Si Culun Dengan Mata Ke-2

Si Culun Dengan Mata Ke-2
Memohon bantuan


__ADS_3

**✿❀🌷❀✿**


Semua mata menatap penuh terpaku melihat Safa yang ada di atas Jordan. Tubuh mereka yang saling tumpang pasti memunculkan pikiran negatif bagi siapapun yang telah melihatnya.


Semua benar-benar tidak percaya namun tetap percaya karena melihat dengan kedua mata mereka masing-masing.


Safa dan juga Jordan yang ingin mengelak pun juga tidak akan bisa karena sudah terbukti. Apalagi mereka yang pergi berdua saja dan berada di tempat yang tak biasa di datangi, bahkan dari penjaga juga tidak pernah datang.


"Astaghfirullah, Safa Jordan! kalian ingin berbuat mes*m di sekolah!" kali ini yang berteriak adalah pak kepala sekolah yang datang terakhir dan langsung menyerobot masuk di antara keramaian.


Safa menggeleng, tidak mungkin dia akan melakukan hal itu. Apa yang terjadi benar-benar tidak seperti yang mereka semua pikirkan dan juga katakan. Semua terjadi karena tidak di sengaja.


"Tidak, Pak. Saya tidak melakukan itu!" Safa mengelak, jelas dia akan melakukan itu dan membela diri ketika semua orang menuduh dan tidak percaya padanya.


"Tidak bagaimana! jelas-jelas kita semua melihat kamu yang sedang melakukan itu dengan Jordan. Masih mau mengelak seperti apa lagi!" pak kepala sekolah tidak percaya begitu saja dengan Safa.


Safa tau, tidak akan mudah untuk menjelaskan semua ini pada semua orang. Sekarang harus bagaimana? siapa yang akan bisa membantu untuk menjelaskan apa yang telah terjadi.


"Kak, kak Jordan katakan pada semuanya semua ini tidak benar," ucap Safa yang begitu meminta kalau Jordan akan membantu menjelaskan semuanya.


"Urus saja sendiri," dengan entengnya Jordan malah bersedekap dada dan menyandarkan punggung di dinding.


"Kak, bantu aku menjelaskan pada semuanya!" ucapan Safa sudah semakin tinggi dari sebelumnya.


Tapi yang di ucapkan oleh Safa sama sekali tidak di hiraukan oleh Jordan. Jordan seperti menutup telinga dan tidak mau mendengar jeritan Safa sama sekali.


Tentu Safa sangat takut, bisa-bisa beasiswa yang full itu akan di cabut karena mengetahui apa yang mereka lihat tapi kenyataannya tidak sesuai. Iya kalau hanya di cabut beasiswa saja, kalau sampai di keluarkan dari sekolah itu bagaimana? Safa akan sekolah di mana lagi?


Bukan hanya akan susah mencari sekolah baru tapi kedua orang tuanya juga pasti akan sangat kecewa karena menganggap Safa yang melakukan hal yang tidak senonoh dengan Jordan.


"Kak, bantu Safa jelasin ke mereka semua!" Safa tetap merengek meminta Jordan untuk membantunya.

__ADS_1


"Apa yang bisa aku dapat dengan membantumu?" bisik Jordan. Hadeuh nih orang, ada orang yang lagi kesusahan malah dia pakai itung-itungan untuk bisa membantu. Bukankah itu yang di namakan dengan hal yang tidak ikhlas.


"Kak!" kesal jelas Safa sangat kesal, tapi takut itu yang lebih mendominasi di dalam hatinya.


"Kamu harus menuruti yang aku mau, bagaimana?" Jordan mengambil inisiatif lebih dulu untuk Safa, jelas dia tidak ingin rugi dengan apa yang akan dia lakukan.


Ucapan mereka berdua tentu tidak di dengar jelas oleh semuanya yang datang kalau sampai dengar pastilah Jordan yang akan menjadi tersangka utama. Dan Jordan tidak mau itu.


"Bagaimana?" ucap Jordan.


Safa terlihat sangat bingung, tapi hanya Jordan yang bisa membantunya. Kalau dia menolak maka beasiswa pasti akan di cabut atau mungkin dia di keluarkan sekalian dari sekolah itu.


