Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 30


__ADS_3

Damar membalikkan tubuhnya, menatap Yana yang juga menatap dirinya.


“Kenapa terburu-buru? Aku belum selesai bicara,” ujar Yana.


Hening sejenak.


Sebelum Yana melanjutkan pembicaraannya, ia terlebih dahulu menatap kedua orang tuanya.


Papanya mengangguk sembari tersenyum, karena dirinya juga sudah lama menyelidiki Damar dari kejauhan, karena melihat Damar yang semakin hari semakin dekat dengan putranya. Awalnya dia tak percaya ternyata Damar bukanlah orang sembarangan, hingga saat ini ia membiarkan Damar dekat dengan putrinya. Karena dia sangat yakin, Damar adalah orang yang tepat untuk putrinya.


Yana tampak menghela napas panjang.


“A-aku ....”


“Yana, kamu mau bicara apa?” tanya Damar karena sejak menunggu dari tadi.


“Aku tidak ... maksudnya, aku bersedia menjadi Istrimu.” Dengan satu tarikan napas, Yana mengatakan itu.


Setelah itu, ia menutup mulutnya karena malu sendiri.


Damar seperti tidak percaya mendengar ucapan Yana, ia bahkan masih mematung di tempatnya dengan mulut yang terbuka sedikit.


Plak!


Suara pukulan tepat di bahu Damar, membuatnya langsung tersadar. Bukan karena sakit akibat pukulan tersebut, hanya saja dirinya seperti terbangun dari alam mimpinya.


“Tuan, apa yang anda pikirkan?” tanya Vita sembari memainkan kedua alisnya.


Yana mengernyit heran, karena melihat kedatangan Vita ke rumahnya.


“Hah, Aku ... apa aku mimpi?” gumamnya.


Plak!


Pukulan kembali mendarat, tapi bukan di bahu Damar lagi. Melainkan di pipi Damar, hingga membuatnya kesakitan.


Yana membulatkan matanya, karena Vita sangat berani menampar pipi bosnya sendiri.


“Kau, kurang ajar sekali menamparku!” serunya sembari mengelus pipinya yang terasa panas.


“Kalau Tuan merasakan sakit, itu berarti Tuan sedang tidak bermimpi,” sahut Vita dengan santai sembari tersenyum senang.


Seketika Damar tersadar, jika saat ini dirinya sedang tidak bermimpi.


“Yana,” panggil Damar melangkah mendekati Yana hendak memeluknya.


“Eh ... eh ... mau ngapain?” tanya papanya melihat Damar yang hendak memeluk putrinya tersebut.


Seketika langkah Damar langsung berhenti, ia menatap papanya Yana lalu memeluk pria yang sudah mulai keriput tersebut.


Mereka terkekeh melihat Damar yang tidak berani memeluk Yana, tapi malah memeluk calon papa mertuanya.


“Terima kasih sudah menerima saya, Tuan.” Sembari berpelukan dengan calon papa mertuanya.

__ADS_1


Papa Yana menepuk bahu Damar pelan.


“Tolong jangan sakiti putriku, jaga dia. Kasihani dia, jika dirimu sudah tak menyukainya lagi kembalikan saja dia padaku dengan secara baik-baik. Aku akan menyambut putriku kembali,” ujarnya tanpa sadar meneteskan air mata.


“Tidak akan! Aku tidak akan mengembalikan di saat dia sudah milikku, aku akan berjanji untuk selalu menjaganya. Bagaimana aku bisa mampu menyakitinya, sedangkan melihatnya menangis saja hatiku hancur,” balas Damar melepaskan pelukan pada papa mertuanya.


Selesai drama yang cukup mengharukan tadi, Damar berpamitan untuk pulang. Yana meminta Vita untuk menunggunya di ruang tamu, sementara dirinya mengantar Damar ke teras rumah.


“Yana, terima kasih.” Sembari menyelipkan rambut halus yang jatuh menutupi wajah Yana.


“Terima kasih untuk apa?” tanya Yana.


Ia sebenarnya masih canggung dengan perlakukan Damar yang begitu manis, mengingat usia mereka sudah bukan abg lagi.


“Untuk semuanya. Aku akan segera meresmikan pernikahan kita, apa perkataanmu tadi adalah memang dari hatimu? Atau hanya kasihan padaku?” tanya Damar.


“Ekhem ...” deham papanya berdiri di ambang pintu, sembari memperlihatkan jam di pergelangan tangannya.


Damar mengerti apa yang di maksud oleh calon papa mertuanya, ia mengangguk.


“Aku ke kantor dulu. Ingat! Besok kamu tidak perlu pergi ke kantor,” ujarnya kembali mengingatkan.


Yana kembali mengangguk.


Setelah melihat kepergian Damar, sang papa menghampirinya lalu menggandeng bahunya.


“Nak, apa kamu yakin dengan keputusanmu untuk menikah kembali?” tanyanya dengan lembut.


Yana menghela napas berat.


“Sayang, tidak semua cerita itu endingnya sama. Berpikir positif saja, berdoa kepada Tuhan dan perbanyak ibadah. Mama dan Papa pasti akan mendoakan yang terbaik untuk kalian,” sahut Papanya dengan lembut.


“Menikah ataupun tidak, kamu tetap putri kecilku yang sekarang sudah menjelma menjadi wanita cantik.”


