Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 17


__ADS_3

“Tuan, apa salah saya? Kenapa secara tiba-tiba saya di pecat?” tanya Dian terlihat panik.


Dian baru saja tiga bulan lebih merasakan menjadi tangan kanan Damar di perusahaannya, namun secara tiba-tiba Damar langsung memecatnya.


“Kamu tidak menyadari apa kesalahanmu?!” tanya Damar balik, sembari mengetuk meja pelan dengan ujung pulpen.


Dian menggelengkan kepalanya.


Bruak!


Damar meletakkan berkas dengan kasar ke atas meja lebih tepatnya di depan Dian.


“Buka saja dan baca dengan teliti!” serunya.


Dian mulai membaca isi berkas tersebut, tercatat semua di dalam kertas putih apa saja yang telah ia perbuat selama tiga bulan lebih menjadi tangan kanan Damar.


Salah satunya adalah, dirinya semena-mena terhadap karyawan dan memecat karyawan jika tidak sesuai dengan keinginannya tanpa ampun.


Dian membulatkan matanya, setelah membacanya.


“Sekarang keluar dari ruanganku! Aku sangat muak melihat karyawan yang Bermuka dua sepertimu!” geram Damar memalingkan wajahnya.


Dian mengepal tangannya kuat.


“Tuan Damar yang terhormat, sepertinya ini hanya akal-akalan Tuan untuk memecat saya! Berapa tahun saya mengabdikan diri pada perusahaan anda, namun tidak pernah anda hargai! Anda akan menyesal seumur hidup telah memecat saya secara tidak hormat!” kesal Dian.


“Kamu mengancamku?! Dengar baik-baik! Aku tidak pernah takut dengan ancaman pria rendahan sepertimu, apa kau ingin aku jebloskan ke penjara?! Kau pikir aku tidak mengetahui, berapa saja hasil uang perusahaan yang kau curi! Kurang apa aku padamu, bahkan aku memberikan kartu kredit untuk kebutuhanmu!” ucap Damar sembari menyeringai.


“Aku kurang apa padamu? Masih bersyukur kau hanya ku pecat! Keluar dari ruanganku sekarang atau aku menghubungi polisi?!” ancamnya balik.


Nyali Dian menciut, ternyata Damar lebih pandai darinya. Dian langsung beranjak dari tempat duduknya lalu keluar dari ruangan tersebut.


Damar tampak menghela napas kasar.


“Ternyata kau itu tak cukup pandai!” Damar kembali menyeringai jahat.


Sebelumnya, memang dirinya mempercayai Damar untuk menjadi asistennya di kantor tersebut.


Karena dengan cara tersebut, ia bisa membalaskan dendamnya atas penderitaan Yana.


Tapi, ia malah menemukan sisi buruk Dian yang ternyata menyalah gunakan kekuasaan. Bahkan ia dengan tega menuduh salah satu karyawan terbaiknya menyalah gunakan uang perusahaan, tanpa Dian ketahui jika karyawan tersebut adalah salah satu anak buah kepercayaannya.


“Cih ... ku pastikan kau akan menderita, Dian!” kesalnya mengingat apa yang telah Dian lakukan pada Yana.


Dirinya memang tidak mengenal Yana, namun sejak pertemuan pertama di halte bus mengantar putranya sekolah karena kehujanan. Sejak saat itu Damar sangat tertarik ingin mengenal lebih jauh lagi sosok Yana.


Damar mengambil telepon kantor lalu menekan nomor yang ia tuju.


“Halo, Tuan,” ucap seseorang di balik telepon tersebut.


“Pindahkan Yana mulai besok ke kantor pusat,” ujarnya.


Tanpa menunggu ucapan seseorang dari dalam telepon, ia langsung mengakhirinya.


Ia membenarkan jasnya yang sedikit berantakan, lalu melangkah keluar ruangannya.


Sementara Dian berulang kali mengumpat dalam mobil miliknya, bahkan memukul setir mobil yang tidak bersalah sama sekali.

__ADS_1


“Bos sialan! Manusia macam apa dia?! Memecat karyawannya begitu saja!” geramnya.


“Awas saja kau, aku tidak akan membiarkanmu hidup bebas setelah apa yang telah kau lakukan padaku!” ancaman mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Setibanya di rumah, Celine memasang wajah yang tidak enak menyambut kedatangannya.


“Ada apa lagi denganmu?! Apa kurang puas kamu marah-marah tadi pagi?!” tanya Dian sedikit kesal melihat Celine memasang wajah cemberut melihat kedatangannya.


“Kamu sengaja, Mas?” menatap tajam suaminya itu dengan melipat kedua tangannya, saat ini posisi Dian tengah duduk di sofa dengan memijit pelipisnya yang terasa pusing.


“Sengaja apa? Jangan membuat aku pusing, Celine! Aku baru saja pulang dan kamu malah membuatku kesal! Bukannya membuatkan aku minum,” kesalnya.


“Tidak seperti Yana, setiap aku baru pulang bekerja ia selalu menyambutku dengan senyum bahkan melayaniku!” gumamnya.


