Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 46


__ADS_3

“Akhirnya kau datang kemari juga, Alex! Sudah berapa tahun kau tidak menginjakkan kakimu ke rumah ku ini!” suara menggelegar memenuhi ruang tamu tersebut.


Alex dan Yana sama-sama menelan salivanya dengan kasar, setelah mendengar suara tersebut.


Mereka saling menatap sejenak, Alex tampak mengangguk agar Yana tetap tenang. Karena sudah terlanjur masuk ke dalam rumah tersebut, tak mungkin mereka harus kembali apalagi Tuan besar sudah melihat mereka.


Tak ... Tak ... suara sepatu pantofel menuruni tangga.


“Untuk apa lagi kau datang kemari? Apalagi membawa Istrimu kemari! Apa Damar sudah tidak memberikanmu uang? Sehingga kau datang lagi kemari!” tanyanya sembari menyeringai licik.


Yana memperhatikan pria tua tersebut yang tengah menuruni tangga, Yana membulatkan matanya ternyata pria tersebut adalah pria yang di mall yang tak sengaja ia tabrak.


“Astaga, Alex! Apa dia Ayah mertuaku? Pria yang aku tabrak di mall tadi!” ucapnya pelan pada Alex.


“Iya, Nyonya. Aku sudah mengatakan sebelumnya pada Nyonya, apa anda yakin ingin bertemu dengannya?”


“Dasar bodoh! Kenapa kamu tidak memberitahuku secara langsung, jika pria tadi adalah Ayah mertuaku! Pantas saja kamu menarikku untuk bersembunyi!” kesal Yana walaupun wajahnya terlihat tenang.


“Hei, aku bicara padamu Alex!” sentaknya pada Alex.


“I-iya, Tuan. Beliau bukanlah Istriku, melainkan Istri dari Tuan Damar.”


Pria itu langsung terdiam menatap Yana, karena dirinya tidak memakai kacamata membuatnya tak begitu jelas melihat wajah Yana. Yang ia kenal hanya wajah Alex saja yang tampak familier.


“Istri Damar! CK ... punya nyali juga ternyata kau!” ujarnya berdecap kesal.


Pria tersebut tampak menatap Yana dari atas sampai bawah.


“Alex, biarkan aku berbicara pada Ayah mertuaku. Kamu menunggu di luar saja,” ujar Yana pelan membuat Alex sedikit terkejut dengan permintaan istri Tuannya tersebut.


“Nyonya, kali ini aku tidak akan mengabulkan permintaan gila ini! Bagaimana jika terjadi sesuatu? Tuan pasti akan membunuhku!” ucap Alex pelan.


“Alex, please ... kamu harus percaya, tidak terjadi apapun padaku.”


Alex tampak menghela napas berat berulang kali.


“Nyonya ... Tuan Damar pasti akan membunuhku!” ujarnya lagi dengan wajah memelas.


Yana menepuk pelan bahu Alex, menandakan Alex harus percaya padanya.


“Kamu harus yakin padaku.” Berulang kali Yana meminta Alex harus mempercayainya.

__ADS_1


Akhirnya Alex mengangguk, ia berpamitan pada ayah mertua Yana untuk menunggu di luar.


Setelah melihat kepergian Alex, perlahan Yana mendekatkan diri pada ayah mertuanya lalu mengulurkan tangannya.


“Apa ini?” tanyanya terlihat bingung dengan sikap Yana mengulurkan tangannya.


Yana tampak gugup lalu menarik tangannya kembali.


“Untuk apa kau datang kemari? Suamimu tidak ada di rumah ini!” serunya dengan raut wajah yang terlihat dingin.


“A-aku kemari tidak ingin mencari Suamiku, tapi ingin menemui Ayah.”


“CK ... punya apa kau? Berani sekali kau memanggilku dengan sebutan Ayah! Apa kau tidak takut denganku?!” tanya pria itu karena melihat Yana malah duduk di sofa tanpa seizinnya.


“Saya hanya wanita biasa yang tak mempunyai apapun, tapi saya mempunyai cinta dan kasih Sayang begitu tulus pada putra Ayah.”


“Ck ... makan saja cinta! Apa cinta membuat kalian kenyang! Keluar dari rumahku, membuang waktuku saja!” sentaknya.


“Ayah ... putramu begitu sangat menyayangimu, bahkan hampir setiap malam ia selalu membicarakan tentangmu Ayah. Hanya saja kesalahan di masa lalu membuatnya gengsi untuk bertemu dan mengatakannya pada Ayah.”


