
Sudah sebulan semenjak kejadian itu, Kara baru bisa mengingat sedikit kejadian sebelum mengalami penculikan dan dibuang ke jurang.
Kara sudah bisa mengingat mantan suaminya yang sekarang perusahaan miliknya di ambang kebangkrutan akibat ulah Abe dan Rayden Takahashi. Kedua ayah dan anak itu menganggap bahwa Adi juga ikut andil dan bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa menantu dan istri keluarga Takahashi.
Kara sendiri sebenarnya tidak ingin papa mertua dan suaminya mengutak-atik perusahaan Adi karena dia hanya kebetulan membawa Irene yang notabene menjadi kekasihnya namun tidak ada bukti kalau Adi ikut menjadi anggota komplotan penculik dan percobaan pembunuhan ke Kara.
Namun Abe dan Rayden ingin memberikan efek jera kepada Adi sekaligus ancaman agar Adi tidak mendekati Kara dengan alasan apapun. Kara hanya bisa mengelus dada mendengar penjelasan suaminya.
"Tapi mas, dia kan tidak terbukti kalau ikutan dengan vampir dan Kremi itu dalam percobaan pembunuhan ke aku" papar Kara. Bagaimana pun juga Kara tidak tega melihat perusahaan milik keluarga Adi menjadi amburadul.
"Mas hanya memberikan efek jera sayang. Tidak sampai bangkrut krut krut, hanya saja membuat dia harus berusaha keras untuk membangun lagi perusahaan miliknya." Rayden menatap Kara. "Apakah kamu masih ada rasa sama mantan?" Mata abu-abu itu menatap tajam Kara.
"Mas, ngapain juga punya rasa sama mantan, lha wong mas yang paripurna gini sudah perfecto buat aku. Bukankah mas yang pertama buat aku?" goda Kara yang mulai menghapal kebiasaan suaminya kalau sudah bad mood, tinggal digoda colek dikit pasti luluh.
"Kara Gantari Santanku, kamu mulai nakal ya?" Rayden semakin memincingkan matanya.
"Nakal sama suami sendiri nggak boleh? Ya sudah..." suara Kara menggantung.
"Oh no you don't!" seru Rayden panik. "Nggak ada yang boleh mengambil Kara Santanku!"
"Karepmu Wis mas, diusili rak gelem ya Wis ta tinggal merem wae" gumam Kara sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Heeeeiiii! Kenapa setelah kamu amnesia menjadi fasih bahasa Jawa sih?" protes Rayden.
"Lha mas juga senengnya dengerin dangdut sama campursari. Emang mudeng apa yang dinyanyikan sama Godfather of broken heart Didi Kempot?" cebik Kara sengit soalnya malam ini Rayden menyetel lagu campursari milik Didi kempot berjudul Sewu Kuto.
"Ya mas belajar lagi sayang soalnya almarhum mama yang biasa ngajarin sudah nggak ada."
Rayden kemudian terdiam. "Eh bukannya tadi masih membahas urusan pekerjaan kenapa bisa nyasar ke bahasa Jawa dan Didi kempot?"
Kara terkikik. "Goodnight sayang."
"Tuuuhhhh kaaaann! Aku ditinggal tidur!" gerutu Rayden sebal.
"Salahnya lagunya bikin aku ngantuk" gumam Kara.
__ADS_1
***
Kehamilan Kara sekarang masuk ke bulan kelima dan Rayden semakin semangat untuk mengetahui jenis kelamin anaknya bersama Santan kesayangannya. Keduanya kini berada di sebuah rumah sakit ibu dan anak yang dekat dengan rumah Rayden untuk melakukan kontrol rutin.
"Benar kan kemarin cuma satu bayi? Nggak kembar kan?" Rayden memastikan lagi.
"Satu mas. Aku nggak sanggup kalau kembar terus niru mas pecinta dangdut dan campursari, keras kehidupan mas!" protes Kara.
Dimana-mana biasanya ibu hamil itu mendengarkan bayi dalam kandungannya itu Beethoven atau Chopin, eh ini sang calon hot Daddy malah nyetel dangdut klasik baik punya A Rafiq, Mansyur S, Meggy Z atau Rhoma Irama.
Ketika Rayden bekerja, baru Kara mendengarkan in lagu-lagu klasik, KPop dan Indonesia diluar dangdut dan campursari.
