
Kenapa Ren aku percepat lima tahun, karena aku nggak mau kejebak cerita nggak jelas bertele-tele drama yang panjang jadi sudah diperjelas sebelumnya kalau Ren menolak Hyung-woon, Jake dan Hidetoshi karena dia lebih memilih kariernya.
Washington DC, Amerika Serikat...
Ren ditugaskan di kedutaan besar Republik Indonesia sejak enam bulan lalu. Setekah dia memutuskan untuk serius di pendidikan dan pekerjaannya, Ren mulai sering dikirim ke luar negeri.
Kemampuannya berbahasa asing selain Inggris, menbuat dia semakin pesat kariernya. Ren fasih berbahasa Jepang, Korea, Jerman dan Perancis karena dia memang sudah mempersiapkan sejak kecil ingin keliling dunia membawa nama negara meskipun Daddy-nya warga negara Jepang, tapi Ren mengambil warga negara sang mommy, sedangkan Riku memilih warga negara Jepang.
Selama dia memilih sekolah, Ren mendapatkan kabar bahwa Oom Jake akhirnya mendapatkan tambatan hati seorang guru SMA yang berbeda usianya sepuluh tahun lebih muda dan Ren bersyukur akan hal itu. Hyung-woon memilih kembali ke Seoul menggantikan sang papa disana sedangkan perusahaan di Jakarta, dipegang oleh sepupunya. Hidetoshi akhirnya menikah dengan seorang gadis Jepang yang sedang berlibur di Jakarta.
Ren sendiri tidak menyesal memilih menjadi wanita karier daripada menikah. Ada kalanya kita harus memilih, tidak bisa mengambil dua-duanya.
"Bisakah kamu menunggu sebentar? Aku ingin mengajak kamu minum teh" senyum Marcelo membuyarkan lamunan Ren.
"Bukannya kamu orang Italia?" Ren memincingkan matanya.
"Half Italian Half British. Jangan ditanya soal sepakbola, karena aku tidak bisa memilih antara timnas Italia atau Inggris" cengir Marcelo. "Aspetta un attimo. Tunggu sebentar." Pria itu langsung masuk ke dalam gedung KBRI
Ren hanya menggelengkan kepalanya lalu menunggu di depan mobilnya. Pria Italia itu selalu tebar pesona.
Sepuluh menit kemudian Marcelo keluar dan tersenyum kepada Ren.
"Maaf menunggu. Kita ke kafe Leopold saja yuk" ajak Marcelo.
"Eh tapi mobilku?" Ren melirik mini Cooper nya.
"Sini aku yang nyetir." Marcelo menengadahkan tangannya meminta kunci mobil Ren dan gadis itu pun memberikan. Entah kenapa dirinya santai saja pergi berdua dengan pria yang baru dikenalnya ini.
Marcelo pun membukakan pintu penumpang untuk Ren dan dia berjalan menuju kursi pengemudi. Pria itu lalu menstater dan membawa mobil Ren menuju kafe Leopold.
Keduanya sampai di kafe yang cukup ramai dengan banyak pengunjung dan Marcelo mengajak Ren duduk di sudut.
Ren mengambil ponselnya yang berbunyi dan membuat Marcelo mengerenyitkan dahinya. Riku?
"Assalamualaikum" sapa Ren.
"Wa'alaikum salam. Kamu dimana?" tanya Riku
"Kafe Leopold."
"Oke. Meluncur."
__ADS_1
"Siapa?" tanya Marcelo sesudah Ren memasukkan ponselnya.
"Saudara kembarku" senyum Ren. Keduanya lalu memesan makanan dan setengah jam kemudian seorang pria tampan dengan manik abu-abu datang menghampiri Ren.
"Halo sis" sapanya sambil mencium pipi Ren.
"Hai. Perkenalkan ini Marcelo Romano, dari kedutaan Italia. Tadi bertemu di KBRI." Ren memperkenalkan Riku kepada Marcelo.
"Riku Takahashi."
"Marcelo Romano."
"Sudah selesai kuliahnya?" tanya Ren sambil memeluk lengan Riku yang duduk di sebelahnya.
"Sudah. Sore ini aku bisa istirahat setelah hampir seminggu dihajar di rumah sakit" cengirnya. "Akhirnya bisa dengerin Didi Kempot lagi."
