Setelah 10 Tahun Pernikahan

Setelah 10 Tahun Pernikahan
Bab 15


__ADS_3

Akibat pukulan mendadak tersebut membuat Dian tersungkur ke lantai, bahkan darah keluar dari sudut bibirnya.


Celine berteriak histeris minta tolong, karena sangat takut melihat adegan perkelahian di dalam rumah miliknya.


“Tolong! Tolong!” teriaknya di teras.


Ada beberapa warga yang melintas mendengar teriakan tersebut, lalu datang ke rumah Celine dan melerai perkelahian tersebut.


“Kurang ajar, kamu! Suami macam apa kamu?! Beraninya kamu berbuat hal yang menjijikkan pada putriku!” bentaknya pada menantunya tersebut.


“Sabar, Pak. Masalah kalian bisa di selesaikan dengan kepala dingin, jangan seperti ini,” ucap warga yang menahan tubuh papanya Yana.


“Tidak bisa! Pria bejat ini tidak bisa di beritahu secara baik-baik! Bagaimana jika ini terjadi pada putri kalian?!” protesnya.


Mereka hanya diam.


Sedangkan Dian mengusap darah yang keluar dari hidungnya, ia berusaha melawan dan hendak membalas pukulan papa mertuanya tersebut. Namun sial baginya, ada beberapa orang datang menahan tubuh mereka.


“Kamu ingat baik-baik ya, Dian! Ini peringatan terakhir kalinya, jika kamu berani menampakkan wajahmu lagi atau berani menyentuh sedikit saja pada putriku! Kamu akan menyesal seumur hidupmu!” geram papa mertuanya.


“Papa selalu mengancam. Apa salah jika aku ingin melanjutkan kembali rumah tanggaku pada Yana?! Papa selalu ikut campur dalam rumah tangga kami!” protes Dian tak mau kalah.


“Hei, tentu saja aku ikut campur jika kamu terus menerus menyakiti Putriku! Orang tua mana yang tega membiarkan putri kandungnya sendiri di sakiti berulang kali oleh suaminya sendiri demi wanita murahan ini!” sentak papa mertuanya.


Celine menatap pria paruh baya itu, karena dirinya merasa malu sebab banyak orang di rumahnya saat ini.


“Hei, pria tua! Jika saja anak anda becus melayani suaminya, mana mungkin suaminya berpaling! Itu semua kesalahan Yana, dia juga selingkuh!” protes Celine.


Dian menatap istrinya begitupun dengan papanya Yana.


“Tutup mulutmu itu! Yang berselingkuh itu kalian!”


“Celine, jangan bicara sembarangan! Masuk kamar!” bentak Dian karena dirinya juga tidak terima dengan ucapan Celine yang menuduh Yana berselingkuh.


“Mas, kenapa kamu membela Istrimu itu?! Aku bicara fakta, kamu sendiri yang mengatakan jika Yana itu ....”


“Diam! Masuk ke kamarmu!” bentak Dian lagi.


Celine kesal, lalu berlari masuk ke kamarnya.


“Aku akan mengurus perceraian kalian, putriku tidak pantas mendapatkan Suami biadab sepertimu!” geram papa mertuanya dan berlalu pergi. Begitupun beberapa pria yang meleraikan perkelahian mereka tadi.


Dian terduduk lemas di sofa, karena memang ini adalah kesalahan darinya.


“Arrghh ... sialan!” kesalnya.


Tak lama Celine menggeret koper miliknya sembari menggandeng tangan putrinya, Dian membulatkan matanya melihat istrinya membawa kopernya.


“Mau kemana kamu?” tanya Dian.


“Aku mau pulang! Untuk apa lagi aku berada di rumah ini?! Kamu juga tidak menepati janjimu!” ucap Celine dengan kesal tanpa menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Berhenti dan kembali ke kamarmu!” sentak Dian.


Namun, Celine tidak peduli dengan ucapan suaminya.


“Celine! Apa kamu tuli! Berhenti ....” teriak Dian.


Ia beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah besar untuk mengunci pintu. Lalu mengambil paksa koper istrinya dan membuangnya hingga pakaian di dalamnya berhamburan keluar.


Bruak!


“Jika selangkah saja kamu keluar dari rumah ini! Kamu tidak akan pernah bisa masuk lagi!” ancam Dian menunjuk wajah istrinya itu.


Sang putri tampak ketakutan, ia memeluk erat leher ibunya.


“Aku ini kamu anggap apa, Mas?! Jika kamu masih ingin bersama Yana, lalu kenapa kamu meyakinkan aku untuk menikah denganmu? Sementara, kamu tidak mau menceraikan Yana!” protes Celine.


Terlihat mata yang sembab dan memerah menahan tangis.


“Jawab, Mas! Selama dua tahun aku menunggu, tapi apa? Kamu ....”


