
Rayden sampai di bandara Ahmad Yani Semarang dan langsung menuju mobil Innova hitam permintaannya. Pria tampan itu bersama Rafli dan Jake bergegas menuju kota Salatiga. Hatinya tak sabar menemui Karanya.
Satu jam kemudian mobil hitam itu sampai di kota Salatiga dan memasuki sebuah jalan yang disekitarnya terdapat banyak orang berjualan makanan singkong. Sepuluh menit kemudian sampailah mereka di sebuah rumah bercat broken white dan terdapat spanduk 'Butik Gantari'.
Rayden pun turun lalu masuk ke dalam rumah yang memang terbuka pintu pagarnya. Wajahnya mulai mencari-cari keberadaan istrinya karena butik milik Kara sedang ramai didatangi pengunjung dilihat dari rapinya motor yang berjejer terparkir.
"Saya coba cek di dalam ya mbak, siapa tahu masih ada stok" sebuah suara yang dirindukan Rayden terdengar di telinganya. Tak lama sosok pemilik suara itu pun keluar dari pintu samping dan bertemu dengan Rayden.
Netra coklat dan abu-abu keduanya saling bertemu.
"Mas...Ray" bisik Kara.
"Kara..." Rayden tidak peduli dilihat banyak orang, dirinya langsung merengkuh tubuh langsing itu dengan erat. Hatinya berbunga ketika dua tangan langsing itu membalas pelukannya.
"Aku kangen sekali padamu..." bisik Rayden.
"Maafkan aku..." bisik Kara.
"Mbak Kara, apa bajunya... Eh maaf ya mas" suara pelanggan Kara terdengar di telinga keduanya.
Kara melepaskan pelukannya dan mengelus wajah Rayden. "Masuklah dulu, ajak duo asistenmu duduk di dalam. Aku akan melayani pembeli dulu" ucap Kara lembut. "Tenang, aku tidak akan kemana-mana lagi."
Kara pun masuk ke dalam mencari baju yang dimaksud disusul oleh Rayden, Rafli dan Jake yang bersyukur nonanya sehat-sehat.
Bik Ijah yang melihat Rayden langsung menghambur memeluk majikannya. "Maafin bibik, tuan. Bibik hanya ingin nona Kara tidak seperti kemarin."
Rayden membalas pelukan wanita paruh baya itu. "Terimakasih bik Ijah sudah menemani Kara selama ini."
Kara keluar rumah sambil membawa sebuah plastik berisikan pakaian yang dimaksud pembelinya.
"Kara gimana bik?" tanya Rayden setelah istrinya ke toko sebelah rumahnya.
"Alhamdulillah tuan. Sudah sangat-sangat membaik. Sudah tidak histeris seperti dulu, sudah bisa menerima perginya tuan Boy" ucap bik Ijah.
"Baby blues dan blocking akibat depresi benar-benar dashyat efeknya di Kara" bisik Rayden.
"Non Kara kan sangat senang hamil tuan lalu tiba-tiba tuan Boy tidak ada, jadi shock" gumam bik Ijah. "Oh bibik buatkan es beras kencur ya. Enak lho, buatan sendiri."
Bik Ijah pun masuk ke dalam dapur sedangkan Rayden memindai rumah istrinya. Seperti biasa tampak begitu artistik meskipun rumah kontrakan. Hanya ada satu foto disana, saat dirinya menikah dengan Rayden yang membuat hati pria itu menghangat.
Setidaknya Kara tidak melupakan aku.
__ADS_1
"Dari Jakarta mas?" tanya Kara membuyarkan lamunannya.
"Nggak, dari India" jawab Rayden. "Langsung kesini."
"Jake? Rafli? Apa kabar?" sapa Kara ramah sambil mengulurkan tangannya.
"Alhamdulillah baik nona. Nona Kara sehat kan?" balas Jake dan Rafli.
"Alhamdulillah, begini deh" tawa Kara yang sudah lama Rayden tidak melihatnya. "Mas kok tahu aku disini?"
"Panjang ceritanya. Ngomong-ngomong, aku lapar. Kamu ada makanan apa?" tanya Rayden.
"Aku pesankan saja ya mas. Soalnya di meja makan tinggal dua potong ikan kembung goreng, sayur kangkung sama tahu goreng."
"Aku mau itu! Kalian berdua, cari makan sendiri!" titah Rayden yang membuat kedua asistennya hanya bisa melengos. "Ada sambalnya kan?" tanya Rayden ke Kara lagi.
