Setelah Perpisahan

Setelah Perpisahan
Casing Yang Tidak Sesuai


__ADS_3

Kara melihat suaminya dengan santainya berjalan dengan Shirtless hanya mengenakan celana jeans saja. Bodi perfecto paripurna lengkap dengan roti sobek disana membuat Kara harus menelan salivanya susah payah.


Ya Allah, itu bodi suamiku yang setiap malam katanya meluk aku? Kok aku bisa masih sehat ya jantungnya? Apa setiap malam harus minum obat jantung ya?


Rayden keluar dari walk in closet hanya mengenakan handuk di bawah pinggangnya lalu menyalakan bluetooth speaker nya dan mencari aplikasi lagu di ponselnya lalu menyetel lagu milik Johnny Iskandar, Pengemis Cinta.


Pria tampan itu dengan cueknya goyang dombret sambil nyanyi lagu dangdut klasik itu. Kara melongo melihat kelakuan absurd suaminya.


Astaghfirullah! Suamiku benar-benar tidak sesuai casingnya! Kara hanya bisa membenamkan wajahnya di balik selimut.


Aku bukan pengemis cinta


Yang slalu harus mengalah


Bila diputuskan cinta


Dari sang kekasih


Wanita bukan engkau saja


Yang ada dalam dunia


Cantik bukanlah utama


Menghiasi jiwa


Persetan dengan cinta


Persetan dengan janji


Kalau harus menyakiti


Persetan dengan sumpah


Persetan dengan wajah


Kalau harus menderita


"Ya Allah maaaasss!" teriak Kara tidak tahan dengan perilaku suaminya.


"Eh? Kenapa? Seru tahu!" sahut Rayden cuek.


"Oh my God! Tolonglah hambamu ini" keluh Kara.


***


"Kamu kenapa? Kan ritual aku mau mandi suka begini. Masa nggak hapal aku sih sayang?" goda Rayden sambil berdiri dekat jendela setelah mandi dan masih mengenakan handuk di pinggangnya.



Kara hanya menggelengkan kepalanya. "Mas Rayden, seriously!"


"Lho serius sayang. Memang kebiasaan aku begitu" senyum Rayden sambil mendekati istrinya.


Nafas Kara mulai berantakan ketika tubuh kekar itu hanya berjarak beberapa senti saja dan Kara bisa mencium harum tubuh Rayden yang entah kenapa sangat dia hapal. Aku mungkin belum mengingat suamiku tapi bau tubuhnya sangat aku hapal.


"Sayang kamu masih terluka, coba kalau nggak, sudah aku lu*mat dan makan dirimu" suara parau Rayden terdengar sangat seksih di telinga Kara.


Nada bicara ini seperti sering aku dengar.


Rayden yang melihat perubahan wajah istrinya dari gugup menjadi berpikir langsung panik.


"Kamu nggak papa? Apa yang sakit? Kamu mikir apa?" cerocos Rayden.

__ADS_1


"Nggak sakit mas cuma aku merasa sering mendengar nada suaramu" jawab Kara jujur.


"Karena setiap malam aku sering berkata dengan nada seperti itu." Rayden pun bangun dan turun namun entah bagaimana handuk yang melingkar di pinggangnya terlepas mengakibatkan tubuh polos pria itu pun terpampang di hadapan Kara.


Wajah Kara langsung memerah melihat pemandangan disana.


"Mas RAAYDDEEENN!!!" jerit Kara sambil menelungkupkan wajahnya di bantal.


Rayden hanya nyengir. "Oooppsss!"


***


Kara melirik judes ke arah suaminya yang sudah memakai celana pendek tapi masih Shirtless dan tiduran di sebelahnya.



"Kamu kenapa?" tanya Rayden tanpa bersalah.


"Kamu sengaja kan?" hardik Kara judes.


"Sengaja apanya?"


"Sengaja pamer bodi kan?"


"Eh Kara Santanku, sumpah demi semua Pramuka, aku nggak sengaja" gelak Rayden yang bahagia melihat istrinya mulai kumat judesnya.


"Dasar mas MESHUM!" omel Kara yang tampaknya biasa namun membuat Rayden melongo.


"Sayang, itu me*sumnya pakai tambahan huruf H atau nggak di tengah?" tanya Rayden.


Kara menatap suaminya. "Pakai tambahan huruf H lah! Wong mas kayak gitu kelakuannya!"


Rayden tersenyum lebar. Pelan-pelan mulai muncul.


