Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 51


__ADS_3

Beberapa bulan sudah berlalu, saat ini Yana tengah berjuang di meja operasi.


Dokter menyarankan Yana untuk melahirkan secara sesar, karena posisi kepala bayi yang tidak pada tempatnya.


Yana dan Damar memutuskan untuk melahirkan di luar negeri, setelah itu ia dan sekeluarga beserta ayahnya akan kembali ke tanah air. Orang tua Yana tidak mempermasalahkan hal tersebut, yang terpenting putrinya bahagia.


Damar dan Ayahnya tampak gusar, karena pintu ruangan operasi juga tak kunjung terbuka.


“Damar, apa Yana baik-baik saja? Ayah sangat khawatir, trauma masih membekas saat kehilangan Ibunya Kevin dulu.”


Damar menarik pelan tangan ayahnya, agar duduk di sampingnya.


“Ayah, Yana itu wanita yang kuat. Damar yakin, mereka akan baik-baik saja.”


Ayahnya tampak mengangguk.


Tak berselang lama, terdengar suara tangisan bayi dan pintu ruangan operasi pun terbuka.


“Sus, bagaimana keadaan Istri dan anak saya?” tanya Damar tampak sabar, sekaligus cemas.


“Semuanya sehat, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat inap.”


Damar dan ayahnya menghela napas lega, setelah mendengar ucapan perawat tadi.


“Ayah, anggota kita bertambah lagi. Aku tidak menyangka, jika kamu di percayakan kembali untuk mempunyai anak.”


Damar terisak di dalam dekapan ayahnya.


“Kamu bahagia, Ayah lebih bahagia. Sekarang, Ayah tidak ingin berpisah dari cucuku lagi,” ucapnya dengan semangat.


Damar mengangguk dalam dekapan ayahnya.


Tak lama, perawat mengatakan jika Yana dan bayinya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.


Damar dan ayahnya segera menemui Yana di sana.


Didalam, Yana menatap putrinya tersebut. Tampak bayi tersebut tengah tertidur pulas.


“Sayang,” panggil Damar.


Yana tersenyum melihat kedatangan suami dan ayah mertuanya.


Damar langsung mengecup seluruh wajah istrinya, lalu beralih pada putranya yang tengah tertidur.


“Yana, dia cucu perempuan Ayah satu-satunya. Jadi sekarang Ayah mempunyai empat orang cucu,” ucapnya.


Yana terharu, karena menganggap kedua putranya juga sebagai cucunya.


“Iya, Ayah. Terima kasih banyak, Ayah menerimaku dan kedua putraku. Aku tak henti-hentinya bersyukur mendapatkan Suami dan Ayah mertua yang sangat baik.”


“Kami yang beruntung memilikimu, nak.”


Terdengar suara tangis kecil bayi tersebut.


“Mungkin dia lapar,” ujar Yana pada suaminya.


Damar mengangguk, ia ingin menggendong bayinya. Namun, ia terlihat ragu karena bayi tersebut terlalu kecil hingga membuatnya sedikit takut.


“Dasar! Minggir, biar Ayah saja,” ujar ayahnya mendorong pelan bahu putranya karena melihat cucunya tampak kehausan.


Damar terlihat cemberut, membuat Yana terkekeh melihat raut wajah suaminya.

__ADS_1


“Yana, lihat wajahnya seperti wajah Papanya yang sedang cemberut,” godanya, Yana kembali terkekeh.


Karena Yana ingin menyusui putrinya, ayah mertuanya berpamitan sejenak.


“Nak, sisain ya untuk Papa,” ucap Damar melihat putrinya tampak bersemangat.


“Hus ... mas. Kok bicaranya gitu!” protes Yana.


Damar nyengir kuda, memperlihatkan gigi putihnya.


Satu bulan sudah berlalu, mereka sekeluarga saat ini sudah berada di tanah air.


Hari ini, Damar dan ayah mertuanya mengadakan syukuran menyambut kelahiran cucu ke empatnya.


Banyak tamu yang hadir, karena Damar cukup banyak mengundang tamu termasuk seluruh karyawan yang bekerja kantornya khususnya bagian office.


Lalu rekan dari mertuanya dan juga rekan dari istrinya dan juga dirinya.


Begitu banyak tamu yang hadir, satu tamu yang menyita perhatian Yana dan Damar.


Mereka menatap pria dan wanita yang menghampiri mereka, Yana hampir tak mengenal wajah pria itu karena sangat berbeda dari yang dulu.


“Mas itu Mas Dian. Apa Mas yang mengundangnya?” tanya Yana menatap suaminya.


“Iya, aku ingin membuktikannya saja, jika kamu saat ini sudah bahagia bersamaku,” sahutnya dengan tersenyum.


