
Rayden masih mengusap-usap bahu mulus Kara setelah acara Daddy menengok si boy selesai. Nafasnya yang tadinya memburu akhirnya pelan kembali normal. Kara masih memeluk tubuh suaminya dengan posesif.
"Maaf ya mas, tadi telpon pas lagi meeting" bisik Kara.
"Gak masalah! Kan ada yang pengen Daddy" kekeh Rayden sambil mengecup pelipis istrinya.
"Besok weekend kita jalan-jalan yuk mas. Aku pengen lihat hijau-hijau."
Rayden melirik ke Kara. "Kamu lihat dollar juga langsung hijau matanya."
Kara menepuk perut liat Rayden. "Tanaman mas, pohon, hutan atau pegunungan gitu lah! Bukan duit!"
"Owalaahhh. Besok aku belikan tanaman yang banyak" kekeh Rayden.
"Jalan-jalan mas, ngukur jalan, suasananya yang alami gitu" ucap Kara manyun.
"Iya deh. Besok weekend kita ke puncak atau ke Lembang?" tawar Rayden.
"Lembang saja mas. Pengen menghirup udara segar."
Rayden mencium pelipis Kara lagi. "Ada cerita apa hari ini?"
"Mantan telpon aku." Kara menatap Rayden dengan tatapan sebal.
"Ngapain?" tanya Rayden sedikit emosi. Entah kenapa kebayang wajahnya Bondan di Adi, sama-sama orang yang membuatnya kesal.
"Meminta aku membujuk mas supaya mengembalikan kondisi perusahaannya seperti semula."
"Lalu?" Rayden merubah posisinya menjadi tidur miring sembari menyangga kepalanya dengan tangan kirinya dan manik abu-abu itu menatap mata coklat gelap Kara.
"Aku bilang semua itu berpulang dari apa yang dia lakukan sebelumnya. Dia yang dzolim padaku sebelumnya, dia yang menyakiti aku sebelumnya, dia yang membawa vampir itu ke dalam kehidupan kita. Semua berawal dari keegoisan dirinya dan aku, kamu hanyalah korban dari perilaku keduanya." Kara berucap dengan berapi-api.
"Tapi sayang, tanpa kedzoliman dia, kamu tidak akan bercerai darinya, tanpa kelakuan dia, kamu tidak akan bertemu denganku, menikah denganku, memiliki anak denganku. Dibalik semuanya, ada sesuatu yang indah bagi kita berdua, sayang." Rayden menyingkirkan rambut Kara yang menutupi wajah cantiknya.
"Kok kamu tenang-tenang saja mas?" Kara menatap judes ke suaminya.
__ADS_1
"Sayangku, Kara Santanku, Istriku, bumilku, kamu nggak usah kepikiran sampai marah-marah begitu. Aku tahu emosi bumil itu amburadul tidak bisa diprediksi jadi janganlah manyun begitu bikin Daddy gemas tahu nggak?" goda Rayden sambil mendekati bibir peach istrinya.
"Kok aku merasa seperti diajak meshum sama sugar Daddy ya" kekeh Kara ketika bibir suaminya mulai menempel di bibirnya.
"Sugar Daddy yang tampan ini merindukan sugar mommy yang hot untuk kedua kalinya" bisik Rayden parau.
Kara terbahak. "Mana ada sugar mommy, Sayang?"
"Ada! Dan aku baru saja menciptakannya" bisik Rayden sambil Melu*mat bibir Kara. Untuk kedua kalinya, siang ini Sugar Daddy menengok calon baby-nya di sugar mommy.
***
Pagi ini Rayden memimpin rapat yang tertunda kemarin akibat sugar mommy minta dijenguk oleh sugar Daddy.
Meskipun kemarin Rayden sudah mendapatkan mood yang bagus dari sang istri, bukan berarti hari ini dia melepaskan begitu saja oknum yang membuat kerugian di salah satu pabriknya. Bukan hanya kerugian material tetapi juga bonus untuk para pegawai harus ditunda.
