Setelah Perpisahan

Setelah Perpisahan
Rahasia Rayden


__ADS_3

Rayden dan Kara sekarang berada di ruang rawat inap bersama si kembar, Riku dan Ren. Hot Daddy itu takjub melihat kedua anak kembarnya menggemaskan dan bule membuat Kara hanya bisa menghela nafas panjang.


"Aku yang bawa sembilan bulan tapi gen dikompeni kamu semua mas" ucap Kara cemberut.


"Bagus kan? Semoga gen melokal ku juga nurun juga" cengir Rayden.


"Jangan ya Ray. Masih mending kalau cucu-cucu Papa suka keroncong" sahut Abe yang juga gemas melihat kedua cucunya. Kini opa tampan itu memiliki tiga cucu dalam waktu berdekatan.


"Ren bakalan cantik sendiri Oom" timpal Rasyad.


"Hu um. Ren bakalan cantik sendiri" gumam Abe. "Kecuali kalau Rayna atau Kara berencana punya anak lagi."


"Ya Allah Pa. Ini dulu diopeni baru mikir punya adik lagi buat duo R" ucap Rayden sebal.


"Kan Papa hanya komentar, Ray. B saja lah kau" kekeh Abe.


"Ra, aku sudah kirim ke Bu Sumi menu buat satu bulan kamu di bulan ini, nanti bulan depan aku susunkan lagi" ucap Rasyad ke Kara.


"Makasih dok Rasyad. Berkat jadwal menu kemarin, aku nggak sampai besar banget" kekeh Kara.


"Nanti kamu cepat langsingnya kok soalnya ngasuh dua anak kembar lebih menghabiskan energi. Apalagi nanti ada bayi besar yang selalu nempel sama kamu setelah masa nifas selesai" ledek Rasyad ke Rayden.


"Apaan sih lu kampret!" cebik Rayden.


"Woooiiii, language! Ray, tidak boleh mengumpat!" tegur Abe.


"Kamu KB saja nanti Kara, daripada duo R kesundul karena tahu lah kinerja si ndul dan kecebongnya" kekeh Rasyad.


Kara dan Abe tergelak mendengar ucapan tidak ada filter sahabat Rayden itu.


***


Tak terasa Kara dan Rayden menikmati menjadi orang tua sudah enam bulan. Si kembar pun semakin lucu dan menggemaskan tapiii...semakin melokal seperti daddy-nya terutama Riku.



"Riku, sebentar, mommymu lagi bertapa di kamar mandi. Jangan nangis lah! Tuh lihat Ren tenang-tenang saja" bujuk Rayden di hari Sabtu pagi ini. Kara memang tadi menitipkan si kembar kepada Rayden karena mendapatkan panggilan alam.


Hot Daddy yang hanya Shirtless dengan celana pendek itu sibuk membujuk putra tampannya yang nangis kejer. Bingung karena Riku tidak mau diam, Rayden pun melanggar perjanjian dengan Kara yang melarang ada lagu dangdut dan campursari di kamar.


"Riku, dengerin ini Yaaa" seringai Rayden sambil menyetel lagu milik Didi Kempot.


Sworo angin


Angin sing ngreridu ati


Ngelingake sliramu sing tak tresnani


Pengen nangis


Ngetokke eluh neng pipi


Suwe ra weruh

__ADS_1


Senajan mung ono ngimpi


Ngalemo


Ngalem neng dadaku


Tambanono roso kangen neng atiku


Ngalemo


Ngalemo neng aku


Ben ra adem kesiram udaning dalu..


Riku tampak menikmati acara goyang dengan sang Daddy yang ikut menyanyikan lagu Jawa itu.


"Astaghfirullah! Mas Ray!"


***


Rayden menatap wajah galak istrinya dengan tersenyum lebar. Taktiknya membuat Riku berhenti menangis dengan mendengarkan lagu campursari benar benar berhasil.


"Kara, Sayangku ... Meskipun Riku julid dalam perut akibat doktrin dari dirimu ternyata dia masih tahu bahwa lagu milik Didi Kempot bisa membuatnya anteng" alibi Rayden.


"Maaasss, kan sudah perjanjian tho" pinta Kara melas.


"Lha buktinya Riku langsung anteng tuh jadi jangan salahkan aku dong sayang. Gen ku lebih kuat jadi mulai sekarang, no protes no debat kalau aku nyetel dangdut atau campursari." Rayden tersenyum penuh kemenangan.


"Jangan kata-kata vulgar kalau perlu instrumental saja biar anak-anak gak masuk kata-katanya!"


"HAAAAHHHH? Instrumental terus njuk piyeee?"


"Terserah! Pokoknya kalau instrumental, aku kasih!"


Rayden pun manyun.


***


Rayden sedang memeluk si kembar yang tertidur setelah sang Daddy menyanyikan lagu Sewu Kuto dengan pelan karena takut ketahuan sang mommy.


