
"Kita ke hotel dulu Mr Jeong karena ada pertemuan malam ini di Hotel Washington. Saya sudah mendapatkan alamat apartemen Mr n Miss Takahashi." Asisten Hyung-woon membisikkan saat mereka hendak masuk ke dalam mobil Mercedes.
"Baik. Jangan sampai Ren tahu kalau aku ada urusan bisnis disini" ucap Hyung-woon yang melihat beberapa foto yang dikirimkan oleh anak buahnya seminggu ini. Mobil Mercedes itu berjalan menuju hotel tempatnya menginap dan ada pertemuan.
"Ini siapa Yun-oh?" Hyung-woon menunjukkan foto Ren makan bersama Marcelo.
"Namanya Marcelo Romano, Sir. Dia atase di kedutaan Italia baru bertemu dengan nona Takahashi tadi."
Hyung-woon menatap tidak suka ke arah pandangan Marcelo ke Ren. Dih, ada hama lagi!
***
Riku dan Ren tiba di apartemen yang mereka sewa selama tinggal di Washington DC. Rayden awalnya ingin membeli apartemen buat kedua anaknya tapi si kembar menolak karena mereka tahu tidak akan lama tinggal disini. Akhirnya mereka memutuskan untuk menyewa saja.
"Gak usah masak ya. Beli saja gimana?" tawar Ren ke Riku.
"Iya, daripada capek-capek nanti. Pesan sushi saja Ren." Gadis itu mengangguk dan mulai menelpon restauran Jepang favoritnya.
Riku langsung menyetel audionya dengan lagu campursari kesukaannya. Gara-gara harus memenuhi kredit kuliahnya, Riku sampai menginap di rumah sakit dan sekarang dia mencuci semua baju kotornya. Riku dan Ren terbiasa melakukan sendiri karena di rumah, Kara selalu mendidik kedua anaknya untuk paham pekerjaan rumah.
"Rik, kalau mas Boy masih hidup, kira-kira akan marah nggak ya kalau aku begini?" tanya Ren mengingat kakak lelakinya yang sudah meninggal akibat kedua orangtuanya mengalami kecelakaan.
"Paling mas Boy akan mengatakan hal yang sama dengan ku, Ren. Kakak mana sih yang nggak pengen lihat adiknya jadi pengantin" senyum Riku sambil memasukkan sabun ke dalam mesin cuci.
"Pasti mas Boy lebih cakep dari kamu, Rik" kekeh Ren.
"Idiiihhh, aku memang kurang cakep apa?" cebik Riku kesal.
"Kalian para pria Takahashi itu sangat-sangat narsis!" senyum Ren.
"Memang!" ucap Riku bangga.
***
Hari Sabtu seperti ini, Ren selalu pergi ke Lincoln Park untuk menikmati hari liburnya. Tidak ada kegiatan di kedutaan, membuat dirinya ingin menikmati me time nya. Mengenakan coat putih, kaus putih dan celana jeans hitam, Ren berjalan mencari kursi taman yang kosong.
Rambutnya yang dia biarkan terurai, sedikit berantakan terkena angin musim gugur. Lincoln Park tampak ramai di weekend ini, ada keluarga yang piknik, jalan-jalan atau hanya sekedar menikmati warna pohon musim gugur yang menjadi kuning kecoklatan.
__ADS_1
Hari ini Riku harus bertugas di rumah sakit karena ada opeasi penting dan karena dia mengambil spesialisasi bedah, pria itu harus ikut serta berpartisipasi disana.
Karena itulah Ren memutuskan untuk berjalan-jalan di taman yang tidak jauh dari apartemennya. Setelah mendapatkan kursi, Ren mengambil novel yang memang dibawanya. Meskipun dia fasih berbahasa Inggris, tetap saja novel yang dibawanya berbahasa Indonesia.
Jika sudah membaca, Ren tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya dan fokus dalam menghayati cerita disana sampai sebuah sepatu hitam mengkilap tampak di matanya. Ren pun mendongakkan kepalanya demi melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Halo Ren" sapa pria itu.
Ren melongo. "Hyung-woon?"
***
Hyung-woon dan Ren kini duduk berdampingan di kursi taman. Keduanya tampak memandang pemandangan danau disana dengan pemikiran masing-masing.
"Apa kabar mu Ren?" tanya Hyung-woon memecahkan keheningan.
"Alhamdulillah baik. Oppa gimana?" Ren menoleh ke arah Hyung-woon. "What happened with your hair?"
"Menguban mikirin kamu" senyum Hyung-woon yang selalu disuka Ren karena giginya yang bagus.
"Seriously Oppa" kekeh Ren.
"Rambutmu bagus warnanya, cocok dengan mu" puji Hyung-woon sambil mengambil sejumput rambut Ren yang bewarna coklat yang sedikit berantakan terkena angin.
"I miss you Ren" bisik Hyung-woon yang membuat Ren mendelik terkejut.
"Setelah sekian lama, Hyung-woon?" Mata coklat Ren menatap mata hitam Hyung-woon.
"Meskipun sudah lima tahun, Ren, aku tetap menunggumu." Hyung-woon menatap danau cantik itu dengan tatapan sendu. "Aku tidak bisa melupakan mu, Ren."
Hyung-woon menggenggam tangan Ren dan membawanya ke bibirnya lalu menciumnya lama.
"Kamu semakin tambah cantik Ren" puji Hyung-woon yang sekarang menatap wajah Ren dengan mesra. Wajah gadis itu semakin merona mendengar pujian dari pria Korea itu.
"Oppa ngapain ke Washington DC?" Ren mencoba mengalihkan rasa gugupnya dengan bertanya sesuatu.
Hyung-woon tertawa yang membuat Ren semakin terpesona melihatnya. Ya Allah!
"Aku ada pertemuan bisnis disini Ren dan harusnya hari ini aku pulang ke Seoul tapi aku memutuskan untuk memperpanjang seminggu ke depan. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, Ren."
Ren menunduk dan melihat tangannya masih digenggam oleh Hyung-woon.
__ADS_1
"Kamu mau disini dulu atau sudah akan kembali ke apartemen?" tanya Hyung-woon.
"Disini dulu" jawab Ren.
"Kalau begitu, aku temani" sahut Hyung-woon.
I think I love you, I think that’s what it is
’Cause I miss you, whenever you’re not around
I cannot do anything
And I keep thinking of you
Whenever I realize this, I think
I`m Falling For You
I’m falling for you
I didn’t know, but now I need you
Suddenly, deep in my heart
I can see where you’ve settled
Ren tersenyum mengingat kata-kata romantis dari Byul. Hyung-woon yang melihat Ren tersenyum merasa bingung.
"Kenapa Ren?" tanya pria berkacamata itu.
"Tidak, hanya teringat kata-kata dari Byul."
"Well kalau aku tidak i think I but I really love you, Ren, since five years ago until now and future." Ren melongo tidak percaya. "Believe me Ren, no one but you."
Hati Ren tiba-tiba menghangat.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Semoga lolos ini
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️