
**✿❀🌷❀✿**
Kepergian Safa membuat kecemasan yang begitu besar dari seluruh anggota keluarganya termasuk Agung yang kini sudah sampai rumah.
Agung terus mencoba untuk menghubungi Safa namun sama sekali tidak diangkat bahkan bosan yang Agung kirim berkali-kali sama sekali tidak mendapatkan balasan.
"Kamu di mana, Dek?" Agung begitu cemas dia berdiri di emperan rumah Menunggu Safa pulang.
Hingga akhirnya Agung berhenti mondar-mandir setelah ada mobil yang berhenti di depan rumahnya. Dan perlahan kedua pintu depan terbuka dan terlihatlah Safa juga Dokter Andre.
"Abang kenapa kayak cacing kepanasan begitu. Wajahnya juga kusut begitu?" Tanya Safa yang sangat tidak sadar kalau dirinya yang membuat Abangnya menjadi seperti itu dia begitu cemas dengan dirinya tetapi Safa malah terlihat santai ketika pulang dan seperti meledek.
"Kenapa kamu bilang? Abang seperti ini karena menunggu kamu pulang, Dek. Sebenarnya kamu pergi dari mana sih! Mana nggak ada kabar lagi. Besok-besok kalau mau pergi bilang dulu sama Abang atau sama ayah biar semuanya tidak khawatir seperti ini."
"Hehehe... Iya, Bang. Maaf. Safa kelupaan," Safa meringis seperti tak punya dosa melihat keadaan Abangnya yang seperti itu.
Agung begitu sayang pada kedua adiknya jadi jika salah satu di antara mereka kenapa-napa pasti dia lah yang sangat khawatir bahkan seperti ingin copot jantungnya. Apalagi, ketika kemarin mendapati Safa yang seperti itu.
"Maaf, saya yang mengajak Safa pergi, semua ini adalah salah saya jadi tolong jangan marahin Safa," dokter Andre angkat bicara dan kini menyadarkan Agung.
Dari tadi Agung terus fokus kepada Safa hingga dia tidak melihat kalau ternyata ada dokter Andre yang bersama Safa saat ini.
"Dokter, maaf. Bukan maksud saya seperti itu saya hanya selalu sensitif dengan Safa setelah kejadian itu, saya hanya takut dia akan kenapa-napa lagi."
__ADS_1
"Saya tau kekhawatiran kamu kepada Safa dan saya benar-benar minta maaf Saya janji tidak akan mengulangi hal ini lagi. Jika memang saya ada keperluan dengan Safa saya akan memberitahu kalian lebih dulu. Sekali lagi saya minta maaf."
Terlihat dokter Andre begitu sangat menyesal dengan kejadian ini biar bagaimanapun dia yang mengajak Safa pergi ke tempat Pak Kyai tanpa izin lebih dulu kepada kedua orang tuanya.
"Terima kasih atas pengertian dokter kepada keadaan kami kami hanya ingin hal yang kemarin tidak akan terulang lagi," Jawab Agung.
Dokter Andre mengangguk paham, hal ini memang tidak seharusnya terjadi tetapi dia melakukan ini juga karena merasa sangat kasihan kepada Safa setelah mendengar semua yang terjadi kepadanya. Bahkan Safa sendiri hanya mengatakan hal itu kepada dirinya tidak dengan semua keluarga, termasuk Agung.
"Mari masuk dulu, Dok," Ajak Agung.
"Terima kasih," dokter Andre penerima ajakan dari Agung. Semua itu dokter Andre lakukan semata-mata hanya untuk menjaga satu-satunya peninggalan istrinya yaitu mata Safa.
Dokter Andre jelas tidak akan membiarkan apapun terjadi kepada Safa karena itu juga akan mempengaruhi Safa, ralat, mata Sarah istrinya.
Semua menyambut dengan baik kedatangan dokter Andre di rumah mereka, semua itu juga karena merasa hutang budi karena telah membuat Safa kembali pulih seperti sedia kala dan kini Safa bisa melihat lagi dan bisa kembali tersenyum dan semangat untuk menggapai mimpi yang sempat tertunda.
**✿❀🌷❀✿**
Pernyataan dari pak Kyai membuat Safa sangat sibuk berpikir saat ini. Dia terus memikirkan akan keadaannya.
Memang Safa sudah meminta pak Kyai untuk menutup mata batinnya tapi ternyata itu tidak bisa hingga akhirnya pak Kyai memberikan pager untuk Safa supaya makhluk-makhluk itu tidak bisa melukainya.
"Apakah aku benar-benar akan bisa bersanding dengan mereka-mereka?" Safa terus mondar-mandir padahal dia juga belum ganti baju sama sekali bahkan dokter Andre juga masih berada di luar.
__ADS_1
"Kenapa tidak bisa di tutup saja sih?" gumamnya lagi.
Dengan mata batinnya terus terbuka otomatis Safa akan selalu melihat makhluk-makhluk lain yang menyeramkan, apakah Safa akan berani menjalani semua itu?
Krekk...
Baru saja Safa terdiam sudah ada sesuatu yang mengganggunya. Mungkin memang mereka-mereka tidak akan bisa melukai Safa tapi mereka tetap bisa menampakkan diri dan juga bisa mengganggunya, itu sama saja kan? Safa tidak akan bisa hidup tenang.
"Aku harus berani, aku harus membiasakan diri dengan semua ini," gumam nya.
Safa hanya berharap dia akan kuat dan tidak akan ketakutan, kalau dia ketakutan terus menerus dan tak bisa mengendalikan dirinya makan ancamannya adalah gila.
"Siapapun kalian, aku tidak pernah mengganggu kalian jadi saya mohon kalian juga tidak akan menggangu saya. Kita bisa saling berdampingan tanpa harus merugikan dan melukai satu sama lain, Oke," Katanya.
Tekat Safa sudah sangat besar, karena bukan hanya membiasakan diri saja yang harus Safa lakukan tetapi dia mengemban tugas yang sangat berat dari pemilik mata tersebut, dia menginginkan Safa membalaskan dendamnya tapi Safa harus bisa melakukannya tapi dengan cara yang benar.
Kejahatan memang harus mendapatkan hukuman dan itulah kodratnya, tapi Safa harus bisa mengendalikan diri supaya dia tidak akan melukai siapapun namun tugasnya bisa beres.
Hem... Sungguh rumit...
**✿❀🌷❀✿**
Bersambung...
__ADS_1