Setelah Perpisahan

Setelah Perpisahan
Berpisah


__ADS_3

Sudah sebulan setelah kecelakaan yang merenggut nyawa calon bayi Rayden dan Kara, hubungan keduanya menjadi tidak membaik. Kara mengalami stress berat karena merasa bersalah meminta Rayden untuk pergi ke Lembang. Rasa bersalah itu semakin membuat Kara menjauh dari suaminya bahkan meminta untuk tidur terpisah.


Rayden yang tidak terima akan hal itu semakin emosi dan keduanya pun saling bertengkar padahal selama ini mereka termasuk pasutri yang adem ayem dan receh.


"Terserah kamu lah! Aku sudah bilang itu bukan salahmu! Itu takdir, Kara! Jangan menyalahkan dirimu sendiri!" bentak Rayden setelah kesekian kalinya Kara menolak tidur bersama Rayden. Padahal Rayden beranggapan, istrinya bisa tenang jika dalam pelukannya. Bukan hanya Kara saja yang merasa kehilangan, tapi dirinya juga.


"Aku sedih kehilangan si boy tapi aku tidak pernah menyalahkan siapapun! Kalau kamu seperti ini terus, Boy akan sedih melihatnya!"


Bayi berusia enam bulan yang terpaksa dikeluarkan dari perut Kara akibat kecelakaan itu tidak mampu bertahan. Putra pertama mereka yang diberi nama Boy Hideki Takahashi itu dimakamkan bersebelahan dengan sang Oma, Ajeng Takahashi.


Rayden memegang tangan Kara yang masih mencengkeram selimut dengan lembut. "Please sayang, jangan begini. Aku membutuhkanmu, sayang."


Kara tampak berantakan tidak seperti biasanya yang selalu tampil rapih tapi kali ini tampak berantakan bahkan dia hanya mandi sehari sekali.


Seorang psikolog dan psikiater dipanggil oleh Abe Takahashi demi mengobati menantunya namun tampaknya Kara selain terkena baby blues, dia juga mengalami shock yang teramat berat. Kara sampai tidak bisa lepas dari obat penenang karena dia akan mengalami insomnia akut. Semua ahli menyatakan, Kara sendirilah yang melakukan blocking dan menolak semua perawatan. Kesembuhan Kara hanya bisa dari dirinya sendiri.


Rayden berencana untuk membawa Kara berobat ke Jepang dan dia bertekad bagaimana caranya, dia ingin istrinya sembuh.


***


Seminggu setelah Rayden marah-marah kepada dirinya, Kara mulai memindai semua isi kamarnya. Entah apa yang merasuki dirinya tapi Kara memutuskan untuk pergi dari rumah Rayden. Semua kartu yang diberikan suaminya, dia tinggal hingga perhiasannya.


Kara merasa sesak jika berada di rumah itu. Bayangan. dirinya saat masih hamil selalu tampak di matanya dan dia bisa histeris kembali jika mengingat anaknya sudah tiada.


Setelah membereskan semua baju-baju miliknya, Kara pun keluar. Bik Ijah yang tahu nonanya ingin pergi pun mengikutinya.


"Non Kara mau kembali ke rumah lama?" tanya Bik Ijah.


Kara menggeleng. "Aku ingin keluar kota bik. Temani aku ya."


Bik Ijah hanya bisa terenyuh melihat kondisi psikis Kara yang tidak stabil, mengangguk. Dirinya tidak lupa berpesan kepada bu Sumi bahwa akan menemani nonanya dan selalu update kabar.


Kini Kara menunggu ojek online bersama dengan bik Ijah, setelah datang keduanya menuju stasiun Gambir.


***


Rayden mengamuk luar biasa ketika mengetahui istrinya pergi. Sebuah surat di meja rias Kara membuatnya lemas.


Dearest, Mas Rayden.


Maaf jika aku harus pergi meninggalkanmu mas. Aku tidak sanggup tinggal disana tanpa terbayang aku masih mengandung Boy.


Aku nggak kuat mas. Aku butuh sendirian dulu, menata hatiku, emosiku semuanya agar aku bisa kembali seperti dulu. Maafkan aku mas.

__ADS_1


Aku ikhlas jika memang mas mau menalak aku karena aku bukan istri yang baik. Aku tidak sendiri, ada bik Ijah bersamaku.


Jangan cari aku.


