
Seharian ini Rayden menemani istrinya melayani pembeli baju baik online maupun offline meskipun Kara sudah memiliki asisten seorang siswi SMK yang bekerja paruh waktu setiap selesai pulang sekolah tapi pria itu tetap mencari tahu seluk beluk bisnis istrinya.
Para pembeli yang kaget ada bule tampan itu sontak heboh tapi begitu tahu pria itu adalah suami Kara, mereka pun langsung gigit jari.
"Maaf ya mbak-mbak, ibu-ibu. Kalau yang ini sudah sold out sama saya. Kalau mau, masih ada dua yang available. Tuh yang duduk di teras sembari main handphone" kerling Kara sambil menunjuk teras dengan tangan kanannya tapi tangan kiri memeluk Rayden posesif.
Rayden hanya tersenyum melihat tangan Kara terus memeluk lengannya. Karanya mulai menunjukkan kepemilikan atas suaminya.
"Memang dua cowok itu siapa mbak Kara?" tanya seorang ABG.
"Itu asistennya suami mbak. Yang rambut hitam namanya Rafli, rambut coklat namanya Jake."
"Boleh kenalan kan?" seru yang lain.
"Boleh" ucap Rayden yang ikutan usil seperti istrinya.
"Wah ternyata mas bule bisa bahasa Indonesia" komentar seorang ibu-ibu.
"Istri saya orang Indonesia, jadi saya bisa bahasa Indonesia lah" senyum Rayden.
"Ya ampun mas bule kalau senyum cakep banget!" seru para pembeli.
Kara hanya tersenyum namun matanya menatap tajam ke Rayden. 'Jangan macam-macam atau kamu tidak akan bertemu denganku lagi' dan Rayden hapal dengan tatapan milik istrinya.
Keriuhan terjadi di teras rumah Kara ketika para ABG mencoba berkenalan dengan Rafli dan Jake yang berakhir kaburnya dua pria tampan itu masuk ke dalam rumah dan bik Ijah harus mengusir para ABG itu.
***
Jake dan Rafli menatap judes ke Rayden setelah kasus dikejar ABG. Rayden berbalik menatap kedua asistennya sambil nyengir.
"Bukan aku, boys tapi Kara yang mengatakan bahwa mereka boleh berkenalan dengan kalian. Bukankah kalian jomblowan?" kekeh Rayden.
Meskipun Jake dan Rafli senang melihat Bossnya bisa tertawa lagi tapi tetap saja ABG itu menyeramkan.
"Nona Kara, please jangan hadapkan ke anak-anak ABG mending mbak-mbak mahasiswi gitu atau yang sudah bekerja" pinta Jake memelas.
Kara terkikik. Malam ini mereka makan malam di rumah Kara bersama dengan sopir yang dipinjam Rayden dari salah satu cabang pabriknya di Ungaran.
Rayden menatap lembut ke Kara yang sudah kembali dirinya yang dulu. Semoga sisa-sisa depresi kemarin benar-benar sudah menghilang dari istriku.
__ADS_1
"Kalian malam ini menginap saja di hotel dekat sini karena aku akan menginap di rumah istriku. Besok pagi sekalian kita memeriksa pabrik kita di Ungaran." Rayden menatap Rafli dan Jake.
"Oke boss!"
***
Rayden sudah selesai membersihkan tubuhnya dan kini dia hanya memakai kaos oblong rumahan dengan celana pendek lalu dirinya masuk ke dalam kamar Kara.
Pria itu bisa mencium harum khas istrinya yang bernuansa Jasmine mint dan dia melihat tempat tidur Queen size disana dengan seprai bewarna pink polos. Di pojok terdapat meja rias lengkap dengan make-up milik Kara yang sudah dihapal Rayden merk-nya.
"Lho mas? Sudah mandi?" tanya Kara ketika masuk ke dalam kamar. Rayden tadi mandi menggunakan air panas yang disediakan di ember karena rumah Kara tidak ada shower dan water heater.
"Sudah."
Kara menutup pintu kamarnya dan jam di dinding menunjukkan pukul sembilan malam.
"Aku mau cek rumahmu dulu sudah dikunci atau belum" Rayden berjalan keluar kamar sedangkan Kara menyiapkan bantal untuk Rayden karena hanya ada dua bantal di tempat tidurnya.
Tak lama Rayden pun kembali dan melihat istrinya sedang melakukan ritual membersihkan muka.
