
Di tanah air, Vita sangat kesal karena mobilnya yang tiba-tiba saja mogok sudah berulang kali agar mobil terbaik bisa menyala, namun tetap saja tidak mau menyala.
Beruntung mobil tersebut mogok di pinggir jalanan yang sepi, Vita berdecap kesal.
“Sialan! Kenapa lagi dengan mobil ini?!” umpat Vita.
“Kalau begini caranya, aku bisa terlambat dengan pertemuan ini!” kesalnya bergumam dengan masih berusaha menghidupkan mobil tersebut.
Sebuah mobil berhenti di depannya, ia sangat mengenali mobil tersebut yaitu Ujang sang sopir Yana.
“Dia, kenapa dia sih yang datang. Aku berharap pria selain dia,” gumam Vita dalam hati.
“Kenapa dengan mobilnya?” tanya Ujang.
“Apa kau tidak punya mata?! Kau lihat sendiri, mobilnya tidak bisa menyala!” kesal Vita.
“Bagaimana aku tahu kalau mogok! Kau ada pertemuan bukan?” tanya Ujang.
“Banyak tanya! Kau mau membantuku atau tidak?!” kesalnya.
Entah kenapa Vita selalu kesal jika berbicara dengan Ujang, padahal pria yang seumuran dengannya tersebut tidak pernah berbuat ulah padanya.
“Ck ... tidak sopan! Tinggalkan saja mobilmu, aku akan mengantarmu!” ketus Ujang.
“Apa kau bilang? Meninggalkan mobilku! Enak saja kau bicara! Aku bertahun-tahun menabung untuk membeli mobilku dan kau bilang tinggalkan saja! Aku tidak mau!” tolak Vita.
“Lalu, aku gendong mobilmu?! Dasar bodoh! Aku menawarkan diri agar kau tidak terlambat ke tempat pertemuan! Bayangkan saja jika kau terlambat, bagaimana marahnya Nyonya Yana. Setelah mengantarmu aku akan memperbaiki mobilmu itu!” ketus Ujang sedikit kesal terhadap Vita yang setiap bertemu dengannya Vita selalu galak padanya.
“Coba pintar dikit!” tambah Ujang lagi meninggalkan Vita yang masih mematung mencerna ucapan Ujang.
Terlihat dirinya merasa bersalah atas ucapannya pada Ujang, yang sebenarnya Ujang berniat baik padanya.
Vita tersadar setelah mendengar mesin mobil Ujang menyala.
“Sialan! Dia meninggalkan aku!” gumam Vita langsung berlari keluar tak lupa membawa berkas miliknya.
Tok ... Tok ...
“Buka pintunya, maafkan atas perkataanku tadi!” ucapnya Vita dengan wajah memelas.
Ujang menurunkan kaca mobilnya, lalu menyeringai jahat.
“Aku pikir wanita keras kepala sepertimu tidak butuh bantuanku!” ejeknya.
Vita mengepal kuat tangannya.
“Cepat masuk, apalagi yang kau tunggu?!” ujar Ujang mulai kesal.
Dengan sangat terpaksa Vita membuka pintu mobil lalu duduk di sebelah Ujang.
Hingga tiba di tempat yang ia tuju, tidak ada percakapan di antara mereka berdua.
“Terima kasih!” ketus Vita hendak membuka pintu mobil.
“Eits ... enak saja kau ingin pergi begitu saja! Beri aku imbalan!” ujar Ujang.
“Hah! Imbalan! Bukankah perusahaan sudah memberimu upah yang sangat besar setiap bulannya! Apa semua itu kurang?!” tanya Vita menatapnya dengan tajam.
“Iya, Kurang! Dimana kunci mobilmu?!” tanya Ujang bertanya semakin mendekati wajahnya.
“Ini!” meletakkan kunci tersebut dengan kasar di mobil tangan Ujang.
Dengan cepat Ujang memberi kecupan di pipi Vita.
Cup ....
“Ini sebagai imbalannya,” ujar Ujang sembari tersenyum penuh kemenangan.
“Kurang ajar, berani sekali kau!” menatap tajam Ujang.
“Kenapa, mau marah? Marah saja,” sahutnya.
“Awas saja kau! Aku akan membalas perbuatanmu itu, lihat saja!” ancamnya, karena dirinya tidak berdaya saat ini. Apalagi ia harus segera menemui klien.