Pak Bondan yang lalai akan pekerjaannya, diturunkan jabatannya dan menjadi pengawas biasa sebagai hukuman jabatan. Dia bisa menjadi kepala pabrik jika bisa membuktikan kinerja yang bagus seperti sebelumnya.
Jake sudah memberitahu bahwa pak Bondan memiliki selingkuhan hingga saat lalai itu dia sedang berduaan dengan wanita itu.
"Itu berlaku bagi anda semua! Tidaklah berkah jika anda yang sudah meminta anak gadis dari orangtuanya tapi anda mendzolimi sedemikian rupa. Harap diingat, mungkin istri resmi anda tidak akan pernah mendoakan yang jelek kepada anda, tapi Allah maha tahu! Kalian berdosa besar jika kalian membuat istri Anda menangis!"
Bondan hanya tertunduk dan diam-diam mengakui dirinya menjadi tidak tenang hidupnya hingga membuat kesalahan fatal yang efeknya ke istri dan anak-anaknya yang masih kecil.
"Baik buruknya pasangan anda, haruslah anda terima. Lihat ke diri anda sendiri, apakah sudah sempurna menjadi laki, menjadi imam, menjadi suami? Jangan menyalahkan orang lain sebelum Instrospeksi ke diri anda sendiri!" Rayden menatap ke semua peserta meeting.
Rayden melihat bagaimana papa Abe memilih menduda setelah ditinggal mama Ajeng karena bagi papa Abe, tidak ada yang bisa menggantikan almarhum istrinya. Rayden pun melihat itu di Kara meskipun istrinya mengomel panjang lebar tapi dia tetap menerima kelokalan dirinya.
"Saya harap, anda-anda semua bisa berpikir panjang kalau coba-coba nakal" tutup Rayden.
***
Pagi ini Kara sudah tampak cantik dengan gaun bewarna hijau lumut yang menunjukkan perutnya yang membuncit. Rayden merasa gemas melihat istrinya yang semakin cantik dimatanya. Sesuai janji sugar Daddy, hari Sabtu ini mereka akan jalan-jalan ke Lembang.
"Sayang, bener kita mau lihat hutan, pohon, tapi bajunya juga nggak hijau juga" komentar Rayden.
__ADS_1
"Namanya menjiwai, Daddy" cengir Kara yang entah kenapa senang memanggil Rayden dengan panggilan itu.
"Iiihhh sugar mommy kok makin gemesin" Rayden mencium pipi gembul Kara.
"Udah yuk berangkat." Kara menggandeng tangan suaminya. Hari ini mereka berangkat dengan Range Rover Rayden.
Bik Ijah dan Bu Sumi sudah menyiapkan berbagai camilan yang nantinya bisa dimakan oleh kedua pasutri itu.
Rayden pun menstater mobilnya dan keluar dari rumah mewahnya menuju Lembang.
***
Mobil mewah Rayden sudah sampai di turunan Cibogo yang memang rawan kecelakaan. Pria itu menyetir mobil mewah itu dengan pelan dan santai karena dirinya tidak ingin terjadi apa-apa.
Kara yang tampak bahagia melihat pemandangan terlihat sangat cantik dan wajahnya makin bersinar membuat Rayden bersyukur mendapatkan anugerah istri yang tidak neko-neko bahkan menerima kegesrekan dirinya.
"Love you Daddy" ucap Kara.
"Love you too mommy" jawab Rayden.
Tiba-tiba sebuah bis mini melaju kencang dari arah belakang mobil Rayden dan langsung menabrak bagian belakang mobil mewah itu.
Rayden berusaha menguasai mobilnya yang terkena benturan keras dari belakang dan membanting hingga menabrak ke sebuah rumah penduduk. Kepalanya sempat menatap setir mobil meskipun dirinya memakai seatbelt dan airbag pun terbuka
Di tengah-tengah kesadarannya yang mulai menghilang, Rayden melihat darah mengalir diantar kaki istrinya yang pingsan.
"Tolong...to...long istri...saya... Dia...sedang...hamil" ucap Rayden pelan kepada orang-orang yang mulai berdatangan. Tak lama semuanya gelap.
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️