
**✿❀🌷❀✿**
Mata Safa perlahan mulai terbuka dia mulai sadar akan pingsan yang diakibatkan karena ketakutannya yang melihat kejadian yang begitu mengerikan.
Kejadian pembunuhan secara tidak langsung karena orang yang meninggal terjun dari lantai atas bukan karena diakibatkan sebuah dorongan dari tangan orang orang lain.
Matanya seketika melihat langit-langit yang berwarna putih bersih dengan lampu yang menyala. Safa sangat bingung matanya mengernyit seolah ingin memastikan keberadaannya saat ini, tetapi dia tidak mengenal tempat yang begitu asing yang dia tempati saat ini.
Perlahan Safa beralih duduk dan semakin mengedarkan pandangannya ke arah seluruh penjuru yang mampu dia gapai dengan matanya.
"Ini di mana?" gumamnya.
Safa benar-benar tidak tahu di mana dia sekarang atau di kamar siapa yang dia ingat hanya sebelum dia tak sadarkan diri dan mendengar Jordan dan dokter Andre yang tengah berdebat satu sama lain karena memperebutkan dirinya.
"Apakah ini kamar dokter Andre atau mungkin kamar Kak Jordan?" Hanya dua orang itu yang Safa pikirkan tidak mungkin ada yang lain karena mereka berdua yang dilihat sebelum dia tak sadarkan diri.
Kepalanya rasanya sangat pusing padahal Safa sangat ingat kalau dia tidak terbentur apapun karena sebelumnya dia terjatuh Jordan dan juga Andre sudah menangkapnya lebih dulu.
Sesekali mata Safa terpejam juga sesekali dia menggelengkan wajahnya untuk menghilangkan rasa sakit kepala yang benar-benar sangat luar biasa. Apakah rasa sakit ini akibat semua yang telah Safa lihat?
Matanya yang terbuka lagi tak sengaja melihat jam dinding yang bertengger di atas pintu dan sudah menunjukkan pukul 09.30 malam.
Safa mulai panik padahal seharusnya dia harus pulang jam 09.00 malam namun sekarang sudah begitu terlambat dan dia masih berada di sana. Kedua orang tuanya dan juga Agung abangnya pasti sangat khawatir menunggu di rumah.
"Aku harus pulang." Meski masih merasa sangat pusing Safa dengan cepat turun dari ranjang tak peduli lagi itu kamar siapa dan ranjang punya siapa yang terpenting Safa harus segera pulang.
Safa mengambil tas yang tergeletak di nakas memeriksa sebentar apakah ada yang hilang atau tidak namun ternyata semua masih utuh. Lagian apa yang ada di dalam hanya beberapa lembar uang puluhan ribu saja.
Setelah berhasil memastikan tidak ada yang hilang siapa segera memakainya dan berlari menuju ke arah pintu. Dia begitu buru-buru membuka namun sayang sungguh sayang pintu itu terkunci dan Safa tidak bisa membukanya meskipun dia menarik sangat kuat.
"Kok di kunci sih!" Safa semakin panik dia terus berusaha menarik pintu namun tetap saja tidak berhasil. Dia menghentikan gerakannya dan mengedarkan pandangan siapa tahu dia bisa keluar dari kamar itu melalui pintu lain atau mungkin bisa dari jendela.
__ADS_1
Tidak ada pintu lain selain pintu menuju kamar mandi juga tidak ada jendela yang bisa dilewati karena terdapat dua jendela namun ada besinya yang tidak mungkin akan dia bisa. Apakah dia benar-benar akan terkurung di sana selamanya? Pikir siapa yang semakin gusar.
"Bagaimana aku bisa keluar?" kembali Safa menoleh ke arah pintu dan tangan juga kembali bergerak untuk berusaha membuka pintu namun ternyata sama Saja dia tidak bisa membuka pintu tersebut.
"Hey, siapa di luar! Tolong bukakan pintu, saya terkunci di sini. Tolong!"
Brak brak brak...
Tangannya bergerak untuk menggedor pintu dan mulutnya berteriak siapa tahu akan ada orang yang mendengar dan bisa menolong dirinya supaya bisa terlepas dari gambar itu lalu bisa pulang meski sudah sangat terlambat.
"Tolong! Tolong!" Teriaknya lagi namun tetap saja tidak ada yang datang untuk menolongnya apakah benar tidak ada yang mendengar suara teriakan dan juga tangan yang terus menggedor pintu?
"Bagaimana ini?" Safa semakin bingung dia harus lewat mana tapi yang jelas dia harus bisa keluar.
