Setelah Perpisahan

Setelah Perpisahan
Bonchap - Cita-cita Ren


__ADS_3

Jake menatap pria bule yang wajahnya mirip Rayden itu dengan tatapan nanar.


"Sejak kapan Oom Jake jatuh cinta dengan Ren?" selidik Riku. Sejujurnya kalau Jake tidak tua-tua banget, dia lebih aman menyerahkan adiknya ke Jake karena tahu bahwa di tangan pria itu, Ren aman.


"Mungkin sejak kecil tapi makin dewasa, Oom makin sayang sama Ren." Jake mengacuhkan pelototan Rayden.


"Dad, aku mau pergi dengan Oom Jake. Biar aku ngobrol berdua soalnya kalau Daddy yang maju, itu bibir dan tangan ikut bekerjasama dengan sinkron." Riku mengusap bahu ayahnya.


"Maksudmu apa Rik?" Rayden memincingkan mata abu-abunya.


"Mulut pasti Daddy ngedumel panjang kali lebar plus tangan bakalan jotos Oom Jake. Ngunu lho Dad. Mudeng kan kamsudku?" Riku mulai memakai helmnya.


"Maksud Rik, bukan kamsud!" ralat Rayden.


"Ya itu tuh" balas Riku dengan suara tenggelam dari balik helm.


Rayden menghela nafas panjang. "Hati-hati. Jake, titip Riku." Meskipun Rayden kesal tapi tetap saja tidak bisa tidak meminta tolong kepada Jake untuk menjaga anaknya.


"Bukannya selalu aku menjaga anakmu, Ray." Jake berjalan menuju motornya dan memakai helmnya lalu bersama dengan Riku, keduanya keluar halaman rumah Takahashi.


***


Di dalam rumah, Abe dan Kara tampak menatap Ren yang masih mode bingung atas kejadian semalam. Abe sendiri tidak habis pikir bagaimana asisten yang dia rekrut, jatuh cinta pada cucunya sendiri.


"Ren..." panggil Kara lembut sambil mengusap punggung putrinya.


"Iya mom..." jawab Ren.


"Are you okay?" tanya Kara pelan. Dia sangat bingung melihat putrinya seperti ini.


"The truth is... No, mom." Ren menghela nafas panjang. Dirinya tahu Jake tadi datang tapi dia tidak mau bertemu dengannya.


"Bagaimana perasaan mu?" tanya Abe.


"Princess" panggil Rayden kepada putrinya.


"Daddy" Ren memeluk Rayden erat. Sungguh dirinya merasa bingung. Kenapa mereka datang bersamaan sih?!


"Apakah kamu ada rasa sama salah satu dari mereka?" tanya Rayden.


Ren menggeleng. "Ren malah nggak pengen menikah."


Ketiga orang tua disana terkejut dengan ucapan gadis itu.


"Sayang, apa kamu yakin?" tanya Kara karena dirinya baru tahu bahwa putrinya tidak ada keinginan menikah.


"Iya mom. Soalnya aku mau kejar karir menjadi diplomat dan kalau menikah kan bisa membuat aku tidak konsentrasi dengan karierku." Ren menatap keluarganya. "Dan Ren mau para pria itu meninggalkan Ren dulu."

__ADS_1


Rayden terkejut. "Why princess?"


"Ren sebentar lagi mengurus skripsi dan Ren tidak mau ada gangguan karena Ren sudah mengajukan untuk magang di kedutaan Inggris sebagai bahan skripsi Ren." Gadis tersenyum menatap Daddy-nya.


"Kamu bulan depan semester tujuh dan tinggal skripsi sekarang. Kalau begitu, Daddy melarang semua orang bertemu dengan mu termasuk si Jake!" putus Rayden.


"Kenapa tidak ke kedutaan Jepang saja Ren, kan Opa bisa bantu kamu masuk sana" tawar Abe.


"No, Opa. Ini hasil usaha Ren sendiri bisa masuk sana dan Ren bangga akan hal itu."


Abe mengangguk dan dalam hatinya dia sangat bangga dengan cucu perempuan satu-satunya.


