Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 18


__ADS_3

Keesokan paginya, Yana terkejut karena melihat sebuah mobil asing berhenti tepat di depan rumahnya.


“Ma, sepertinya teman Papa datang,” ujar Yana sembari memakaikan helm pada kepala kedua putranya secara bergantian.


“Bukan, Papa sudah berangkat bekerja sejak pagi tadi.”


“Selamat pagi, Nona. Saya sopir dari perusahaan xx, karena bos memerintahkan saya untuk menjemput Nona ke kantor pusat hari ini,” ujar pria itu.


“Yana, Mama curiga dengan pria ini. Masa iya bos mu meminta untuk menjemputmu,” bisik mamanya.


Sebenarnya Yana juga merasa curiga, tapi ia harus memastikannya terlebih dahulu.


“Sebentar, Pak.”


Pria itu mengangguk, Yana merogoh ponselnya dari dalam tasnya untuk menghubungi teman satu kantor dan sekaligus atasannya. Karena kemarin memang dirinya di minta untuk ke kantor pusat hari ini, karena ada yang berhenti bekerja.


“Halo, Vita. Ada sopir menjemputku, katanya utusan Bos. Masa iya Bos meminta sopir menjemputku? Aku takut dia penculik,” ujar Yana bicara dengan sangat pelan.


“Oh, tanya namanya. Jika namanya Ujang, berarti memang sopir kantor. Karena bos sendiri yang meminta untuk menjemputmu,” sahut Vita.


“Haduh, aku bisa naik motor sendiri. Aku karyawan baru, tidak seistimewa itu,” protes Yana.


“Sudah, diamlah. Itu sudah tugas mereka, itu lebih baik untuk mereka dari pada makan gajih buta. Semua karyawan memang di perlakukan layaknya ratu oleh bos, apalagi jika bekerja dengan rajin.”


“Oh, begitu. Terima kasih Vita,” ucapnya lalu mengakhiri panggilannya.


“Bagaimana Nona, apa kita bisa berangkat sekarang?” tanya pria itu.


“Mmm ... maaf, Pak. Nama bapak siapa?” tanya Yana tampak ragu.


“Yana, kamu gak sopan sekali!” protes Mamanya.


“Vita yang memintaku untuk bertanya namanya, Ma.”


Sang sopir tampak menahan senyumnya, melihat ibu dan anak itu berbisik.


“Nama saya Udin Bin Sahrudin.”


Deg!


Yana membulatkan matanya, karena nama tersebut beda jauh dengan nama yang di katakan Vita.


“Tapi, saya di panggil Ujang kalau di kantor.”


Yana tampak menghela napas lega.


“Jauh banget, Pak. Kenapa tidak di panggil Udin saja?” tanya Yana menyelipkan canda di sana.


“Entahlah, saya masih bingung, Nona. Mereka memanggil saya dengan panggilan Ujang,” ujar Ujang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Ma, cepat berangkat, nanti terlambat!” protes Deva.


“Iya, Sayang.”


“Nona, mari saya antar. Setelah itu, kita akan ke kantor.”

__ADS_1


Yana mengangguk, ia kembali melepaskan helm putranya lalu masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan jika itu memang dari kantor tempatnya bekerja.


Sekitar 30 menit untuk tiba di kantor, Yana menatap kantor tersebut karena itu adalah tempat yang sama dengan mantan suaminya bekerja.


“Nona, kenapa berdiri saja?” tanya Ujang melihat Yana berdiri di depan pintu mobil.


“Pak, apa Bapak tidak salah kantor?” tanya Yana memastikannya.


“Tidak sama sekali, Nona. Kantor ini memang pusatnya, sedangkan tempat Nona sebelumnya adalah kantor cabang saja.”


“Oh. Terima kasih banyak, Pak Ujang.”


Pria itu mengangguk.


“Huh! Aku sudah berusaha menghindar, tapi kenapa bisa di pertemukan kembali! Kenapa aku bisa tidak mengetahui jika kantor ini sama dengan kantor yang kemarin? Kenapa Damar tidak memberitahuku?” kesalnya.


Karena sebelumnya, Damarlah yang mencari pekerjaan untuknya. Tanpa ia ketahui jika Damar adalah pemilik perusahaan tersebut.


Dengan langkah yang berat, terpaksa Yana memasuki kantor tersebut.


Yana mengernyit heran, karena melihat para karyawan tersebut tampak menunduk kepalanya kepadanya.


“Ada apa dengan mereka? Apa penampilanku sangat buruk? Sehingga mereka tidak mau menatapku?” gumamnya dalam hati.