Namun, gumamnya tersebut terdengar jelas oleh Celine.


“Apa kamu bilang, Mas? Kenapa membandingkan aku dengan Yana?! Apa kamu masih mencintai wanita ****** itu?!” tanya Celine.


“Tutup mulutmu, Celine! Yana itu wanita baik-baik!” seru Dian.


“Arrghh!” Dian melempar bantal kursi ke lantai, lalu meninggalkan Celine yang masih berdiri di ruang tamu.


Celine menghentakkan kakinya mengikuti belakang suaminya.


“Mas, aku belum selesai bicara! Kenapa kamu memblokir kartu kreditku?!” tanya Celine setengah berteriak.


Langkah Dian langsung terhenti, sehingga Celine yang ada di belakangnya menabraknya.


“Apa kamu bilang? Kartu kreditmu di blokir?” tanya Dian membalikkan tubuhnya.


Celine mengangguk.


“Jangan asal bicara! kenapa secepat itu?” tanya Dian tampak bingung.


“Apa ini ada hubungannya dengan pekerjaanku? Apa Damar yang melakukan ini?” tanyanya dalam hati, karena dirinya sebelumnya juga mendapatkan kartu kredit dari Damar untuk dirinya tanpa batas.


“Sialan!” umpatnya.


“Kenapa mengumpat? apa ada masalah dengan pekerjaanmu?” tanya Celine menyuruh curiga.


Karena setahunya kartu kredit itu di berikan oleh Damar untuk suaminya dan Dian memberikannya padanya.


Dian menghela napas kasar lalu mengangguk.


“Aku di pecat!” ucapnya melanjutkan langkahnya masuk ke kamar.


“Kenapa bisa di pecat?! Apa kamu melakukan kesalahan fatal, sehingga bosmu memecatmu?” tanya Celine melangkah kembali.


“Aku tidak tahu! Kamu ini berisik sekali! Biarkan aku berpikir sejenak, jangan menggangguku!” sentak Dian.


Celine hendak mengeluarkan kata-katanya lagi, tapi di urungkan karena Dian menatapnya dengan tajam.


“Diam, atau akan ku robek mulutmu itu!” serunya lagi.


Karena sangat kesal dengan Celine yang sejak tadi tak berhentinya mengoceh, sehingga membuatnya semakin pusing.


Ting ... Tong ...

__ADS_1


Suara bel berbunyi.


“Buka pintunya!” ucap Dian pada istrinya.


Dengan wajah yang cemberut, Celine melangkah keluar.


Ceklek ...


Pintu rumah terbuka, memperlihatkan mertua Celine yakni ibu kandung Dian datang berkunjung.


Raut wajah Celine langsung berubah semakin kesal, karena ia tahu kedatangan ibu mertuanya pasti meminta jatah uang bulanannya pada putranya.


“Dimana Dian?” tanya ibu mertuanya.


“Ada di kamar, Bu. Masuk du ...,” ujar Celine memaksakan senyumnya.


Karena belum selesai mempersilahkan, ibu mertuanya langsung masuk tanpa peduli padanya.


“Dian,” panggil ibu mertuanya.


“Mas Dian di kamar, Bu. Biar Celine panggilkan,” ujar Celine hendak melangkah menaiki tangga.


“Tidak perlu, biar aku saja yang kesana.”


Langkah Celine langsung berhenti dan membiarkan ibu mertuanya menemui suaminya.


Ceklek ...


Ibu mertuanya langsung membuka pintu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Dian,” panggilnya.


“Mama. Mama sama siapa kemari?” tanya Dian dengan lembut.


“Mama sendiri. Oh ya, Mana uang untuk Mama? Bulan ini kamu belum memberikannya,” tanya mamanya tanpa ragu.


Dian langsung mengambil uangnya dari dalam dompet dan menyerahkan uang tersebut beberapa lembar.


“Hanya segini?” tanyanya melihat lima lembar uang berwarna merah.


“Maaf, Ma. Dian sudah berhenti bekerja,” sahutnya.


“Hah, kenapa? apa kamu pindah kerja di tempat yang baru?” tanya mamanya.


Dian mengangguk berbohong, karena akan panjang urusannya jika orang tuanya mengetahui kejadian yang sebenarnya.


“Oh begitu. Mama dengar kamu dan Yana sudah bercerai?” tanya mamanya.


Dian kembali mengangguk.


“Baguslah, Mama sangat malu punya menantu seperti dia! Celine lebih baik dari pada Yana, walaupun Celine masih sedikit kurang ajar sama Mama!”


“Ma, berhenti berkata seperti itu. Yana orang baik, yang salah adalah Dian.”


“Terus saja kamu belain Yana! Ingat! Jangan sampai kamu rujuk padanya, Mama pastikan kamu akan kehilangan Mama jika kamu kembali padanya!” ancam Mamanya


“Hufftt ... iya Ma,” sahut Dian pelan.

__ADS_1


***


__ADS_2