
Dian mengumpat kesal saat keluar dari rumah orang tua istrinya, ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi. Dian tak lagi memikirkan keselamatannya, karena saat ini dirinya di penuhi dengan amarah.
“Sialan kau Yana!” umpatnya di dalam mobil, sembari menekan klakson mobil karena motor di depannya menurutnya telah menghalangi jalannya.
Tin ... Tin ....
“Minggir kalian, bodoh! Apa kalian mau mati?!” geramnya berulang kali menekan klakson.
Dian tak bisa lagi mengontrol kecepatan mobilnya, hingga kecelakaan tak terelakkan lagi.
Bruaak!
Tinnnn ...
Dian menabrak pembatas jalan dan dua pengendara motor lainnya.
Beruntung tidak ada yang meninggal dalam kecelakaan tersebut, hanya luka ringan saja.
Namun, Dian tak sadarkan diri di dalam mobil.
***
Di rumah, Yana tampak sedang membujuk putra yang tengah menangis. Begitupun dengan Kevin dan Diki yang berusaha menghibur Deva tengah terisak.
“Sayang, sudah dong nangisnya. Mama sedih kalau Deva terus menangis, Papa sedang cape Sayang. Maafkan papa ya,” ujar Yana dengan lembut.
“Dek, jangan sedih ya. Abang janji, apapun Adek minta nanti Abang kabulkan.”
“Iya, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan ke mall. Aku akan meminta Ayahku untuk menemani kita,” bujuk Kevin.
Ucapan Kevin sukses membuat Deva berhenti menangis.
“Benarkah?” tanyanya dengan suara parau sehabis menangis.
Kevin mengangguk antusias.
“Sayang, maafkan Mama ya.” Menarik Deva ke dalam pelukannya, lalu Diki ikut memeluk mereka.
Kevin tampak tersenyum kecut melihat kebersamaan mereka, ia belum pernah merasakan bagaimana rasanya di peluk oleh seorang ibu.
“Tante, apa aku boleh di peluk juga?” tanya Kevin pelan.
“Aku belum pernah di peluk oleh Ibuku. Karena, kata Ayah. Ibuku sudah ke surga saat melahirkan aku,” ujar Kevin dengan suara bergetar menahan tangis.
Yana melepaskan dekapannya pada Deva, lalu menatap Kevin dengan begitu Kasihan.
“Tentu saja,” ujar Yana merentangkan kedua tangannya.
Lalu ia menarik kedua putranya, saat ini mereka berempat tengah berpelukan.
Setelah itu, Yana mengajak mereka untuk makan siang.
Melihat canda tawa kedua putranya, rasa sedih yang Yana rasakan saat ini sedikit terlupakan.
Sembari melihat ketiga bocah itu makan, Yana menatap kedua putranya secara bergantian.
“Tante,” panggil Kevin di sela makannya.
“Iya, Kevin. Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Yana.
__ADS_1
“Tante mau gak jadi Ibu aku?” tanya Kevin terlihat polos.
Yana terdiam sejenak, lalu tersenyum mengusap kepala Kevin.
“Tentu saja, Kevin boleh memanggil Tante dengan panggilan Mama sama sepeti Diki dan Deva. Tante dengan senang hati,” sahut Yana dengan lembut.
Kevin sangat senang mendengarnya.
Yana menatap wajah Kevin yang tampak bahagia, ia ingat beberapa waktu lalu Damar mengatakan jika istrinya sudah meninggal saat melahirkan Kevin.
“Yana,” panggil mamanya ikut duduk makan bersama mereka.
“Iya, Ma. Dimana Papa?” tanya Yana melihat Mamanya hanya datang sendiri.
“Papa sedang tidur, tekanan darah Papa naik. Mama baru saja meminta Papa minum obat dan sekarang sedang beristirahat. Mama khawatir sama tekanan darah Papa yang sangat tinggi,” sahutnya.
Yana menghela napas berat, ia merasa bersalah karena perdebatan antara dirinya dan suaminya.
“Maafkan Yana, Ma. Karena Yana, Mama dan Papa jadi ikut terlibat.”
“Sttt ... jangan bicarakan itu di depan anak-anak. Jangan membahas ini lagi dengan Papa, biarkan Papa istirahat.”
Yana mengangguk.
“Kamu tidak makan?” tanya mamanya melihat piring putrinya kosong.
Yana menggelengkan kepalanya.
“Makan Sayang, jangan abaikan kesehatanmu. Ingat!! Kamu harus mengurus kedua putramu,” ujar mamanya dengan lembut.