"Adalah mas" senyum Kara.
"Boss, kita cari makan dulu ya" pamit Rafli.
"Raf, aku titip belikan ayam goreng enam, satu usus goreng dan rempelo ati di warung ayam goreng jalan ABC ya setelah kalian makan" Kara hendak mengambil dompetnya namun dilarang Rayden.
"Siap boss!" Kedua asistennya pun keluar rumah menuju mobil hitam itu.
"Ayo, kamu temani aku makan!" Rayden menggandeng tangan Kara menuju meja makan.
***
"Mas apa kabar?" tanya Kara yang melihat wajah kurus Rayden.
"Kehilanganmu" jawab Rayden pelan namun menusuk hati Kara.
"Maafkan aku mas. Aku yang salah mem-blocking pikiran ku dan membiarkan depresi menguasai diriku" ucap Kara sambil menunduk.
Rayden menggenggam tangan Kara. "Mas yang salah. Mas tidak peka bahwa kamu mengalami baby blues syndrome meskipun kedua psikolog dan psikiater itu sudah mengatakan pada mas tapi mas rasa kamu bisa mengatasinya namun ternyata tidak. Kamu jauh lebih terasa kehilangan anak dibandingkan mas."
Kara menatap Rayden. "Aku memang mengalami itu dan berefek menjadi postpartum depression atau depresi pasca melahirkan tapi kondisiku adalah karena bayiku harus dikeluarkan paksa demi keselamatan aku dan Boy. Itu yang membuat aku tidak siap mental mas ditambah rasa bersalah ku yang mengotot minta jalan-jalan ke Lembang..." Air mata Kara mengalir.
"Sudah, Boy sudah bahagia dengan omanya disana. Sekarang kamu sudah bisa menerima kan kenyataannya?" Rayden menatap intens ke Kara.
"Alhamdulillah sudah mas. Memang butuh proses dan aku beruntung bertemu dengan seorang psikolog disini yang membantu proses penyembuhan depresiku" senyum Kara.
__ADS_1
"Ohya? Namanya siapa?"
"Tata."
"Laki atau perempuan?" tanya Rayden.
"Perempuan mas" gelak Kara ketika melihat wajah judes suaminya. "Mbak Tata juga mengalami hal mirip denganku jadi dia bisa menkonseling aku mas."
Rayden tersenyum mendengar psikolog yang membantu istrinya perempuan.
"I miss you baby" bisik Rayden dengan nada sensual disana.
"Kok bisa tahu aku disini?" tanya Kara mengacuhkan ucapan Rayden yang membuat jantungnya berdegup kencang. Tidak dipungkiri, dirinya masih amat sangat mencintai suaminya tetapi dia juga ingin sembuh agar tidak membuat suaminya sedih.
"Jake dan Rafli payah sayang lagipula setelah kamu pergi, aku juga pergi. Aku pindah ke New Delhi mengambil alih pabrik disana." Rayden memakan makanan yang disediakan Kara.
"Wah mas jadi anggota Bollywood. Senang dong mas, mendengarkan lagu India setiap hari?" kekeh Kara.
"Aku sudah tidak bisa mendengarkan lagu dangdut lagi sayang" ucap Rayden pelan.
"Kenapa?"
"Karena tidak ada kamu yang melihat aku bergoyang dom**Bret. Jadinya aku tahan saja keinginanku seperti itu" cengir Rayden. Hatinya sangat bahagia bersama istrinya kembali.
"Mas? Apakah kita sudah berpisah?" tanya Kara pelan-pelan mengingat dia ikhlas ditalak.
"Aku tidak akan pernah menalakmu, Kara Gantari. Memang ketika kamu pergi, nyawaku seperti hilang separuh tapi aku pun juga butuh sendiri jadi kita berdua seperti sama-sama harus saling mengobati diri kita sendiri. Sekarang aku sudah menemukanmu, bahagia melihatmu seperti sediakala dan tentu saja akan membawamu pulang."
Wajah Kara tampak pucat ketika mendengar kata 'pulang'. Meskipun dia sudah berusaha menekan traumanya tapi tetap saja masih lolos.
"Tenang sayang, kita tidak akan pulang ke rumah lama karena aku tahu kamu punya pengalaman tidak enak disana." Wajah Kara tampak lega. "Aku sudah membeli sebuah rumah baru dan aku berharap kita berdua memulainya kembali disana."
***
Yuhuuu Up Sore Yaaakkk
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1