Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 37


__ADS_3

Berbeda dengan Dian yang berada di tanah air, saat ini ia tengah marah besar dengan istrinya.


“Diana, kamu jangan berbohong! Apa kamu sengaja menjebakku agar aku menikahi mu? Demi menutupi kehamilanmu itu!” sentak Dian.


Diana tertunduk malu mendengarnya, karena memang benar adanya.


“Jawab!” teriak Dian.


Dengan Isak tangis serta tubuh gemetar, Diana mengangguk.


“Astaga!” geram Dian mengusap wajahnya dengan kasar.


Sebelumnya ia tidak sengaja memergoki istrinya tersebut sedang berbicara di telepon, karena saat itu Dian baru saja pulang bekerja menjadi kuli bangunan.


Ia mendengar jelas, jika Diana sengaja meminta pertanggung jawabkan kehamilannya karena orang tuanya pasti akan marah.


Mendengar itu Dian membulatkan matanya, lalu mendorong pintu kamar dengan kasar.


“Mas, hiks ... hiks .... maafkan aku. Aku memang sangat bersalah, jangan tinggalkan aku.” Diana bersimpuh di kaki Dian dengan air mata yang berlinang.


“Mas, aku rela melakukan apapun asal kamu jangan meninggalkan aku. Hukum aku, karena telah berbohong padamu. Hukum aku,” ujar Diana mendongakkan kepalanya menghadap Dian.


“Lepas!” Dian berusaha melepaskan kakinya dari dekapan istrinya.


Dengan kuat Diana menggelengkan kepalanya.


“Jangan pergi! Aku akan bunuh diri, jika kamu pergi meninggalkan aku!” ancam Diana.


Dengan cekatan, ia mengambil pisau di meja lalu meletakkan di pergelangan tangannya.


Dian mengenal napas kasar melihat bocah di hadapannya ini.


“Kamu sudah tidak waras?! Apa kamu mau membunuh anakmu yang tidak berdosa itu?!” kesal Dian.


“Aku lebih baik mati, dari pada orang tuaku mengetahui ini yang sebenarnya! Apalagi kamu akan meninggalkan aku! Aku lebih baik mati saja!” teriak Diana.


“Dasar tidak waras. Siapa yang mau meninggalkanmu?!” mengambil pisau tersebut dengan kasar.


“Hah? Kamu serius Mas?” menatap suaminya yang masih raut wajah marah.


“Minggir!” melewati Diana yang masih menatapnya.


Karena Dian baru pulang bekerja, ia harus membersihkan tubuhnya yang penuh dengan kotoran.


Setelah selesai mandi, Dian masih belum mengeluarkan sepatah katapun.


Ia sangat kecewa terhadap istrinya itu, yang ternyata tega menjebak dirinya agar ada yang bertanggung jawab demi kehamilannya.


Padahal saat kejadian di club malam itu, Dian memberikan uang padanya cukup banyak beranggapan istrinya adalah wanita yang menjual tubuhnya.


“Mas, kamu mau kemana?” tanya Diana melihat suaminya tengah bersiap.


“Bukan urusanmu! Jika kamu masih ingin bersamaku, jangan menggangguku sekarang!” ancam Dian menatap istrinya dengan tajam.

__ADS_1


Mendengar itu, Diana langsung terdiam. Ia hanya bisa menatap punggung suaminya yang keluar dari rumah mereka dan mulai menghilang dari pandangan.


Dian mengendarai motor miliknya, entah kemana tujuannya saat ini.


Pulang ke rumah sangat tidak mungkin baginya, karena orang tuanya sendiri telah mengusirnya.


Dian berhenti di tepi pantai, ia duduk di kursi menatap ke arah laut yang sangat gelap. Karena malam itu tidak ada bintang yang bersinar, tertutup awan hitam.


Dian meratapi nasibnya saat ini, sepuluh tahun menikah dengan Yana, dirinya selalu di layani dengan baik oleh Yana. Gurat penyesalan di raut wajahnya, jika waktu bisa di putar kembali dirinya ingin kembali kepada keluarganya yang dulu.


Namun, nasi sudah menjadi bubur. Waktu Pun tidak bisa di putar kembali. Dian pasrah dengan kehidupannya sekarang, ia terpaksa menjalani pernikahannya yang saat ini. Walaupun penuh dengan dusta di dalamnya, karena kecerobohannya sendiri.


“Huftt ... Yana. Kamu sudah bahagia sekarang, aku ikut bahagia juga. Aku akan menerima karma yang dulu pernah aku perbuat padamu, kamu pantas mendapatkan kebahagiaan,” gumam Dian menatap foto Yana dan kedua putranya yang masih ia simpan di galeri ponselnya.


“Sedang apa kau disini?” tanya seseorang membuat Dian langsung menoleh ke sumber suara.


“Dio, kau disini?” tanya balik Dian.


Dio menangguk.


“Aku sudah menyaksikan pernikahan Yana yang begitu mewah, ia terlihat sangat cantik. Bahkan aura kebahagiaan terlihat dari wajahnya, saat ini mereka tengah berlibur beserta ketiga putra mereka.”


Dian hanya bisa menelan salivanya mendengar ucapan Dio yang datang tiba-tiba langsung mengatakan itu.


