Setelah Perpisahan

Setelah Perpisahan
Jangan Pernah Lepaskan


__ADS_3

Seminggu sudah Rayden kembali ke New Delhi dan selama itu pula pria itu tidak pernah absen menelpon dan melakukan video call kepada istrinya. Kara sudah menghubungi papa Abe dan meminta maaf atas semua perbuatannya karena meninggalkan Rayden.


"Papa berusaha memahami kondisi dirimu, Kara. Memang kejadian tahun lalu itu membuat kamu trauma apalagi harus kehilangan Boy. Awalnya papa marah padamu tapi setelah berkonsultasi dengan para psikolog dan psikiater di Tokyo juga ngobrol dengan Kenichi, papa bisa memaklumi" ucap Abe ketika Kara melakukan panggilan lewat zoom.


"Yang penting sekarang kalian sudah kembali bersama dan saling menguatkan satu sama lain. Mungkin depresinya Rayden berbeda dengan mu, Kara karena kamu dipenuhi dengan perasan bersalah hingga sedemikian rupa. Apalagi Boy harus dikeluarkan sebelum waktunya, membuat dirimu semakin shock."


Abe menatap lembut ke menantunya.


"Sekarang kamu sudah kuat kan?"


"Alhamdulillah sudah papa. Kara sudah bisa memanage emosi Kara, Pa. Berkat bantuan mbak Tata, seorang psikolog yang tinggal tidak jauh dari rumah Kara."


Wajah Abe Takahashi tampak lega. "Sekarang si anak melokal kemana?"


"Ke New Delhi pa, masih menyelesaikan urusan disana. Sudah empat hari ini perginya."


"Nanti papa bilang sama Rayden supaya pabrik India dipegang sama asisten papa, Ray sama kamu pulang ke Jakarta" putus Abe.


"Terimakasih papa."


"Nikmatilah hidupmu Kara, Boy sudah tenang bersama Omanya. Tugasmu sekarang adalah membuat adiknya Boy!" kerling Abe yang membuat wajah Kara memerah.


"Iya papa" jawab Kara pelan.


***


"Jadi itu tugas aku sama kamu? Bikin adiknya Boy?" tanya Rayden ketika keduanya melakukan panggilan video di malam hari saat Kara menceritakan obrolannya dengan papa Abe.


"Iya mas. Terima kasih papa dan mas bisa memahami aku meskipun awalnya sulit."


"Sayang, inilah yang disebut Lika liku kehidupan. Apa yang kita anggap baik-baik saja tidak ada kerikil terjal, tapi tetap saja ada. Dengan adanya kerikil itu hanya dua opsinya, semakin kuat hubungan kita atau semakin merenggang. Kita, hampir merenggang tapi menjadi lebih menguatkan satu sama lainnya." Rayden menatap serius ke Kara.


"Iya mas. Mungkin cara aku salah, tapi dengan membaiknya aku membuat aku lebih kuat."


Rayden tersenyum. "Kara Santanku sudah kembali seperti dulu. Jadi..."


Rayden meletakkan ponselnya hingga steady dan menunjukkan dirinya yang Shirtless. "Boleh dong goyang lagi?"


Kara melongo melihat suaminya mulai kumat melokalnya. "Astaghfirullah! Maaaasss!"


Rayden terbahak bergoyang sambil mendengarkan lagu milik Rhoma Irama.


***


Dua Minggu Rayden berada di New Delhi akhirnya dia kembali ke Salatiga tanpa dua asistennya karena Jake dan Rafli harus mengurus semua pemindahan tampuk kekuasaan dari tangan kanan Abe ke Rayden kembali.

__ADS_1


Kara yang tahu akhir bulan mereka akan kembali ke Jakarta pun sudah bersiap-siap membereskan semua barang-barangnya yang hendak dibawanya ke Jakarta termasuk stok baju-baju yang masih ada.


Pemilik kontrakan bersedia mengembalikan uang kontrakan yang tersisa tiga tahun kepada Kara meskipun Kara tidak terlalu memikirkannya.


"Saya nggak mau mbak Kara. Ada orang ngontrak tapi yang bayarin mbak Kara, mboten etis meniko" ucap sang pemilik kontrakan.


Kara pun akhirnya menerima kembali uangnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.


"Anggap saja itu masih rejeki kamu, sayang" bisik Rayden ketika tahu uang istrinya kembali.


"Iya mas."


