Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 13


__ADS_3

“Sudah cukup, Mas.! Sudah 10 tahun kita membangun rumah tangga kita, mulai dari nol hingga kamu menjadi orang sukses seperti ini. Tapi, dalam sekejap kamu menghancurkan impian yang sudah kita rencanakan dulu.”


Dian hanya tertunduk malu, karena apa yang di ucapkan oleh Yana memang benar adanya.


“Tidak! Mau bagaimana pun aku tidak akan pernah menceraikanmu, aku akan berusaha adil pada kalian berdua !” Dian tetap dengan pendiriannya.


“Apa? Adil katamu, Mas! Aku sudah tidak percaya lagi padamu! Sebelum aku mengetahui pernikahanmu itu, apa Mas adil padaku? Tidak-kan! Mas selalu menghilang entah kemana, berhari-hari lama! Apa itu bisa di katakan adil?!” kesal Yana melipat kedua tangannya.


Buliran air mata mengalir begitu saja.


“Dengar Yana, sekali aku bilang tidak, berarti tidak! Aku akan tetap bersama kamu dan anak-anak kita!”


“Jangan bawa anak-anak, Mas! Aku tidak menyangkal, karena mereka memang darah dagingmu walaupun kita tetap bercerai! Bahkan, aku tidak melarangmu jika ingin bertemu dengannya!”


“Yana, kamu sungguh tidak mengerti! Arrgghh ....” sentak suaminya sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


“Tidak ada lagi yang perlu kita pertahankan! Kamu sudah bahagia bersama istrimu sekarang! Kamu tidak butuh aku lagi mas!”


Hening sejenak, Yana beranjak dari tempat duduknya. Namun, tangannya di tahan oleh Dian menatap istrinya tersebut sembari masih menahan tangan istrinya.


“Kamu mau kemana? Aku akan membuatmu hamil, agar kita tidak bercerai!” geram Dian menarik tangan Yana paksa menuju kamar mereka.


Yana memberontak, berusaha melepaskan dirinya.


“Apa kamu sudah tidak waras! Lepaskan aku, Mas! Lepas ...” teriak Yana sembari memberontak.


“Tidak akan! Kita harus tetap bersama!” Dian menarik tangan istrinya dengan kuat.


Yana masih berusaha melawan dan memberontak. Yana menjatuhkan dirinya di lantai, berpegangan dengan kaki sofa.


Dian menarik kaki istrinya, lalu menyeretnya masuk ke dalam kamar.


“Tolong ... tolong ...” teriak Yana masih berusaha mencari pegangan.


“Berteriaklah sekeras mungkin! Tidak ada yang mendengarnya!” Dian tertawa kecut.


Tangannya masih menarik kedua kaki istrinya hingga tiba di kamar, Dian langsung mengunci pintu kamar tersebut.


“Mas, tolong. Lepaskan aku ... hiks ....” dengan menangkup kedua tangannya, memohon belas kasihan pada suaminya.


Namun, Dian seperti orang kerasukan. Tidak ada sedikitpun rasa kasihan pada istrinya, justru saat ini ia tengah melepas pakaiannya dengan kasar dan membuangnya ke sembarang arah.


Kini suaminya hanya memakai celana pendek, menatap Yana dengan tatapan nafsu.


Yana melihat sekelilingnya, untuk mencari benda untuk menyelamatkan dirinya.


“Yana, kamu sendiri yang membuat aku seperti ini. Jadi, jangan salahkan aku!” kembali menarik kaki istrinya.

__ADS_1


“Aw ... sakit, hiks ....” tangis Yana kembali pecah, atas sikap kasar suaminya padanya.


Karena Yana memakai pakaian panjang, membuat lebih mudah melepaskan celana istrinya.


Yana memukul dada bidang suaminya dengan keras, membuat Dian terlihat kesakitan.


Plak ...


Tamparan keras mendarat di pipi Yana, karena Yana masih memberontak.


“Rasakan! Jika kamu tidak ingin kesakitan, jangan memberontak! Aku tidak memperkosamu, aku masih sah suamimu!” sentaknya menatap Yana dengan tajam.


Matanya memerah menatap Yana, membuat nyali Yana menciut.


Dian kembali melanjutkan aksinya, masih berusaha melepaskan celana istrinya. Setelah berhasil, ia mempersiapkan benda tumpul tersebut masuk ke dalam lembah, ia memaksa kaki Yana membukanya.


Yana berusaha menjangkau sesuatu yang bisa menyelamatkan dirinya, netranya tertuju pada remote AC yang ada di nakas.


Dian sudah berhasil memasukkan benda tumpul tersebut, bahkan sudah melakukan beberapa kali hentakkan.


