Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 38


__ADS_3

Dua bulan sudah berlalu semenjak kejadian itu, Yana kini sudah menjadi seorang ibu yang berdiam di rumah mengurus ketiga putra dan suaminya.


Saat ini Yana tengah menatap album fotonya pernikahannya dengan Damar, saat itu memang dirinya masih belum sepenuhnya menyukai dalam. Berbeda dengan saat ini, ia begitu sangat mencintai suaminya itu.


Drrtt ... getar ponsel miliknya bergetar, Yana segera mengangkatnya.


“Sayang, kok tumben menghubungiku jam segini?” tanya Yana, karena sebelumnya Damar sangat jarang menghubungi pagi ini. Padahal, pagi tadi Yana mengantar suaminya ke teras rumah besar.


“Apa kamu bisa ke kantor, Sayang? Aku ada pekerjaan mendadak ke luar negeri, ini sangat penting. Aku ingin kamu sementara yang menggantikanku di kantor.”


“Apa? Aku, tapi aku tidak bisa,” tolak Yana.


“Kamu pasti bisa, cepat kemari. Bawa sopir,” ucap Damar.


“Iya, aku bersiap dulu.”


Setelah mengatakan itu, Yana dan Damar mengakhiri panggilan mereka.


Yana segera bersiap mencari pakaian yang cocok untuk pergi ke kantor menemui suaminya.


“Sepertinya ini cocok,” gumamnya melihat tubuhnya di cermin.


Ia memilih pakaian simpel yang berwarna mocca, menurutnya sangat cocok di tubuhnya.


Yana meminta sang sopir pribadinya untuk mengantarnya ke kantor suaminya. Tidak lupa Yana membawa bekal untuk makan siang suaminya, yang sudah ia siapkan sejak beberapa menit yang lalu.


20 menit perjalanan menuju kantor yang suami, Yana akhirnya tiba.


Melihat kedatangannya, setiap karyawan yang berpapasan dengannya selalu menunduk sebagai tanda hormat. Begitupun dengan Yana menunduk balik, tanda ia menghargai karyawan suaminya.


Setiba di depan pintu ruangan, Yana selalu mengetuk pintu terlebih dahulu.


Tok ... Tok ...


Terdengar suara sahutan dari dalam ruangan meminta dirinya untuk masuk.


Ceklek ...


“Sayang,” sapa Yana membuat Damar langsung menoleh.


“Sayang, kenapa harus mengetuk pintu dulu sih?!” protes Damar, karena Yana selalu mengetuk pintu. Padahal sudah berulang kali ia mengatakan jika Yana datang tidak perlu mengetuk pintu.


“Ya karena ini jam kerja,” sahutnya.


“Tidak ada jam kerja untukmu Sayang.” Langsung memeluk istrinya, tangannya pun dengan cekatan mengunci pintu.


“Kenapa di kunci?” tanyanya menatap curiga suaminya.


“Aku hanya ingin berdua denganmu satu jam saja, karena dua jam lagi aku akan berangkat dan aku tidak bisa janji untuk pulang cepat. Aku titip anak kita,” ujarnya memeluk erat tubuh istrinya.

__ADS_1


“Kemana?” tanya Yana penasaran.


“Ke luar negeri, ada bisnis Papa yang sedang mengalami masalah disana. Papa dan asistennya sedang kewalahan, sebagai anak yang baik aku harus membantu hingga bisnis mereka stabil.” Melepaskan dekapan pada istrinya lalu menarik pelan istrinya untuk duduk di sofa.


“Mm ... baiklah, Jaga hati dan mata disana. Ingat!! Kami sedang menunggumu di rumah,” ucap Yana penuh penekanan, membuat Damar terkekeh mendengarnya.


“Kamu tenang saja, hatiku sudah di kunci oleh Istriku yang cantik ini.” Menarik Yana agar didik di pangkuannya.


Netranya tertuju pada bibir ranum Yana yang merah berwarna pink pucat itu.


Yana menatap curiga pada suaminya yang tengah menatapnya dengan tatapan mesum.


“Kita makan, aku membawamu bekal makan siang,” ucap Yana mengalihkan pandangan suaminya dan mencoba beranjak dari pangkuan suaminya.


“Aku ingin memakanmu saja,” ujarnya dengan tatapan mesum, sembari menahan istrinya.


“Sayang, ini di kantor! Bagaimana jika ada yang melihat atau mendengar?” tanya Yana.


“Tidak ada yang mendengar, pintunya sudah aku kunci,” bisik Damar pada istrinya, lalu menggendong tubuh Istrinya menuju kamar yang berada di ruangan tersebut lalu mengunci agar tidak ada yang mendengar aktivitas mereka.


“Sayang, layani aku. Saat disana, aku pasti sangat merindukan sentuhanmu.” Menatap sayu wajah istrinya.


