
**✿❀🌷❀✿**
Safa begitu ketakutan, wajahnya menunduk cepat dengan mata yang seketika dia tutup rapat. Ada sesuatu yang dia lihat namun tak di lihat oleh yang lainnya dan itu membuat semua orang terperanjat dan juga sangat khawatir.
Terlebih lagi dokter Andre dia kembali mendekat untuk memeriksa keadaan Safa siapa tau ada sesuatu yang dia rasakan di matanya.
"Safa, kamu kenapa, Fa?" Bu Yati sudah lebih dulu bertanya.
"Nak, apa yang terjadi. Apa ada yang kamu rasakan? Apakah ada yang sakit?" Giliran pak Muji yang bertanya.
"Safa, ada apa?" Agung pun tak mau kalah.
Mereka semua terlihat khawatir dan langsung menanyakan apa yang terjadi pada Safa.
Sementara Safa sendiri dia masih diam dalam ketakutan, dia tak berani membuka mata apalagi melihat ke arah sosok yang sangat menakutkan yang barusan dia lihat.
"Safa, apa matamu kembali sakit?" Tanya Dokter Andre.
Dia sudah kembali lagi di tempat semula bersiap untuk memeriksa Safa lagi yang mungkin matanya kembali bermasalah.
"Safa, katakan. Ada apa, jangan buat kami semua bingung," Cecar dokter Andre yang semakin tak sabar.
Bingung, sudah beberapa pasien yang dia operasi tapi baru kali ini ada yang mengalami hal aneh seperti Safa. Tentu ini yang pertama kali.
"Suruh dia pergi, suruh dia pergi. Aku takut," Tak sadar Safa langsung memeluk dokter Andre namun satu tangan menunjuk ke arah sosok yang tadi dia lihat.
Semua orang bingung, melihat arah tangan Safa tapi yang jelas gak di lihat apapun tak ada apapun yang ada di arah tangan Safa hanya dinding kosong tanpa ada apapun.
"Dia siapa, Nak. Tidak ada siapapun di sana. Kamu pasti salah lihat nggak ada siapapun selain kita," Ucap pak Muji lagi.
"Tidak ada siapapun, Fa," Ucap dokter Andre yang tak bergerak sama sekali. Tangannya yang menggantung di kedua sisi tubuhnya dan tak berani membalas pelukan Safa.
"Safa, lepaskan, Nak. Buka matamu, jangan kamu merepotkan dokter Andre," Pinta Agung.
Perlahan Safa membuka matanya, pelan dan sangat pelan tetapi tangannya masih belum terlepas. Setelah benar-benar terbuka Safa melihat sekeliling melihat tempat tadi yang ada sesuatu tapi sekarang tidak ada apapun.
Safa mendongak dan dia melihat dokter Andre yang tersenyum.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa kan?" Ucapnya.
"I_iya. Ma_maaf, Dok." Cepat tangan Safa terlepas dari tubuh dokter Andre dia langsung menunduk karena malu akan perbuatannya yang dia lakukan tanpa sadar.
Dia tadi hanya reflek saja jadi dia langsung memeluk siapa yang ada di hadapannya. Jika yang ada di hadapannya adalah Agung jelas dia akan memeluk abangnya tapi mana dia tau.
"Katakan, apakah kamu baik-baik saja?" Tanya dokter Andre memastikan lagi.
"Sa_saya baik-baik saja, Dok," Meski gugup tapi suara Safa sangat jelas.
"Sekarang katakan, apa yang kamu lihat?" Kembali dokter Andre bertanya dia juga sangat penasaran.
"Hem? Ti_tidak. Sa_saya hanya salah lihat saja kok bukan apa-apa," Safa gak mau mengakuinya kalau dia sebenarnya melihat sosok menyeramkan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Sosok perempuan, wajahnya begitu pucat dan juga mengalir darah di dua sisinya. Rambutnya panjang tapi seolah ingin menutupi wajahnya.
'Tadi apa yang aku lihat? Ti_tidak mungkin ha_hantu kan?' batin Safa.
"Hey, kamu baik-baik saja?" Dokter Andre kembali bertanya, diamnya Safa membuat semua masih sangat penasaran.