“Balas dengan ini saja,” ucap Ujang menunjuk pipinya sendiri.
“Tidak sudi! Cepat buka pintunya, atau aku akan berteriak!” ancam Vita.
“Pintunya tidak di kunci,” sahut Ujang sembari tersenyum licik.
hingga membuat Vita semakin kesal padanya.
“Awas saja kau!” ancam Vita lagi sebelum keluar mobil.
Ujang hanya menanggapinya dengan mengangkat kedua bahunya saja.
Ujang menatap kepergian Vita hingga punggungnya menghilang.
“Kapan aku bisa memilikimu. Jika dengan cara ini aku bisa memilikimu, kenapa tidak?” ucapnya.
Namun berbeda dengan hati Vita saat ini, ia tahu jika Ujang menyukai dirinya sejak dulu. Namun apalah daya, jika hatinya masih menunggu Alex untuk mengatakan cinta padanya.
“Huftt ... Awas saja dia!” masih kesal dengan tingkah Ujang padanya.
Selesai dengan pertemuan tersebut, Vita kembali ke parkiran dan ternyata mobilnya sudah berada di parkiran entah bagaimana cara Ujang membawanya.
“Cepat sekali,” ujar Vita saat membuka pintu mobil.
“Ini kuncinya, aku harus pergi sekarang.” Tanpa menunggu lagi Ujang langsung keluar dari mobil tersebut, Vita mengernyit heran melihat Ujang terlihat buru-buru.
Namun, tiba-tiba Ujang menghentikan langkahnya.
“Vita, maafkan tindakanku yang tidak sopan tadi ya. Aku berjanji, hal itu tidak akan terjadi lagi.”
Setelah mengatakan itu, Ujang kembali melanjutkan langkahnya tanpa menunggu jawaban dari Vita.
Vita yang terlihat heran dengan sikap Ujang yang tiba-tiba berubah, membuat rasa penasaran yang cukup tinggi hingga dirinya berniat mengikuti Ujang dari belakang.
Ujang tampak menaiki ojek online, ia tidak melihat mobil Ujang disekitaran parkiran tersebut. Karena mobil yang ia pakai tersebut adalah mobil milik kantor.
Vita terus mengikutinya dari jarak jauh, ia berusaha mengimbanginya agar tidak ketinggalan jejak.
Ujang tiba-tiba berhenti, Vita juga melihat mobil yang di kendarai oleh Ujang ternyata ada di bengkel juga.
“Jadi, dia mengantar mobilku. Sedangkan mobilnya sendiri berada di bengkel juga,” gumam Vita, ia mulai merasa bersalah karena sudah merepotkan Ujang.
Ia tampak duduk sembari menunggu mobil tersebut di perbaiki.
Vita berpikir akan membawakan minuman dan makanan yang ia bungkus yang sebenarnya makanan tersebut memang untuk Ujang, karena Ujang terburu-buru pergi membuatnya seketika lupa.
__ADS_1
Sebenarnya dirinya sangat kesal dengan perlakuan Ujang padanya, tapi kekesalan tersebut tidak bisa terlalu lama.
Saat hendak membuka pintu mobil, sebuah motor berhenti di depan bengkel tersebut dan di kendarai seorang wanita cantik.
Ujang tampak tersenyum melihat kedatangan wanita tersebut, bahkan Ujang membantunya untuk melepaskan helm dari kepala wanita tersebut.
“Siapa wanita itu? Mereka terlihat sangat dekat sekali!” gumam Vita terlihat kesal.
Niatnya yang ingin memberikan makanan untuk Ujang di urungkannya setelah melihat kedatangan wanita tersebut, ternyata wanita itu juga membawa makanan untuk Ujang.
Terlihat mereka tertawa bercanda bersama, walaupun Vita tidak mendengar jelas candaan mereka tersebut. Jika di lihat dari kejauhan, mereka seperti pasangan kekasih yang sedang berbahagia.
“Apa itu kekasihnya? Mereka terlihat sangat dekat sekali!” gumam Vita lagi mengepal tangannya kuat, lalu meletakkan kasar bungkus makanan tersebut ke kursi yang kosong.
“Bodoh sekali aku mengikutinya hingga ke tempat ini! Lebih baik aku pergi saja,” ucapnya lagi sembari melirik Ujang yang tengah berbincang dengan wanita tersebut.
Namun, Ujang tidak sengaja melihat mobil milik Vita yang sudah berlalu pergi.
