
Yana melambaikan tangannya, karena melihat Damar bengong.
“Hah, eh maaf, Yana.”
“Mikir apa sih? Hm ... pasti mikir yang jorok-jorok ya,” tebak Yana dengan nada bercanda.
“Hah, tidak!”
Tok ... Tok ...
Ceklek ...
Pintu ruangan langsung terbuka.
“Tuan ada klien yang ingin bertemu dengan Tuan. Beliau mengatakan jika sudah berjanji bertemu dengan anda ....”
“Sstt ... Nanti aku sampaikan pada Bosnya, sekarang Bosnya masih belum datang. Kamu boleh keluar!” selanya pada wanita yang datang.
Wanita tersebut terlihat bingung, netra wanita tersebut langsung tertuju pada Yana yang tengah duduk.
Wanita itu langsung mengangguk mendapatkan kode dari Damar untuk memintanya keluar.
“Yana, kamu bisa langsung bekerja. Ruanganmu ada di samping ruangan ini, mari aku antar,” ucap Damar beranjak dari tempat duduknya.
Yana mengangguk.
Damar tampak menghela napas lega, bukan tidak ingin Yana mengetahui yang siapa dirinya yang sebenarnya. Namun, ia takut Yana akan menjaga jarak dengannya. Walaupun sebenarnya mereka hanya sebatas teman.
“Ini ruangan kamu, selamat bekerja.” Memperlihatkan ruangan Yana yang terlihat luas.
Damar memang mempersiapkan ruangan yang nyaman untuk Yana bekerja, di samping itu ia juga bisa menatap Yana saat bekerja. Karena dinding pemisah tersebut terbuat dari kaca, sehingga Damar bisa melihat Yana dari ruangannya.
“Luas sekali. Damar, aku sangat berterima kasih padamu. Kamu sudah banyak membantuku, aku bingung harus membalasnya dengan cara apa.”
Damar tersenyum bahagia, apa lagi Yana memegang lengannya.
“Tidak perlu berterima kasih, ini sudah tugasku. Eh ... maksudku tugas sesama manusia untuk saling tolong menolong,” ujarnya hampir saja keceplosan.
Yana mengangguk.
“Jika kamu butuh bantuan, jangan sungkan untuk mengatakannya.”
“Siap, Bos,” ucap Damar sembari tersenyum.
Yana tertawa kecil.
Lagi-lagi Damar terpesona dengan senyum Yana yang begitu manis.
“Ekhem ... oke baiklah. Aku harus kembali bekerja,” ujarnya.
Ia berpamitan keluar ruangan tersebut.
__ADS_1
“Huftt ... lama-lama aku bisa diabetes melihat senyum Yana. Senyumnya itu benar-benar membuat aku meleleh,” gumamnya sembari melangkah menuju ruangannya.
“Tuan, apa anda baik-baik saja?” tanya Sekretarisnya melihat Damar berbicara sendiri, karena bersamaan hendak masuk ke dalam ruangan dengan berkas di tangannya.
“Memang kenapa dengan diriku? Kenapa kau menatapku? Pasti kamu berpikir aku sedang tidak waras! Huh ... beruntung suasana hatiku sedang senang saat ini. Ada apa?” tanyanya.
“Ini berkas yang harus Tuan tanda tangani dan klien Tuan juga sudah berada di lift.”
“Oh. Masuk,” ajaknya.
Di dalam ruangan, Damar segera menandatangani berkas tersebut dengan senyum yang masih belum luntur dari bibir ranumnya.
Membuat sang sekretaris menatapnya heran.
“Oh iya, jika di depan Yana, jangan memanggilku dengan Tuan. Katakan juga pada karyawan lainnya, panggil aku Damar saja.”
Sekretarisnya terlihat bingung, persekian detik ia mencerna lalu mengangguk mengerti jika bosnya tersebut sedang menaruh perasaan pada Yana.
“Tuan Damar lebih tua dari kami, bagaimana bisa kamu memanggilnya dengan panggilan nama saja,” gumamnya dalam hati sembari memperhatikan Damar yang tengah fokus menatap berkas tersebut.
Sore hari, Yana terlihat sedang menunggu taksi di depan pos di depan kantor tempat dirinya bekerja.
Namun, terdengar suara klakson dari belakang sehingga membuatnya sedikit terkejut.
Tin ... Tin ....
“Yana, masuk ke dalam mobil.” Siapa lagi kalau bukan Damar.
“Damar,” gumam Yana dalam hati.
“Neng, Yana. Taksi online sudah dekat,” ujar satpam tersebut pada Yana.
Sebelumnya Yana meminta tolong pada satpam tersebut untuk memesankan taksi online. Karena daya ponsel miliknya sudah habis.