“Iya, Ma.”
Terdengar suara dering ponsel milik Yana di meja ruang tamu.
Mamanya mengangguk, ia beranjak menuju ruang tamu. Dering ponsel miliknya tak berhenti berdering sejak tadi.
“Gio,” gumamnya melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya.
Lama Yana menatap nama tersebut, lalu menggeser untuk mengakhir panggilan tersebut.
Ia tahu, kenapa Gio menghubunginya. Pasti semua ini ada hubungannya dengan suaminya itu.
Lalu ponselnya kembali berdering, membuat Yana berdecap kesal.
Dengan terpaksa, Yana mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, Gio. Ada apa? Jika menghubungiku membahas tentang Suamiku, saat ini aku ingin sendiri dulu.”
“Halo, Yana. Tolong jangan di matikan dulu, dengarkan dulu aku bicara. Ini memang ada hubungannya dengan Dian, saat ini Dian mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit. Dian masih belum sadarkan diri,” ujar Gio langsung berbicara langsung dengan intinya.
Deg!
Napas Yana langsung naik turun, ia terduduk lemas di sofa.
Mamanya melihat putrinya yang terlihat mematung, sehingga membuatnya ingin tahu siapa yang menghubunginya.
“Yana, siapa yang menghubungimu?” tanya mamanya penasaran menghampiri dirinya.
Namun, tidak menemukan jawaban. Mamanya mengambil ponselnya, lalu meletakkan benda pipih tersebut di daun telinganya.
__ADS_1
“Halo, siapa ini?” tanya mamanya.
“Halo, Tante. Saya temannya Dian, sekarang ....”
“Katakan pada temanmu itu, jangan lagi menyakiti dan mengganggu anakku lagi!” sela mamanya.
“Tante, Dian kecelakaan!” ucap. Gio langsung.
Mamanya tak kalah terkejutnya dengan Yana.
“Ke-kecelakaan?” tanyanya dengan terbata.
“Yana, suamimu,” panggilnya pelan.
Yana langsung tersadar.
“Ma, bagaimana ini? Papa pasti akan marah, jika aku menemui Mas Dian. Biar bagaimanapun Mas Dian masih suamiku Ma,” ujar Yana pelan.
Mamanya tampak berpikir.
“Sebenarnya, Mama sangat kesal pada Dian atas sikapnya tadi. Tapi, temui saja Suamimu itu di rumah sakit. Masalah Papa, biar Mama yang mengurusnya di rumah. Sekarang kamu pergi lah,” ujar mamanya.
Yana menangguk.
“Ma, titip anak-anak.”
Mamanya mengangguk, tanpa menunggu lagi Yana langsung bergegas keluar rumah.
Namun, ia bertabrakan dengan Damar yang berada di depan pintu yang baru saja datang hendak mengetuk pintu.
Bruk!
Yana hampir terjatuh, beruntung Damar langsung menangkapnya.
“Kamu baik-baik saja? Kenapa sangat terburu-buru?” tanya Damar.
“Mm ... Anu, itu ....”
Yana berulang kali melihat ke arah belakang.
“Ada apa Yana?” tanya Damar lagi.
“Itu, Mas Dian kecelakaan. Sekarang di rumah sakit, masih belum sadarkan diri. Aku ingin kesana,” ujarnya.
“Aku akan mengantarmu,” ujar Damar menarik tangan Yana.
Tanpa menunggu lagi, mereka masuk ke dalam mobil dan mengendarainya.
Damar tampak serius mengendarai mobil, tidak ada percakapan di antara mereka berdua di dalam mobil hingga tiba di rumah sakit.
Mereka berlari kecil menyusuri koridor rumah sakit, menuju meja resepsionis untuk bertanya ruang mana ruang rawat suaminya.
Setelah mendapatkannya, mereka langsung menuju ruangan tersebut. Karena perawat mengatakan, jika Dian baru saja selesai di operasi.
Setibanya di ruang rawat inap. Langkah Yana terhenti saat hendak masuk ke dalam ruangan tersebut, karena melihat ada Gio dan seorang wanita cantik tengah duduk di samping dimana suaminya berbaring yang masih menutup matanya, sembari menggenggam tangan Dian.
“Ada apa? Kenapa berhenti?” tanya Damar mengernyit heran.
Ia mengikuti arah netra Yana, Damar sedikit terkejut. Karena melihat wanita tersebut, sama dengan wanita yang pernah ia lihat beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Damar sudah bisa memastikan jika itu adalah istri kedua Dian.
***