
Pernikahan yang di gelar di gedung yang terlihat begitu mewah, pemberitaan di berbagai chanel televisi. Memberitakan tentang pernikahan mewah Yana dan Damar.
Tersiar kabar pernikahan seorang pria kaya raya kini sudah melepas masa dudanya selama belasan tahun menyendiri dan merawat putranya seorang diri pasca kematian istri pertamanya.
Yana tampak malu, karena yang hadir pada pernikahannya tersebut sama sekali tak ia kenali.
Sama halnya dengan kedua orang tua Yana, hanya beberapa saja yang mereka kenali.
Di lihat dari cara mereka berpakaian, mereka bukanlah orang sembarangan yang datang ke acara resepsi pernikahan tersebut.
“Pah, aku tidak menyangka. jika, Damar itu pria yang kaya raya,” bisik istrinya.
“Hush ... yang penting adalah Damar itu orang baik dan tulus menerima kekurangan Yana dan keluarganya. Papa berdoa semoga Yana bahagia, karena belum ia dapatkan bersama suaminya dulu. Kalau masalah orang kaya atau pintar, itu hanyalah bonus, Ma.”
Istrinya mengangguk mengerti, yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan putrinya.
Tiga pria yang duduk, mereka terlihat sangat bahagia. Tapi yang paling antusias bahagia adalah Kevin, ia menemukan sosok ibu sambung yang luar biasa seperti Yana yang tidak membedakan dirinya dengan Deva dan Diki walaupun saat itu status Yana masih belum menjadi istri dari papanya.
“Yana, kenapa kamu diam saja? Maaf, jika pernikahan ini membuatmu tertekan. Jujur, sejak awal pertemuan kita di depan kantor dulu. Itulah pertama kalinya aku jatuh cinta padamu,” ujar Damar.
Yana langsung menoleh menatap pria yang baru saja menjadi suaminya tersebut, Yana membulatkan matanya karena saat itu dirinya masih berstatus istri dari Dian.
“Kenapa? Pasti kamu terkejut, karena aku mencintai Istri orang. Ya mau bagaimana lagi, tapi aku tidak merebutmu dari Suamimu, bukan?”
Yana mengangguk pelan.
“Tapi, aku tidak mau membuatmu kecewa. Jujur, aku masih bingung dengan perasaanku.”
“Kamu jangan bingung, cukup aku saja yang mencintaimu. Kamu tidak perlu memaksakan hatimu untuk mencintaiku, cukup kamu menerimaku sebagai suamimu saja. Itu sudah lebih dari cukup untukku,” ujar Damar mengambil tangan istrinya lalu sekilas mengecupnya.
Membuat Yana membulatkan matanya, karena Damar mencium tangannya di depan banyak orang.
“Ekhem ... sabar ya. Masih banyak tamu,” goda papanya Yana.
Membuat Yana merasa sangat malu, sedangkan Damar hanya mengulum senyumnya saja.
Netra Damar tertuju pada ketiga putranya, mereka tampak akrab berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan, apalagi Kevin yang tak henti-hentinya tertawa.
“Bianca, maafkan aku. Aku tidak setia padamu, tapi percayalah kamu adalah cinta pertamaku dan lihat putra kita. Dia sudah sangat besar, ini semua karena Kevin. Karena dirinya selalu merindukan sosok seorang Ibu dalam hidupnya,” gumamnya dalam hati.
Acara sudah selesai, mereka langsung pulang ke rumah besar milik Damar. Begitupun dengan ketiga anak mereka, Damar sudah mempersiapkan kamar untuk Deva dan Diki yang bersebelahan dengan kamar Kevin yang berada di lantai tiga.
Sedangkan kamar Yana dan dirinya berada di lantai dua, karena rumah besar milik Damar memiliki tiga lantai.
Yana sempat takjub dengan interior rumah yang begitu modern, sangat beda jauh dengan rumah yang ia miliki dengan mantan suaminya dulu.
“Kenapa berdiri saja? Ayo masuk,” ajak Damar masuk ke dalam kamar mereka.
Kamar yang begitu luas, bahkan foto mereka saat prewed di pajang di dalam kamar tersebut.
“Luas banget kamarnya, bisa untuk satu rumah,” gumam Yana dalam hati.
“Yana, apa kamu baik-baik saja?” tanya Damar melihat Yana tak kunjung masuk ke kamar.
Yana langsung tersadar.
“Iya, aku baik-baik saja.”
Yana masuk ke dalam kamar tersebut, Damar meminta Yana untuk mengunci pintunya.
__ADS_1
Namun, baru saja pintu itu tertutup terdengar ketukan dari luar kamar.
Karena Yana masih di dekat pintu tersebut, ia langsung membuka pintu kamar.
Ceklek ...
Kevin datang dengan senyum yang mengambang, begitupun dengan Deva dan Diki di belakang Kevin.
“Ada apa nih? Kalian seperti mau demo,” gurau Yana pada ketiga putranya sembari terkekeh.
“Kami hanya ingin memberikan kado ini untuk Mama,” sahut Kevin.
Yana menatap kado tersebut di tangan Kevin.
“Ini adalah kado dari kami bertiga,” tambahnya lagi.
“Oh ya?” Yana seakan tidak percaya, putra-putranya masih memikirkan kado untuk dirinya.
“Untuk Papa mana?” tanya Damar berpura-pura sedih.
“Papa beli sendiri saja,” sahut Kevin.
Membuat Yana terkekeh mendengarnya.
Yana memeluk ketiga putranya tersebut secara bersamaan, melihat momen tersebut hati Damar langsung tersentuh. Karena dirinya tidak salah pilih istri, terlihat Kasih sayang Yana begitu tulus pada putranya sudah terlihat dari sebelum mereka menikah.
