
Dua bulan sudah Kara menikmati usahanya membuka butik yang dekat dengan kantor Rayden hingga setiap makan siang selalu dilakukan bersama karena hanya membutuhkan waktu sepuluh menit perjalanan.
Kini Kara dibantu oleh dua orang pegawainya, Nana dan Yulia, yang merupakan lulusan tata busana jadi Kara bisa berdiskusi tentang fashion. Kemarin mantan boss Kara, Sophia mampir ke butiknya dan mereka banyak bercerita. Sophia kini dibantu oleh dua asisten baru namun Kara tetap asisten favoritnya.
Pagi ini seperti biasa Rayden mengantarkan Kara menuju butiknya sebelum ke kantornya. Kara mencium tangan Rayden yang dibalas pria itu dengan cium semua wajah istrinya dan terakhir adalah bibirnya.
"Nanti siang mas jemput" ucap Rayden.
"Iya mas" jawab Kara sebelum turun.
"Love you Santanku" kekeh Rayden.
"Love you too Mas Ray" senyum Kara.
Rayden menunggu sampai Kara masuk ke dalam butik yang sudah ada Yulia dan Nana. Entah kenapa dia merasa Kara semakin gemuk. Apa dia hamil? Waktu dulu hamil boy kan pinggangnya melebar dan tambah chubby. Nanti siang aku ajak ke dokter saja.
Kalau Kara beneran hamil berarti anak Made in Salatiga dong! Rayden cengar cengir sendiri di dalam mobil. Wah, tokcer dong si ndul. Setahun puasa langsung bekerja dengan baik dan benar.
Rayden memarkirkan mobilnya di parkiran khusus miliknya dan dia turun dengan hati gembira. Berharap bahwa Kara Santannya beneran hamil jadi mereka bisa move on dari kehilangan Boy tanpa harus melupakan si sulung.
"Boss?" sapa Jake yang bergidik melihat Bossnya senyam-senyum sendiri seperti orang gila. "Waras?"
Rayden langsung menghentikan langkahnya sampai-sampai Jake hampir menabrak punggung lebar Bossnya.
"Apa Jake?" suara dingin Rayden terdengar seperti hembusan angin musim dingin kutub Utara di telinga dan tengkuk Jake.
"Anu...boss...?" Jake hanya bisa nyengir.
"Waras? Aku waras Jake! Sudah, jangan ganggu orang lagi HEPI!" tegas Rayden yang langsung masuk ke lift khusus CEO.
Beneran deh, si boss kesambit!
***
Jam setengah dua belas siang, Rayden sudah berada di butik milik Kara membuat wanita itu bingung kenapa suaminya datang lebih cepat dari biasanya.
"Mas sudah lapar?" tanya Kara seraya mengambil tas selempang favoritnya.
"Belum tapi mas sudah janji sama seseorang" jawab Rayden penuh rahasia.
"Sebentar" Kara menghampiri dua karyawannya yang sedang membalas pembeli via online. "Nana, Yulia, saya makan siang dulu ya."
"Iya Bu, silahkan" ucap keduanya.
"Ayo mas" ajak Kara yang disambut dengan rangkulan di bahu istrinya.
"Iiihhh pak Rayden benar-benar ya cinta mati dan bucin sama Bu Kara" komentar Yulia.
"Pria macam pak Rayden itu susah nyarinya. Satu banding sejuta pria" kekeh Nana.
"Semoga kita dapat jodoh yang seperti pak Rayden, yang sayang dan bucin sama istrinya" gumam Yulia.
"Aamiin."
__ADS_1
***
"Lho kok kita ke rumah sakit mas?" tanya Kara yang bingung katanya mau makan siang tapi malah mampir ke rumah sakit.
"Iya mas sudah janjian sama seseorang disini. Ayo turun" ajak Rayden.
Keduanya pun turun dan Rayden pun menggandeng tangan Kara seperti tidak mau ditinggalkan. Rayden bertanya kepada resepsionis dan memberitahukan lokasi yang ditanyakan.
Keduanya pun berjalan menuju ruang praktek yang tertulis 'dr. Rasyad Haryanto SpOG'. Kara mengernyitkan alisnya. Dokter Kandungan?
"Masuk!" suara maskulin itu terdengar usai Rayden mengetuk pintu. Keduanya pun masuk dan Kara melihat seorang dokter tampan
"Hei Ray! Apa kabar?" sapa dokter tampan itu.
"Hai Syad. Perkenalkan ini istriku, Kara Takahashi" Rayden menghela Kara untuk maju ke hadapannya.
"Kara" sapa wanita itu menyambut uluran tangan dokter Rasyad.