Setelah mengepak semuanya, Kara pun memberikan gaji terakhir ke siswi SMK itu yang hampir setengah tahun ini bekerja padanya.


"Ini banyak sekali mbak Kara" ucap gadis remaja itu.


"Bonus buat kamu juga sudah menemani mbak Kara bekerja" senyum Kara.


"Semoga mbak Kara dan suami selalu bersama ya."


"Aamiin."


***


Rayden dan Kara sekarang berada di tempat tidur untuk bermalam terakhir di Salatiga. Sebagian besar barang-barangnya sudah dikirimkan lewat ekspedisi karena Rayden tidak mau mereka repot bawa-bawa di bandara. Apalagi pesawat pribadi milik keluarga Takahashi masih dipakai papa Abe jadi mereka pulang menggunakan pesawat komersil.


"Mantan mu atau mantanku?" sahut Rayden. Jujur dia malas membahas tapi Kara harus tahu.


"Mantanku dulu. Kan terakhir minta aku bicara padamu untuk mengembalikan perusahaannya" jawab Kara.


"Well, setelah kamu pergi dan aku pergi ke India, aku dan papa tidak mengurus lagi soal mantan mu. Info terakhir, dia menjual semua sahamnya ke seorang investor dan memutuskan pergi ke Bali" ucap Rayden.


"Sayang banget padahal usaha almarhum Kakek dan papa sangat maju" gumam Kara.


"Ya, apa yang dia tabur, dia tuai lah!"


"Kalau mantanmu?" Kara menatap Rayden yang hanya bisa terdiam.


"Dia sudah meninggal, Kara" bisik Rayden.


"Bagaimana bisa?" Kara benar-benar tidak mengikuti perkembangan berita karena dia fokus dengan dirinya sendiri.


"Setelah dihajar oleh mbak Rayna, rupanya membuat mentalnya terganggu dan dia termasuk tendensi suicidal. Ketika hendak diajukan ke sidang perdana, sipir penjara tidak aware akan hal itu. Mantan meninggal karena bunuh diri di dalam sel dengan menggantung dirinya sendiri."


Kara terkesiap. "Bagaimana dengan rekannya?"

__ADS_1


"Dipenjara seumur hidup karena percobaan pembunuhan dan penculikan."


Kara menghembuskan nafas lega. Setidaknya orang-orang yang jahat kepada mereka sudah tidak ada di dekatnya dan Rayden.


"Besok kita kembali ke Jakarta. Apa kamu sudah siap?" tanya Rayden.


"Insyaallah siap mas."


***


Kara melongo melihat rumah di hadapannya yang sangat berbeda dengan rumah Rayden yang kemarin. Memang tidak sebesar rumah lama tapi Kara suka desainnya.



Bu Sumi yang menyambut nyonyanya menangis terharu akhirnya Kara pulang ke rumah.


"Alhamdulillah nyonya sudah sehat lagi. Selamat datang di rumah baru nyonya. Kamar Nyonya ada di sebelah sini." Bu Sumi mengajak Kara ke lantai dua menuju kamar utamanya dengan Rayden.


Pintu canggih yang hanya bisa sidik jari Rayden dan Bu Sumi itu pun terbuka dan tampak kamar tidur yang luas lengkap dengan walk in closet dan kamar mandi dalam. Kara tersenyum karena warnanya bukan solid hitam, putih, abu-abu dan coklat.



Kamar utama mereka bernuansa broken white yang tampak terang dengan sedikit nuansa abu-abu, peach dan coklat muda.


"Kamu suka kamarnya?" bisik Rayden sambil memeluk Kara dari belakang.


"Suka banget! Warnanya aku suka" ucap Kara.


"Tuan dan Nyonya, makan malam sudah siap ya" pamit Bu Sumi meninggalkan kedua pasutri yang sempat berpisah itu dan menutup pintu kamar pelan.


"Kamu tahu, ketika kamu pergi, yang aku lihat perhiasan kamu masih lengkap dan tidak ada cincin kawin dan tunangan. Asumsiku, kamu pasti memakainya."


Kara menunjukkan kedua cincin itu di jari manisnya.


"Selama mas masih mau sama aku, tidak akan pernah aku lepaskan."


"Jangan pernah kamu lepaskan sampai kapanpun." Rayden mencium pipi Kara.


"Tidak, sayang."


***


Yuhuuu Up Sore Yaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2