“Kamu memesan taksi? Batalkan saja, biar Yana ikut pulang bersamaku,” ujar Damar.
Satpam tersebut terlihat bengong, lalu mengangguk cepat.
“Tapi, Damar. Taksinya sudah dekat, aku naik taksi saja,” ujarnya berusaha menolak.
“Biar Jamal yang mengurusnya,” sahut Damar.
Yana menatap satpam tersebut dengan perasaan bersalah.
“Iya, Neng jangan khawatir. Kebetulan jam kerja saya juga sudah habis, saya akan pulang,” ujar Jamal berbohong. Karena mendapatkan tatapan tajam dari Damar.
Damar terlihat kesal, karena Jamal memanggil Yana dengan panggilan Neng. Entah kenapa dirinya tidak suka dengan panggilan Jamal pada Yana.
“Damar, maaf. Kali ini aku menolak ajakanmu, aku mau naik taksi saja. Kebetulan, aku harus mampir ke swalayan.” Yana kembali menolak, karena merasa tidak tega dengan Jamal yang sudah memesan taksi dengannya.
Kebetulan juga ia mengenal Jamal, karena mereka sebelumnya sama-sama pindahan dari kantor cabang.
__ADS_1
Damar tampak menghela napas berat, ia membuka pintu mobil miliknya.
“Jamal, bukankah kamu akan pulang. Itu pasti taksimu, motormu mogok bukan tadi pagi?” Jamal yang mengerti dengan cepat mengangguk.
“Neng, maaf. Aku lupa jika harus pulang dengan cepat, maaf saya harus pulang dengan menggunakan taksinya. Karena saya baru saja mendapatkan pesan jika Istri saya mau menyusui ... eh maksud saya melahirkan.” Jamal tampak gugup.
“Hah ....” Yana tampak bingung.
“Oh iya, iya. Cepatlah temui Istrimu,” ujar Yana tampak ikut cemas.
“Jamal, ini untuk biaya taksimu dan juga beli pakaian untuk anakmu yang akan lahir,” ujar Damar memberikan beberapa lembar uang pada Jamal.
“Iya, Tu ....” Damara langsung melototkan matanya pada Jamal.
“Eh maksudku, terima kasih Damar.”
Damar langsung tersenyum lalu mengangguk.
“Yana, aku akan mengantarmu. Kebetulan, jalan kita searah. Karena aku juga menjemput Kevin selesai les,” ujarnya.
Tidak ada alasan lagi untuk Yana menolak ajakan Damar untuk pulang bersama.
Bukan menolak, akan tetapi dirinya kurang nyaman jika terlalu dekat dengan Damar. Karena takut akan menimbulkan fitnah dan bahan gosip di kantor atas kedekatannya.
“Aduh, Damar. Lagi-lagi aku merepotkanmu,” ujar Yana membuka obrolan di dalam mobil.
“Santai saja Yana.”
“Oh iya, ini. Aku akan mencicil uangku.” Menyerahkan amplop berisi uang tersebut.
“Apa ini?” tanya Damar sekilas melihat amplop tersebut.
“Uang,” sahutnya santai.
“Iya aku tahu itu uang, kamu baru saja mengatakannya. Tapi untuk apa? Bukankah sudah aku katakan, jika kamu tidak perlu mengembalikannya. Bahkan jika kamu minta diriku, aku dengan senang hati memberikannya.” Canda Damar sembari terkekeh.
Plak!
Yana memukul bahu Damar pelan dengan menggunakan amplop coklat itu, tapi tidak membuat Damar kesakitan. Tapi malah tertawa lepas, melihat wajah Yana terlihat memerah karena malu.
“Apaan sih!” kesal Yana.
“Yana, kalau boleh jujur. Kamu itu sebenarnya cantik, pria bodoh seperti Dian tidak melihat itu!” gumamnya dalam hati saja, tidak berani mengatakannya secara langsung.
“Damar, selama aku bekerja di kantor aku belum pernah melihat wajah pemilik perusahaan tersebut. Apa dia memang jarang ke kantor?” tanya Yana penasaran.
“Oh, iya kamu benar. Bos, tidak bisa datang. Jadi, aku hanya di utus olehnya untuk mengurus semuanya. Karena pemiliknya itu sudah sangat tua,” ujar Damar.
Yana mengangguk mengerti.
Memang benar adanya, perusahaan tersebut adalah milik ayahnya. Dirinya hanya sebagai penerusnya saja karena dirinya pewaris satu-satunya.
__ADS_1
Namun, Damar tidak terlihat seperti pemilik perusahaan tersebut. Karena dirinya lebih nyaman dengan gaya yang sederhana, sama seperti karyawan lainnya.
***