Si Culun Dengan Mata Ke-2

Si Culun Dengan Mata Ke-2
Si Keras kepala


__ADS_3

**✿❀🌷❀✿**


Safa begitu tegang ketika berada di dalam ruangan kepala sekolah. Tubuhnya terus bergetar tentu karena takut akan apa yang sudah dia bayangkan sebelumnya.


Sementara Jordan, jangan ditanya lagi? Dia sama sekali tidak merasakan takut bahkan dia sangat tenang duduk di hadapan pak kepala sekolah yang wajahnya terlihat begitu menyeramkan lebih dari biasanya.


Dari tadi pak kepala sekolah terus menyerbu pertanyaan kepada Safa dan juga Jordan tetapi keduanya terus menjawab apa yang sebenarnya terjadi, sementara kepala sekolah tidak percaya kalau hanya mereka hanya penasaran dengan tempat itu saja dan tidak berbuat hal yang macam-macam.


Bagaimana mungkin kepala sekolah akan percaya kalau yang dilihat saja hal yang begitu memalukan dengan Safa yang berada di atas Jordan. Bukankah itu sudah jelas dan juga sangat menjelaskan apa yang telah terjadi di antara keduanya?


"Katakan dengan jujur, sebenarnya apa yang telah kalian lakukan di ruangan itu. Kalian tidak mungkin hanya penasaran dengan tempat itu saja. Saya yakin kalian memiliki niat yang tidak benar. cepat katakan!"


Kepala sama sekali tidak percaya dengan apa yang sudah dijelaskan oleh Safa. Padahal yang dijelaskan itulah yang terjadi.


"Kamu Jordan, katakan dengan jujur apa yang kamu lakukan di sana! Kamu memang anak dari donatur di sekolah ini tetapi kalau salah ya tetap salah, dan kamu juga harus tetap mendapatkan hukuman dari apa yang telah kamu perbuat."


Rupanya kepala sekolah sama sekali tidak bisa ditoleran lagi. Jika salah ya harus mendapat hukuman dan tidak melihat siapa orang yang telah melakukan hukuman tersebut.


"Kalau misalnya saya menjawab dengan jujur apakah bapak akan percaya?" Jordan mencondongkan tubuhnya semakin dekat kepada kepala sekolah, entah apa yang ingin dia katakan tapi membuat Safa sangat penasaran.


"Kalau yang kamu katakan jujur jelas saya akan percaya, cepat katakan! Saya harap semua kata-katamu adalah kejujuran bukan hanya untuk menutupi kesalahanmu dan dia saja." Mata kepala sekolah mengarah kepada Safa yang terdiam dengan menunduk takut.


"Sebenarnya, sebenarnya ruangan itu ada hantunya Pak. Dan kenapa kami ke sana itu karena kami melihat ada seorang wanita di sana dan kami mendengar tangisannya. Makanya kami datang dan melihat. Tetapi setelah kami sampai di sana kami tidak bisa keluar karena pintunya terkunci."


Penjelasan dari Jordan memang benar adanya itu memang sangat nyata yang dilihat oleh Safa. Tetapi Jordan? dari mana dia tahu dengan semua itu.


"Bukan begitu kan Fa?" Jordan menoleh ke arah Safa, dan teman sangat pelan Safa mengangguk membenarkan perkataan dari Jordan barusan.

__ADS_1


'Dari mana Kak Jordan tahu akan hal itu? Bukankah aku belum sempat bercerita kepadanya tentang apa yang sebenarnya ada di dalam sana,' batin Safa heran.


Pastilah Jordan hanya mengarang cerita saja karena dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi kecuali dia hanya mendengar pembicaraan Safa dan tidak mendengar jawaban apapun dari makhluk yang dilihat oleh Safa.


"Kamu jangan berani-beraninya menakut-nakutiku, aku tahu apa yang kamu katakan itu adalah hal kebohongan tidak mungkin di sini ada hantu. Dasar!"


Meski sebenarnya merasa takut tetapi kepala sekolah sama sekali tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Jordan. Tentu dia tidak akan percaya karena dia sama sekali tidak melihat.


"Kalau tidak percaya ya sudah, tetapi yang saya katakan adalah hal yang sangat jujur. Kalau bapak tidak percaya bapak bisa datang ke sana sendiri, buktikan saja kalau yang telah saya katakan ini adalah benar." ucap Jordan menantang keberanian kepala sekolah.