Bukan tidak senang mengundang mantan suaminya, tapi cara suaminya yang kurang Yana suka. Saat ini mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing.


“Mas, jangan seperti itu! Tak selamanya orang itu jahat! Pada dasarnya, manusia tempat salah dan khilaf.”


Damar terdiam.


Yana mengangguk.


“Selamat atas kelahiran putri kalian, kami ikut berbahagia.” Dian mengulurkan tangan pada Damar.


Damar menyambutnya dengan hangat.


“Dia sangat cantik, Mbak. Sama seperti Ibunya,” puji istri Dian.


“Kamu juga cantik,” sahut Yana tersenyum pada istri dari mantan suaminya.


Damar tampak mengajak Dian untuk berbincang namun sedikit menjauh dari Yana dan istri Dian.


“Tuan, aku bingung harus berterima kasih dengan cara apa. Aku ....”


“Sstt ... sudah, jangan membahas itu. Apa kamu ingin bertemu dengan putramu? Mereka ada di lantai tiga, naik saja.”


“Apa aku boleh menemui mereka?” tanya Dian memastikannya.


Damar mengangguk.


“Tapi, sepertinya kamu tidak perlu naik ke lantai atas. Lihat, jagoanku tiga orang sedang menuruni tangga.” Menunjuk ke arah belakang Dian.


Dian menoleh ke arah belakang, ia menegaskan air mata melihat kedua putranya begitu cepat tumbuh besar. Tubuh mereka yang putih bersih, begitu sangat sehat dan terawat.


Deva melihat kedatangan ayahnya, tanpa ragu memeluk ayahnya tersebut.


Damar membiarkan mereka untuk saling melepaskan rindu.


Yana menatap mantan suaminya dari kejauhan, mereka tampak tengah sibuk bercerita dengan kedua putranya.

__ADS_1


“Sayang, sepertinya putri kita sangat gerah. Aku ke kamar dulu,” pamit Yana.


Karena memang saat ini putrinya tengah rewel, mungkin karena pakaian yang ia kenakan.


“Aku akan menyusul,” sahutnya.


Di kamar, Yana melepaskan semua pakaian yang putrinya kenakan dan menggantikannya dengan pakaian biasa.


Lalu kembali menyusui putrinya yang terlihat sangat kehausan.


Ceklek ...


Pintu kamar terbuka.


“Huh, anak Papa haus sekali. Papa saja belum di berikan asupan oleh Mamamu, Nak.”


Yana langsung mencubit lengan suaminya, hingga mengaduh kesakitan.


“Sayang, apa kamu bahagia?” tanya Damar.


Membuat Yana bingung karena suaminya tiba-tiba berkata seperti itu.


“Aku tidak bahagia, jika mas menikah lagi!” ketus Yana.


Damar terkekeh.


“Satu saja tak pernah habis, bahkan membuatku ketagihan.”


“Sayang I love u,” bisik Damar di telinga istrinya.


“Aku juga mencintaimu ,” balas Yana.


Cup ...


Damar mengecup pipi istrinya.


“Mas,” panggil Yana.


“Iya, Sayang. Ada apa?”


“Mungkin ini jawaban dari doaku selama ini. Sepuluh tahun pernikahan, aku belum pernah merasakan kebahagiaan yang bertubi-tubi seperti ini. Bukan menyalahkan siapapun, tapi aku merasa kamu adalah malaikat yang dikirim oleh Tuhan untukku. Aku ....”


“Dan kamu adalah bidadari tak bersayap yang datang dalam kehidupanku dan mengubah segalanya. Mengubah kehidupanku yang semula hancur berantakan, menjadi utuh kembali tanpa bekas sama sekali.


“Jadi, kita sama-sama beruntung. Di tambah lagi hadirnya putri kecil di tengah kebahagiaan kita,” ucap Damar lembut.


Yana perlahan meletakkan putrinya yang sudah terlelap tidur karena baru saja selesai mengisi perutnya.


Damar menarik pelan tubuh istrinya lalu memeluk Yana dengan erat, begitupun dengan Yana ia membalasnya dekapan hangat suaminya itu.


Cukup lama berpelukan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, namun tangan nakal Damar mulai merayap ke dalam bajunya.


Plak!


Yana memukul pelan tangan suaminya, menatap dengan kesal.


“Masih banyak tamu, ayo kita keluar.” Menarik paksa tangan suaminya untuk keluar dari kamar tersebut, sangat berbahaya jika membiarkan Damar berlama-lama di kamar.


Begitulah akhir kisah cinta mereka yang berakhir bahagia.


***

__ADS_1


__ADS_2