Si Culun Dengan Mata Ke-2

Si Culun Dengan Mata Ke-2
Khawatir


__ADS_3

**✿❀🌷❀✿**


Begitu bahagia Karin bisa menikmati malam yang begitu indah dengan Andre. Dia bisa memeluk tubuh kejar itu dan bisa tersenyum di hadapannya dan bisa melihat ketampanan dan juga senyum indah yang dulu milik temannya.


Tak ada salahnya kan kalau sekarang dia berharap bahwa saat menggantikan posisi sahabatnya itu untuk bisa memiliki Andre?


'Sudah sejak lama aku menginginkan ini, Ndre. Aku ingin dekat dengan mu dan aku ingin bisa hidup dengan mu. Aku ingin, bisa menggantikan posisi Sarah di hatimu. Terima aku, Ndre. Terima aku.' batinnya.


Seandainya Karin berani dia akan mengatakan secara langsung tapi tidak, dia tak punya keberanian itu. Ini bukan waktu yang tepat karena belum lama Sarah pergi.


Karin tersenyum, dia semakin menikmati tariannya dengan Andre. Meliuk-liuk dan terus bergerak mengikuti irama. Rasanya sungguh membahagiakan.


Tapi apa yang di rasakan oleh Karin tidak di rasakan oleh Andre, dia terus khawatir pada Safa. Mungkin tubuhnya bersama Karin saat ini tapi pikirannya dari tadi terus bersama Safa. Dia mengkhawatirkan gadis SMA itu.


Rasa khawatir yang sangat besar membuat Andre melepaskan dansanya dengan Karin. Perlahan namun pasti dan juga di hiasi senyum penuh sesal.


"Maaf, aku harus pergi," ucap Andre kepada Karin yang sebenarnya masih sangat menginginkan untuk berdansa dengan Andre.


"Mas, kamu mau kemana!" Teriak Karin dan mengejar Andre meski hanya beberapa langkah.


Andre tidak menjawab sepatah katapun pada Karin dia terus melangkah hingga akhir dia menaiki tangga satu persatu untuk bisa bertemu dengan Safa. Entah bagaimana keadaan gadis itu sekarang.


"Kamu harus menjadi milik ku, Mas Andre. Harus," gumam Karin seolah begitu menegaskan.


**✿❀🌷❀✿**


"Hentikan, aku mohon hentikan!" pinta Safa yang sangat tak tega melihat Jordan yang begitu menahan sakit.


Safa menangis, tapi bukan karena dia takut dengan sosok itu melainkan dia takut kalau terjadi apa-apa dengan Jordan. Meski dia sangat menyebalkan karena selalu menghinanya tapi dia tidak seperti Jordan kan?


Dengan sekuat tenaga Safa beranjak dari sofa untuk bisa menolong Jordan entah dengan apa dia akan bisa menolong tapi yang dia harus tetap bisa.


Perlahan namun pasti Safa bangkit meski tertatih dan sangat susah tapi dia bisa. Ternyata energi makhluk itu begitu kuat hingga membuat dia terasa begitu terhimpit. Seolah terhimpit sesuatu yang begitu berat.


"Sa_Safa," panggilan Jordan sudah sangat lemah, dia masih saja bergelantungan di sana karena ulah dari makhluk tinggi besar hitam bermata merah itu. Banyak yang mengatakan itu adalah sosok genderuwo.


Safa hanya penasaran, kenapa dia begitu marah kepada Jordan sampai-sampai melakukan hal itu. Apakah dia marah karena dia ingin mencelakai Safa tadi?

__ADS_1


"Saya mohon, hentikan! 'Uhuk uhuk'!" Safa berhasil berjalan tapi kakinya juga terasa sangat berat.


Sebenarnya apa yang Genderuwo itu inginkan, kenapa dia begitu marah seperti ini?


"Kak Jordan," panggilnya.


Dengan penuh keberanian dan juga usahanya Safa semakin dekat. Hatinya terus merapalkan sebuah doa yang di berikan oleh pak Kyai. Sepertinya Safa benar-benar harus mulai menguasai semuanya supaya dia bisa membantu orang-orang yang mendapatkan gangguan dari mereka-mereka.


Pagar hati Safa sebenarnya belum begitu kuat tapi entah kenapa para makhluk itu tak bisa masuk ke dalam tubuhnya untuk merasuki tapi mereka bisa menyakiti saja di bagian luar. Sungguh berbahaya.


Genderuwo itu terlihat mulai marah tapi juga terlihat kesakitan, mungkinkah semua itu karena doa yang Safa rapalkan? Mungkin.


Brakk....


Jordan di lepas begitu saja dari udara dan di biarkan jatuh dengan keras begitu saja.


