
Kara terbangun dengan tubuh remuk redam setelah semalam ndulnya Rayden benar-benar buka puasa tanpa ada rasa puasnya. Gini amat ya suami puasa setahun jadi biksu langsung umpak-umpakan! Kara hanya menghela nafas panjang melihat banyaknya kiss Mark di tubuhnya terutama dada dan perut nya yang tidak mulus lagi setelah mendapatkan sayatan operasi Caesar.
Kara teringat semalam Rayden menciumi lama di perutnya sembari berbisik "Semoga kita segera diberikan adiknya Boy ya. Dan aku berjanji akan selalu menjagamu agar tidak mengalami apa yang terjadi kemarin."
Wanita cantik itu terharu mendengar ucapan Rayden karena sejujurnya kini dirinya sudah siap untuk memiliki anak kembali.
Suara pintu terbuka dan tampak Rayden dengan wajah sumringah membawakan sarapan untuknya. Pria itu mengenakan kaos warna hitam dan celana jeans selalu sempurna di mata Kara. Bagaimana bisa pria satu ini setelah hampir semalaman buka puasa masih bisa tampak segar dan menarik? Sedangkan dirinya lelah, lunglai, lesu.
"Sarapan dulu sayangku" ucap Rayden dengan nada riang dan bahagia.
Kara mengambil dasternya yang semalam dibuang sembarangan oleh Rayden dan memakainya.
"Kamu beli bubur ayam mas?" tanya Kara menerima baki yang berisi mangkuk bubur ayam, cakue banyak dan teh manis.
"Hu um. Jam segini kan yang sudah jualan bubur ayam dan kata bik Ijah, langgananmu yang di pojok jalan. Ya sudah aku jalan kesana meskipun dilihatin banyak orang sih" kekeh Rayden.
Kara melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
"Kayaknya kamu hari ini harus istirahat deh sayangku" ucap Rayden.
"Kenapa?" tanya Kara sambil menyendok bubur ayamnya.
"Apa kamu yakin bisa jalan?" goda Rayden.
Oh Astagaaaaa!
***
Kara benar-benar tepar hari ini hingga dia memutuskan meliburkan butiknya sehari. Bik Ijah yang paham majikannya semalam saling melepaskan rindu, membuatkan wedang jahe merah buat Kara dan memasakkan makanan yang enak-enak sesuai pesan Rayden.
Menikmati menjadi kaum rebahan di kamar membuat Kara bisa terbayang kembali bagaimana dirinya dan Rayden. Pria itu memang datang disaat yang tepat baik setelah perceraiannya maupun setelah dia sembuh dari Postpartum depression nya hingga sekarang Kara jauh lebih siap jika memang memiliki anak kembali.
Semalam Rayden benar-benar menjadi suami yang lemah lembut untuk unboxing pertama setelah setahun keduanya berpuasa. Tapi hanya yang pertama, setelahnya kumat deh ganasnya!
Kara tersenyum sendiri. Ternyata dirinya pun rindu tubuh suaminya yang seperti candu dan dirinya pun ikut berpartisipasi dalam kegiatan mereka semalam. Semoga kami diberikan kesempatan memiliki adiknya Boy. Kara mengelus perutnya yang rata.
Pagi tadi Rayden memang pamit hendak memeriksa pabrik milik Takahashi LLC bersama Jake dan Rafli.
"Mumpung aku disini sayang. Sekalian lah. Kamu minta dibawakan apa?" ucap Rayden tadi sebelum berangkat.
"Sate sapi pak kempleng mas. Aku pengen itu."
__ADS_1
"Okay sayang."
Kara tersenyum mengingat wajah Rayden yang tampak sumringah pagi ini dan lebih segar dibandingkan saat kemarin keduanya bertemu setelah setahun berpisah.
Semoga kami tidak mendapatkan cobaan lagi. Aamiin.
***
Rayden datang bersama Jake dan Rafli menjelang sore hari ke rumah Kara. Ketiganya melihat wanita cantik itu sudah menyiapkan meja makan untuk bersantap sate sapi pak kempleng yang dibawakan Rayden.
"Wah sudah siap sayang?" ujar Rayden sambil memeluk istrinya dan memberikan ciuman di pelipisnya.