"Kalian tahu kenapa Daddy ngajarin lagu dangdut atau pun campursari terutama yang berbahasa Jawa? Karena Oma Ajeng itu wong Jowo, Daddy Jowo Jepang Bule, mommy Jowo tapi tidak jelas. Daddy mau kalian tahu bahasa Oma kalian, bahasa Jawa, meskipun belum yang kromo Inggil. Daddy mau kalian mudeng dan bisa berbahasa Jawa supaya kalian tidak melupakan akar kalian meskipun nantinya kalian bisa berbahas Indonesia, Inggris dan Jepang."


Rayden menatap kedua buah hatinya yang tidur di sisi kiri dan kanannya.


"Asal kalian tahu, kalian dulu punya kakak laki-laki namanya Boy tapi mas kalian lebih memilih tinggal bersama Oma di surga. Sebelum kalian lahir, Daddy dan mommy sempat berpisah karena mommy harus istirahat lama tapi setelah mommy sehat, kita bersatu lagi dan kalian pun lahir."


Rayden tersenyum. "Mungkin kalian belum paham apa yang diomongin Daddy tapi asal kalian tahu, Daddy dan mommy sayang dengan kalian berdua. Daddy bersyukur kalian hadir diantara kami, menjadi anak dari Rayden Takahashi dan Kara Gantari."


Kara yang hendak masuk ke kamar setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi, mengurungkan niatnya bergabung dengan suaminya. Ibu cantik itu ingin mendengarkan apa yang hendak diucapkan oleh Rayden kepada kedua anak mereka.


"Opa Abe tidak tahu saja kenapa Daddy suka dangdut dan campursari. Riku, Ren, kalian Daddy kasih tahu rahasianya. Oma Ajeng adalah penggemar Elvie Sukaesih, Rhoma Irama, A Rafiq tapi Opa Abe tidak tahu, Tante Rayna tidak tahu, yang tahu cuma Daddy karena sering bareng sama Oma dengerin bersama-sama. Dari situlah Daddy jadi suka dangdut dan melokal."


Rayden melirik ke arah Kara yang berdiri sambil bersender di pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Jadi gara-gara almarhum mama, mas jadi melokal" senyum Kara.


"Eh ketahuan" cengir Rayden. Kara menghampiri tempat tidur dan menggendong Ren, sedangkan Rayden menggendong Riku untuk dibawa ke box mereka masing-masing.


Setelah keduanya tenang di box nya, Rayden memeluk Kara dari belakang.


"Aku yakin di surga sana, Boy pasti didoktrin mama supaya suka dangdut dan campursari karena bertemu dengan A Rafiq dan Didi Kempot" kekeh Rayden absurd di ceruk leher Kara.


"Mas tuh lho" senyum Kara yang berbalik menghadap suaminya. "Mas, aku tidak melarang mas suka dangdut tapi harus disaring liriknya. Aku tidak mau anak-anak mendapatkan kata aneh-aneh."


"Kamu benar sayang, belum waktunya dan kalaupun mau dengerin, instrumental saja. Aku saja mulai dengar usia lima tahun." Rayden mencium pipi Kara.


"Nah tuh tahu. Jadi kalau mas mau dengerin, pakai airpods lebih aman... Eh?" Rayden menggendong tubuh Kara dan menuju tempat tidur.


"Sayangku, terimakasih" ucap Rayden sembari meletakkan tubuh Kara dan mulai menciumi leher harum itu.


"Terimakasih apa?" tanya Kara dengan nafas tersengal.


"Mau menikah denganku, bule melokal, memiliki anak bersama, hidup bersama, menua bersama." Rayden menatap mesra Kara.


"Aku yang berterima kasih mas mau menerima aku, sabar ketika kita harus berpisah..."


"Hei, kalau kita masih satu rumah pada saat itu, kita pasti akan benar-benar berpisah karena bisa jadi aku emosi setiap hari dan bisa mengatakan hal tabu itu yang berakibat penyesalan ku seumur hidupku nantinya" ucap Rayden.


Kara mencium bibir Rayden lembut. "Terimakasih mas. Terimakasih sudah menerima janda seperti aku..."


"Janda masih perawan itu satu banding seratus juta, Kara Santanku dan aku adalah pria paling beruntung di dunia mendapatkannya" cengir Rayden.


"Sampai-sampai minta acara nikah dimajukan" kekeh Kara.


"Iyalah! Aku sudah tidak sabar menikmati jendes tapi perawan... Adduuhhh!" Kara memukul bahu kekar suaminya.


"Lambenyaaaa itu ya mas!" cebik Kara.


"Lambe itu enak untuk dicipok sayang" kekeh Rayden.


"Love you mas Rayden." Kara mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


"I love you more to the moon and back."


*** END ***


Yuhuuu Up Siang


Thank you buat yang mengikuti cerita Kara dan Rayden. Aku memang nggak mau panjang-panjang bikin cerita bule melokal ini.


Terimakasih sudah ikutan nyanyi lagu dangdut jadul dan campursari plus Def Leppard 😁😁😁


Terimakasih atas semua like, dukungan dan komentarnya. Love you full 💝💝💝


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2