Si Culun Dengan Mata Ke-2

Si Culun Dengan Mata Ke-2
Tak Tau Kenapa


__ADS_3

**✿❀🌷❀✿**


Pak Muji begitu terkejut saat melihat dokter Andre yang ada di sana, di sebelah ranjang Safa dan tidur dalam keadaan duduk. Rasanya tak percaya tapi kenyataan benar-benar adanya.


Berkali-kali pak Muji mengucek matanya supaya lebih jelas, entah dia salah lihat atau memang benar-benar nyata tapi ternyata benar, dokter Andre ada di sana menemani Safa.


Hal yang membuat pak Muji semakin terkejut adalah dokter Andre tertidur dengan duduk dengan tangannya berpegangan dengan tangan Safa seolah tak mau saling melepaskan. Ada hubungan apa mereka berdua, kenapa mereka begitu dekat seperti ini.


Apakah Safa dan juga dokter Andre memang ada hubungan yang dekat tapi tidak di ketahui olehnya? atau mungkin ada hal lain yang membuat keduanya melakukan hal itu?


"Sebenarnya ada hubungan apa mereka berdua?" pak Muji beranjak, dia ingin membangunkan dokter Andre. Bukan karena dia tidak rela dia ada dan dekat dengan Safa tapi karena dia merasa kasihan melihat dokter Andre yang tidur dengan duduk dan terus menundukkan wajahnya itu pasti akan membuat punggungnya sakit.


"Dok, dok," tangan


pak Muji menyentuh perlahan pundak dokter Andre berbicara dengan perlahan supaya tidak ada benar-benar mengejutkan.


"Hem," sekali wajah dokter Andre menggeleng dengan perlahan matanya yang terbuka. Ingin dia menarik tangannya karena ingin mengusap matanya tapi tangannya begitu erat di genggam Safa yang tertidur pulas.


"Maaf," dokter Andre sangat menyesalkan apa yang terjadi, dia takut kalau pak Muji akan berpikir yang macam-macam dengan apa yang dia lihat padahal semua yang terlihat pasti akan sangat berbeda dengan kenyataan.


Bisa saja pak Muji memikirkan hal-hal negatif tentangnya, bisa saja dia berpikir kalau dirinya hanya ingin mengambil keuntungan dengan kejadian ini dan hanya ingin mendekati Safa. Itu tidak benar.


"Maaf, Pak. Semua ini bukan seperti yang Anda pikirkan, semalam Safa..."


"Tidak, saya tidak mau saya tidak mau!"


Ucapan dokter Andre terpotong karena Safa yang tiba-tiba berteriak histeris dengan mata yang tertutup, dia mengigau. Entah apa yang membuat dia kembali seperti ini lagi.


"Safa, Safa," pak Muji berusaha membangunkan Safa.

__ADS_1


Wajah Safa terus menggeleng, wajahnya tercetak jelas dia begitu ketakutan keringatnya keluar dari semua pori-pori dan membasahi wajahnya.


"Tidak, tidak! saya tidak mau, tidak!" Safa semakin keras menjerit itu membuat bu Yati juga terbangun. Dia sangat terkejut mendengar anaknya yang kembali menjerit-jerit ketakutan.


Tangannya Safa semakin erat memegangi tangan dokter Andre bahkan kukunya sampai melukai tangannya.


"Safa, Safa," dokter Andre pun ikut panik dia berusaha membangunkan Safa.


"Akk... tidak!" akhirnya Safa terbangun dia langsung duduk dengan keringat yang terus mengucur deras.


Ketiganya yang ada di sana begitu bingung karena tak tau apa yang terjadi kepada Safa.


Terlihat nafasnya tersengal, dadanya naik turun, keringat keluar hampir sebesar biji jagung dengan tubuh yang gemetar kuat. Bukan itu saja tapi matanya juga melotot kosong menerawang jauh.


"Nyebut, Fa. Nyebut," ucap bu Yati.


"Safa, kamu baik-baik saja?" tanya dokter Andre dengan menyentuh bahunya.


Safa menoleh ke arah dokter Andre, sejenak dia menatap mata dokter Andre yang terlihat begitu bingung.


"Ada apa?" tanya dokter Andre lagi.


"Emangnya Safa kenapa?" lah, Safa malah balik tanya. Benarkah dia tidak tau apa yang terjadi padanya atau dia hanya pura-pura lupa saja?


Bukan hanya dokter Andre saja yang menjadi bingung tapi pak Muji juga bu Yati apalagi mereka sama-sama bingung hingga saling lempar pandang.


"Emangnya apa yang terjadi, Dok?" tanya Safa lagi.


"Hem? kamu benar-benar tidak ingat apapun?" dokter Andre menegaskan tapi Safa malah menggeleng.

__ADS_1


'Apa yang terjadi pada Safa, apakah dia benar-benar lupa, tidak tau atau hanya sekedar ingin menyembunyikan segalanya?' batin dokter Andre.


Safa menunduk dan berakhir melihat tangannya yang masih menyatu dengan tangan dokter Andre, mata Safa seketika membulat karena mengetahui tangan dokter Andre berdarah karena kukunya.


"Astaghfirullah! dokter terluka!" Safa begitu panik tangannya seketika mengangkat tangan dokter Andre.


"Kenapa bisa seperti ini?" Safa bingung sendiri dia tak sadar kalau yang telah membuat luka itu adalah dirinya sendiri.


"Astaghfirullah, Dok!" pak Muji juga tak percaya.


"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil nanti juga sembuh," dokter Andre tersenyum dengan begitu ramah.


"Tapi ini berdarah, bagaimana kalau sampai infeksi," Safa begitu khawatir. Mendengar kata infeksi yang dia ucapkan sendiri itu membuat dia sudah merinding.


"Kenapa kamu takut begitu, aku kan seorang dokter," dokter Andre menoel hidung Safa hanya begitu tegang karena begitu takut.


"Dokter juga bisa sakit kan?" tanpa di minta Safa langsung mengambil tisu dan mengusap darah yang keluar.


Hal itu tentu tidak lepas dari penglihatan pak Muji juga bu Yati yang ada di sana. Bermarkas mereka tidak ada hubungan apa-apa? sepertinya tidak mungkin kalau melihat kedekatan mereka berdua yang seperti ini.


'Dokter Andre memang pria yang sangat baik, dia juga sangat luar biasa karena sudah menjadi dokter hebat di usia muda. Tapi Safa masih terlalu kecil untuk menjalin sebuah hubungan yang serius. Dia harus fokus dengan sekolahnya,' batin pak Muji.


Bu Yati mengusap pundak suaminya yang terlihat jelas begitu gelisah melihat kedekatan anak gadisnya dengan dokter yang belum lama mereka kenal.


Meski hanya dengan bahasa isyarat tapi pak Muji tau apa yang di inginkan oleh istrinya, dia diam dan membiarkan apa yang ingin di lakukan oleh anaknya. Semua itu juga sebagai tanggung jawab karena telah melukai tangan dokter Andre kan?


"Sudah, Fa. Ini tidak akan apa-apa," ucap dokter Andre dan ingin menarik tangannya karena merasa tidak enak dengan kedua orang tua Safa.


"Bentar, Dok. Ini harus di bersihkan kalau tidak ini akan jadi infeksi. Nanti kalau infeksi aku yang di tuntut," ocehnya dengan mata terus fokus ke arah luka di tangan dokter Andre.

__ADS_1


**✿❀🌷❀✿**


Bersambung....


__ADS_2