Dian begitu menikmatinya, hingga matanya tertutup karena sudah beberapa bulan tidak melakukannya bersama Yana.


Terlihat jelas, Dian begitu menikmatinya, karena permainan dengan Celine tidak senikmat dengan Yana pikirnya.


Tak ... Tak!


Pukulan benda tumpul tepat mengenai kepala Dian, refleks Dian langsung memegang kepalanya karena sakit bahkan sedikit mengeluarkan darah.


“Yana! Kurang ajar kau!” sentak Dian.


Ia beranjak dari tempat tidur, hendak menarik Yana kembali.


Namun naas, Yana sudah berhasil membuka pintu dan berlari keluar.


Saat hendak mengejar istrinya, ia baru tersadar jika dirinya saat ini tengah tidak memakai sehelai benangpun. Benda tumpul yang semula tegak, kini sudah kembali seperti sebelumnya.


“Shit! Awas kau Yana!” geramnya mengepalkan tangannya dengan kuat.


Ia duduk di tepi kasur dengan napas yang turun naik, kesal dengan Yana dan kesal karena hasratnya belum tersalurkan.


Sementara Yana berlari cukup kencang, sembari melihat ke arah belakang. Dengan wajahnya luka lebam, sudut bibirnya terdapat darah yang sudah mengering bahkan rambutnya masih acak-acakan. Mungkin saat ini dirinya di anggap orang yang tidak waras, berlari di jalan raya.


Cittt ....


Suara decitan mobil yang hampir saja menabraknya, membuat Yana terduduk pasrah sembari menutup telinganya.


“Yana,” panggil seseorang setelah keluar dari mobil.

__ADS_1


“Damar, hiks ... tolong aku.” Yana langsung memeluk kaki Damar.


Damar berusaha menarik Yana dan segera membawanya masuk ke dalam mobil.


Melihat Yana yang acak-acakan, Damar langsung membuka jasnya lalu menutup tubuh Yana karena kancing bajunya yang terbuka dan terlihat jelas bagian dadanya.


“Damar, tolong bawa aku pergi,” ujarnya dengan suara yang bergetar sambil menangis.


“Iya, iya. Kita akan pergi dari sini,” sahut Damar.


“Tenangkan dirimu dulu, ini minumlah.” Menyerahkan botol air mineral.


Yang dengan cepat menggelengkan kepalanya, tampak masih tidak tenang sembari melihat ke belakang.


Damar sangat yakin, jika terjadi sesuatu pada Yana hingga membuatnya ketakutan seperti ini.


“Yana, tenangkan dirimu! Kamu sudah aman bersamaku, sekarang minumlah,” ujar Damar menyerahkan kembali botol.


“Damar aku ....”


“Cepat minumlah. Kita akan tetap disini, jika kamu tidak minum!” ujar Damar setengah berteriak.


Yana langsung terdiam, dengan tangan yang bergetar ia mengambil botol air tersebut dari tangan Damar. Ia meneguk air tersebut hingga habis.


“Maafkan aku,” ujar Damar merasa bersalah karena sudah membentak Yana yang terlihat ketakutan.


Tanpa menunggu lagi, Damar langsung melajukan mobilnya.


Yana tampak mulai tenang, ia terlihat merapikan pakaiannya yang terlihat berantakan. Ia baru menyadari jika saat ini dirinya tidak memakai celana, beruntung pakaiannya tersebut cukup tebal dan panjang sehingga mampu menutupi tubuhnya yang polos di dalamnya.


“Apa yang terjadi padamu, Yana? Kenapa kamu seperti terlihat ketakutan?” tanya Damar dengan lembut.


Yana tertunduk, ia kembali menangis.


“Hiks ... hiks ... aku ....” Yana tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


Damar memberikan tisu pada Yana, sekilas Damar melihat luka di wajah Yana tepat di sudut bibir Yana.


Damar menepikan mobilnya, lalu menatap Yana.


“Apa yang terjadi? Siapa yang memukulmu?” tanya Damar terlihat sangat cemas.


Yana semakin nyaring menangis, Damar langsung menarik Yana ke dalam pelukannya.


Ia mengepal tangannya dengan kuat.


“Kenapa aku bisa kecolongan begini? Siapa yang berani berbuat seperti ini pada Yana? Apa ini perbuatan Dian?” ujarnya bertanya dalam hati.

__ADS_1


“Aku tidak akan mengampuninya!” geramnya mengepal tangannya kuat, tangan satunya masih mengusap lembut kepala Yana yang masih terisak di dalam pelukannya.


***


__ADS_2