“Sudah diamlah! Beri aku waktu untuk berpikir! Aku juga tidak bisa menceraikan Yana begitu saja, apalagi aku mempunyai dua orang putra!”


“Oh ya. Lalu kenapa menikahiku? Lalu memberikan janji manismu itu! Sebenarnya aku bisa merawat dua putramu itu, jika kamu menceraikan Yana! kamu pilih, aku atau Yana?” ujar Celine menatap suaminya dengan air mata yang mengalir ke pipi mulusnya.


“Celine kamu ... arrgghh ... jangan memberikan pilihan sulit seperti ini!”


“Baiklah, itu artinya kamu tidak mau kita hidup bersama!”


“Celine, beri aku waktu. Jangan gegabah seperti ini!” berusaha menahan istrinya.


“Tidak, Mas! Sudah cukup, aku tidak mau hidup bersama pria yang tidak bisa mengambil keputusan sepertimu!”


“Oke, oke baiklah. Aku akan segera menceraikan Yana,” ujar Dian.


Ucapan tersebut sukses membuat langkahan Celine berhenti, ia menatap suaminya.


“Tidak! Kamu pasti berbohong, Mas!”


“Aku berjanji, demi ....” Dian menatap putri yang di gendong oleh Celine.


Celine terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.


Dian tampak menghela napas lega, lalu menarik Celine ke dalam pelukannya.


Dian tak bisa lagi berpikir jernih saat ini, apakah dirinya memang sudah sangat serakah karena ingin memiliki keduanya. Namun, belum mampu secara adil hingga membuatnya menjadi seperti ini.


***


Seperti biasa Dian tengah bersiap untuk berangkat bekerja, apalagi dirinya saat ini adalah di percayakan menjadi tangan kanan Tuan Damar.


Selesai bersiap, ia ke dapur untuk sarapan. Namun, Celine pagi ini tidak membuatkan sarapan untuknya karena masalah kemarin pikir Dian.

__ADS_1


Bahkan semalam, Celine menolak untuk tidur sekamar.


Celine sempat mengancam Dian jika tidak segera menceraikan Yana, mereka akan tetap seperti itu.


Dian menghela napas kasar, lalu melangkah keluar rumah untuk segera berangkat ke kantor.


Setibanya di sana, dirinya di minta oleh pemilik perusahaan tersebut yaitu Damar untuk ke ruangannya.


“Pagi, Tuan,” sapa Dian langsung duduk di depan Damar hanya meja menjadi penghalang mereka.


“Pagi,” sahut Damar.


Ia berusaha biasa saja dan tetap baik di depan Dian. Karena tidak ingin Dian mencurigainya, walaupun dalam hati ingin menghajar Dian habis habisan saat ini.


“Bagaimana kabarmu? Eh, Kenapa dengan wajahmu?” tanya Damar bersandiwara seakan tidak mengetahui apapun.


Padahal, dirinya sudah meminta anak buahnya untuk mengikuti papanya Yana kemarin dan memantau apa saja yang terjadi di rumah Dian.


“Ini, aku terpeleset dan jatuh, Tuan” sahut Dian berbohong.


Damar hanya tersenyum kecut.


“Oh begitu. Oh ya, kinerjamu selama beberapa Minggu ini sangat bagus. Aku berniat ingin menaikkan upahmu menjadi tiga kali lipat,” ujar Damar sembari menaikkan alisnya sebelah.


Ia menatap Dian yang terlihat terkejut.


“Tu-tuan ini ....”


“Kenapa? Kamu tidak salah dengar kok. Upahmu aku naikkan tiga kali lipat mulai bulan depan, selamat untukmu,” ujar Damar mengulurkan tangannya.


Dian tampak terdiam sejenak, lalu membalas uluran tangan tersebut.


“Tuan, ini seperti mimpi. Tapi, aku belum melakukan pekerjaan apapun. Bahkan aku masih mempelajarinya,” ujar Dian terlihat bingung, tiba-tiba saja upah dirinya menjadi naik tiga kali lipat.


“Ya kamu tidak perlu bingung, sekarang kembali ke ruanganmu. Jangan lupa, sampaikan pada Istrimu kabar bahagia ini.”


Deg!


Senyum Dian seketika luntur, setahunya Damar hanya mengetahui dirinya masih bersama dengan Yana saat ini.


Tanpa Dian ketahui, jika Damar mengetahui semuanya dan mempunyai rencana licda untuk membalas atas perlakuannya pada Yana.


Dian tampak mengangguk pelan, lalu beranjak dari tempat duduknya.


Setelah keluar dari ruangan Damar, Dian tampak berpikir keras. Pekerjaan apa yang ia lakukan sehingga membuat Damar menaikkan sebanyak itu.


“Hufft ... sepertinya aku ketiban rezeki tak terduga. Tapi Yana ....”


Dian menghela napas berat, ia tampak sangat menyesal atas perbuatannya pada Yana kemarin.


***

__ADS_1


__ADS_2