
Kara membuka matanya setelah mendengarkan lagu river flows in you dari Yiruma. Tumben ada lagu yang Radha benar.
Wajah Rayden tampak damai tertidur di sebelahnya dan semakin hari menurut Kara semakin tampan asaaalll tidak ada dangdut. Kara melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tiga subuh. Perlahan bumil itu pun turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Rayden yang merasa gerakan tubuh istrinya meninggalkan tempat tidur, membuka matanya. Tak lama suara pintu kamar mandi pun terbuka, tampak Kara dengan perut membuncit berjalan mematikan bluetooth speaker itu dan mulai mengambil rukuh dan sajadah.
Rayden pun menikmati pemandangan istrinya menjalankan sholat malamnya. Setelah Kara selesai, Rayden pun bangun lalu menuju ke kamar mandi.
"Mas mau tahajud?" tanya Kara sambil menyiapkan sajadah.
"Iya sayang." Rayden pun bersiap-siap melaksanakan sholat tahajud.
Kara yang duduk di belakang Rayden menunggu sembari mengaji untuk kesehatan dirinya dan putra yang dikandungnya.
Rayden menyelesaikan sholatnya dan mendengarkan istrinya mengaji yang entah kenapa membuatnya tenang. Pria itu lalu meletakkan kepalanya di paha Kara dengan posisi wajah menghadap ke perut buncit istrinya.
"Kamu kenapa mas?" tanya Kara mengehentikan ngajinya.
"Dengerin kamu ngaji barengan sama si boy. Lanjut, sayang" ucap Rayden sambil terlelap.
Kara melanjutkan mengajinya sampai saatnya waktu sholat subuh dan wanita itu membangunkan suaminya lalu mereka melakukan sholat berjamaah.
***
"Kamu di rumah saja kan Kara? Nggak usah kemanapun kalau nggak penting" ucap Rayden ketika keduanya sarapan di meja makan.
"Aku mau tiduran kok mas. Entah kenapa hari ini kok terasa lelah sangat."
Rayden tahu hormon wanita hamil dan fisik pun berubah. Kara mungkin sebelumnya kuat tapi kehamilan si baby boy itu membuat sedikit berubah apalagi dia hamil ketika kondisi hampir meninggal.
"Kamu tidur, istirahat di rumah. Nikmatilah hari, jangan terlalu banyak beban pikiran."
"Kadang aku rindu bekerja dengan Bu Sophia lho mas. Bagaimana pun, dia yang membantu aku disaat aku baru saja berpisah."
Rayden menatap lembut ke Kara. "Aku tidak melarang kamu bekerja lagi, asal kondisi fisikmu bagus tapi ini kan tidak. Udah nanti saja kalau boy sudah besar, kamu pengen kerja, mas nggak papa." Rayden tahu istrinya bukan tipe suka diam di rumah.
Kara tersenyum menatap suaminya dan memberikan kecupan di pipi Rayden.
"Terimakasih Mas."
***
__ADS_1
Kara benar-benar terdampar di tempat tidur. Setelah sarapan tadi dan mengantarkan Rayden berangkat ke perusahaan, Kara langsung menuju kamar tidur dan membaringkan tubuhnya.
Entah berapa lama dia tertidur tapi telinganya berisik mendengar suara ponselnya yang berbunyi tanpa henti. Kara meraba-raba nakas sebelahnya tempat dimana ponselnya berada dan langsung menggeser tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum" sapa Kara dengan suara serak.
"Kara..." suara itu membuat mata Kara terbuka sempurna. Wajahnya pun memucat.
"Mas...Adi?" ucapnya.
"Apa kabar mantan istriku" sapa Adi.
"Alhamdulillah baik. Ada apa kamu telpon?"
"Aku sekarang sedang berjuang mengembalikan nama baik perusahaan yang susah payah dibangun oleh orang tuaku dulu."
"Memang kenapa perusahaan kamu?" Kara sebenernya tahu tapi dia belagak polos.
"Tanyakan pada suami dan mertuamu!" cebik Adi. "Gara-gara Vampir itu, kena ke aku juga!"
"Bukannya kamu sendiri yang memilih si vampir itu dan membawanya ke acara suamiku? Jangan salahkan orang lain! Tanyakan pada dirimu sendiri kenapa bisa terjadi!" hardik Kara sebal.
