Si Culun Dengan Mata Ke-2

Si Culun Dengan Mata Ke-2
Kembali Sekolah


__ADS_3

**✿❀🌷❀✿**


Seperti biasa Safa akan berangkat ke sekolah dengan diantar oleh sang Abang dengan mengendarai motor. Rok abu-abu, baju putih, tas punggung berwarna hitam juga tatanan rambut yang seperti biasanya di kepang kanan kiri ditambah dengan kacamata bulat yang menjadi kegemaran Safa.


Sebenarnya kali ini matanya sudah bisa melihat dengan jelas tanpa menggunakan kacamata tetapi Safa sudah terbiasa memakai kacamata dan dia lebih percaya diri dengan dandanan seperti itu sehingga dia memutuskan memakai kacamata meski hanya kacamata yang biasa saja.


Agung masih terlihat was-was meninggalkan siapa di sekolah jelas dia masih takut apa yang terjadi pada adiknya akan kembali terjadi lagi.


Seandainya bisa maka Agung memilih Safa untuk berpindah sekolah tetapi itu tidak diindahkan oleh Safa sendiri Safa sudah sangat nyaman berada di sana dan dia sangat yakin semua yang terjadi kepadanya kemarin tidak akan terjadi lagi.


Bukan karena itu saja tetapi Safa ingin mengetahui siapa pelaku yang membuat dirinya mengalami hal yang begitu menyedihkan dan itu tidak akan pernah bisa dia dapatkan jawaban Jika dia pindah dari sekolah itu ke sekolah yang lain.


"Dek, kamu hati-hati di sekolah jika ada sesuatu langsung lapor kepada guru atau petugas keamanan atau kalau tidak kamu cepat hubungi abang dan abang secepatnya datang untuk membantunya."


Agung membantu Safa melepaskan helm dan juga membantu merapikan rambut Supaya kembali rapi. Sedikit memberikan wejangan untuk kebaikan adiknya untuk bisa lebih berhati-hati dan berani melawan jika kejahatan kembali akan dilakukan.


"Iya abang. Sekarang abang cepat pergi gih. Nanti abang terlambat lagi, cepat pergi!" Safa cepat mendorong Agung yang masih tetap berada di sana.


"Iya, bawel!" Tangan Agung cepat mencubit hidung Safa dan membuatnya mengaduh juga wajahnya yang langsung berpaling.


"Abang!" Pekik Safa tak terima di perlakukan seperti itu.


"Cepat pergi sana!"'Safa kembali mengusir Agung dan kali ini berhasil membuat abangnya itu pergi.


Safa merasa sangat lega setelah Abangnya pergi dia juga langsung bergegas pergi ke kelas karena dia tahu bahwa pelajaran sebentar lagi akan dimulai Safa tidak ingin terlambat, dia adalah murid yang paling dan peraturan selalu dijaga sampai kapanpun. Waktu adalah ilmu itulah semboyan Safa percaya.


Langkah Safa terhenti ketika sampai di lapangan basket dia melihat kakak-kakak kelas yang tengah bermain basket dan salah satunya adalah orang yang begitu dikagumi oleh Safa. Dia adalah Jordan.


Laki-laki yang begitu tampan dan menjadi idola para murid wanita di sekolah tersebut Safa hanya bisa mengagumi tanpa berani mengatakan karena dia tahu akan dirinya yang tidak sesuai dengan wanita kriteria idaman dari Jordan.


Safa hanya melihat Jordan dengan bersembunyi dan tak berani memperlihatkan wajahnya karena Jordan juga begitu membenci dirinya bahkan selalu menghina dirinya seperti orang lain.

__ADS_1


Tetapi keinginan Safa untuk terus bersembunyi terus dengan dia melihat seorang anak kecil yang ada di lapangan basket dan hendak menangkap kupu-kupu.


Mata Safa melotot begitu bulat karena melihat gadis kecil itu terus mendekat dengan pasti bisa saja terkena dengan bola basket yang sedang mereka gunakan.


"Hem, sejak kapan ada anak kecil main di sini? Kenapa dia malah mau mendekat ke arah mereka bisa gawat ini."


Safa mau khawatir karena anak kecil tersebut terus berputar-putar mengejar kupu-kupu yang ada di sana itu sangat berbahaya.


Hingga pada saatnya Safa langsung berteriak dan berlari ketika bola mengarah ke anak tersebut itu pasti akan sangat menyakitkan sekali terkena memang kecil itu bisa terluka.


