Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 14


__ADS_3

Yana terlihat masih ketakutan, sehingga Damar tidak mau memaksanya untuk berbicara.


Sesampainya di rumah, Yana masih terdiam di dalam mobil dengan tatapan kosongnya, sehingga dirinya tak menyadari jika mereka sudah tiba di rumahnya.


“Yana,” panggil pelan Damar sembari memegang pelan bahunya.


“Hah, kita sudah di rumah?” ujarnya tersadar melihat sekelilingnya.


Damar mengangguk.


Ia lebih dulu keluar, lalu membuka pintu mobil untuk Yana.


Damar memapah Yana untuk masuk ke dalam rumah mereka, karena Yana terlihat begitu lemah.


“Yana, kamu baik-baik saja?” tanyanya melihat wajah Yana terlihat pucat.


Yana mengangguk pelan.


Pintu terbuka, kebetulan Papanya Yana yang membuka pintu.


“Yana, apa yang terjadi padamu?” tanyanya melihat wajah putrinya terlihat lebam.


Yana tak bisa lagi menahan air matanya, ia langsung menangis di depan ayahnya.


“Hiks ... Papa. Hiks ....”


Sang Papa langsung memeluk putrinya, untuk menenangkannya. Walaupun papanya belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


Papa Yana menatap Damar untuk meminta penjelasan, Damar mengerti dengan tatapan itu ia menggelengkan kepalanya pelan menandakan dirinya juga belum tahu masalah yang sebenarnya.


Damar semakin hari semakin dekat dengan orang tua Yana, selain putranya Kevin bersahabat dengan putra Yana bahkan juga Damar selalu membantu Yana di saat kesulitan.


“Kita masuk dulu, Sayang,” ajak papanya.


Yana mulai berhenti terisak, ia mengusap air matanya. Papanya menatap putrinya yang terlihat berantakan, mulai dari atas sampai bawah. Bahkan saat ini ia mengenakan jas milik Damar untuk menutupi bagian dadanya terbuka.


“Yana, katakan yang sebenarnya pada Papa. Apa yang terjadi?” tanya papanya dengan lembut.


Yana terdiam, saat ini ia bingung harus menceritakannya atau tidak. Disisi lain, ia takut papanya kepikiran membuat tekanan darahnya naik lagi. Namun, jika dirinya tidak menceritanya sekarang akan menimbulkan kesalah pahaman apalagi papanya sudah melihat keadaannya seperti ini.


“Mas, Dian! Hiks ....” Yana kembali terisak, ia seperti tidak sanggup menceritakannya lagi.


“Kenapa dengan lelaki itu?! Apa dia membuat ulah lagi padamu?!” tanya papanya terlihat murka mendengar putrinya menyebut nama suaminya.


Dengan air mata yang mengalir, Yana mengangguk pelan.


“Kurang ajar!” geram papanya.


Begitupun dengan Damar, ia tampak mengepal tangannya dengan kuat.


Namun, ia berusaha menahannya. Karena tidak mungkin baginya ikut campur dalam rumah tangga Yana dan Dian. Sedangkan mereka masih berstatus suami dan istri.


“Awas kau Dian!” geramnya dalam hati.

__ADS_1


“Lalu?” tanya papanya.


Yana tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya, apalagi melihat wajah apanya memerah menahan amarahnya.


“Katakan Yana!” suara papanya terdengar mencekam.


Yana mulai menceritakan awal mulanya, bagaimana Dian mengajaknya ingin bicara baik-baik. Bodohnya dirinya langsung percaya dan mengikuti suaminya.


Didalam rumah mereka terdapat perdebatan, sehingga membuat Dian marah dan brutal menyeretnya untuk masuk ke kamar dan menamparnya. Lalu memaksanya untuk bercinta, karena ingin Yana hamil lagi agar mereka tidak bercerai.


Mendengar itu, papanya terlihat murka begitupun dengan Damar.


Damar tampak mengusap wajahnya dengan kasar, kali ini dirinya sepertinya tidak bisa lagi melihat Dian hidup tenang.


“Kurang ajar! Beraninya dia!”


“Pa, Papa mau kemana? Papa tenang dulu, Yana sudah aman Pa. Yana baik-baik saja,” ujar Yana melihat papanya berdiri dari tempat duduknya.


Papanya menghela napas berat, lalu duduk kembali.


“Sekarang kamu ganti pakaianmu dan istirahat di kamar. Papa ada urusan kerjaan di luar,” ujar Papanya berusaha tersenyum.


Yana mengangguk.


“Damar, aku sangat berterima kasih padamu. Kamu selalu ada di saat aku butuh bantuan, sekali lagi terima kasih banyak.”