"Kak!" Safa berlari dengan sangat kuat menghampiri Jordan yang terlihat lemas di pojokan karena bekas di banting oleh makhluk itu. Tapi sekarang, dengan tak ada rasa bersalah ataupun apa dia menghilang begitu saja.


Uhuk uhuk uhuk.....


Rasanya begitu menyesakkan, tercekik sesuatu yang tidak di lihat oleh Jordan. Bingung? Tentu dia sangat bingung. Tidak percaya? Mungkin sempat terlintas kata itu tapi dia benar-benar merasakan sakitnya, tidak mungkin itu tidak ada.


Tapi sekarang? Dia seolah di paksa untuk percaya meski semua masih belum jelas. Seandainya dia bisa melihat langsung seperti apa makhluk itu pasti dia akan langsung percaya.


"Kak, kakak tidak apa-apa kan?" Safa kembali menangis, dia begitu berani menyentuh pipi Jordan yang ingin memejamkan mata.


"Kak, kakak jangan pingsan aku mohon. Kak, bangun!" teriaknya. Tangannya terus bergerak menepuk-nepuk pipi juga menggoyangkan tubuh Jordan yang terasa begitu lemas.


Mungkin begitu sakit hingga Jordan ingin menutup matanya, tapi itu bukan karena dia ingin pingsan tapi karena dia berusaha menahan rasa sakitnya.


"Kak!" teriak Safa lagi. Bagaimana mungkin dia tidak takut? Kalau sampai Jordan kenapa-napa pasti dia yang akan jadi tersangka utamanya.


"A_aku tidak apa-apa, Fa," Jordan menjawab. Matanya perlahan terbuka meski masih terlihat sayu-sayu.


Plukk...


Begitu bahagia rasanya bisa mendengar suara Jordan dan dia tidak apa-apa Safa langsung memeluknya begitu saja, dia benar-benar ketakutan tadi.

__ADS_1


Jordan yang mendapat pelukan tiba-tiba seperti itu hanya diam terpaku. Matanya yang semula hanya terbuka kecil saja sekarang membulat begitu lebar dengan kedua tangan mengambang di udara dan belum membalas pelukan Safa.


Keduanya terdiam, Jordan yang membeku juga Safa yang masih menangis. Jordan mengikuti instingnya yang datang perlahan tangannya membalas pelukan Safa hingga akhirnya memeluk dengan erat juga.


Rasanya begitu nyaman memeluk Safa, Jordan mengaku itu. Meskipun tubuhnya masih gemetar dan jantung masih terus tak seirama tapi hati seolah mulai menghadirkan rasa asing baginya.


Satu rasa yang membuat Jordan merasa begitu bahagia dan juga merasa nyaman. Nafas yang tersengal kini perlahan mulai teratur karenanya.


Tak dapat terelakkan lagi Jordan sangat nyaman dalam posisi itu. Kebenciannya seolah hilang dari dirinya dan terganti dengan rasa asing yang semakin terasa.


"Kak, kakak tidak apa-apa kan?" Kembali Safa bertanya, melepaskan pelukan untuk melihat bagaimana wajah Jordan. Tapi, belum juga berhasil Jordan kembali menarik Safa kedalam pelukannya.


"Biarkan seperti ini dulu, aku mohon," kata Jordan.


Aku? Bahkan sekarang Jordan sudah begitu wasis mengatakan 'Aku' pada Safa. Yang biasanya 'Loh gue' sekarang jadi 'Aku'.


Safa tak mampu menolak, dia menerima keinginan Jordan dan berdiam diri di dalam dekapannya.


Mata Jordan tertutup dia ingin memastikan sebuah rasa yang ada dua dalam hatinya, benarkah dia begitu nyaman dengan Safa?


Perlahan mata kembali terbuka, ya! Jordan mendapatkan jawaban itu. Kenyamanan itu dia dapatkan pada Safa.


Haruskah Jordan senang karena bisa merasakan rasa itu dengan Safa?


Ataukah dia harus sedih karena rasa itu muncul di saat dia bersama dengan gadis culun yang sangat ingin dia jauhi?


Perlahan Jordan melepaskan kedua tangannya memegangi kedua bahu Safa dan sedikit mendorong hingga sedikit menjauh.


"Jangan menangis, aku tidak apa-apa," katanya dengan tangan bergerak menghapus air mata Safa.


"Hem.." Safa mengangguk pelan dan ikut menghapus air matanya sendiri.


Tidak mereka sadari kalau ada seseorang yang melihat mereka berdua yang seperti itu. Dari mereka berpelukan sampai sekarang menghapus air mata Safa secara bersamaan dan juga saling tersenyum meski terlihat tertahan. Tapi senyum itu terlihat begitu tulus, hanya tertahan karena rasa sakit juga rasa takut.


Andre. Yah! Dia adalah Andre.


**✿❀🌷❀✿**

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2