"Awas!" Safa berlari dengan kuat tentu dia ingin menghalangi pola tersebut supaya tidak sampai kepada anak kecil tersebut.


Teriakan Safa begitu menggema keras ke semua penjuru lapangan basket dan membuat semuanya menolak ke arah Safa yang sudah berlari, tentu semua sangat heran karena teriakan Safa tersebut tidak mendasar.


"Awas..." Sekali lagi Safa berteriak dia berlari ke arah bola itu akan jatuh hingga akhirnya...


Bugh...


"Hahaha! Si cupu kena bola. Mau latihan nyundul bola dia, hahaha!"


Bukannya menolong mereka semua malah menertawakan Safa yang sudah terjatuh di lantai.


"Heh! Cupu, loh ngapain ke sini, mau deketin Jordan seperti cewek-cewek yang lain? Ngaca dong, ngaca. Lihat wajah loh itu seperti apa?"


Begitu sinis omongan dari salah satu teman Jordan. Dia begitu tak suka akan kedatangan Safa bukan hanya dia saja tapi semuanya apalagi Jordan dia bahkan tidak mau mendekat.


Safa berdiri dengan berani, sudah cukup dia selalu mendapatkan hal yang seperti ini. Dia memang cupu tapi tidak dengan otaknya.


"Saya, ke sini untuk deketin Jordan? Maaf, bukan itu maksud kedatangan saya. Tapi saya ke sini hanya untuk menyelamatkan anak yang hampir terkena bola kalian," Jawab Safa yang sudah berhasil berdiri.


"Anak? Hahaha! Ternyata dia pinter ngelawak juga ya. Sejak kapan ada anak di sini. Hey semuanya! Apakah kalian lihat kalau ada anak di sini?!" Ucapnya dengan berteriak.

__ADS_1


"Heh cupu. Sebaiknya loh pergi dan tidak usah cari sensasi atau cari perhatian pada gue. Apapun yang loh lakuin tidak akan terpengaruh pada gue, ngerti!" Kini Jordan sendiri yang bicara.


"Heh, apa kamu tidak dengar apa yang aku katakan tadi. Aku ke sini hanya ingin menyelamatkan anak itu!" Tangan Safa menunjuk ke arah anak yang masih berlari di sana.


Semua mengikuti arah tangan Safa tapi tak ada siapapun yang ada di sana.


"Mana! Tidak ada siapapun di sana. Matamu bermasalah deh kayaknya." Jordan lagi.


"Hahaha, matanya dia kan memang sudah dari dulu bermasalah. Hahaha!kembali teman yang tadi tertawa.


"Hahaha!" Semua pun juga ikutan tertawa.


"Dia ada, benar-benar ada. Tuh lihat, dia sedang mengejar kupu-kupu!" Safa terus berusaha menjelaskan tapi tak ada satupun di antara mereka yang tau apa yang Safa lihat.


"Sama-sama, Bu. Nanti-nanti jangan biarkan anaknya main sendiri ya," Kata Safa begitu lembut.


"Mulai nggak waras ya loh! Jangan-jangan nggak masuk satu bulan lebih karena loh gila lagi," Begitu tak enak nada bicaranya Jordan.


"Heh, saya tidak gila seperti kalian ya. Kalian saja yang memang kompakan mau mempermalukan ku," Jawab Safa yang tetap kekeuh kalau yang dia lihat itu adalah nyata dan semua yang ada di sana hanya pura-pura tidak melihat karena ingin menertawakannya.


"Hey, pikir dulu sebelum bicara. Buat apa kami mempermalukan mu, kamu sendiri yang datang dan berteriak seperti orang gila, siapa sekarang yang berniat mempermalukan. Kami atau kamu sendiri?"


"Ya ya, kalian lah. Kalian kan memang suka melakukan itu. Kalian suka ngerjain orang jadi sudah jelas kalau kalian ngerjain saya sekarang."


"Nggak level!" Seru Jordan.


Semua langsung pergi dengan Jordan yang membawa bolanya yang dia taruh di pinggang dan dia pegang.


"Mereka benar atau aku yang salah ya?" Safa menoleh tapi dia masih melihat dia perempuan beda usia itu tengah berjalan menuju gudang kosong di paling ujung kelas.


**✿❀🌷❀✿**

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2