Ren memutar matanya malas. Benar-benar anak Daddy!
"Riku juga bekerja di KBRI?" tanya Marcelo.
"Oh nggak, aku ambil spesialis disini, di George Washington University School of Medicine. Aku sih sudah duluan disini sekitar setahun, eh Ren dipindah kesini. Jadi kita kumpul lagi lah" ucap Riku.
Marcelo mengangguk lalu pesanan mereka pun datang.
***
"Kamu berapa lama dinas di Washington?" tanya Riku.
"Belum tahu" jawab Ren sambil memeluk lengan Riku. Washington di musim gugur memang lebih dingin dari biasanya.
"Masih belum mau menikah kamu?" tanya Riku.
"Aku sendiri tidak tahu apa yang aku inginkan, Rik. Aku bersyukur Oom Jake mendapatkan jodohnya jadi aku tidak guilty feeling menolak dirinya."
"Oom Jake itu sebenarnya masih mengharapkan dirimu, Ren. Dia benar-benar jatuh cinta padamu tapi dia cukup paham kalau situasinya memang tidak memungkinkan." Riku mencium pelipis adiknya.
"Semoga dia benar-benar mencintai istrinya" senyum Ren.
"Ketika dia menikah, kamu sedang dinas ke Perancis jadi tidak bisa datang dan kamu tahu, wajahnya mirip kamu." Ren terkejut mendengarnya. "Nggak mirip banget tapi ada sesuatu yang mirip."
__ADS_1
"Setidaknya aku sudah lega kalau Oom Jake dapat jodohnya." Ren mengajak Riku duduk di sebuah kursi taman.
"Minggu kemarin Daddy bertemu dengan Hyung-woon. Dan kamu tahu, dia belum menikah sampai sekarang." Riku menoleh ke Ren. "Ketika Daddy tanya kenapa belum menikah padahal sudah 29 tahun sekarang dia, jawabannya menunggu kamu."
Ren menatap Riku dengan tatapan tidak percaya.
"Dia masih menunggu mu Ren. Jadi, jangan terlalu kaku dengan keinginanmu berkarier. Kita boleh berencana, kita boleh membuat bucket list tapi kita tidak bisa mengelak dari takdir." Riku memeluk tubuh Ren.
"Aku selesai tahun depan dan sudah mendapatkan tawaran bekerja di Jakarta karena aku tidak mau jauh dari Opa, Daddy dan Mommy. Apalagi Opa sudah 75 tahun, meskipun masih sehat dan receh tapi kita kan harus tetap mengawasi orang tua kita."
Ren masih terdiam.
"Kalau memang jodohmu datang secepatnya entah Hyung-woon atau pun pria tadi, aku harap kamu jangan egois Ren. Mommy dan Daddy sebenarnya antara bangga dan sedih. Bangga kamu punya karir bagus, sedih karena kamu lebih memilih karir dibandingkan dengan kodratmu yang seorang perempuan."
Ren menatap Riku. "Kok mommy dan Daddy tidak bilang kalau mereka keberatan dengan keputusan ku berkarir?"
"Dan membuatmu kabur? Oh tidak Ren, mereka menyayangi kamu, mencintai kamu dan bangga padamu. Tapi diam-diam mereka ingin melihat kamu menikah dengan pria yang mencintai kamu dan kamu cintai."
Ren teringat ketika dia menemani kedua orangtuanya ke kondangan rekan bisnisnya, Rayden sempat menyeletuk "Kapan ya memegang tangan calon suaminya Ren."
Riku mengusap bahu adiknya. "Itu doa mommy dan Daddy lho Ren. Dan jika saat itu tiba, jangan kamu menolak."
Ren mengangguk.
***
Sebuah pesawat pribadi dari Seoul tiba di bandara Dulles Washington DC. Seorang pria berambut silver dan berwajah dingin turun dari pesawat itu. Semenjak lima tahun lalu, pria itu menjadi pria dingin dan dia hanya hangat dengan orang-orang tertentu.
"Mr Jeong, nona Ren ada disini" bisik asistennya..
"Dimana dia sekarang?" tanya Hyung-woon dingin.
"Di taman bersama dengan Mr Takahashi Junior."
Hyung-woon tersenyum smirk. Akhirnya bertemu lagi Ren dan kali ini tidak akan kulepaskan.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️