehingga ia lupa mengunci pintunya kembali.


Celine masuk, karena pencahayaan di kamar tersebut minim. Hanya remang-remang oleh bola lampu kecil yang berwarna biru saja untuk pencahayaan.


“Aku tidak bisa melihat wajahnya,” ujar Celine.


“Oh, sebentar.” Pria itu tampak mencari skalar lampu.


Tek ... lampu menyala.


Celine membulatkan matanya, melihat suaminya bertelanjang dada dengan wanita asing berada di sampingannya.

__ADS_1


“Mas!” teriak Celine.


Membuat keduanya terkejut, mereka tampak silau dengan cahaya lampu yang begitu terang.


“Celine,” gumamnya melihat istrinya tengah berdiri di sampingnya.


Lalu ia melihat wanita di sebelahnya, bukanlah istrinya. Melainkan wanita yang belum ia kenal sebelumnya.


Dengan cepat Dian mendorong tubuh wanita itu, ia melihat sekeliling yang begitu asing.


“Aku dimana?” gumamnya sembari berdesis memegang kepalanya yang terasa pusing.


“Mas, apa yang kamu lakukan, Mas? Hiks ... tega kamu Mas. Kamu jahat!” ujar Celine lalu melangkah keluar kamar dengan tangis yang pecah.


“Celine, tunggu. Dengarkan dulu penjelasanku,” teriak Dian.


“Arrghh ... hei, kau siapa? Kenapa aku bisa di kamar ini bersamamu?!” kesalnya melihat wanita itu duduk di tepi kasur dengan selimut menutupi tubuhnya yang masih memakai pakaian kurang bahan.


“Bukankah kamu sendiri yang mengajakku kemari dan membayarku,” sahutnya santai.


“Argh! Sialan,” umpatnya.


Dian langsung mencari letak pakaiannya, setelah menemukannya ia mengenakannya dan langsung menyusul istrinya.


Wanita tersebut hanya menatap kepergiannya, sembari tersenyum.


“Terima kasih, ini untukmu.” Menyerahkan beberapa lembar uang pada pelayan klub tersebut.


Dengan senang hati pria itu menerimanya, karena sebelumnya mereka memang kerja sama untuk menjebak Dian agar tidur bersamanya.


Setelah kepergian pria itu, ia melihat dompet Dian yang tergeletak di nakas. Ia membukanya, melihat identitas Dian yang ada di dalam dompet tersebut lalu menyeringai licik.


Tiba di rumah mereka, terjadi pertengkaran lagi di antara mereka berdua. Bahkan Celine melampiaskan amarahnya pada vas bunga tersebut, melemparnya ke lantai hingga menjadi hancur berkeping-keping.


“Aku minta cerai! Aku tidak sudi lagi hidup bersama pria bajingan sepertimu!” teriak Celine dengan napas yang turun naik karena emosinya yang memuncak.


“Celine, tenangkan dirimu dulu. Aku tidak tahu, kenapa aku bisa berada dengan wanita itu di kamar! Aku tidak ingat apapun,” ujarnya.


Karena seingatnya semalam dirinya tengah berduaan dengan Yana mantan istrinya.


“Tidak! Aku sudah muak denganmu, keluar kau dari rumahku sekarang!” bentak Celine.


“Sayang, kamu ini sedang marah. Jangan bicara seperti itu.” Masih berusaha membujuk istrinya.


Karena amarahnya tidak bisa terkontrol lagi, ia mengambil koper milik suaminya dan memasukkan pakaiannya lalu melemparnya ke luar kamar mereka.


“Pergi dari rumahku sekarang!” menunjuk ke arah luar.


“Sayang ....”

__ADS_1


“Keluar!” teriak Celine dengan mata yang memerah karena menahan tangis dan juga amarahnya.


***


__ADS_2