Yana tersenyum lalu mengangguk, ia mendorong tubuh suaminya hingga terjatuh ke atas tempat tidur lalu mulai membuka kancing baju suaminya satu persatu.


Yana tidak mau berlama-lama, ia langsung menyatukan bibir mereka hingga bertukar saliva.


Decapan mulai terdengar di dalam kamar tersebut, kini mereka tidak mau menundanya lagi hingga terjadi pertempuran panas di dalam kamar tersebut.


Hingga hampir satu jam lamanya, mereka mengakhiri permainan tersebut dengan napas yang turun naik.


Yana langsung memeluk suaminya tersebut setelah selesai menuntaskan hasrat mereka masing-masing.


“Terimakasih, Sayang.” Membalas pelukan istrinya.


Yana mengangguk.


“Mulai besok kamu mengurus kantor ini selama aku belum kembali, ada anak buah dan asistenku yang selalu bersamamu. Anak-anak kita juga ada Alex yang menjaga dan mengantar mereka hingga pulang sekolah.”


“Tapi, aku belum menguasai semuanya! Aku takut, jika ada yang salah.”


“Jangan takut, Sayang. Kamu pasti bisa, wanita sepertimu sangat cerdas. Ada asisten juga yang membantumu,” ujarnya masih memeluk erat istrinya.


Yana mengangguk.


“Apapun yang akan terjadi denganku nanti, aku harap kamu jangan berusaha untuk mencari tahu!”


Yana melepaskan diri dari pelukan suaminya.


“Kamu mau kemana sih? Memangnya apa yang akan terjadi?” tanya Yana penasaran.

__ADS_1


Damar tersenyum, lalu mengecup berulang kali di seluruh wajah istrinya.


“Tidak akan terjadi apapun, aku ingin kamu berdoa untuk keselamatan Suamimu ini. Agar aku bisa menyelesaikan tugasku dengan baik, demi berbakti pada orang tua.”


“Setiap helaan napasku, doaku selalu untuk suamiku, anak -anak juga untuk kedua orang tua kita.”


“Aku sangat beruntung menikahi wanita sepertimu, Sayang. Jangan tinggalkan aku,” ucapnya kembali memeluk istrinya dengan erat.


Yana mengernyit heran dengan sikap suaminya yang tiba-tiba manja dan berbicara dirinya Yana akan meninggalkan dirinya.


“Sayang, aku sangat mencintaimu. Jangan pernah berubah ya,” ucap Damar lagi.


“Aku juga sangat mencintaimu. Seharusnya aku yang berbicara seperti itu, aku takut jika kamu menemukan wanita cantik di luar sana membuatmu menjadi berubah!”


“Tidak akan, kamu adalah wanita terakhir di hatiku.”


Selesai bercumbu mesra dan saling melepaskan rindu yang sebentar lagi mereka akan berpisah dalam waktu yang bisa di tentukan.


Damar mengajak istrinya untuk membersihkan diri di kamar mandi yang berada di kamar tersebut, Damar kembali mengajak istrinya untuk melakukannya lagi di dalam kamar mandi.


Dengan senang hati Yana melayaninya, karena ia tidak bisa menolak permintaan suaminya.


“Sayang, maafkan aku ya. Karena sudah membuatmu lelah hari ini,” ujar Damar memeluk istrinya dari belakang setelah mengenakan pakaiannya.


“Memang lelah, tapi aku juga menyukainya. Jadi, tak perlu berterima kasih karena kita sama-sama butuh.”


Damar sangat senang mendengar ucapan istrinya tersebut.


“Kalau begitu, ayo kita lakukan lagi.”


Yana membulatkan matanya mendengar permintaan Suaminya tersebut, Damar terkekeh melihat raut wajah istrinya yang terlihat lesu.


“Hahaha ... aku hanya bercanda. Ayo kita makan siang, satu jam lagi aku harus ke bandara,” ajaknya melepaskan dekapannya.


Yana mengangguk.


Di ruangan Damar menyempatkan diri untuk menyuapi istrinya tersebut, walaupun sebenarnya saat ini dirinya entah kenapa sangat enggan berpisah dengan istrinya. Namun, ia berusaha menutupi perasaan tersebut, semua ini ia lakukan demi menyelamatkan bisnis papanya yang sudah di ujung tanduk.


Setelah itu, Yana ikut mengantar suaminya ke bandara. Sejak keluar dari kantor hingga tiba di bandara, tangannya tidak di lepas oleh Damar yang saling menempel.


“Hati-hati ya, jaga kesehatan.”


Kembali memeluk suaminya.


“Iya, Sayang. Kamu juga, cepat kembali,” balasnya.


Damar mengangguk.


“Pasti,” sahutnya.

__ADS_1


Tampak Damar tertekad kuat untuk segera menyelesaikan pekerjaan itu, hingga dirinya bisa berkumpul kembali.


__ADS_2