***


Jake dan Riku sekarang berada di sebuah cafe dan menyesap kopi hitam dan menikmati croissant untuk sarapan.


"So, Oom Jake. Are you serious? Ngajak nikah Ren?" tanya Riku penasaran.



Jake menatap kembaran Ren itu mengangguk.


"You've got be kidding me, Oom. Reaksi Daddy ya kayak tadi lah" cengir Riku.


"Oom juga nggak tahu kenapa bisa jatuh cinta sama kembaran mu, Rik. Bagi Oom, Ren itu paket komplit" ucap Jake sambil menyesap kopinya.


"Biarkan Ren memilih, Rik."


"Asal Oom tahu ya, Ren itu gadha niatan menikah!" Riku menatap serius ke Jake yang membuat pria matang itu terkejut.


"Serius Rik?" tanya Jake tidak percaya.


Riku mengangguk. "Kami kembar meskipun tidak identik dan Ren beberapa kali mengungkapkan akan hal itu. Bahkan Ren berencana setelah lulus nanti, dia akan serius melanjutkan pendidikannya untuk menjadi diplomat. Makanya Ren ngebut kuliahnya karena setelah lulus, dia akan mendaftar masuk sekolah Dinas Luar Negari atau Sekdilu. Kalau sudah, dia hendak mengambil Sekolah Dinas Luar Negeri Tingkat Madya atau Sesdilu."


Jake melongo mendengar penjelasan Riku. "Serius dia hendak seperti itu?"


Riku mengangguk. "Jadi Oom, hemat Riku, kubur dalam-dalam perasaan Oom karena Ren akan lebih memilih karier daripada asmara. Cita-cita dia memang ingin melanglang dunia dibayar negara" cengir Riku.


Jake hanya terdiam. Berarti menunggu dirinya hingga lima tahun lagi.


***


Hyung-woon datang ke kediaman Takahashi dan bertemu dengan Ren hanya terdiam mendengarkan penjelasan gadis itu. Ren benar-benar serius dengan cita-citanya dan meminta agar Hyung-woon mencari gadis lain yang tidak memikirkan karier seperti dirinya.


"Apakah kamu yakin, Ren? Yakin dengan keinginanmu?" tanya Hyung-woon yang sejujurnya merasa patah hati mendengar ucapan gadis itu.


"Kan aku sudah bilang padamu kalau aku memang tidak ada niatan menikah karena aku fokus dengan apa yang aku inginkan dari kecil." Ren menatap pria Korea itu.

__ADS_1


Hyung-woon menghela nafas panjang. "Mungkin sekarang kamu belum bisa menerimanya Ren, tapi aku yakin kita berjodoh."


"Jika memang demikian, meskipun berbagai macam kelokan dan tanjakan menghadang, namanya jodoh pasti akan dipertemukan kembali" ucap Ren lembut.


Hyung-woon hanya mengangguk.


***


Lima tahun Kemudian...


Seorang gadis cantik berambut blonde keluar dari kedutaan Besar Inggris dengan langkah santai. Urusannya disini sudah selesai dan dia hendak kembali ke apartemennya.



Ketika hendak masuk ke mini Cooper miliknya, tiba-tiba seorang pria menabraknya dengan membawa banyak berkas.


"I'm so sorry miss, saya terburu-buru tadi" pria itu meminta maaf dan gadis itu tersenyum sambil membantu membereskan berkasnya.


"It's okay. Saya juga tadi nggak lihat karena sedang mencari kunci mobil saya" senyumnya.


"Kamu orang mana?" tanya pria itu.


"Campuran. Kenapa?"


"Kamu cantik" gombal pria itu. Gadis bermantel coklat itu tertawa.


"Nggak di Washington nggak di Jakarta kok ya ketemu cowok tukang gombal mukiyo tho yaaaa" gumamnya dengan bahasa Indonesia


"Kamu orang Indonesia?" tanya pria itu.


"Iya, mommy saya orang Indonesia."


"Marcelo Romano. Kedutaan Italia." Pria itu mengulurkan tangannya.



"Ratimaya Ren Takahashi. Kedutaan Indonesia." Ren menyambut uluran tangan pria itu.


"Nice to meet you, Ren."


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2