Bagi Kara, melokalnya Rayden sudah keterlaluan meskipun sekarang sudah mulai berkurang goyang dombret nya karena Kata bisa muntah-muntah jika melihatnya.
Setelah mendapatkan giliran, Kara dan Rayden pun masuk ke ruang periksa. Dokter obgyn yang memeriksa pun menyatakan bahwa kondisi bayi dalam kandungan Kara sehat dan aktif serta jenis kelamin adalah laki-laki.
Rayden yang mendengar penjelasan dari dokter obgyn itu, sontak bahagia mengetahui calon anaknya adalah laki-laki. Setelah selesai pemeriksaan, Rayden dan Kara menuju ke sebuah restauran untuk makan siang karena bumil cantik itu meminta sapo seafood.
"Mas, tolong banget jangan doktrin si boy kayak kamu ya" pinta Kara usai merek memesan makanan.
"Memang kenapa sayang?" tanya Rayden bingung kenapa istrinya yang biasanya tidak terlalu banyak komentar soal kelakuan ajaibnya sekarang malah protes.
Rayden hanya manyun. "Berarti ceweknya itu tidak bisa menerima si boy apa adanya! Harusnya kalau sudah siap menikah, berarti sudah siap menerima kelakuan ajib nya dong!"
"Ya nggak gitu juga mas. Tidak semua wanita bisa permisif seperti aku ke mas. Mengenalkan semua genre musik ke anak itu bagus tapi mengajari anak kayak mas doyang dom**bret sebelum atau sesudah mandi itu nggak banget!" omel Kara.
"Lho, kirain kamu suka lihat mas goyang seksih begitu?" kerling Rayden.
"Seksih dari Monas! Yang ada bikin ngelus dada tahu!" cebik Kara kesal.
"Mana dadanya yang dielus? Mana yang sakit? Kok dadamu makin lama makin besar dan penuh ya Kara? Kayaknya aku suka kamu hamil soalnya tampak seksih dua gundukanmu itu" cerocos Rayden santai sambil melihat dadanya tanpa peduli mereka ada dimana.
"Astaghfirullah suami meshum ku!" hardik Kara sambil memukul bahu suaminya.
***
__ADS_1
Abe Takahashi yang dikabari oleh Rayden bakalan menjadi opa seorang baby boy merasa bahagia karena akan ada generasi penerus Takahashi.
"Kamu sehat-sehat kan Kara?" tanya Abe saat ketiganya melakukan panggilan video.
"Alhamdulillah sehat Pa, hanya saja aku harus mengurangi garam dan gula karena bisa berpengaruh dengan tensi meskipun biangnya bukan makanan tapi anak papa itu lho" adu Kara ke Abe.
"Apa yang dilakukan oleh anak sintingku?" pendelik Abe ke Rayden.
"Oh come on Papa, aku nggak ngapa-ngapain!" cebik Rayden manyun karena Kara seperti mengadu ke ayahnya.
"Kurangilah melokalmu Ray! Papa tidak habis pikir kenapa kamu demen banget lagu-lagu dangdut begitu. Rasanya mamamu dulu tidak pernah mendengar lagu begitu. Apa ada ngidamnya mama mu yang papa dulu belum sempat keturutan ya?" Abe tampak berpikir apa yang menyebabkan putranya lebay begini.
"Papa kan nggak tahu saja soalnya papa bekerja dan itu kesempatan mama bisa dengerin dangdut di rumah" kekeh Rayden sok tahu.
"Haaaiissshhhh. Pokoknya papa tidak mau kamu membuat menantu dan cucu papa stress gara-gara ulahmu!" tegas Abe.
Rayden hanya bisa manyun dan menyandarkan kepalanya di bahu Kara.
"Bagaimana dengan ingatanmu, sayang?" tanya Abe.
"Pelan-pelan Pa, sudah mulai ingat dimana makam kedua orang tua aku dan kotak deposit box yang ternyata berisi perhiasan milikku berdasarkan info dari bik Ijah" jawab Kara.
"Alhamdulillah. Semoga bisa kembali semuanya ya, Kara."
"Aamiin Pa."
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Sebenernya chapter kemarin nyaris nggak lolos gegara ada babang Rayden seksih tapi Alhamdulillah bisa lolos juga.
In case visual nggak boleh di posting, kemungkinan akan aku taruh di Ig ku @hana_reeves_nt
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️