“Vita, kenapa mobilnya ada disini? Apa dia mengikutiku?” tanyanya dalam hati melihat mobil tersebut sudah menjauh.
Sejenak ia berpikir, apakah Vita melihat dirinya sedang berbincang dengan wanita yang ada di sebelahnya pikirnya.
“Apa yang Kakak pikirkan?” tanya wanita tersebut.
Wanita cantik yang ada di sebelahnya itu adalah adik kandungnya sendiri yang baru saja kembali dari libur kuliah dari luar kota.
Karena dirinya memang dekat dengan adiknya, banyak yang mengira jika mereka adalah pasangan kekasih. Padahal yang sebenarnya mereka adalah adik kakak.
Setibanya di kantor, Vita masih terlihat kesal entah kenapa dirinya kesal melihat kedekatan Ujang dan wanita tersebut.
Ada beberapa karyawan yang masih belum pulang, melihat raut wajahnya yang tidak seperti biasanya.
Vita langsung masuk ke ruangannya, lalu mengerjakan sisa pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini juga. Vita cukup profesional dalam bekerja, tidak melibatkan pribadi dalam pekerjaannya. Apalagi, Yana sudah mempercayai sebuah pekerjaan tersebut padanya.
Ceklek ...
Pintu langsung terbuka lebar, Ujang terlihat langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Kau! Apa tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?!” kesalnya pada Ujang yang masuk begitu saja.
Langkah Ujang langsung terhenti di ambang pintu, ia menatap wajah Vita yang begitu kesal.
“Maaf, aku hanya memastikan dirimu saja. Vita, sebenarnya apa salahku? Kenapa kau sepertinya sangat membenciku?” tanyanya langsung.
“Kau masih bertanya kenapa aku sangat membencimu? Siapa yang tidak kesal, apalagi kau tiba-tiba menciumiku tadi!” ucap Vita berpura-pura marah, padahal ia sudah melupakan kejadian tadi.
“Aku minta maaf, Vita. Aku memang salah, tindakanku itu sangat tidak sopan. Kau boleh memecatku,” ujar Ujang karena merasa dirinya memang sangat kurang ajar pada Vita tadi.
“Ya, aku akan memecatmu! Mulai besok jangan bekerja lagi,” gurau Vita tanpa sadar mengatakan itu, berbicara seperti itu tanpa melihat ke arah Ujang.
“Iya,” sahut Ujang lirih.
Setelah mendengar ucapan dari Vita jika dirinya di pecat, Ujang meletakkan kunci mobil di meja lalu keluar ruangan tanpa berpamitan.
Karena fokus dengan pekerjaannya, Vita menoleh ke arah pintu yang ternyata sudah tidak ada Ujang di depan pintu.
“Huftt ... bukannya menjelaskan siapa wanita bersamanya di bengkel, ia malah langsung pergi tanpa berpamitan!” kesal Vita.
Vita merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal, lalu mengemasi berkas yang berantakan lalu bersiap untuk pulang.
“Kunci mobil, apa Ujang Tidak membawa mobil pulang?” tanyanya dalam hati.
“Huh, biarkan saja. Aku harus segera pulang,” ucapannya lagi bergegas untuk pulang ke rumah.
“Vita,” panggil seseorang.
“Iya, Pak. Ada apa?” tanya Vita melihat asisten Tuan Damar yang juga ternyata belum pulang.
“Apa semua sudah beres?” tanyanya.
“Sudah.”
“Vita, saran dari saya. Jika mempunyai masalah pribadi dengan Ujang, jangan melibatkan dengan pekerjaannya. Ujang adalah sopir yang di percayai oleh Tuan Damar untuk mengantar Istrinya,” ujar pria tersebut.
Vita mengernyit bingung, masih belum mengerti apa yang di ucapkan oleh pria tersebut.
“Aku tidak mengerti apa yang anda katakan, Pak.”
“Apa kalian punya hubungan spesial, maksudnya ... lebih dari teman?” Tanyanya.
“Maksudnya, aku dan Ujang?” tanya Vita.
Pria tersebut mengangguk.
“Oh, kami hanya berteman. Tidak ada hubungan spesial, kebetulan Ujang membantu saya ketika mobil saya mogok tadi.”
“Nah, lalu kenapa kamu memecatnya? Aku sudah katakan sebelumnya, kalian sama-sama orang yang sangat di percayai oleh Tuan dan Nyonya.”