"Akk!" Baru saja Safa menoleh dia dikejutkan dengan kedatangan teman baru Safa yang hanya dia saja yang bisa melihat.
Melihat sahabat terkejut teman barunya itu malah tersenyum dia meledeknya karena merasa Safa terlihat sangat menggemaskan di matanya.
Tetapi teman baru yang begitu cantik dengan wajah bule dan juga pakaian ala Putri Belanda itu hanya tersenyum. Tentu hal itu membuat Safa semakin bertambah kesal saja.
"Bukannya memberikan saran atau petunjuk supaya bisa keluar dari sini tapi malah cengar-cengir tidak jelas dasar," gerutu Siapa yang semakin menjadi amarahnya.
Apakah Kinanti teman barunya siapa itu tidak mengerti bahasanya? Atau mungkin dia hanya malas bicara saja karena Safa selalu begitu cerewet?
Baru saja Safa selesai berbicara lampu di kamar itu tiba-tiba mati membuat Safa sangat bingung. Dia takut tapi dia berusaha untuk bisa mengendalikan dirinya karena Safa tahu itu bukan murni karena lampu padam tetapi ada makhluk yang akan datang.
"Kinanti, Kinanti kamu tau nggak siapa yang akan datang?" Safa iseng bertanya kepada Kinanti yang dari tadi hanya diam tapi berharap kali ini dia bicara dan menjawab.
Kinanti tidak menjawab apa yang menjadi pertanyaan Safa kepadanya tetapi dia hanya memberikan isyarat dengan cara menggelengkan kepalanya. Itu sangat jelas kalau dia tidak tahu siapa yang akan datang bahkan Kinanti juga beralih berada di belakang Safa. Apakah dia takut?
Kalau memang nanti takut otomatis makhluk yang akan datang itu lebih kuat daripada Kinanti.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Safa keheranan melihat Kinanti yang takut kepada makhluk yang belum datang.
Emangnya ada ya? Sesama makhluk tak kasat mata tetapi ada yang takut jika kedatangan makhluk lain. Apa mungkin makhluk tak kasat mata itu sama seperti manusia yang terkadang takut dengan manusia yang lain yang lebih kuat dari dirinya? Mungkin.
Lampu di rumah di kamar itu tiba-tiba kembali menyala namun hanya sebentar lalu padam lagi dan menyala lagi dan terus seperti itu hingga berulang kali. Terasa ada hembusan angin yang begitu dingin dan terasa membuat keadaan menjadi tegang.
Sapa terus melihat ke segala penjuru melihat sosok yang datang, namun belum juga dilihat.
Prank...
"Akk!" Safa berteriak begitu kuat saat tiba-tiba saja vas yang ada di atas nafas terbang sendiri lalu jatuh ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
Siapa yang tidak akan terkejut saat berada dalam situasi yang seperti Safa saat ini. Safa mundur hingga punggungnya terbentur pintu dan tidak bisa mundur lagi. Jelas dia mulai ketakutan.
"Si_siapa?!" Suara Safa sudah gemetar meski suaranya sedikit berteriak namun tetap suaranya itu tersendat dan mengisyaratkan kalau dia sudah mulai ketakutan.
Ternyata rumah yang begitu besar dan terlihat begitu indah menyimpan sejuta misteri dan tentunya menyimpan sejuta makhluk tak kasat mata yang bisa saja mengganggu dan melukai penghuninya.
Tapi sepertinya tidak! Mereka tidak mengganggu ataupun mencelakai penghuninya karena terlihat dokter Andre dan juga Jordan begitu bahagia tinggal di sana seolah tidak ada yang menjadi bebannya.
Tapi kenapa Safa? Safa hanya datang ke sana karena undangan dan tidak ada niat untuk mengganggu siapapun apalagi mengganggu makhluk-makhluk yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Atau kamu mungkin karena Safa bisa melihat mereka semua hingga mereka mengganggu Safa?
Mata Safa terbelalak ketika melihat sosok hitam besar dan sangat menakutkan bahkan matanya juga merah besar-besar lagi.
"Ki_Kinanti," Safa Ingin menggapai Kinanti yang tadi ada di belakangnya tapi tidak bisa, Safa menoleh dan ternyata Kinanti sudah tidak ada.
Sungguh sial sudah dikurung di sana dan sekarang mengalami hal yang seperti ini bahkan teman tak kasat matanya juga meninggalkan dirinya.
"Safa..." suaranya begitu pelan begitu lirih namun terasa sangat menakutkan.
**✿❀🌷❀✿**
__ADS_1
Bersambung...