“Sekarang kalian istirahat, pasti kalian sangat cape.” Yana melepaskan dekapannya.
Mereka bertiga melambaikan tangan, untuk kembali ke kamar mereka masing-masing.
Yana menghela napas panjang, setelah melihat kepergian putranya ia kembali menutup pintu kamar dan menguncinya.
Yana mengangguk, sebelum membuka kado ia terlebih dulu duduk di sofa.
Damar menyusulnya dan duduk di samping Yana bahkan tidak ada celah diantara mereka berdua, jantung Yana berdebar kencang karena Damar terlalu dekat padanya.
“Apa yang kamu pikirkan? Bukalah,” ujarnya lagi tangan Damar malah melingkar di pinggang istrinya tersebut.
Yana berusaha biasa saja dengan perlakuan Damar tersebut, agar dirinya tidak terlihat gugup.
Yana perlahan membuka kotak kado tersebut, terlihat lukisan yang sangat cantik.
Mereka juga melukiskan seolah foto mereka bertiga yang sedang bermain, sedangkan Yana dan juga Damar duduk di kursi taman sekelilingnya di penuhi bunga-bunga.
“Lukisan ini sangat cantik, siapa yang membuatnya?” tanya Yana terpukau dengan lukisan itu.
“Kevin, dia sangat pandai melukis walaupun usianya masih dini. Setiap sore, ia selalu les melukis.”
“Wah, ini sangat indah,” puji Yana berulang kali karena begitu takjub dengan lukisan tersebut.
“Iya, aku yakin mereka bertiga pasti memiliki keahlian masing-masing. Aku selalu mendukung apa yang mereka cita-citakan,” ujar Damar lembut mulai memeluk Yana dari belakang.
Yana meletakkan lukisan tersebut, perlahan melepaskan tangan Damar yang melingkar di perutnya.
“Aku ingin membersihkan diri dulu,” pamitnya.
Yana berusaha menyembunyikan rasa gugupnya, setelah berhasil melepaskan dekapan Damar tadi.
Damar tersenyum melihat punggung Yana yang masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
“Huft ... akhirnya, aku bisa memilikimu, Yana.” Terpancar aura kebahagiaan dari wajah Damar, karena sudah berhasil menikahi wanita pujaannya.
Dulu ia berpikir tidak akan pernah bisa memiliki Yana, karena status Yana yang masih status istri orang.
Tidak mungkin baginya menjadi duri dalam rumah tangga Yana, meskipun bisa ia lakukan dengan cara kotor.
Sembari menunggu Yana keluar dari kamar mandi, Damar menyempatkan diri untuk membuka email dari laptop miliknya.
Karena dalam Minggu ini ia harus menyelesaikan salah satu pekerjaannya, karena dirinya akan mengajak keluarga kecilnya untuk berlibur.
“Kamu tidak membersihkan diri dulu?” tanya Yana.
Damar menoleh melihat Yana sudah selesai mandi dengan handuk yang melilit di kepalanya, Damar terpukau melihat kecantikan Yana yang tengah memakai baju tidur.
Kulit Yana berwarna kuning langsat, apalagi melihat body yang tidak terlalu gemuk dan juga tidak kurus membuat hasrat Damar menjadi sangat ingin menyentuh istrinya itu.
“Yana, kemari.” Damar meminta Yana untuk mendekatinya, setelah Yana mendekat ia menarik tangan Yana untuk duduk di pangkuannya.
“Damar, jangan seperti ini! Aku sangat berat,” tolaknya hendak beranjak dari pangkuan Damar.
“Kata siapa kamu berat? Tubuhmu ringan sekali. Lupakan itu, aku ingin kamu memilih ini.”
Damar memperlihatkan foto yang berbagai negara.
“Ini bagus sih,” ujar Yana menunjuk kita London.
“Oke, kita akan kesana Minggu depan,” ujar Damar.
Yana membulatkan matanya.
“Loh, kita ....”
“Sudah, jangan banyak protes. Aku ingin membahagiakan putra kita dan juga kamu. Apapun yang kamu minta, aku akan berusaha mengabulkannya.” Menatap Yana sembari melingkarkan tangannya ke pinggan Yana.
Tatapan mereka saling bertemu, Damar mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya itu lalu menyatukan kening mereka.
“Aku tidak akan melakukannya jika kamu belum siap,” bisik Damar sembari mengelus pipi mulus istrinya.
Walaupun sebenarnya dirinya sangat ingin melakukannya, tapi ia menghargai Yana istrinya.
Yana mengerti apa yang di ucapkan oleh suaminya itu.
“Lakukan saja jika kamu menginginkannya, karena itu sudah hakmu. Aku akan melayanimu dengan sepenuh hatiku,” balas Yana melingkarkan tangannya di leher suaminya.
Damar seperti mendapatkan angin surga setelah mendengar perkataan Yana saat ini, Damar perlahan mendekatkan bibirnya.
“Tapi ....” Yana menggantungkan ucapannya sembari meletakkan telunjuk di bibir Damar.
“Tapi apa?” tanya Damar penasaran.
“Tapi aku sedang datang bulan,” sahutnya terkekeh.
Damar tersenyum mendengarnya.
Namun, tidak dengan Yana menatapnya dengan bingung, karena melihat suaminya malah tersenyum bukannya marah.
“Kamu sudah milikku sekarang. Jadi, jika aku tidak bisa melakukannya sekarang, tapi aku bisa melakukannya setelah kamu selesai menstruasi.” Menatap Damar dengan kelembutan.
Damar sekilas mengecup bibir Yana, karena memang sengaja tidak ingin berlama-lama. Karena takut dirinya tidak bisa mengontrol hasrat yang sudah lama belum ia salurkan.
__ADS_1
***