Pria itu langsung terdiam, raut wajahnya langsung berubah yang semula dingin kini menjadi sendu.


Yana menatap pria tua itu yang tampak terdiam.


“Seharusnya, kamu mengatakan ini pada Suamimu itu! Bukan padaku. Dia akan datang kemari menemuiku, setelah aku mengancamnya saja! Apa pernah ia bertanya bagaimana kabarku, dia datang ketika perusahaan ku bangkrut saja!” dengan suara bergetar menahan tangis, pria itu mengatakannya pada Yana.


Yana sekarang bisa menyimpulkan jika ayahnya merindukan putranya yang dulu, tanpa harus di minta ia datang sendiri kepada ayahnya.


Namun, keduanya sama-sama gengsi untuk mengatakan jika mereka berdua saling merindukan.


Yana mendekati ayah mertuanya, duduk di lantai mengambil tangan ayah mertuanya yang tampak sudah keriput.


Di luar, Alex tampak gusar karena takut terjadi sesuatu dengan Yana di dalam rumah tersebut.


Alex akhirnya menghubungi orang kantor untuk di sambungkan segera dengan Damar.


Setelah telepon tersebut terhubung, Alex langsung menceritakan apa yang terjadi membuat Damar murka dengan kelakuan istrinya.


“Aku akan datang kasana!” ujar Damar terdengar sangat kesal.


“Maafkan aku Nyonya Yana, aku terpaksa melakukan ini. Semua ini demi keselamatan Nyonya,” gumamnya dalam hati.

__ADS_1


30 menit, terlihat mobil Damar memasuki halaman depan rumah. Tanpa menunggu lagi, Damar langsung keluar mobil menemui Alex yang tengah menunggunya.


“Bodoh! Kenapa kau membiarkan Yana untuk datang kemari?! Apa kau tidak memikirkan Istriku, bagaimana jika Ayah melakukan hal buruk padanya?!” geram Damar menatapnya dengan tajam.


Alex hanya menunduk, karena memang kesalahannya dari walah. Jika saja dirinya menolak permintaan Yana, mungkin Damar tak semarah itu.


Damar terlihat sangat kesal, jika saja tidak memikirkan istrinya berada di dalam, mungkin saat ini ia sudah memukul Alex tanpa ampun.


Namun, keselamatan istrinya lebih penting baginya saat ini.


Damar melangkah menuju pintu rumah di ikuti oleh Alex dari belakang, setiba di ruang tamu langkah mereka terhenti.


Suatu pemandangan yang tanpa mereka duga, Yana terlihat tertawa lepas bersama ayahnya. Entah apa yang mereka bicarakan, sehingga ayahnya bisa tertawa lepas seperti itu.


“Alex, apa aku tidak salah lihat?” tanyanya pelan pada Alex yang ternyata mematung menatap mereka.


“Tuan, dari awal sebenarnya aku yakin jika Nyonya Yana bisa meluluhkan kerasnya hati Tuan besar. Lihat, mereka tampak begitu bahagia dan langsung akrab.”


Damar mengangguk.


“Pertama kalinya aku melihat senyum Ayah yang lepas, pelet apa yang Istriku berikan pada Ayahku?” gumam Damar bergurau.


“Hush ... Tuan masih percaya hal begitu di zaman sekarang?” tanya Alex.


Damar menatap Alex sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.


“Tapi jika itu benar ada di zaman sekarang, aku akan meminta Yana untuk memikatku untuk seumur hidup akan terus bersamanya.” Wajahnya tersenyum penuh kemenangan menatap Alex, lalu melangkah mendekati ayah dan istrinya yang masih tampak berbincang.


“Yana,” panggil Damar.


Deg!


Melihat kedatangan suaminya, Yana terlihat gugup. Apalagi kedatangannya kemari Yana sepengetahuan suaminya.


“M-mas Damar,” ucap lirih dengan suara terbata.


“Kamu disini? Kenapa tidak mengabariku, jika kamu ingin ke rumah Ayah?” tanya Damar berdiri di depan istrinya menatapnya.


“Damar, jangan memarahinya! Aku ....”


“Ayah jangan ikut campur! Ini urusan rumah tanggaku! Bukankah Ayah juga tidak menyetujui pernikahan kami, kenapa Ayah malah membelanya?” tanya Damar memperlihatkan dirinya seakan kesal terhadap istrinya.

__ADS_1


Walaupun sebenarnya dirinya sangat berterima kasih pada istrinya, berkat Yana Damar kembali melihat senyum di wajah ayahnya.


***


__ADS_2