
**✿❀🌷❀✿**
Angelina dan kedua sahabatnya terlihat sangat terkejut ketika Jordan datang dan langsung membela Safa. Apalagi dia tidak malu dan merangkul pundak Safa yang juga terkejut karena kedatangannya.
"Jangan kamu berani-berani untuk melukainya atau kamu akan berhadapan dengan ku," ucap Jordan.
Angelina dan kedua sahabatnya semakin terkejut dengan Jordan, jelas-jelas kemarin dia masih sangat membenci Safa tapi kenapa sekarang menjadi seperti ini? Tidak mungkin Jordan mulai suka dengan Safa kan?
"Kak Jordan, kakak membelanya?!" mata Angelina membulat tidak percaya bahkan tangan yang semula berada di depan dada sekarang sudah turun.
"Terus kenapa, apa masalah untuk ku?" begitu sinis Jordan berbicara.
"Ingat baik-baik ya, jangan pernah ganggu Safa lagi atau kalian bakal menyesal," ancam Jordan.
Ancaman Jordan memang bukan karena dia sendiri tapi ancaman itu datang karena apa yang terjadi kepadanya kemarin ketika di acara ulang tahunnya.
Jika dia sendiri bisa mengalami hal itu bisa jadi semua orang yang menindas Safa juga akan merasakan hal yang sama. Tetapi, bukan berarti karena dia melindungi Angelina, tapi karena dia juga tidak mau ada korban.
"Kakak?!" Angelina memekik tak percaya. Apalagi ketika Jordan merangkul Safa dengan erat dan menuntunnya pergi dari hadapannya.
"Aku tidak akan biarkan itu terjadi, Culun. Kamu tidak boleh mendapatkan perhatian dari kak Jordan, dia hanya milikku, milikku!"
__ADS_1
Mata Angelina membulat tajam melihat kepergian Safa dan juga Jordan di hadapannya. Dia sangat jengkel dan marah tentunya bahkan kedua tangan sudah mengepal.
"Kamu benar, ini tidak bisa di biarkan," Renata berjalan maju ke dan berdiri di sebelahnya begitu juga dengan Bianca. Mereka bertiga memang benar-benar kompak dan sepertinya ingin kembali merencanakan sesuatu pada Safa.
Sementara Safa, dia langsung melepaskan diri dari Jordan setelah jauh dari tempat di mana Angelina berada. Safa langsung menghindar ketika Jordan ingin merangkul lagi.
"Stop ya, Kak! Jangan pegang-pegang Safa. Apa kak Jordan tidak takut sampai hal yang seperti kemarin terjadi lagi?" ucapan Safa begitu tegas dia tidak ingin kejadian kemarin kembali terulang.
"Maaf, Safa. Aku tidak bermaksud, aku hanya tidak suka kamu di bully oleh mereka. Dan ya! Seharusnya kamu jangan diam saja ketika mereka melakukan itu padaku. Kamu harus melawan," ucap Jordan.
"Maaf, Kak. Tapi aku tidak suka kekerasan." Safa ingin melenggang pergi tetapi Jordan kembali meraih tangannya.
"Tunggu dulu, Fa. Aku masih mau bicara."
"Katakan dengan jujur, sebenarnya apa yang terjadi kepada kamu, dan juga apa saja yang kamu lihat di rumahku kemarin aku tahu kamu pasti melihat hal-hal yang tidak aku dan keluarga tahu. Cepatlah katakan baru aku akan melepaskan_mu," ucap Jordan dengan syarat yang diberikan supaya dia melepaskan genggaman tangan Safa.
"Jangan aneh-aneh ya Kak, aku tidak melihat apapun. Seandainya aku tahu aku juga tidak akan mengatakan semuanya kepada Kak Jordan," Safa tetap bersikeras untuk menyembunyikan semua yang telah dia lihat kemarin. Dia benar-benar tidak mau menceritakan semuanya kepada Jordan.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau mengatakan semuanya kepadaku maka jangan harap aku akan melepaskan tanganmu, biarkan saja selamanya seperti ini." ucap Jordan yang tidak mau kalah dan lebih keras kepalanya dari Safa.
Entah memang sudah di siapkan atau mungkin karena kebetulan saja Jordan mengambil sesuatu dari dalam tas dan ternyata sebuah tali.
__ADS_1
Dengan sengaja Jordan mengikat tangan mereka dan bersatu, dengan ini pastilah Safa tidak akan bisa lepas dari Jordan.
"Kak, ini apa-apaan sih!" Safa terlihat begitu kesal. Matanya melotot dengan bergantian melihat ke arah wajah Jordan yang terlihat fokus saat mengikat tangan mereka dan berpindah ke tangan.
"Stts! jangan berisik! ini semua juga karena kamu sendiri jadi jangan salahkan aku," ucap Jordan.
Setelah selesai mengikatnya Jordan langsung menarik tangan Safa.
"Kak!" tentu Safa akan terpekik setelahnya tapi Jordan tetap tidak peduli dan kini malah mengajak Safa untuk masuk ke perpustakaan.
"Kak, Safa harus ke kelas!"
"Berisik! diam dan menurut_lah," Jordan sebentar menoleh dan kembali lagi fokus ke perpustakaan.
Jordan terus berjalan kesana-kemari ketika di perpustakaan, mencari-cari buku yang entah Safa sendiri tidak tau.
Begitu banyak pasang mata yang melihat tapi Jordan tak peduli dan terus melangkah sementara Safa? dia lebih sedikit takut melihat tatapan-tatapan mata dari semua yang seolah menghakimi Safa.
Tentu itu akan Safa dapat mengingat Jordan adalah laki-laki dambaan bagi semua orang.
"Kak!" sekali lagi Safa berteriak namun matanya sudah tidak lagi melihat ke arah Jordan.
__ADS_1
**✿❀🌷❀✿**
Bersambung....