"Dasar nggak waras!" ucap kepala sekolah semakin kesal karena semakin ke sini penjelasan Jordan semakin sembarangan dan tidak masuk di akal.


Jordan sempat bingung apalagi yang akan dia jadikan alasan supaya kepala sekolah percaya kepadanya dan Safa dan akan melepaskan mereka berdua, juga tidak akan mencabut beasiswa Safa apalagi mengeluarkannya.


"Gini ya pak, semua yang saya katakan itu bukan alasan itu adalah jujur itulah yang terjadi. Tetapi kalau bapak tidak percaya ya sudah tidak apa-apa tapi tolong pertimbangkan perkataan saya dan Bapak buktikan sendiri masuk ke sana, lihat apa yang akan terjadi."


Sepertinya Jordan sudah lelah menjelaskan kepada kepala sekolah dan kini suaranya sudah begitu pelan dengan punggung yang langsung menyandar ke sandaran bangku yang terbuat dari kayu.


"Oke, saya akan buktikan masuk ke sana. Kalau sampai saya tidak menemukan apapun maka saya pastikan kalian berdua akan dikeluarkan di sekolah ini!" jelas kepala sekolah.


Mata Safa terbelalak dengan wajah tegang melihat ke arah pak kepala sekolah yang sudah memberikan keputusan untuk mengeluarkan mereka berdua jika tidak menemukan bukti.


Safa sangat bingung bagaimana dia bisa melakukan sesuatu yang akan menjadi bukti kalau mereka tidak berbohong. Siapa yang akan diminta pertolongan untuk hal ini?


"Ta_tapi, Pak?" ucap Safa yang sudah sangat ketakutan.


"Tapi apa? kamu mau mengatakan apalagi?" kepala sekolah yang sudah beranjak kini kembali duduk karena ucapan Safa.

__ADS_1


"Oh, saya tau. Ini hanya kebohongan kan?" kepala sekolah itu tersenyum dengan begitu sinis, jelas dia percaya kalau semua ini adalah bohong.


"Ti_tidak. Semua benar kok Pak. Ta_tapi...?" Safa begitu ragu.


"Kalau benar biarkan bapak membuktikannya!" kepala sekolah kembali berdiri dan segera bergegas keluar dari ruangannya untuk menuju ke tempat di mana Safa dan Jordan sempat berduaan di dalam sana.


Safa sangat bingung apa yang harus dia lakukan sementara Jordan terus saja bersikap tenang seolah tidak terjadi masalah apapun.


"Kak, ini bagaimana? tidak mungkin kepala sekolah akan menemukan bukti di sana. Kita tidak hanya akan dikeluarkan dari sini tetapi kita juga akan dianggap sebagai pembohong,"


Safa terlihat sangat gelisah, dia takut.


"Ya kalau kamu takut kita akan dikeluarkan dari sini kamu minta bantuan saja pada temanmu yang gaib itu. Pasti dia akan membantumu," jawab Jordan dengan santai.


"Tidak bisa gitu dong, Kak. Belum tentu dia akan bantu." Safa terlihat jengkel pada Jordan. Lagian semua ini juga tidak akan terjadi jika Jordan tidak terus mengikutinya.


Jordan lah sumber masalah bagi Safa, coba saja Jordan melepaskan dan membiarkan Safa sendiri maka ini tidak akan terjadi kan?


"Kenapa tidak bisa, bisa saja kalau kamu mau," ucapan Jordan terdengar semakin sinis saja sekarang. Sungguh, dia sangat kesal dengan Jordan kalau begini.


"Ya sudah kalau nggak mau bantuin. Ingat ya, Kak. Meski aku tidak punya banyak teman di dunia nyata aku banyak teman di dunia lain. Jangan harap aku akan menolong kalau mereka semua mencelakai kakak lagi. Beyy!"


"Dasar keras kepala!" umpat Safa sembari melangkah.


Dengan amarahnya Safa langsung beranjak dan pergi meninggalkan Jordan yang terdiam dengan tersenyum. Tapi itu tidak berlangsung lama karena setelah berhasil mencerna perkataan Safa mata Jordan langsung terbelalak.


"Gawat, kemarin saja aku hampir mati karena ulah genderuwo. Besok apa lagi? tidak tidak! aku harus bertindak!" Jordan langsung buru-buru lari untuk mengejar Safa, bisa-bisa dia akan di buat mati penasaran oleh semua makhluk-makhluk temannya Safa.

__ADS_1


**✿❀🌷❀✿**


Bersambung....


__ADS_2