"Wah Ray, bini cantik gini lu umpetin. Kampret lu!" kekeh Rasyad sembari memamerkan deretan giginya yang putih tertata rapi.
"Biar lu kagak naksir. Hati-hati Kara, dia buaya" goda Rayden.
"Kalau dia buaya, kenapa mas ajak aku kesini?" kerling Kara.
"Cari yang gretongan lah!" gelak Rayden tanpa dosa.
"Ingin tahu apa Karaku hamil atau nggak" jawab Rayden santai tapi sukses membuat Kara melongo.
"How do you know?" tanya Rasyad.
"Mengingat pengalaman anak kami yang pertama, Kara tanda-tandanya hamil seperti ini menjadi lebih gemuk dari biasanya" jawab Rayden.
"Bisa saja karena aku makan banyak mas" protes Kara.
"Gadha salahnya kita periksa" Rasyad pun berdiri dan mengajak Kara tiduran di tempat periksa pasien.
"Kok kamu bisa sih nikah sama bule melokal ini?" kekeh Rasyad sembari mengoleskan gel di perut Kara yang agak membuncit.
"Udah takdir" cengir Kara.
"Heeeeiiii! Kamu itu jodohku Kara Santanku!" protes Rayden.
"Oh Astagaaaaa! Bahkan kamu dipanggil santan? Benar-benar ga punya akhlak lu Ray!" ujar Rasyad.
"Kamu pernah Caesar ya? Anak pertama?" tanya Rasyad ketika melihat bekas sayatan di perut Kara.
"Iya tapi sudah di surga sama omanya" bisik Kara sendu.
"Oh I'm sorry. Yang elu kecelakaan itu ya Ray?" tanya Rasyad ke Rayden yang dijawab anggukan oleh pria bule itu. "Semoga adiknya mulai tumbuh disini ya."
"Aamiin." ucap Rayden dan Kara bersamaan.
__ADS_1
Rasyad mulai menggerakkan transducer di perut Kara dan wajahnya tersenyum.
"Ray, lihat ini" panggil Rasyad.
"Apaan tuh Syad?" tanya Rayden bingung.
"Anak-anakmu, Ray. Selamat kalian mendapatkan anak kembar" senyum Rasyad.
Rayden dan Kara melongo. "Bini gue hamil, Syad?" bisik Rayden tidak percaya.
"Iyaaa, sudah jalan delapan Minggu."
"Bayiku sehat kan dok?" tanya Kara yang tanpa sadar menitikkan air mata.
"Sehat banget malahan. Dijaga ya Kara. Kalau diajak joget dangdut sama Ray, jangan mau. Kasihan si kembar nanti ketularan melokalnya. Cukup Rayden saja, anak-anaknya jangan!" gelak Rasyad Durjana.
"Kupret lu!" omel Rayden yang tanpa sadar menggenggam tangan Kara yang masih takjub melihat kedua janin yang ada dalam kandungannya.
"Adiknya Boy kembar mas. Alhamdulillah" bisik Kara. bahagia.
"Ya Allah maturnuwun" bisik Rayden.
"Dijaga ya Kara, Rayden. Jangan sering-sering ditengok tri semester pertama, mabok tar anakmu" kekeh Rasyad. "Selamat ya bro. Doamu dikabulkan mendapatkan gantinya yang langsung dobel."
Rasyad membersihkan sisa gel di perut Kara sedangkan Rayden masih menatap foto hasil USG dengan tatapan bahagia bercampur terharu.
"Alhamdulillah" bisik Rayden berulang kali.
"Aku kasih vitamin dan penguat rahim ya. Ohya Ray, karena Kara hamil kembar, dia akan mudah lelah. Banyakin perhatian ya. Ingat pesanku. Jangan diajak dangdutan!" kerling Rasyad ke Rayden yang manyun.
"Terimakasih dok Rasyad" senyum Kara manis.
"Dijaga ya Kara, nanti aku yang akan menjadi dokter mu sampai saat melahirkan. Aku yang akan mengatur pola diet supaya kamu nggak kegemukan yang bisa berpengaruh dengan tekanan darahmu."
Kara mengangguk.
"Syad, jenis kelaminnya belum kelihatan ya?" tanya Rayden sambil membolak-balik foto USG.
Rasyad hanya menepuk jidatnya. "Tolonglah hambamu ini Ya Allah, punya teman kok oon begini ya? Ya belum atuh Ray, tunggu Minggu ke dua puluh. Sabar bro!"
Kara hanya bisa mengelus dada. Ya ampun nak, kok bisa sih punya Daddy koplak begini ya.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
lanjut besok Yeeee. Udah 4 chapter ini.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1