“Bagaimana perasaanmu sekarang? Setelah menyakiti Yana,” tanya Dio.


Sebenarnya dirinya sangat geram dengan kelakuan Dian dulu terhadap istrinya.


Namun, ia tidak berdaya karena tidak ingin ikut campur dalam masalah mereka. Bahkan, Dian pun mengancamnya untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.


“CK ... kau yang mengancamku! Terima saja karmanya atas perbuatanmu sendiri, tak perlu menyalahkan orang lain!” Dio tersenyum kecut.


Dian terdiam.


“Maafkan aku. Jika kedatanganmu kemari hanya ingin mengatakan itu, sebaiknya kau pulang! Aku juga sudah menerima akibatnya, jadi silahkan kau tertawa dengan puas di belakangku!” kesal Dian.


“Huh! Aku kemari bukan menertawakan mu, aku hanya mengingatkan agar kamu tidak lupa dengan apa yang telah kamu lakukan pada Yana dulu. Agar tidak terjadi lagi pada Istri ketiga mu itu!” geram Dio yang mendengar Dian telah menikah kembali untuk yang ketiga lagi, bahkan ia mendapatkan kabar burung jika Dian sudah menghamili istrinya itu sebelum menikah.


“Terima kasih sudah mengingatkanku!” ketus Dian.


“Aku tawaran kerja untukmu, dari pada kau menjadi kuli bangunan yang bukan keahlianmu. Kau bisa menemui ku besok jika ingin bekerja, jika tidak itu terserah kau. Baiklah, aku pamit. Selamat menikmati penyesalanmu!” ejek Dio tersenyum kecut.


Dian hanya diam, tak membalas perkataan Dio lagi yang terus menerus mengejeknya.


***


Sementara di luar negeri.


Semalam penuh Yana tak tidur, apalagi melihat kedua orang yang ia sayangi tengah terbaring di rumah sakit.


Walaupun dokter mengatakan mereka sudah baik-baik saja, namun tetap saja hati Yana tidak akan tenang jika belum melihat keduanya membuka mata.


“Mama,” panggil Diki yang mulai menggeliat.

__ADS_1


“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Yana langsung menghampiri putranya tersebut.


Berulang kali mengecup wajah putranya, tak terasa air matanya kembali menetes.


“Apa ada yang sakit, nak?” tanya Yana begitu cemas.


“Diki pusing, Ma. Mau minum,” ucapnya.


Dengan cepat Yana mengambil air botol minum, lalu menyerahkannya pada Diki bahkan membantu putranya untuk minum.


Damar juga sudah sadar, ia menatap wajah cemas Yana yang masih telaten mengurus putranya.


“Sayang,” panggil Damar.


Ia berusaha untuk duduk, walaupun kakinya terasa sakit akibat luka di kakinya.


“Sayang, kenapa duduk. Tetaplah berbaring, nanti kakinya tambah sakit.”


“Melihat wajahmu, aku langsung sembuh,” goda Damar.


Yana tak habis pikir, di saat sakit Damar masih sempat menggodanya.


Setelah selesai menyuapi putra untuk makan, Diki kembali tertidur karena masih ada sedikit efek obat tidur tersebut.


Kini Yana mengurus bayi besarnya lagi, yaitu menyuapi Damar makan. Karena harus meminum obat yang di berikan oleh dokter tadi malam.


“Sayang, terima kasih sudah menyelamatkan Putraku. Entah bagaimana jika tidak ada dirimu,” ujar Yana sembari menyuapi suaminya.


“Jangan berterima kasih, itu sudah tugasku. Seharusnya aku yang meminta maaf, karena telah lalai menjaga kalian.”


Damar teringat dengan kejadian semalam, ia sangat geram terhadap Clara.


Namun, ia baru saja mendapatkan kabar melalui pesan singkat. Clara sudah meninggal dalam perjalanan, karena kehabisan darah akibat luka tembakan di kakinya.


Damar tidak ingin mengatakan pada Yana, siapa dalang di balik penculikan putranya itu. Apalagi saat ini Clara sudah meninggal, Damar akan menutup rapat kejadian ini demi mental ketiga putranya agar tidak mengalami ketakutan terhadap orang lain.


"Kenapa bengong? cepat habiskan sarapanmu, lalu minum obat."


Bagaikan kerbau di cucuk hidungnya, Damar langsung menghabiskan sarapannya tersebut.


Setelah selesai makan, Damar menarik istrinya agar berbaring bersamanya di tempat tidur yang barada di rumah sakit.


Awalnya Yana menolak, karena ada ketiga putranya di dalam ruangan tersebut.


Namun, mereka masih tertidur pulas membuat Yana mau tidak mau menuruti kemauan suaminya untuk berbaring di sampingnya.


"Jangan pernah berubah atau berniat ingin meninggalkan aku, aku tidak tahu lagi jika tidak ada dirimu." mengelus lembut wajah istrinya dan memberikan beberapa kecupan disana.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, jangan tinggalkan kami." Memeluk suaminya dengan erat.


Mendengar itu, hari Damar langsung berbunga-bunga. Karena merasa paling penting di kehidupan Yana.


"I love u," bisik Damar di telinga Istrinya.

__ADS_1


***


__ADS_2