Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 06


__ADS_3

“Yana, memangnya ada masalah apasih kamu dan suamimu? Tadi ada yang datang untuk menagih tunggakan angsuran mobil kalian.”


Mamanya tidak melihat jika ada orang selain putrinya yang datang, karena ia berbicara sembari membelakangi Yana.


“Mama merasa rumah tangga kalian sedang tidak baik-baik saja! Apa Suamimu kabur lagi? Pria tidak bertanggung jawab seperti dia, kenapa kamu masih bertahan, Nak? Dia tidak memikirkan kedua putranya, juga.”


“Ma, Yana datang bersama teman Yana,” ujar Yana pelan, agar mamanya tidak membahas masalah rumah tangganya di depan Damar.


Mamanya langsung menoleh, lalu menatap Damar dan Yana secara bergantian.


“Dia, Damar. Damar yang menolong Yana, karena motor Yana mogok.”


“Oh, nak Damar. Silahkan duduk,” ucap mamanya Yana.


Sementara Yana berpamitan sebentar ke dapur, membuatkan kopi untuk Damar.


“Terima kasih sudah menolongku,” ujar mamanya Yana.


“Iya, Bu. Kebetulan saya lewat dan melihat Yana terlihat kesusahan dengan motornya, sehingga aku menawarkan diri untuk mengantarnya.”


Tak lama, Yana datang membawa nampan yang berisi secangkir kopi.


“Silahkan di minum dulu, Damar.”


“Hai Diki,” sapa Damar saat melihat Diki baru masuk ke dalam rumah.


“Om Damar. Dimana Kevin Om?” tanya Diki melihat sekelilingnya.


Mamanya Yana tampak heran, karena Diki cucunya mengenali pria tersebut.


“Kevin di rumah, Om baru pulang bekerja.”


Diki tampak mengangguk.


“Kalian sepertinya sudah sangat lama kenal,” ujar wanita paruh baya itu.


“Kebetulan, Kevin putra saya dan Diki berteman baik di sekolah, Bu. Selain mereka, saya juga satu kantor dengan Tuan Dian bekerja,” sahutnya.


Yana langsung membulatkan matanya mendengar ucapan Damar, karena ia mengatakan pada mamanya jika suaminya sedang berada di luar kota.


Mamanya menatap putrinya itu meminta penjelasan.


“Wah, kebetulan sekali. Anak dan orang tuanya saling kenal. Kalian lanjutkan saja mengobrolnya, Ibu ada pekerjaan sedikit,” pamitnya.


Yana tampak bernapas lega saat ini, tapi tidak untuk nanti saat Damar pulang. Pasti dirinya akan di interogasi oleh kedua orang tuanya.


“Yana, maaf jika aku lancang. Apa suamimu tidak pulang? Setahuku, Dian sedang mengambil cuti,” ujar Damar bertanya dengan penuh hati-hati.


“Apa kamu tahu, untuk apa Suamiku mengambil cuti?” tanyanya.


Damar menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Sebenarnya, ia tahu kenapa Dian mengambil cuti. Namun, ia tidak mengatakannya pada Yana.


Yana hanya bisa menghela napas kasar.


Cukup lama mereka berbincang, bahkan Damar juga berbincang pada papanya Yana yang ikut bergabung dengan mereka.


Tak lama, Damar berpamitan pulang.


“Yana, kopinya sangat nikmat. Terima kasih banyak,” ucap Damar di teras.


“Ekhem ...” deham Papanya.


Membuat Damar menjadi salah tingkah.


“Eh, Om. Terima kasih, saya pamit.”


Papanya Yana mengangguk, mereka melihat Damar hingga mobilnya menghilang dari pandangan mereka.


“Yana, tidak pantas kamu menerima tamu pria, sedangkan statusmu masih bersuami!” tegas papanya.


“Yana juga serba salah, Pa. Yana sudah berusaha menolak ajakan Damar tadi. Tapi, dia memaksa.”


“Sudah, sebaiknya hati-hati lain kali. Papa tidak ingin menimbulkan fitnah,” ucapnya membawa putrinya masuk ke dalam rumah.


Di ruang tamu, mamanya tampak menunggu Yana masuk sembari melipat tangannya.


Yana menelan salivanya dengan kasar.


“Yana, kemana suamimu?” tanya papanya tak kalah cemas.


“Yana, kenapa diam? Jawab!” mamanya terlihat tidak sabar menunggu jawaban dari putrinya itu.


