
**✿❀🌷❀✿**
Semua keluarga Safa tengah menunggu di depan ruangan operasi dengan sangat was-was dan begitu gelisah. Mereka sangat takut hingga terus berjalan mondar-mandir, hanya Zidane saja yang duduk menunggu yang lain semuanya berdiri dengan tak tenang.
Ini adalah hal yang sangat menegangkan, bukan hanya dalam bibir saja tapi juga hati mereka terus berdoa untuk kelangsungan operasi sekarang ini dan Safa akan kembali bisa melihat lagi.
"Pak, Ibu sangat takut," ucap Bu Yati yang begitu cemas. Jantungnya seolah-olah ikut bergerak cepat.
"Kita berdoa saja, Bu. Semoga semuanya lancar dan Safa bisa pulih kembali," Pak Muji mendekati dan langsung merengkuh pundaknya. Berharap dengan cara seperti itu istrinya akan lebih kuat dan akan bisa lebih tegar.
Sementara Agung, sesekali dia duduk dengan cemas, kadang dia berdiri dan berjalan-jalan dan kadang menyandarkan punggungnya di dinding rumah sakit.
Bukan hanya kedua orang tuanya saja yang merasa sangat sedih tapi dia juga. Cemas, takut, tegang dan semuanya menjadi satu di dalam hati dan pikiran mereka.
Berkali-kali mata melihat lampu di atas pintu ruang operasi tersebut, apakah masih merah atau sudah berganti. Dan ketika melihat dan masih sama mereka semakin cemas.
Penuh harapan di saat berlangsungnya operasi ini, mereka ingin Safa baik-baik saja dan bisa ceria seperti sebelumnya.
Ketika lampu sudah berubah mereka langsung berlari mendekat ke arah pintu untuk menyambut dokter yang sebentar lagi akan keluar.
Dan benar saja, dokter langsung keluar dari ruangan itu sembari melepaskan masker.
"Dok, bagaimana adik saya?" Agung bertanya dengan tak sabaran.
"Alhamdulillah, operasinya berhasil kita berdoa saja semoga semua sesuai yang di harapkan, semoga Safa bisa kembali melihat," ucap Dokter.
Semua merasa sangat lega setelah mendengar kalau Safa baik-baik saja dan operasinya berhasil. Semoga saja benar-benar cocok hingga Safa bisa kembali melihat lagi.
"Alhamdulillah, Pak," bu Yati begitu bahagia, tangisnya bercampur dengan senyuman.
"Iya, Bu. Sebentar lagi Safa akan bisa melihat. Alhamdulillah," pak Muji langsung memeluk istrinya yang juga sangat bahagia.
Semoga saja semuanya sesuai dengan apa yang di harapkan. Amin.
**✿❀🌷❀✿**
"Bang, Safa akan bisa melihat lagi kan, Bang?" Safa begitu tak sabar untuk bisa melihat lagi. Setelah perbannya di buka maka dia akan bisa melihat warna lagi, dia akan bisa melihat segalanya. Dan mimpinya akan bisa dia capai.
__ADS_1
"Tentu, Dek. Tentu kamu akan bisa melihat lagi." Begitu juga dengan Agung dia juga sama tidak sabar seperti Safa.
Bukan hanya mereka berdua saja yang tidak sabar tapi semua, kedua orang tuanya dan juga Zidane bahkan dokter pun juga sangat tak sabar.
Sebentar lagi semua akan kembali Safa akan bisa melihat lagi, dan setelah itu mereka berharap kalau Safa akan kembali mengingat saat kejadian yang menimpanya ini dan bisa mengingat siapa yang harus bertanggung jawab.
"Assalamu'alaikum, bagaimana Safa apakah kamu sudah siap?" kedatangan dokter langsung membuat semua orang kembali was-was.
Safa mengangguk, dia tak sabar meski dalam hatinya juga terbesit rasa takut kalau operasinya gagal.
"Wa'alaikumsalam, Dok. Saya sudah sangat tidak sabar dok, saya ingin kembali melihat lagi," jawab Safa dia begitu antusias dia begitu semangat.
"Kita buka sekarang?" tanya dokter lagi.
Pak Muji, Bu Yati, Agung juga Safa sendiri mengangguk cepat. Mereka sama-sama tidak sabar untuk melihat hasilnya.
"Kita buka sekarang, Dok," jawab Safa.