“Papa,” ucapnya sembari tersenyum manja.


“Nak, Papa perhatikan Damar itu anak yang baik. Terlihat caranya memperlakukanmu dan kedua putramu. Bukan seperti Dian anak kurang ajar itu! Sejak pertama Papa memang tidak merestui hubungan kalian. Tapi, ya sudahlah ... semua sudah berlalu.”


“Maaf, Pah. Anakmu ini sangat keras kepala,” ucap Yana lirih.


Setelah puas berbincang, mereka masuk ke dalam rumah. Tampak Vita tengah berbincang dengan mamanya sembari menikmati teh sembari menikmati teh dan camilan.


“Vita, kamu kok tahu alamat rumahku?” tanya Yana langsung duduk di samping Vita.


“Yana, sepertinya bukan usiamu saja yang bertambah. Tapi, pikunmu juga mulai bertambah!” kesal Vita, karena Yana melupakan bahwa Yana sendiri yang memberikan alamatnya dulu padanya.


Yana tampak berpikir keras mengingatnya, lalu ia cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kenapa senyum? Aku benarkan?” menatap Yana.


Orang tua Yana terkekeh melihat keakraban mereka, ternyata begitu banyak di luar sana menyayangi Yana.


“Kalian berbincang saja, Mama dan Papa permisi dahulu.” Vita dan Yana mengangguk, Vita merasa lega karena dirinya bisa bebas berbicara pada Yana.

__ADS_1


Setelah punggung kedua orang tua Yana, Vita meletakkan gelas berisi tehnya di meja lalu menghadap Yana sembari memegang tangannya.


Yana mengernyit heran.


“Ada apa?” tanya Yana lembut.


“Yana, apa kamu tahu setelah semua orang di minta pulang saat di kantor tadi?” tanya Vita.


Setelah semua orang di minta pulang, tapi tidak dengan Vita ia bersembunyi di bawah meja untuk mendengarnya apa yang sebenarnya terjadi.


“Tidak,” sahut Yana pelan.


Ia tampak menghela napas berat, karena kembali mengingat kejadian tadi lalu menggeleng kepalanya pelan.


“Maafkan aku tidak bisa membantumu saat itu, karena aku juga takut melihat kemarahan Damar di ruang meeting. Apalagi Tuan Damar membanting laptop milik Clara! Huh ... tanganku langsung gemetar,” ucap Vita.


Yana mengangguk.


“Lalu, apa yang terjadi setelah itu?” tanya Yana penasaran.


Vita kembali menceritakan bagaimana Clara di bentak oleh Damar dan bahkan ia tak habis pikir ternyata semua itu adalah perbuatan Clara.


“Kamu tahu kenapa Clara melakukan itu?”


Yana menggelengkan kepalanya.


“Kamu itu polos sekali sih! Clara itu menyukai Damar, dia cemburu dan iri saat melihat kamu dan Damar semakin hari semakin dekat.” Vita tampak geram pada Vita, karena perbuatannya membuat Yana menjadi malu dan pasti jadi bahan gosip di kantor nanti.


Yana terdiam, ia baru menyadari karena saat itu Clara lebih memilih berhenti kerja ketimbang di mutasi kerja. Sekarang Yana baru mengerti, ternyata Clara tidak mau jauh dari Damar.


“Yana, kok melamun? Cie ... pasti sekarang dalam pikiranmu adalah dimana Tuan Damar saat ini?” goda Vita sembari memainkan kedua alisnya.


“Apaan sih!”


“Yana, aku sudah mendengar semuanya tadi. Aku sangat bahagia mendengarnya dan sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Damar. Uh ... aku sangat senang. Jangan lupakan aku ya,” ucap Vita merentangkan kedua tangannya.


“Kamu ini bicara apa? Mana mungkin aku melupakanmu,” ujar Yana menarik Vita masuk kedalam pelukannya, yang sudah anggap seperti adiknya sendiri.


“Aku akan membalas perbuatan Clara padamu! Aku tidak rela kamu dipermalukan olehnya di kantor!” geram Vita mengingat kejadian tadi.


“Sudah, lupakan kejadian tadi. Jangan menyimpan dendam! Clara tidak salah, karena dia berusaha memperjuangkan cintanya. Namun, dengan cara yang salah. Aku akan membantunya untuk mendapatkan cintanya,” ucap Yana sembari mengelus punggung Vita.


“Apa? Memperjuangkan! Jangan gila! Lalu bagaimana dengan dirimu? Kamu membantunya untuk mendapatkan cinta Damar begitu, lalu mereka menikah dan kamu sendirian menatap kebahagiaan mereka!” kesal Vita melepaskan pelukan Yana.


Yana terkekeh melihat Vita yang begitu kesal padanya.


“Aku hanya bercanda,” ucap Yana memperlihatkan senyum di bibir ranumnya.


Ia sangat bersyukur bertemu dengan Vita yang begitu baik padanya.


“Huft ... syukurlah. Aku akan meninggalkanmu dan tidak mau berteman denganmu lagi jika itu memang kamu lakukan. Clara tidak pantas di perjuangkan, cara mainnya kotor!” seru Vita.


“Iya maaf,” sahut Yana lembut karena melihat kemarahan temannya tersebut.

__ADS_1


***


__ADS_2