Love, Kara Gantari.


Rayden merasa dunianya runtuh kehilangan istri yang sangat dicintainya.


"KAAARRAAAA!!!"


***


Setahun kemudian, kota Salatiga...


Kara sedang berada di butik kecil miliknya yang dia buat di garasi rumahnya. Setahun lalu Kara dan bik Ijah memutuskan untuk turun di Semarang namun Kara merasa tidak cocok tinggal disana. Setelah tiga hari di hotel, Kara mencari sebuah rumah kontrakan di Salatiga dan uang dari Adi, dia pakai untuk membayar kontrakan selama lima tahun.


Melihat ramainya lingkungan rumah yang disewanya, Kara berinsiatif membuka jualan online. Nomor Kara dan bik Ijah pun sudah diganti agar Rayden tidak mencarinya. Kara benar-benar ingin sendiri dulu.


Usaha onlinenya pun berjalan lancar sampai Kara memutuskan merombak garasi yang tidak terpakai menjadi butik dan gudang baju-bajunya yang dia jual online.


Selain berjualan baju, Kara dan bik Ijah pun membuat kue-kue kering yang dia jual di butiknya. Kara bersyukur bisa mencari uang sendiri jadi uang tabungannya tidak habis dan uang dari Adi pun tidak terkikis terus.


***


Rayden memperhatikan para peserta meeting di ruangan itu dengan tatapan dingin. Semenjak Kara meninggalkan dirinya, pria itu berubah menjadi dingin dan kejam. Dia tidak segan-segan memecat pegawainya yang berbuat salah hingga dibilang boss diktator.


Jake dan Rafli yang setia mendampingi Rayden, sampai tidak berani menggoda atau pun becande receh seperti yang mereka lakukan dulu. Rayden benar-benar menjadi pria yang jauh lebih kejam dari Abe Takahashi.


Rayna dan Kenichi yang melihat keadaan Rayden pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ditambah Rayna sekarang hamil anak pertama, semakin membuat Rayden tampak susah dijangkau. Abe Takahashi pun tidak mampu menyelami isi hati putranya yang membatu.


Rayden menatap direktur pemasaran yang melaporkan pendapatan tahunan Takahashi LLC kawasan India dengan tajam.


"Kenapa kenaikan hanya 5% sedangkan tahun lalu bisa 15%?" tanya Rayden dingin.


"Banyak faktor tuan, diantaranya bencana alam yang menimpa..."


"Saya tidak mau tahu! Kalau besok kwartal pertama tidak ada kenaikan 5%, kalian tahu konsekuensinya!" Rayden segera berdiri dan keluar dari ruang meeting.


Jake menyusul Bossnya sedangkan Rafli bertugas untuk menutup meeting hari ini.


Rayden masuk ke dalam ruangannya yang berwarna solid hitam, putih, abu-abu dan coklat.


Mas tuh apa nggak ada warna lain apa?

__ADS_1


Rayden mengusap wajahnya kasar lalu duduk di kursi. kebesarannya. Pria itu menatap foto cantik Kara saat menikah dengannya.


Kamu dimana sayang? Mas kangen. Jangan lama-lama perginya. Pulanglah sayang.


"Boss" panggil Jake.


"Apa Jake?" tanya Rayden tidak semangat tanpa mengalihkan pandangannya dari foto Kara.


"Aku dan Rafli sudah menemukan nona Kara."


Rayden menatap Jake dengan antusias.


"Dimana?"


"Salatiga, Jawa Tengah." Jake memberikan sebuah foto-foto Kara yang sedang melayani pembeli di butiknya.


"Kenapa kamu baru menemukan sekarang?" bentak Rayden.


"Nona Kara pintar menyembunyikan diri, boss. Jadi agak sedikit kesulitan kami mencarinya" jawab Jake tenang karena sudah terbiasa mendengar bentakan Rayden.


"Ini rumah siapa?" tanya Rayden.


"Itu rumah kontrakan, boss. Nona Kara menyewanya selama lima tahun."


Rayden mengusap wajah Kara yang sedikit kabur akibat pembesaran foto namun senyuman khas Kara masih tetap tampak.


"Siapkan pesawat ke Semarang. Aku akan ke Salatiga secepatnya." Rayden menatap Jake tajam.


"Baik boss."


I miss you baby.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Maaf jika ceritanya berbeda


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2