"Akan berbeda jika kamu datang tidak bersama vampir! Paham kamu? Kamu yang bawa vampir ke sana, kamu yang membiarkan vampir itu berulah. Bilang padaku kalau secara logika kamu tidak ada kaitannya!" bentak Kara.
"Aku tidak peduli! Yang aku minta sekarang, kamu bilang sama suamimu yang sombong itu, kembalikan nama baik dan sahamku seperti sediakala!"
"Bilang sendiri sama mas Rayden! Aku tidak mau ikut campur soal perusahaan mu atau pun keadaanmu! Karena itu semua bermula dari dirimu, Adi Saputro! Boleh dibilang itu adalah hasil dari apa yang kamu tuai karena pada saat kamu menikah denganku, kamu berbuat dzolim padaku padahal aku tidak pernah mendoakan yang jelek tentangmu! Hanya kamunya saja yang bebal! Jadi sekarang, urus sendiri masalah mu ke suamiku! Jangan pernah hubungi aku lagi!" Kara segera memutuskan hubungan dan memblokir nomor Adi.
Mood bumil cantik itu langsung berantakan dan rasanya hanya bisa ditenangkan oleh suaminya. Kara kemudian menelpon Rayden.
"Sayangku kenapa?" tanya Rayden setelah menjawab salam Kara.
"Mas, bisa pulang nggak?" pinta Kara.
"Ada apa? Apa perutmu sakit atau kamu mau apa?" suara panik Rayden terdengar di telinga Kara.
"Aku mau kamu, mas."
Hanya empat kata tapi membuat jantung Rayden berantakan. "Aku akan tutup meetingnya sebentar lagi. Habis itu mas pulang."
"Aku tunggu mas."
__ADS_1
Jangan ditanya wajah Rayden yang langsung sumringah dengan pipi agak merona padahal lima menit sebelumnya dia baru saja ngamuk di ruang meeting akibat kelalaian seorang kepala pabrik hingga menghambat proses produksi.
Tentu saja telepon dari nyonya Kara Takahashi, mampu menyelamatkan semua peserta meeting dari serangan angin ribut pria bule itu. Rayden memang dikenal boss yang dingin dan hanya gesrek dengan orang-orang tertentu.
Alhamdulillah, pawangnya menelpon di saat waktu yang tepat - batin semua orang di ruang meeting.
Jake yang sudah sehat meskipun masih harus rawat jalan dan kontrol rutin karena efek pukulan kemarin membuatnya terkadang masih pusing, hanya tersenyum melihat perubahan wajah bossnya.
"Jake, kita tutup meetingnya hari ini pending besok! Saya minta semua harus datang lagi termasuk anda, pak Bondan! Anda selamat hari ini tapi tidak besok!" Mata abu-abu Rayden menatap tajam kepala pabrik garmen yang membuat produksi berantakan.
Si boss masih durjana.
***
Rayden pulang ke rumah dengan membawakan bunga mawar dan coklat karena tahu istrinya sedang mode membutuhkan dirinya, jadi dia harus memberikan hadiah yang pasti tidak akan ditolaknya. Mana ada wanita yang menolak seikat mawar merah dan coklat?
"Sayaaaangg, aku pula...Ng" suara Rayden menghilang saat membuka pintu kamar dan melihat istrinya hanya mengenakan daster batik dengan lengan spaghetti menunjukkan bentuk tubuhnya yang menurut Rayden semakin seksih berpose menantang di tempat tidur.
"Tutup pintunya, Daddy" ucap Kara dengan nada menggoda.
Rayden menutup pintu kamar dan menguncinya. Buket bunga mawar dan coklat diletakkan di atas meja kopi yang ada disana.
"Daddy?" beo Rayden sambil melepaskan sepatunya, jas dan dasinya yang dilemparnya asal.
"Kan kamu calon Daddy, mas. Gimana sih?" kekeh Kara.
"Dan calon Daddy ini akan bermesraan dengan calon mommy" ucap Rayden dengan suara serak.
"No musik dangdut buat latar belakang ya mas!"
Rayden berdecih. "Kamu nggak asyik!"
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1