“Memecat? Aku tidak memecatnya!” Vita terlihat bingung, ia berusaha mengingatkannya.
“Aku mendengar sendiri saat aku hendak masuk ke ruanganmu, kamu sendiri yang mengatakan jika kamu memecatnya. Apa ada kesalahan yang begitu fatal oleh Ujang, setahuku dia pria yang baik.”
Vita tampak berusaha mengingatnya, lalu ia membulatkan matanya baru menyadari dengan ucapannya tadi.
“Astaga! Apa dia menganggap ucapanku tadi dengan serius?!” gumam Vita.
“Maaf, Pak. Saya harus menyusul Ujang, jika ucapan saya tadi tidaklah serius.” Vita tampak tergesa-gesa menuju lift.
Pria yang di percayai oleh Damar tersebut tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
“Dasar, anak muda sekarang aneh-aneh saja. Eh ... nasib jomblo hingga tua begini!” keluhnya lalu kembali ke ruangannya untuk mengerjakan pekerjaan yang belum selesai, walaupun sudah waktunya untuk pulang bekerja.
Vita masih mengendarai mobil miliknya di tengah hujan deras menuju rumah milik Ujang, ia tidak menyangka jika Ujang menganggap serius ucapannya tadi, padahal niat dirinya hanya bercanda.
“Mampus aku, jika Yana mengetahui hal ini. Bisa jadi Yana menganggapku sebagai wanita tak tahu diri, karena Yana sudah mempercayakan aku.”
Setiba di rumah Ujang, Vita melihat wanita yang sama bersama Ujang di bengkel tadi, tengah duduk di teras.
“Wanita itu ada di sini juga?” tanyanya dalam hati.
“Ck ... entah kenapa aku cemburu melihat kedekatan mereka! Eh ... tidak, tidak. Kenapa aku cemburu? Aku tidak punya hubungan apapun dengannya,” gumamnya lagi membenarkan pernyataannya tadi.
Vita langsung keluar dari mobil tersebut, meletakkan tas miliknya di atas kepala agar dirinya tak terkena hujan.
“Cari siapa?” tanya wanita terbaru dengan lembut.
“Ada Ujang?” tanya Vita.
Wanita tersebut tampak bingung, karena memang tidak ada nama Ujang di rumahnya.
__ADS_1
Seketika wanita tersebut sadar, jika nama kakaknya saat di kantor di panggil dengan nama Ujang.
“Ada, sebentar aku panggil. Silahkan duduk,” ujarnya.
Vita mengangguk, ia juga memasang wajah ramah pada wanita tersebut. Karena wanita cantik itu begitu sopan padanya.
“Kak, ada yang mencari Kakak.”
Panggilan tersebut terdengar oleh Vita.
“Kakak? Apa dia adiknya?” tanya Vita dalam hati.
Vita memukul keningnya, karena salah sangka dengan Ujang.
“Bodoh! Kenapa aku tidak menanyakannya terlebih dahulu tadi?!” Vita mengutuk dirinya sendiri.
“Vita, kenapa kemari?” tanya Ujang melihat Vita yang tampak gusar.
“Aku sangat malu sekali!” gumamnya dalam hati.
Ekhem ....
Vita berdeham menetralkan rasa gugupnya.
“Ujang, a-aku minta maaf.”
“Minta maaf untuk apa?” tanya Ujang dengan serius, apalagi melihat Vita yang terlihat gugup.
“Aku minta maaf dengan perkataanku saat di kantor tadi. Sungguh, aku mengatakan itu tidak dengan serius. Aku tidak tahu jika kau menganggapnya sebagai serius,” ujar Vita merasa bersalah.
“Oh, itu. Aku tidak menganggapnya serius, Kok.”
“Lalu kenapa kau meninggalkan kunci mobil di ruanganku? Biasanya kau membawanya pulang ke rumah. Please ... jangan berhenti! Entah bagaimana nasibku jika Yana dan Tuan Dar mengetahui ini, bisa jadi mereka menganggapku tak tahu diri. Tolong kembali ke kantor lagi,” ujar Vita dengan wajah yang memelas.
“Maaf, Vita. Aku tidak bisa,” tolak Ujang.
Sebenarnya dirinya juga tidak berhenti dari kantor tersebut, karena memang dirinya ingin mengambil cuti dan sudah ia ajukan beberapa Minggu yang lalu dan kebetulan saat ini Yana tidak ada sehingga dirinya berkesempatan mengambil cuti lebih awal.