"Kita buka ya," kembali dokter berbicara, perlahan tangannya terangkat, mengambil gunting yang di sodorkan oleh perawat untuk memotong perban.
Seketika ruangan menjadi hening saat di bukanya perban tersebut. Semua diam dengan doa yang terus terucap dalam hati mereka semua.
Begitu pelan dan juga sangat telaten dokter laki-laki muda tersebut. Kalau di lihat-lihat umurnya mungkin hampir sama dengan Agung, mungkin hanya selisih beberapa tahun saja.
Dokter yang sangat tampan, dengan tubuh tinggi dan juga terlihat gagah. Kesempurnaan dari dokter tesebut sangat susah untuk di gambarkan, sangat sempurna pastilah dia juga sangat cerdas dan juga sangat kaya raya bukan?
Dia adalah dokter Andre Ginanjar. Seorang dokter hebat yang baru satu tahun saja ada di rumah sakit tersebut. Bahkan dokter Andre juga anak dari pemilik rumah sakit tersebut.
"Pelan-pelan, Dok," ucap Agung yang begitu takut kalau gunting itu akan melukai kulit Safa yang sebenarnya juga masih terdapat beberapa luka yang belum benar-benar kering.
"Hem," dokter Andre mengangguk, tentu dia akan sangat pelan dan tak akan selalu berusaha untuk tidak melukai pasiennya sendiri.
Semua semakin cemas ketika perban sudah selesai di lepas dan terlihat mata Safa yang terpejam.
"Safa, coba kamu buka pelan-pelan mata kamu. Jangan terlalu di paksa pelan-pelan saja," ucap dokter Andre yang meminta Safa untuk membuka mata.
"Pelan-pelan," ucapnya lagi.
__ADS_1
Perlahan mata di buka oleh Safa. Sayup-sayup masih hitam, di kedipkan lagi dan di buka lagi dengan sangat pelan.
"Bagaimana Safa, apa kamu bisa melihat saya," ucap dokter yang kebetulan Safa sudah menoleh ke arahnya.
"Ti_tidak, masih gelap," Safa begitu takut dia takut kalau ini akan gagal dan dia benar-benar tidak akan bisa melihat lagi.
"Sabar, coba kamu tutup mata kamu lagi lalu buka pelan-pelan," dokter Andre terus memberikan arahan kepada Safa dan jelas langsung di lakukan oleh Safa.
Perlahan Safa membuka matanya lagi sangat pelan. Kini mulai berwarna abu-abu hingga perlahan putih dan akhirnya benar-benar penuh warna, Safa bisa melihat wajah dokter Andre dengan sangat jelas di depannya.
"Bagaimana, kamu bisa melihat saya?" dokter Andre bertanya lagi. Dia juga sangat was-was jangan sampai operasi ini gagal.
Sementara keluarga Safa mereka diam dengan begitu tegang juga sangat takut. Mereka tentu menginginkan keberhasilan ini kan?
"Bagaimana, hem?" dokter Andre menegaskan.
Mata Safa sudah terlihat seperti mata sebelumnya, sudah normal tapi kenapa Safa masih diam tidak mungkin gagal kan?
"Dok, Safa bisa melihat lagi, saya bisa melihat dokter," Safa tersenyum.
Semua lega meski dengan senyuman juga dengan tangis, mereka sangat bahagia dengan kembalinya Safa busa melihat lagi.
"Alhamdulillah," dokter Andre pun juga sangat lega.
"Bu, Ayah, Bang, Safa bisa melihat lagi," matanya melihat ke semuanya membuat semua menangis bahagia.
Dokter Andre tersenyum...
"Dok, ada apa?" Agung merasa sangat curiga melihat senyuman dokter Andre yang begitu berbeda dari sebelumnya. Kebahagiaannya sangat berbeda, tidak mungkin dia tersenyum hanya karena berhasil mengoperasi Safa saja.
"Tidak apa-apa," dokter Andre mundur dan membiarkan keluarga Safa mendekati.
Melihat dokter Andre yang mundur Safa melihatnya, berniat untuk memanggil dan berterima kasih padanya. Tapi...
"Tolong saya..." suaranya begitu lirih, begitu menahan duka yang sangat dalam.
"Akkk!!!" Safa seketika menjerit histeris membuat semua orang panik karena tidak tau kenapa Safa tiba-tiba berteriak seperti ketakutan seperti itu.
__ADS_1
**✿❀🌷❀✿**
Bersambung...