"Oke, aku setuju," terpaksa Safa menurut apa yang di minta oleh Jordan.


Angin segar untuk Jordan, dia tersenyum sumringah karena syarat yang dia ajukan di terima oleh Safa. Entah apa yang ada dalam pikiran Jordan saat ini.


"Kalian, ikut bapak ke ruangan bapak!" titah pak kepala sekolah dan sudah melaju lebih dulu untuk meninggalkan semua orang. Mungkin dia sangat kesal melihat perbuatan Safa dan juga Jordan sekarang ini.


"Sudah, kamu tenang saja aku akan bantu," sementara Jordan dia tetap terlihat sangat tenang dan tak ada rasa takut sama sekali. Jelas dia tidak akan takut karena dia adalah anak dari salah satu orang yang menjadi donatur terbesar di sekolah itu.


"Beneran ya," Safa meminta Jordan untuk benar-benar meyakinkan dirinya kalau dia benar-benar akan membantu Safa. Hidup mati Safa di sekolah itu tergantung dengan Jordan sekarang.


"Hem," hanya itu saja yang Jordan katakan dan itu hanya singkat saja. Dia juga langsung beranjak dan berjalan lebih dulu meninggalkan Safa.


Semua tatapan sinis semakin menjadi untuk Safa, jelas mereka semua sangat membenci Safa yang dekat-dekat dengan Jordan. Bukan itu saja, tapi...


"Huu, dasar cupu ganjen!" seru salah satu dari mereka yang tentu sangat kesal dengan Safa saat ini. Mereka berpikir Safa lah yang telah menggoda Jordan dan mengajaknya masuk ke ruangan itu untuk bisa menggodanya.


"Udah wajah jelek, perilaku ternyata lebih jelek! dasar!" umpat yang satunya lagi.


"Huuuu!!!"

__ADS_1


Begitu keras semua orang menyoraki Safa dan menganggap Safa yang telah bersalah. Tentunya mereka tidak akan pernah menyalahkan Jordan karena dia adalah cowok idaman mereka.


"Ash... lama sekali kau ini," ternyata Jordan membalik karena Safa tak kunjung bergerak.


"Ayo cepat," ucapnya dengan tangan yang melakukan tugas nyata yaitu menarik tangan Safa di hadapan semua murid yang menatap sinis kepada Safa dan tentunya sekarang semakin sinis lagi tatapan mereka.


"Huu!" sorak mereka lagi.


"Diam!" ucap Jordan dalam sekali bentakan dan semuanya langsung kicep diam tanpa suara. Ternyata ampuh juga kata-kata Jordan. Hanya dalam sekali kata saja mampu membungkam mulut dari semua murid yang ada di sana.


"Ayo, lelet sekali kau ini," kesalnya dengan tangan yang terus menarik tangan Safa hingga Safa kewalahan mengikuti Jordan yang laju kakinya begitu cepat. Jelas, kaki Jordan sangat panjang berbeda dengan milik Safa yang terlihat pendek.


"Kak, pelan-pelan!" protes Safa.


"Makanya kamu itu banyak olahraga, jadi bisa cepat jalannya. Hanya jalan begini saja udah ngos-ngosan," ejek Jordan dengan terus mengabaikan wajah Safa sekarang.


Bisa saja Jordan kan pem_basket jadi dapat di maklumi kalau dia punya tubuh yang tinggi. Sementara Safa? tingginya saja hanya sebahu Jordan, bahkan masih di bawah bahunya.


Safa tak lagi bersuara selain hanya diam dan mengikuti Jordan untuk menuju ruangan pak kepala sekolah. Safa begitu was-was takut, bagaimana kalau sampai Jordan mengingkari kata-katanya sendiri.


"Kak, kakak benar-benar akan bantu Safa kan?" tanyanya lagi memastikan.


Tapi Jordan sama sekali tidak menjawab dan terus menarik Safa seperti menarik kambing.


"Kak," panggil Safa.


"Diam, berisik sekali kamu ini ya. Kalau aku tidak membantumu ya sudah terima nasib saja," katanya yang terdengar begitu kesal. Pastilah Jordan kesal karena Safa terus bicara.


**✿❀🌷❀✿**


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2