
**✿❀🌷❀✿**
Safa terus terdiam di dalam kelasnya, semua teman-teman keluar untuk istirahat tapi dia tidak. Safa lebih memilih duduk diam sendiri dengan memikirkan sesuatu.
Bukan hal yang serius sih, tapi pikiran yang membuat Safa menjadi bingung sendiri. Apalagi kalau bukan foto istri Andre dan juga sahabatnya itu.
Ada yang aneh, kenapa foto itu terjatuh begitu saja, seolah ingin menunjukan sesuatu kepadanya, tapi apa?
"Hem, apa aku minta saja ya sama dokter Andre untuk bertemu dengan perempuan itu. Aku kok merasa aneh," gumamnya.
Dari semalam Safa tidak bisa tidur setelah pulang dari rumah Andre dengan di antar oleh Andre. Di dalam perjalanan Andre juga tidak mengatakan apapun, mereka hanya akan bicara yang biasa-biasa saja dan sama sekali tidak membicarakan tentang istrinya dan bagaimana kematiannya.
Tidak mungkin Safa akan bertanya langsung kan? Mungkin dia bisa bertanya pada Jordan nanti.
"Dor!"
Safa terperanjat. Panjang umur, baru saja di bayangin ternyata Jordan sudah datang dengan sendirinya. Kedekatan inilah yang membuat semua teman-teman Safa cemburu dan juga sangat kesal.
Safa yang hanya gadis biasa, culun dengan kacamata bulatnya dan tidak terlihat menarik tapi selalu saja bersama dengan laki-laki primadona di sekolah. Bagaimana mungkin tidak iri?
"Ada apa sih, Kak. Kalau datang mbok ya datang saja nggak usah pakai ngagetin segala, kalau Safa jantungan bagaimana?" protes Safa. Wajahnya nampak tak suka dengan kelakuan Jordan ini. Selalu saja bersikap sesuka hatinya sendiri.
"Lagian kamu sih, siang-siang gini kok melamun, ngelamunin apa hayo? Aku ya?" ucap Jordan begitu percaya diri.
__ADS_1
"Pede! Siapa juga yang mikirin kakak. Nggak minat!"
"Idih, pakai acara nggak minat segala, padahal di hatinya mah girang banget aku datang. Iya kan? Ngaku hayo."
"Ti_dak, tidak sama sekali." Safa tetap mengelak dan tidak mengakuinya. Memang dia memikirkan Jordan tapi kan bukan karena tertarik, hanya hanya karena masalah semalam.
Jordan tetap tidak percaya, dia sangat yakin kalau Safa memikirkannya.
"Fa, makan yuk. Lapar nih," ajak Jordan. Kedua tangan sudah langsung memegangi perutnya sendiri yang memang terlihat kempes.
"Nggak," Safa menggeleng. Dia kembali termenung lagi membuat Jordan bingung saja.
"Kak, boleh tanya sesuatu tidak?"
"Ih, nggak ikhlas banget," Safa protes. Tentu itu akan dia lakukan.
"Ya itu syaratnya. Kalau kamu mau ya aku jawab kalau tidak ya nggak usah tanya." Terlihat serius Jordan mengatakan, sepertinya memang tidak ada jalan lain selain Safa menurutinya.
"Baiklah."
"Siap, sekarang cepat tanya, aku sudah nggak tahan pengen makan. Sepuluh menit, lebih dari sepuluh menit kamu yang aku makan."
"Emang aku ayam!"
__ADS_1
Hahaha!
Jordan malah tertawa puas karena membuat Safa kesal. Ternyata kalau lagi marah seperti itu Safa terlihat begitu lucu membuat Jordan begitu terpana.
"Kak, sebenarnya istrinya dokter Andre meninggal karena apa sih?"
Bukannya langsung menjawab tapi Jordan malah langsung terdiam, apakah benar dia akan menjawab pertanyaan Safa? Safa adalah orang luar kan?
Tapi Jordan sudah sepakat untuk menjawab semua pertanyaan Safa, tidak mungkin dia mengingkarinya kan?
Tak lama Jordan terdiam membuat Safa terus diam menunggu dengan memandanginya. Safa sudah sangat tidak sabar ingin mendengar kisahnya.
"Kak Sarah meninggal karena di bunuh," Jordan mulai bicara. Dia begitu lirih mengatakan namun mampu membuat Safa begitu terkejut.
"Hah! Di bunuh!" pekik Safa.
Sontak Jordan langsung menutup mulut Safa, tidak mau kalau sampai siapapun mendengar. Satu tangannya sudah terangkat dan jari telunjuknya berdiri di depan bibir.
"Sstt... Jangan berisik. Oke."
Safa mengangguk dan Jordan langsung melepaskan. Perlahan Jordan menceritakan segalanya, dan Safa terus mendengar dengan seksama.
**✿❀🌷❀✿**
__ADS_1
Bersambung...