"Pelan-pelan mulai muncul, sayang. Hanya kamu yang membuat kata me*Sum menjadi meshum pakai H di tengah" ucap Rayden.


Kara mengangguk lalu terdiam. Wajahnya mulai memucat.


"Kamu kenapa?" tanya Rayden panik.


"Aku...mual. Pengen muntah" bisik Kara.


Rayden lalu menggendong Kara menuju kamar mandi dan membiarkan istrinya memuntahkan semua isi perutnya di kloset. Setelahnya Kara berkumur dengan mouthwash untuk mengurangi rasa mualnya.


"Aku minta bu Sumi membuatkan teh mint panas ya" ucap Rayden setelah meletakkan tubuh istrinya diatas tempat tidur.


"Pakai baju dulu mas!" Mata Kara menatap galak ke Rayden seolah mengatakan 'Kamu itu suamiku, jangan seenaknya pamer bodi'.


Rayden nyengir melihat tatapan judes dan posesif istrinya. Setelah memakai kaos, Rayden pun keluar kamar dan menuju dapur.


***


Tak lama Rayden pun datang membawakan secangkir teh mint panas dan biskuit asin yang memang disiapkan oleh Bu Sumi ketika mendengar Kara hamil.


"Sayang, minum dulu. Bisa nggak pakai tangan kiri?"


Kara hanya mengangguk. "Bisa mas pelan-pelan."


Rayden pun membantu Kara dnegan telaten. Setelah menghabiskan hampir separo cangkir, Kara pun meminta Rayden meletakkan ke nakas.


"Aku mau biskuit asinnya mas." Rayden membukakan dan Kara mulai ngemil karena perutnya lapar akibat tadi harus dikeluarkan semua.


"Mas, Senin besok mulai ngantor kah?" tanya Kara ngemil.

__ADS_1


"Iyalah sayang. Aku hampir dua Minggu ini tidak masuk kantor dan Rafli sudah kelimpungan karena Jake pun mengalami cidera."


"Bagaimana keadaan Jake?"


"Sudah mulai membaik hanya saja terkadang masih pusing dan mual efek dari gegar otaknya. Tenang, dia tidak ikutan hamidun seperti dirimu sayang" kekeh Rayden.


"Kalau Jake sampai hamil, itu merupakan keajaiban dunia mas" gelak Kara.


Rayden menatap perut Kara. "Kira-kira anak kita boy or girl ya?"


"Mau boy or girl, yang penting sehat semua sampai aku lahiran mas."


Rayden mengangguk lalu mengusap perut Kara yang masih rata.


"Aku jadi ngantuk kalau mas usap seperti ini" ucap Kara dengan mata mulai sayu.


"Tidur saja sayang, memang waktunya tidur siang kok" bisik Rayden.


Tak lama Kara pun terlelap. Rayden mencium kening Kara. "Selamat boci, bobok ciang istriku."


***


Kara terbangun karena merasakan tidak enak pada perutnya. Antara mual dan sebah menjadi satu. Dilihatnya jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul setengah tiga siang.


"Berapa lama aku tertidur" gumamnya.


"Hampir satu jam setengah sayang" bisik Rayden di sebelahnya.


Kara pun menoleh dan lagi-lagi jantungnya berantakan melihat suaminya yang Shirtless menekuk dirinya.



"Enak tidurnya?" tanya Rayden.


Kagak enak kalau bangun-bangun dapat pemandangan seperti ini! Bikin jantung dan otak berantakan ini! Tolong, kok bisa aku mendapatkan rejeki suami yang paripurna ini meskipun melokal dan demen goyang dombret.


"En...Enak mas" jawab Kara gugup.


"Kamu kenapa?" bisik Rayden yang sebenarnya geli melihat perubahan wajah istrinya yang sudah dihapalnya kalau terkesima melihat dirinya.


"Ti...dak apa...apa" jawab Kara lemah.


"Yakin tidak apa-apa?" goda Rayden yang semakin mengikis jarak diantara keduanya.


"Ya...kin... kayaknya" bisik Kara.


"Masa? Kok aku tidak yakin ya?"


Kara mendelik. "Hah?"


"Harus dicek dulu, yakin atau tidak" Rayden Melu*mat bibir istrinya yang sudah lama tidak ia rasakan hampir dua Minggu ini.


Awalnya Kara menegang namun rasa bibir Rayden seperti sudah terbiasa dia cicipi dan akhirnya dia pasrah menerima ciuman suaminya.


"I miss you so much, baby" bisik Rayden.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2