Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 27


__ADS_3

Setelah melihat Yana keluar dari ruangannya, Damar kembali meminta Clara untuk ke ruangannya. Karena tidak ingin Yana merasakan kurang nyaman dengan perkataan Clara terhadapnya.


“Clara, beri aku alasan. Kenapa kamu menolak di mutasi? Padahal jabatan kamu masih sama, bahkan gajih kamu juga naik.”


Damar berbicara dengan lembut.


“Karena menurut saya ini tidak adil bagi saya. Saya sudah sangat lama di kantor ini, kenapa harus saya? Yana anak baru, kenapa tidak dia saja?” Clara bertanya balik.


“Yana masih perlu banyak belajar memahami pekerjaan ini. Apa aku harus mengulang perkataanku lagi?!” seru Damar mulai kesal, karena Clara bersikap semaunya.


“Sekarang tentukan pilihanmu,” tambahnya lagi.


Clara berulang kali menghela napas berat.


“Beri aku waktu sehari, Tuan. Aku akan memikirkannya,” usul Clara.


Damar mengernyit heran, karena masih bingung dengan Clara yang menolak mutasi pekerjaan tersebut seharusnya ia bahagia.


“Apa kamu mempunyai kekasih di kantor ini? Sehingga kamu berat untuk meningkatkan kantor ini?” tanya Damar penasaran.


Clara menatap Damar dengan lembut.


“Apa Tuan tidak melihat cinta sama sekali dari mataku? Aku mencintaimu, Tuan.” tanyanya dalam hati.


Clara mengangguk pelan.


“Oh, Siapa? Apakah Dani? Aku perhatikan, kalian terlihat sangat dekat,” tebak Damar.


Clara menggelengkan kepalanya kuat.


“Lalu?” tanya Damar terlihat sangat penasaran.


“Jika aku mengatakan siapa pria itu, Tuan pasti akan sangat terkejut. Maaf Tuan, aku harus permisi.” Clara segera berpamitan dan membiarkan Damar yang terlihat bingung.


Damar tampak mengangkat kedua bahunya tampak tidak peduli.


Sementara Clara langsung melangkah ke kamar mandi, ia mencuci wajahnya untuk menetralkan amarahnya.

__ADS_1


“Sudah saatnya aku menjalankan rencanaku, aku tidak mau menunda lagi. Apalagi mereka semakin hari semakin dekat, apapun risikonya akan aku ambil!” gumamnya mengepal tangannya tampak bertekad kuat.


“Kenapa Clara? Kenapa kamu terlihat marah? Apa yang terjadi?” tanya wanita yang bekerja sama di kantor tersebut, Clara tidak menyadari jika dirinya tidak sendiri di dalam toilet tersebut.


“Hah, Tidak! Aku hanya pusing dengan pekerjaanku,” ucapnya berbohong.


“Oh, begitu. Aku dengar kamu akan di mutasi ke kantor cabang, kamu sungguh beruntung pindah ke kota yang kelahiranmu. Seandainya aku di posisimu, aku sangat bahagia.”


Wanita tersebut tersenyum, sembari membersihkan tangannya di wastafel yang berbeda dengan Clara tapi bersebelahan.


Clara hanya tersenyum kecut mendengarnya.


***


Malam harinya Clara Kembali menghubungi Dian, ia meminta Dian menemuinya di restoran terdekat.


“Ada apa? Kenapa baru sekarang mengajakku?!” Dian terlihat kesal.


“Santai dong, aku juga mencari waktu yang tepat untuk menjalankan rencana ini!”


“Hah? Kenapa begitu? Dian, jangan memutuskan secara sepihak seperti ini, dong! Kita sudah sepakat sebelumnya!” seru Clara tidak terima.


“Kamu jangan jadi pria yang pengecut!”


“Terserah kamu mau bilang apa! Aku tidak peduli! Ku peringatkan mu kali ini, jika kamu berani berbuat jahat pada Yana! Kamu akan berhadapan denganku langsung!” ancam Dian.


Clara menghela napas kasar, sudah jatuh tertimpa tangga dirinya kali ini.


Dian langsung meninggalkan restoran tersebut.


“Sialan!” umpatnya menatap kepergian Dian.


Hening sejenak, Clara kembali menyeringai.


“Tidak masalah jika kamu tidak ingin bekerjasama denganku, lihat saja apa yang akan ku lakukan dengan mantan Istrimu itu!” gumamnya menyeringai jahat.


Karena Clara tidak mempunyai waktu banyak, ia segera pulang dari restoran tersebut. Karena besok dirinya harus menjalankan rencana busuknya itu untuk mempermalukan Yana di depan semua orang.

__ADS_1


Di rumah Yana.


Sudah larut malam, Yana masih belum bisa memejamkan matanya.


Ting ...


Suara pesan masuk di ponsel miliknya, ia mengambilnya lalu melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya.


“Damar,” gumamnya.


Yana tidak membalas pesan tersebut, karena tidak baik juga pikirnya membalas pesan seorang pria yang bukan kekasih atau keluarganya dan ia berniat akan membalasnya besok pagi.


Yana kembali mencoba memejamkan matanya, ia bisa memejamkan matanya jam 03.00 dini hari.


Suara kicauan burung terdengar saling bersahutan, bahkan cahaya sang Surya sudah memasuki jendela melalui celah-celah.


Yana tampak menggeliat dari selimut tebalnya, karena hari ini kedua putranya tidak masuk sekolah sehingga dirinya bisa bangun lebih siang dari biasanya.


Kelopak matanya masih belum terbuka dengan sempurna, ia masih samar-samar melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.


“Sudah jam 07.00,” gumamnya.


Ia langsung melangkah ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai bersiap, ia langsung berpamitan pada kedua putranya dan juga kedua orang tuanya.


Pagi ini Yana ingin membawa motor miliknya ke kantor, karena sudah cukup lama ia tidak mengendarai motor. Karena setiap pagi dirinya selalu di jemput oleh Damar dengan alasan Kevin ingin bertemu dengannya.


“Pagi, Nona Yana,” sapa para karyawan melihat dirinya sudah tiba di kantor.


Karena melihat semua karyawan yang begitu segan padanya, membuat Clara semakin iri pada Yana.


“Sok cantik!” gumamnya kesal.


“Tunggu saja, apa kamu masih mampu tersenyum setelah ini!” gumamnya menatap Yana dari kejauhan sembari menyeringai licik.


***

__ADS_1


__ADS_2