
**✿❀🌷❀✿**
Keringat begitu membasahi wajah Safa, dia begitu ketakutan akan bayang-bayang yang terus dia lihat tadi. Seakan sosok itu terus mengejarnya padahal sama sekali tidak ada.
Nafasnya begitu terengah, dadanya naik turun dengan tidak teratur. Safa sangat ketakutan.
Sesekali dia menoleh sekedar memastikan sesekali juga telapak tangannya mengusap wajahnya dengan kasar karena merasa sedikit frustasi. Ini adalah hal baru, pengalaman baru yang baru terjadi di hidupnya.
Tubuhnya masih terus menggigil, gemetar dengan perasaan yang sangat tegang. Ya! dia sangat tegang karena takut sosok itu akan kembali muncul di hadapannya.
Balas kan dendam?
Apa yang sebenarnya dia inginkan darinya. Membalaskan dendam dengan siapa dan karena apa? kenapa harus dengan Safa dia minta tolong.
Dari jutaan orang di dunia kenapa harus dirinya kenapa bukan orang lain?
"Safa, apa yang terjadi? sebenarnya jamu dari mana?" dokter Andre begitu khawatir melihat keadaan Safa yang seperti sekarang ini, seumur-umur dia menjadi dokter di sana baru kali ini juga dia melihat orang yang begitu ketakutan seperti Safa saat ini.
Safa yang ketakutan bahkan dia lagi-lagi memeluk dokter Andre dengan begitu erat. Dia tak ingin melepaskannya.
Bukan karena Safa tertarik, mencari kesempatan dalam ketidakberdayaan tapi ini benar-benar murni karena dia ketakutan. Bukan modus karena ingin mendekati dokter Andre yang begitu tampan dan menawan, tidak! Safa hanya reflek saja mencari perlindungan dan kebetulan dokter Andre yang dia jumpai pertama kalinya.
"Safa, katakan padaku. Kamu kenapa?" dokter Andre begitu tak sabar, dia begitu penasaran dan ingin tau apa yang sebenarnya terjadi kepada Safa.
__ADS_1
"Tidak mau, Safa tidak mau," hanya kata itu yang Safa katakan wajahnya terus menggeleng di dalam dada dokter Andre yang terbalut dengan kemeja berwarna biru muda.
"Tidak mau apa, Fa. Apa yang kamu maksud? sekarang tenangkan dirimu dan katakan semuanya padaku."
Dokter Andre mencoba untuk melepaskan pelukan Safa tapi gadis itu malah semakin erat memeluknya. Dia sepertinya benar-benar ketakutan.
"Tidak mau," kembali Safa menggeleng dia tidak mau di lepaskan dari dokter Andre, dia merasa sangat nyaman dan aman di dalam dekapannya.
"Oke, sekarang aku antar kamu kembali ke kamar," hanya itu yang menjadi pilihan dokter Andre, dia juga tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari Safa yang terlihat begitu syok seperti sekarang ini.
Dengan tetap di rangkul dokter Andre mengantarkan Safa untuk kembali ke kamarnya Safa masih dalam masa pemulihan dan dia harus banyak istirahat. Matanya tidak akan baik kalau dia terus terjaga seperti sekarang ini apalagi di tengah malam.
Dengan tubuh yang gemeteran Safa melangkah, dia sama sekali tak mau melepaskan diri dari dokter Andre, dia juga terus merangkulnya. Begitu nyaman si Safa seperti dia sudah mengenal dokter Andre sejak lama padahal dia kenal hanya karena di rumah sakit ini.
Sampai di dalam ruangan Safa dan kedua orang tuanya masih saja tertidur. Entah mereka memang begitu kecapean hingga tidak mengetahui Safa yang keluar sendiri atau mungkin ada hal lain yang membuat mereka berdua tertidur begitu pulas seperti ini.
"Pelan-pelan," ucap dokter Andre ketika membantu Safa naik lagi ke atas ranjang. Bukan hanya membantu tapi dokter Andre juga menyelimuti Safa.
Safa benar-benar masih dalam ketakutan, dia langsung menangkap selimut dan dia tarik hingga batas lehernya. Matanya terus berkelana ke semua penjuru untuk memastikan tak ada apapun lagi yang ada di sana.
"Kamu istirahat lah, aku harus pulang," pamit dokter Andre.
Belum juga dokter Andre pergi Safa langsung menarik tangannya membuat sang empu berhenti dan kembali memandanginya.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan Safa, Safa takut," rengek nya. Wajahnya begitu pucat karena ketakutan.
"Tapi..."
"Safa mohon, jangan tinggalkan Safa. Safa tidak mau sendiri?" katanya lagi.
"Hem, bagaimana kalau aku bangunkan kedua orang tuamu?" tanya dokter Andre dan Safa menggeleng, dia tidak setuju dengan sarannya.
"Baiklah, aku akan tetap berada di sini tapi sekarang kamu tidur. Aku janji tidak akan pergi kemana-mana."
Dokter Andre langsung duduk di bangku di sebelah ranjang Safa dia mau menunggu gadis yang sebelumnya juga tidak dia kenal itu.
"Janji ya jangan pergi," kata Safa dengan tangan yang sama sekali tidak melepaskan tangan dokter Andre. Safa begitu kuat menggenggamnya.
"Iya, saya janji akan tetap di sini sampai besok," sepertinya dokter Andre benar sungguh-sungguh untuk tetap berada di sana dan menunggu Safa.
Perlahan Safa menutup matanya namun tangan masih tetap menggenggam tangan dokter Andre. Dokter Andre pun juga membiarkan hal itu mungkin itu bisa membuatnya merasa lebih nyaman dan merasa aman.
Di tatap wajah Safa, dia memang sangat cantik, wajahnya, hidungnya, bibirnya, alisnya dan semuanya begitu pas sesuai takaran. Dan sekarang adalah matanya. Tentu itu bukan hal baru dan tidak ingin dokter Andre lupakan untuk seumur hidupnya.
Dokter Andre menunduk dengan tangan yang masih terus bertaut, matanya perlahan ikut terpejam dalam dia posisi duduk. Mungkin memang tidak akan enak tapi dia tidak mau mengganggu tidur Safa dan tidak mau pergi karena tak mau mengecewakannya.
**✿❀🌷❀✿**
__ADS_1