“Nona, maaf. Saya pindahan dari kantor cabang. Saya kurang mengerti ruangan di kantor ini, bisa tolong tunjukan ruangan saya,” ujar Yana dengan lembut.


“Oh tentu saja, Nona. Bos juga meminta anda untuk datang ke ruangannya setelah anda tiba di kantor,” sahut resepsionis itu.


“Maaf, Nona. Panggil nama saja, saya Yana.”


Mengulurkan tangannya.


“Baik, Yana.” Tersenyum dengan lembut menatap Yana.


Mereka berjalan beriringan, untuk menuju lantai atas mereka menggunakan lift.


“Yana, saya hanya bisa mengantar hingga di depan pintu ruangan Bos saja. Setelah itu, Bos akan menjelaskan dimana ruangan anda,” ujarnya.


Setelah berterima kasih, Yana menghela napas sebelum mengetuk pintu. Entah mengapa dirinya terlihat gugup, bukan bertemu dengan bosnya. Namun, takut akan bertemu dengan mantan suaminya.


Tok ... Tok ... Yana mengetuk pintu.


“Masuk,” sahut orang yang berada di dalam.


Ceklek ...


Yana membuka pintu.


Bukannya masuk, namun netranya membulat setelah melihat Damar yang berada di dalam ruangan tersebut. Damar tak melihat dirinya, karena terlalu serius dengan pekerjaannya.


Yana kembali menutup pintu.


“Sepertinya aku salah ruangan,” gumamnya.


Kebetulan ada karyawan yang melintas.

__ADS_1


“Pak, dimana ruangan Bos? Aku di minta olehnya untuk menemuinya,” tanya Yana pelan agar tidak terdengar oleh Damar yang berada di dalam ruangan.


“Nona sudah berada di ruangan yang tepat,” ujarnya menunjuk pintu yang ada di belakang Yana.


Yana mengernyit bingung.


“Apa jangan-jangan ....”


Yana membulatkan matanya, lalu menutup mulutnya terlihat terkejut.


“Anda baik-baik saja, Nona?” tanya pria itu.


“Hah, i-iya, aku baik-baik saja. Terima kasih banyak.”


Ceklek ... pintu terbuka.


Karena Damar mendengar seseorang mengetuk pintu, tapi tak kunjung masuk.


“Yana, kamu sudah datang?” tanya Damar melihat Yana berdiri di depan pintu.


“A-aku ... itu ....”


“Masuk lah,” ajaknya menarik tangan Yana untuk masuk.


“Kapan kamu datang?” tanya Damar menarik kursi untuk Yana duduk.


“Baru saja,” sahutnya.


“Kenapa wajahmu pucat? Apa kamu sakit? Kita ke Dokter sekarang,” ucap Damar terlihat cemas, ia langsung beranjak dari duduknya menarik pelan tangan Yana.


“Hah, tidak ... tidak. Aku baik-baik saja, aku hanya ....”


“Kamu tenang saja. Dian sudah di pecat dari kantor ini, karena terbukti menyalah gunakan uang perusahaan. Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Karena kamu tidak akan pernah bertemu dengannya di kantor ini.” Ia mengerti dengan kecemasan Yana saat ini.


Yana kembali terkejut, ia menatap Damar.


“Bu-bukan itu, kamu siapa?” tanya Yana.


Dalam pikirannya selalu bertanya-tanya, apakah memang Damar adalah pemilik perusahaan tempat dirinya bekerja.


Namun, ia bingung mengatakannya. Karena takut jika Damar akan tersinggung dengan pertanyaannya.


“Aku Damar. Yana, sepertinya kamu sedang mengalami amnesia. Sehingga kamu tidak mengenaliku lagi,” gurau Damar.


Yana tersenyum kecut.


“Hahaha ... aku hanya bercanda. Kamu tidak perlu tahu siapa aku, yang jelas aku adalah orang sama sepertimu. Aku juga bekerja di sini,” ujar Damar berbohong.


Yana terlihat menghela napas lega.


“Aku pikir kamu adalah pemilik perusahaan ini,” sahut Yana.


“Apa dia masih belum sadar? Kenapa dia lucu sekali, ia sangat polos,” gumam Damar dalam hati masih menatap Yana sembari tersenyum simpul.


“Dia manis sekali saat tersenyum. Apa aku boleh mencubit pipinya sebentar saja? Tuhan, apakah aku boleh jatuh cinta lagi?” gumam Damar dalam hati.

__ADS_1


Netranya masih belum lepas dari Yana, membuat Yana menjadi salah tingkah karena Damar menatapnya sejak tadi.


***


__ADS_2