"Heh, sa_saya baik-baik saja kok, Dok," Safa menjawab dengan sedikit nyengir supaya di percaya. Bagaimana dia akan mengatakan semua yang dia lihat kalau dia sendiri tidak yakin.
Suaranya merintih, lirih, dingin namun begitu terasa menakutkan dan terasa sampai di hati Safa.
Seumur-umur dia belum pernah melihat yang namanya hantu jadi bagaimana mungkin dia bisa membedakan itu nyata atau palsu. Apakah itu benar-benar hantu atau hanya bayangan saja yang muncul dari imajinasinya saja.
"Alhamdulillah kalau kamu tidak apa. Ingat Safa, kamu harus banyak istirahat dulu ingat matamu belum benar-benar pulih. Saya harus pergi, kalau ada sesuatu cepat panggil saya," Ucap dokter Andre.
"Baik, Dok." Agung yang menjawab sementara Safa hanya mengangguk.
"Terima kasih, Dok," Ucap pak Muji.
"Sama-sama, Pak," Jawab Andre.
Andre benar-benar keluar setelah itu pergi ke ruangannya sendiri.
Sementara Safa kini benar-benar bahagia karena bisa melihat lagi. Akhirnya, dia akan kembali bisa berjuang lagi untuk menjadi sukses dan bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Bisa mengangkat martabat kedua orang tuanya menjadi lebih baik dari sekarang.
__ADS_1
**✿❀🌷❀✿**
Semakin senang dan semangat Safa setelah bisa melihat lagi. Dia terus tersenyum lebar dengan kali ini yang tengah di suapi makan malam oleh Agung.
Selayaknya anak kecil Agung memang selalu memanjakannya, tidak dalam keadaan sakit saja Agung selalu memanjakannya apalagi sekarang ketika dia sakit.
"Bayi tua kakak makan yang banyak ya biar cepat sehat. Kan besok mau pulang."
Semakin semangat Agung menyuapi begitu juga Safa yang semangat mengunyah hingga Agung merasa kewalahan. Mungkin itulah ekspresi kebahagiaan Safa dengan cara itulah dia memperlihatkannya.
"Abang, pelan-pelan dong. Tuh kan belepotan," Bibir Safa mengerucut tapi hal itu malah membuat Agung tersenyum, bahkan juga tertawa.
Akhirnya, bisa dia lihat senyum bahagia adiknya. Dukanya yang begitu dalam sudah berakhir dan hanya sekedar mampir untuk sesaat.
"Abang sudah pelan, Dek. Kamu saja yang usil, tuh kan belepotan, tuh tuh!" Agung memang sengaja membuat bibir Safa belepotan akan kuah dia sungguh senang melakukan itu apalagi bisa melihat Safa yang terus ceria seperti sekarang ini.
"Sini Safa makan sendiri, Abang memang sengaja kan, abang nggak ikhlas kan nyuapin Safa!" Safa merajuk, dia sangat kesal karena merasa Agung sengaja melakukan itu padahal memang benar sih.
"Tidak dek, tidak salah. Hahaha!" Tawa Agung menggelegar.
"Gung, ini rumah sakit bukan lapangan bola. Jangan berisik ganggu pasien lain," Pak Muji menegur.
"Iya, Pak. Maaf, kelepasan," Agung nyengir kuda begitu saja karena menyadari kesalahan.
"Sini biar ibu saja yang suapi, abang biar makan juga sudah seharian loh dia nggak makan," Bu Yati mengambil alih.
"Hah! Abang kenapa nggak makan, nanti kurus loh nanti gemuknya di ambil Safa sendiri."
"Nggak apa-apa yang penting adek abang ini selalu sehat abang rela kurus."
"Yah! Nanti Safa bersin abang mental dong. Hehehe..." Kini Safa yang meringis.
"Abang bukan kapas, bukan bulu!" Agung mundur dan beralih duduk untuk makan malam.
Tak ada yang tau, ada seseorang yang ada di luar melihat kebahagiaan mereka dari jendela. Matanya berkaca-kaca melihat Safa yang terus tersenyum.
"Setidaknya aku masih bisa melihat matamu di matanya, Yang. Maafkan aku karena terlambat menyelamatkan mu menyelamatkan anak kita, maaf," Gumamnya.
__ADS_1
**✿❀🌷❀✿**
Bersambung.....