Damar hanya tersenyum, lalu mengangguk, tanpa membalas ucapan Yana. Karena saat ini dadanya terasa sesak, apalagi ia mendengar cerita Yana barusan.


“Paman, sepertinya aku juga pamit pulang. Karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,” pamit Damar.


“Terima kasih banyak, nak Damar. Kalau tidak ada kamu, entah bagaimana nasib putriku tadi.”


“Iya, Paman. Karena tadi memang kebetulan aku melewati jalan itu dan tidak sengaja bertemu dengan Yana.”


Papanya Yana menepuk bahu Damar pelan, lalu beriringan keluar rumah.


Setelah melihat kepergian Damar, papa Yana juga masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan rumahnya.


***


Di rumah kediaman Celine istri muda dari Dian.


Dian baru saja tiba di teras rumah, Celine tampak menunggunya sembari melipat kedua tangannya dengan menatap suaminya dengan tajam.


“Dari mana?” tanya Celine dengan suaranya yang terkesan dingin.


“Aku sangat lelah, pekerjaanku banyak!” Dian melewati istrinya tanpa peduli dengan istrinya yang menatapnya.


“Mas, aku sedang bicara padamu! Tapi aku tadi ke kantor, mereka bilang Mas sudah pulang lebih awal!” ucap Celine.


Karena niatnya sore ini ingin mengajak suaminya dan putrinya untuk makan malam di luar, sehingga dirinya menyusul ke kantor.


“Siapa yang memintamu ke kantorku?” tanya Dian membalikkan badannya menghadap istrinya.

__ADS_1


“Aku ingin mengajakmu makam malam di luar. Kemana kamu pulang cepat, Mas? Apa Mas menemui Yana lagi?” tanya Celine menatap suaminya curiga.


“Bukan urusanmu!”


“Mas, kenapa sih akhir-akhir ini Mas berubah? Apa Mas tidak mencintaiku lagi? Apa Mas ingin kembali lagi pada wanita itu? Bukannya Mas tidak mencintai Yana lagi? Lalu kenapa menemui wanita itu tadi?” tanya Celine karena sudah tidak tahan ingin bertanya.


Karena merasa curiga dengan kepulangan suaminya cepat dari kantor, dan mencurigai suaminya pulang ke rumah lamanya dan benar saja jika mobil suaminya berada di rumah lama suaminya bersama Yana.


“Tutup mulutmu itu! Jangan asal bicara!” kesal Dian menunjuk wajah istrinya.


“Aku tidak asal bicara, Mas! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, jika Mas dan Yana ....” Celine tidak melanjutkan ucapannya.


Deg!


Dian tampak berpikir, apakah Celine melihat kejadian di rumah tadi.


“Apa maksudmu?” tanya Dian menatap serius istrinya.


“Jangan berpura-pura, Mas. Bukankah, Mas sendiri yang mengatakan sudah tidak mencintai Yana lagi. Mas juga berjanji, di saat kita baru saja menikah akan menceraikan Yana. Mana janjimu, Mas? Hingga sampai detik ini, Mas belum juga menceraikan dia!” sentak Celine begitu sangat kesal, karena ucapan suaminya itu hanya bohong belaka.


“Aku sudah banyak berkorban, bahkan orang tuaku tidak menganggap anak lagi. Karena aku mau kita bersatu,” tambah Celine lagi.


“Celine, beri aku waktu. Aku akan ....”


“Dian! Keluar kau!” teriak seseorang dari luar rumah mereka.


Celine dan Dian saling menatap sejenak, lalu mereka melangkah untuk mengintip dari jendela.


“Papa,” gumamnya.


“Mas kenal? Siapa pria tua itu?” tanya Celine menatap suaminya.


“Dia, Papanya Yana,” sahut Dian.


“Dari mana pria tua itu mengetahui alamat rumah kita?”


Dian mengangkat kedua bahunya.


“Dian, keluar!!” teriak papa mertuanya sembari mengedor pintu.


Dian sudah menduga, pasti Yana akan menceritakan tentang kejadian tadi dengan papanya.


“Dalam hitung ketiga kau tidak keluar! Kamu akan menerima akibatnya!” sentaknya.


Dian terpaksa melangkah menuju pintu, Celine menahannya karena takut terjadi sesuatu dengan suaminya.


Namun, Dian tidak peduli dengan istrinya dan tetap membuka pintu tersebut.


Bugh! Bugh!


Pukulan langsung mendarat di pipi Dian, papa mertuanya langsung memukul Dian tanpa ampun.


***

__ADS_1


__ADS_2