
Pagi-pagi Rayden sudah menelpon Rasyad yang terdengar masih tidur. Suara serak sahabatnya terdengar sambil mengumpat semua binatang yang diingatnya.
"Ini baru jam setengah enam, kampret! Aku baru selesai ops jam tiga subuh tadi!" omel Rasyad.
"Bodo! Syad, lu ngapain kirim gaya berenang ke bini gue!"
Tidak ada jawaban dari Rasyad. "Berenang? Oooohhh berenang di kasur" gelaknya tanpa beban. "Kan gue tahu elu kagak bisa kagak nengok bini lu makanya gue bilang ke Kara supaya cari gaya aman buat dia. Kenapa? Kurang enak?"
"Kampret! Elu bikin Kara jadi tahu semua gaya kama sutra! Gue ajah kagak mikir mpe kesono!" omel Rayden.
"Tapi lu suka kagak? Sekali-kali bini lebih paham semua gaya jadi bisa ngimbangi tingkat kemeshuman Rayden Takahashi yang haqiqi!" gelak Rasyad.
"Brengseeeekkkk lu!" Rayden mematikan ponselnya dan melihat Kara masih terlelap setelah semalam mencoba gaya yang menurut Rasyad aman.
Sebenarnya gaya misionaris kan juga aman sih tapi gara-gara dokter obgyn meshum itu Karaku jadi terkontaminasi! Eh, bener juga kata Rasyad, kalau istri lebih tahu berbagai macam gaya, lebih asyik kan kelangsungan kehidupan di ranjang dan si ndul. Rayden menyeringai licik. Tidak terlalu buruk ide si dokter meshum itu!
Kara membuka matanya melihat Rayden senyum-senyum sambil membuka iPad yang menunjukkan berbagai pose yang aman untuk ibu hamil.
"Mas ngapain?" tanya Kara dengan suara khas bangun tidur.
"Lagi berpikir, gimana kalau kita coba gaya ini nanti setelah kandungan kamu membesar. Kan pas tuh!" Rayden menunjukkan gambar di iPad yang membuat Kara memerah.
"Langsung tanggap deh kalau soal beginian" gumam Kara sambil menaikkan selimutnya menutupi tubuhnya yang polos.
"Salahnya kamu memberikan trigger ke suami meshum mu" kekeh Rayden.
***
Kara dan Rayden menikmati jalan-jalan di kota Solo dan memutuskan kembali ke Jakarta keesokan harinya dari Solo setelah semalam menginap di kota batik itu. Sopir pabrik yang setia mengantarkan boss dan istrinya itu pun seperti mendapatkan durian runtuh karena mendapatkan bonus besar lima kali gajinya.
Jake yang menjemput kedua pasutri itu tersenyum melihat Kara tampak semakin semangat dan sumringah setelah acara jalan-jalan sambil wisata kuliner di Semarang, Salatiga dan Solo.
"Senang nona Kara?" tanya Jake sambil membawakan duffle bag Balenciaga hitam milik Rayden.
"Alhamdulillah senang, si kembar pun senang." Kara tersenyum manis sambil merangkul lengan suaminya.
__ADS_1
"Sehat-sehat terus ya nona Kara" pinta Jake tulus.
"Aamiin."
***
Waktu berlalu dan Rayden semakin tidak bisa melakukan ritual melokalnya karena Kara pasti akan muntah-muntah jika melihat suaminya goyang dangdut. Akhirnya pria itu pun mengalah demi keamanan dan kenyamanan bersama.
"Sayang, kenapa si kembar julid sih sama Daddy-nya padahal Daddy ini Sugar Daddy lho" keluh Rayden dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk kontrol rutin Kara.
"Udah deh mas. Nggak boleh ngatain anak sendiri!" omel Kara yang sekarang memasuki usia kehamilan bulan kelima.
Berkat pola makan yang diatur oleh Rasyad, Kara tidak mengalami overweight dan masih wajar untuk ukuran wanita yang hamil kembar. Memang membesar namun tidak sampai yang gemuk sekali.
Kara pun rutin melakukan yoga dan meditasi atas anjuran Rasyad mengingat dia pernah mengalami baby blues dan Postpartum depression setelah kehilangan Boy.
Kali ini Kara benar-benar tidak mau sampai dia kecolongan dan mempersiapkan diri fisik dan mental. Rayden sendiri tidak mempermasalahkan semua kegiatan yang dilakukan Kara bersama Rasyad karena tahu itu berpengaruh positif pada istrinya yang semakin kuat setiap harinya.
"Kira-kira anak kita cowok-cowok, cewek-cewek atau cowok-cewek?" gumam Rayden
Rayden memincingkan matanya. "Kamu mengajari Julid ke si kembar!" tuduh pria tampan itu yang membuat Kara terbahak.
"Itulah kenapa surga di bawah kaki ibu, bukan kaki bapak. Karena ibu yang punya hak prerogatif atas anak meskipun bibitnya dari ayah tapi kita yang membawa mereka sembilan bulan dan bertaruh nyawa untuk mengeluarkannya" senyum Kara.
"Tapi Yaaa jangan julid soal kelokalan aku dong Kara Santanku" bibir Rayden semakin maju.
Kara mengecup bibir suaminya yang sedang menyetir. "Nanti coba gaya yang mas minta di Salatiga. Gimana?"
Wajah Rayden langsung sumringah. "Benar Yaaa!"
Kara mengangguk.
***
Hari Sabtu ini tidak terlalu banyak pasien di ruang praktek Rasyad dan ketika keduanya sampai, mereka hanya menunggu satu orang pasien saja.
__ADS_1
Keduanya pun masuk setelah mendapatkan giliran dan Rasyad tersenyum melihat sahabat dan istrinya.
"Gimana keadaan mu hari ini Kara?" tanya Rasyad sambil mempersilahkan wanita itu duduk.
"Alhamdulillah baik dan si kembar juga awet Julid sama Daddy nya" kekeh Kara yang membuat Rayden melengos.
"No Dangdut dong" cengir Rasyad.
"Gadha sama sekali karena Kara pasti muntah-muntah" cebik Rayden kesal.
"Baguslah!" Rasyad tersenyum lebar ke Rayden yang menatapnya tajam. "So mau lihat si kembar yang kompak dengan mommy dan Oom nya yang ganteng ini buat Julid ke Daddy?"
Rayden pun manyun mendengar kata-kata Rasyad yang entah kenapa tampak sangat super menyebalkan.
Kara tiduran di tempat tidur pasien dan Rasyad mengoleskan gel di perut buncitnya. Dokter tampan itu mulai menggerakkan transducer diatas perut Kara.
"Ray, mau lihat jenis kelamin anak-anakmu?"
Rayden mendekati layar monitor.
"Congratulations. Boy and girl."
Rayden dan Kara melihat si kembar dalam empat dimensi. "Lihat, ini si boy dan ini si princess." Rasyad menunjukkan jenis kelamin si kembar.
Kedua calon mom dan dad itu saling menguatkan dengan menggenggam tangan masing-masing.
"Alhamdulillah sepasang."
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️