"Rambutmu sudah panjang ya sayang" ucap Rayden sambil berbaring di kasur empuk Kara.
"Rambutmu pernah sebahu?" Rayden mendelik. Dia sangat menyukai rambut kecoklatan Kara yang panjang.
Kara sudah selesai dengan ritual membersihkan wajah dan ikut naik ke atas tempat tidur bersebelahan dengan suaminya.
"Ceritakan padaku, apa yang kamu lakukan setelah keluar dari rumah lama kita?" tanya Rayden sembari beringsut untuk memeluk Kara yang ternyata istrinya tidak menolak.
Ternyata tidak hanya mas Rayden yang kangen, aku pun juga.
"Aku merasa bahwa aku akan semakin tidak nyaman di rumah lama, dadaku terasa sesak dan aku hanya tidak bisa tinggal disana mas. Aku memilih ke Semarang menggunakan kereta api dan..."
"Rupanya kamu naik kereta api. Pantas aku tidak menemukan namamu di manifes penerbangan manapun" gumam Rayden.
"Iya, aku naik kereta api mas. Lalu kami tiba di Semarang hanya aku tidak cocok disana terus kami berjalan-jalan ke Salatiga dan melihat rumah ini. Entah kenapa aku ingin tinggal disini karena lingkungannya adem juga."
Kara memeluk tubuh liat suaminya. "Aku langsung mengontrak rumah ini menggunakan uang mantan hingga lima tahun karena aku sendiri tidak tahu sampai kapan bisa lepas dari depresi ini. Setelah pindah kemari, aku dan bik Ijah berkenalan banyak orang dan salah satunya mbak Tata."
Rayden mendengarkan cerita Kara sembari mengelus bahu mulus istrinya.
__ADS_1
"Mbak Tata adalah seorang psikolog yang bekerja di rumah sakit umum daerah Salatiga. Rumahnya hanya beda lima rumah dari sini. Begitu tahu mbak Tata pun pernah mengalami hal yang sama meskipun seorang psikolog, membuat aku tidak sendiri. Mbak Tata juga harus meminta bantuan rekan sejawatnya untuk bisa mentreatmen dirinya."
"Kapan Tata mengalami hal itu?" tanya Rayden.
"Lima tahun lalu saat kelahiran anak pertamanya. Setelah dia tahu kasusku, pelan-pelan dia rutin datang kemari meskipun hanya membawakan makanan atau apa lah. Dia mengajak aku bicara mas agar pikiranku tidak terblocking, bisa menerima keadaan."
Rayden semakin mempererat pelukannya.
"Hampir dua bulan aku berkonseling dengan mbak Tata dan aku mulai membuka jualan baju online yang membuat pengalihan pikiran negatif ku. Bik Ijah juga berperan banyak dengan mengajak aku membuat kue kering yang kami jual online hingga akhirnya enam bulan kemudian aku bisa membuka butik kecil di ruang garasi yang tidak terpakai."
"Kamu hebat sayang. Maafkan mas yang tidak terlalu paham apa itu postpartum depression karena pada saat itu mas yakin kamu bisa move on tapi ternyata tidak" bisik Rayden.
"Tidak apa mas karena kita tidak ada yang siap akan semuanya waktu itu. Aku sudah berkompromi dengan keadaan meskipun membutuhkan waktu yang lama setahun ini. Maafkan aku meninggalkan dirimu mas" ucap Kara.
"Yang penting kamu sudah sehat, sudah kembali seperti dulu, menjadi Karaku yang ceria, judes dan semakin posesif padaku." Rayden mencium kening Kara.
"Ternyata aku sangat mencintaimu mas" bisik Kara.
"Jangan tinggalkan aku lagi ya sayang" pinta Rayden.
"Tidak mas. Aku tidak akan meninggalkan mu lagi."
"So, bolehkah aku menengokmu?" kerling Rayden dengan wajah meshum yang sangat dihapal Kara.
"Tetap ya mas. Wajah meshummu itu tidak hilang-hilang" kekeh Kara.
"Aku meshum hanya padamu. Tanya Jake dan Rafli, aku hidup seperti biksu selama kamu tinggal karena aku hanya milikmu seorang" Rayden mencium pipi Kara. "Bolehkan? Si ndul dah mulai karatan ini!"
Kara melongo. "Memang punya mas dari besi bisa karatan?"
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1