Jake dan Rafli yang tadi seharian pergi bersama Rayden merasa bersyukur Bossnya sudah kembali dengan pawangnya karena hari ini mood bossnya sangat sangat baik. Pasti sudah buka puasa semalam jadi moodnya bagus tuh si boss. Durjana memang!
"Sudah. Ayo makan dulu" ajak Kara.
Kelimanya pun makan di meja makan menikmati sate pak kempleng sembari bercerita tentang kehidupan Rayden di India.
"Tuan Rayden apa pernah ketemu Shah Rukh Khan atau Aamir Khan atau Amitabh Bachchan?" tanya bik Ijah.
"Aku pernah bertemu dengan Aamir Khan dan Hrithik Roshan di sebuah restauran di Mumbai. Tidak sengaja sih" ucap Rayden.
"Ganteng pastinya ya tuan?" tanya Bik Ijah lagi.
Jake, Rafli dan Bik Ijah melongo lalu tertawa.
"Ya ampun tuan Rayden, mulutnya masih lemes ya?" gelak Bik Ijah.
"Boss, kasihanilah kita-kita yang masih jomblowan ini!" gerutu Rafli.
"Lha kamu dikejar Rani Mukherjee nggak mau!" cebik Rayden.
"Serius mas?" tanya Kara.
"Ada sekretaris dari GM di Mumbai wajahnya mirip Rani Mukherjee suka sama Rafli tapi dianya nggak mau!" kekeh Rayden.
"Jelas saya nggak mau nona, dia dari keluarga besar ada delapan saudaranya. Dia anak bontot. Bisa pusing saya" keluh Rafli yang disambut tawa Kara.
"Kan ramai tuh Raf!" ucap Kara.
"Nggak mau. Saya anak tunggal dan kalaupun dapat calon istri paling nggak saudaranya maksimal dua deh biar nggak ada drama" jawab Rafli.
__ADS_1
"Cari jodoh nawar ya Rafli sama Jake ini!" sahut Rayden.
"Iyalah boss! Wong saya yang menjalani kok!" ujar Jake.
Kara menikmati acara makan malam yang heboh di rumah kontrakannya apalagi selama setahun ini hanya dia dan bik Ijah disana.
***
"Kamu kapan bisa pulang ke Jakarta?" tanya Rayden setelah kedua asistennya kembali ke hotel dan kini pria itu di kamar bersama Kara.
"Mas masih ada perlu di India nggak?" Kara berbalik bertanya.
"Sebenarnya Minggu depan mas harus kembali ke New Delhi mengurus pabrik disana" jawab Rayden malas.
"Gini saja, mas selesaikan dulu urusan mas di New Delhi lalu bilang sama papa Abe buat ambil alih lagi perusahaan di Jakarta, pada saat itu aku akan ikut mas pulang ke Jakarta. Sementara mas ke New Delhi, aku tinggal disini dulu saja."
"Bagaimana dengan butiknya?" tanya Rayden yang tahu berkat bisnisnya ini Kara bisa move on dan kuat.
"Aku pindahkan ke Jakarta boleh nggak? Aku buka disana. Mungkin bisa sewa ruko kecil gitu yang dekat rumah. Eh mas memangnya sudah membeli rumah baru?"
"Begitu kamu pergi, mas langsung jual rumah itu dan membeli di area dekat kantor mas. Disana juga ramai dan misal kamu mau buka di dekat situ, mas ijinkan. Kan dekat kantor mas juga."
Kara langsung memeluk tubuh Rayden.
"Terimakasih mas Ray" bisiknya. Sejujurnya dia merasa sayang meninggalkan bisnisnya karena dengan memiliki butiknya, membuat Kara bisa seperti sekarang dan menghilangkan rasa depresinya. Bisa dikatakan, salah satu self healing bagi dirinya.
"Apapun asal kamu tetap semangat seperti aku juga lagi semangat-semangatnya menikmati dirimu, Kara Santanku" cengir Rayden.
"Haaaahhhh? Semalam kurang?" pelotot Kara.
"Sayangku, kan setahun puasa. Tega nian kau" Rayden menatap Kara sambil manyun. "Toh kamu juga suka dan agresif sama aku."
Wajah Kara memerah. "Mas RAAYDDEEENN!" desisnya.
Rayden tertawa dan membawa tubuh Kara ke dalam pelukannya. "I never bored with you, darling."
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️