“Mas, Dian ... hiks ... hiks. Mas, Dian, tidak pulang, Ma.”


Yana terduduk lemas di sofa, karena sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.


“Yana, apa kata Damar. Jika Damar dan suamimu itu satu kantor? Lalu, kemana dia pergi, Nak?” tanya Mamanya lembut, tak tega dengan nasib putrinya saat ini.


Yana menggelengkan kepalanya.


“Mulai besok, kamu tidak perlu kembali ke rumahmu. Bawa semua pakaianmu kemari! Papa sudah melihat gerak gerik Dian itu selama beberapa bulan ini seperti ada yang di tutupi, dari awal memang Papa tidak setuju kalian menikah! Tapi, itu pilihanmu makanya Papa menghargainya!” kesal papanya.


Yana hanya bisa menunduk.


“Sekarang tidak perlu kamu memikirkan suamimu itu lagi, fokus pada kedua putramu! Papa masih sanggup menafkahi kalian,” ujar papanya, lalu beranjak dari duduknya.


Tampak jelas dari raut wajahnya, jika papanya begitu sangat kesal dan marah.


“Sayang, apa kamu sudah menghubungi temannya atau bisa jadi Dian berada di rumah orang tuanya? Apa kalian bertengkar sebelumnya?” tanya mamanya menghujaninya dengan pertanyaan.


Yana menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Huftt ... baiklah, lebih baik sekarang kamu mandi dan beristirahat saja. Tenangkan dirimu dulu, kita akan pikir jalan keluarnya nanti.”


“Tidak ada yang perlu di pikirkan lagi! Yana harus bercerai dengan suaminya!” tegas papanya membawakan air minum untuk putrinya tersebut.


“Astaga, aku pikir dia masuk ke kamar tadi!” gumam istrinya dalam hati melihat suaminya kembali lagi.


“Pa, jangan terburu-buru mengambil keputusan! Kita harus mendengarkan alasan dari Dian, kenapa dia pergi?” seru istrinya.


“Kamu senang lihat putrimu menderita begini! Dian meninggalkan Istri dan anaknya beserta cicilannya! Apa itu bisa di katakan suami bertanggung jawab!” sentaknya, karena sudah sangat kesal.


“Iya, ini baru seminggu. Kita jangan berpikir negatif dulu,” ucap istrinya tak mau kalah.


Yana semakin pusing, karena mendengar perdebatan kedua orang tuanya.


“Sudah cukup, ada Deva dan Diki Ma. Jangan sampai mereka mengetahui hal ini,” ujar Yana mengingatkan mereka.


Papanya mengusap wajahnya dengan kasar, dan berlalu pergi keluar rumah.


Yana juga berpamitan pada mamanya untuk pergi ke kamar.


***


Di tempat lain, Damar tak mau tinggal diam.


Setelah mendengar ucapan mamanya Yana tadi di rumah, ia meminta anak buahnya untuk menyelidiki Dian.


Karena yang ia tahu bahwa Dian izin mengambil cuti tahunannya, untuk berlibur bersama keluarganya saat itu.


Ternyata kecurigaan Damar benar selama ini, jika Dian tidak berlibur dengan anak dan istrinya.


“Bos, kami sudah mendapatkan info. Dimana keberadaan Dian saat ini,” ujarnya anak buahnya di balik benda pipih tersebut.


“Kerja bagus. Beritahu aku alamatnya,” ucapnya lalu mengakhiri panggilan teleponnya.


Ting ...


Suara pesan masuk.


“Huh, ternyata pria itu masih berada di kota ini?!” ucapnya bernada kesal.


“Pria macam apa dia?! Meninggalkan anak Istrinya dengan banyak cicilan, bahkan tidak memberikan uang sepeserpun!”


Ia melempar ponsel miliknya ke kursi kosong, hendak menuju ke alamat yang telah di kirimkan oleh anak buahnya tersebut.


Bukan ingin ikut campur urusan rumah tangga Yana, tapi sangat kesal dengan perbuatan Dian yang berulang kali menyakiti Yana.


“Yana, kamu itu sebenarnya wanita yang cantik dan sangat penyabar. Dian tidak pantas mendapatkan wanita baik hati sepertimu! Maaf Yana, sepertinya aku harus turun tangan.”


“Dian, tamatlah riwayatmu!” geramnya mengendarai mobilnya dengan kecepatan stabil, karena jalanan cukup ramai.


***

__ADS_1


__ADS_2