Timbul dalam dirinya ingin mengerjai Vita saat ini.
“Kenapa?” tanya Vita.
“Ya, karena kau sudah memecatku! Pantang bagiku jika sudah di pecat untuk kembali lagi,” ujar Ujang menahan senyumnya.
Vita tampak menghela napas berat.
Tak lama datang adiknya Ujang membawakan dua teh hangat dan meletakkannya di meja.
“Silahkan di minum mbak,” ujarnya pada Vita.
Vita hanya mengangguk sambil tersenyum paksa.
“Minum dulu,” ujar Ujang menyerahkan gelas berisi teh hangat tersebut.
Vita menggelengkan kepalanya, raut wajahnya tampak gusar.
“Minum dulu agar menghangatkan tubuhmu, setelah itu aku akan mempertimbangkan ucapanmu tadi.”
Mendengar itu, Vita langsung mengambil gelas dari tangan Ujang lalu meminumnya hingga habis.
Ujang menelan salivanya dengan kasar, melihat Vita menghabiskan langsung teh hangat tersebut.
“Aku sudah menghabiskan minumannya, apa kau mau kembali lagi?” tanya Vita dengan hati-hati.
“Tergantung,” sahutnya.
“Hah! Tadi kau sendiri yang mengatakan jika kau akan mempertimbangkannya!” seru Vita, karena merasa di permainan kan oleh Ujang.
Ujang hanya tersenyum menanggapinya.
“Ujang! Aku serius, kenapa kau malah tersenyum? Aku akan melakukan apapun asalkan kau Kembali ke kantor untuk bekerja,” ucap Vita lagi tanpa sadar ia mengatakan itu, mungkin karena dirinya sudah tidak bisa berpikir lagi.
“Oh ya, benarkah? Apa kau serius dengan ucapanmu itu?” tanyanya dengan santai.
“Tentu saja, aku serius. Cepat katakan, agar aku bisa tenang.”
“Hm ... baiklah. Aku akan kembali ke kantor, jika ....”
Ujang menggantungkan ucapannya, membuat Vita semakin kesal.
Plak!
Vita memukul bahu Ujang dengan kuat, karena begitu kesal sejak tadi tidak memberikan jawaban yang pasti.
Ujang terkekeh melihat kekesalan Vita padanya.
“Sabar dulu ... baiklah, dengarkan baik-baik. Aku akan kembali ke kantor, jika kau mau menjadi kekasihku.”
Deg!
Ia tidak menduga jika Ujang menggunakan cara ini mengambil kesempatan di dalam kesempitannya.
“Apa? Bagaimana bisa? Aku tidak mau!” tolak Vita langsung.
“Mm ... oke. Lupakan saja, aku tetap dengan pendirianku. Aku tidak akan pernah kembali ke kantor lagi, sebaiknya kau pulang!”
Vita tampak bingung, ia bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung.
“Apa tidak ada selain cara itu?” tanya Vita dengan raut wajah yang memelas.
“Tidak ada. Lupakan saja, sudah malam. Bahaya jika wanita pulang larut malam,” ujar Ujang hendak beranjak dari tempat duduknya.
“Ujang, tunggu dulu. Baiklah, aku bersedia menjadi kekasihmu, tapi kau harus berjanji kembali ke kantor,” jawab Vita cepat.
Bibir Ujang terlihat tersenyum mengambang.
“Yakin? Apa itu bukan paksaan? Apa murni dari hatimu?” godanya.
“Hah? Kau ini bagaimana sih? Kau sendiri yang memintaku untuk menjadi kekasihmu! Lalu kau mengatakan ini bukan paksaan! Tentu saja aku terpaksa! Caranya tidak romantis lagi!” protes Vita.
“Oh, jadi kau ingin aku mengatakannya dengan secara romantis?”
“Tidak, tidak. Aku harus kembali, ingat besok kau harus kembali ke kantor. Aku sudah mengikuti apa yang kau mau,” ujar Vita menatapnya dan berlalu pergi.
Sebenarnya Vita sangat malu dengan pernyataannya tadi, ia berusaha menutupi rasa gugupnya tersebut.
Ujang terkekeh melihat wajah Vita yang memerah karena malu, karena sudah berhasil mengerjai wanita yang ia kagumi sejak dulu.
***
__ADS_1