
...----------------...
Gralind terdiam membeku, ciuman dari Troy masih ia rasakan, ia merasakan bahwa lidah Troy berusaha menerobos pertahanan di dalam bibirnya.
Gralind tidak bereaksi apa-apa, antara terkejut atau reflek ingin melepaskan, tapi dia langsung mengalihkan seluruh perhatiannya saat ia merasakan ia merasakan setetes air jatuh dari langit.
Hujan.
Troy tidak memperdulikan itu, gerimis pelan jatuh membasahi keduanya, Gralind hendak melepaskan ciuman mereka tapi Troy menahannya dengan cara menahan kepala bagian belakang Gralind dengan telapak tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam tangan Gralind yang tadi dia tarik.
Hujan turun mulai deras, keduanya basah dibawah air hujan, untung daerah disana sedikit sepi sehingga tidak ada yang melihat aksi mereka.
Troy membuka matanya yang tadi terpejam kemudian menyadari bahwa Gralind sudah kehabisan napas karena ciuman itu.
"M-Maaf!" Reflek Troy melepas ciuman itu membuat Gralind terduduk di atas tanah. "Saya kira Tania."
Jika Gralind bisa mendengar ucapan terakhir dari Troy, betapa kesalnya dia mendapati Troy menciumnya dan menganalogikan dirinya sebagai Tania.
Tapi sayangnya kini Gralind tengah kehilangan kesadarannya, gejala Traumanya kambuh akibat hujan, bukan akibat ciuman tadi.
"Gralind, kamu gapapa?"
Troy berdiri dan segera mensejajarkan tubuhnya dengan Gralind yang duduk di bawah air hujan, Gralind memegang kepalanya, ia merasakan sebuah flashback masa lalunya datang cepat membuat ia merasakan sakit luar biasa di area kepala.
"Ah!"
"Gralind!" Troy langsung menggendong tubuh Gralind ala koala. "Kita harus ke rumah sakit."
Gralind membuka mata pelan, dia ada di ruangan putih total, tidak ada siapapun disana, hanya ada dirinya dan ... Ibunya.
__ADS_1
"Mama?"
"Gralind, lepaskan semua nak, akan ada sosok yang tidak bisa kamu lupakan."
"Maksudnya?"
Tidak ada jawaban, Ibu Gralind hanya tersenyum kemudian membalikkan badan meninggalkan Gralind.
Gralind hendak mengejar, tapi tubuhnya berubah kaku, ia tidak bisa menggerakkan apapun di tubuhnya, dia hendak mengejar sang ibu.
"Gralind, ikut Ma!"
Sang ibu berbalik, dia menjulurkan tangannya dan tiba-tiba saja tubuh Gralind terasa terdorong dari dimensi itu.
"ARGH."
Gralind membuka mata pelan, dia merasakan dirinya berada di ruangan putih berbau obat-obatan, dia berada di dalam kamar rumah sakit.
"Gralind, syukurlah kamu sudah sadar, kamu bikin saya khawatir tahu gak," jawab Troy tapi Gralind malah diam.
Gralind terkejut, seperti ada sesuatu yang tidak beres, harusnya dia melupakan Troy tapi kenapa dirinya malah masih tetap mengingat Troy, dia saja bingung kenapa dia berada disini, dan ada tujuan apa dirinya.
"Beneran Bapak Troy, kan?"
"Iya, saya Troy, Bapak Kost kamu, kamu kenapa?*
"Bapak Kost?" Gralind semakin keheranan, dia berusaha mengingat tapi ingatan itu hilang seketika.
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Tadi kita mau berangkat membeli perabotan dan hujan, kamu kesakitan jadi saya bawa kamu kesini." Troy sengaja tidak menjelaskan tentang ciuman itu karena dirinya malu mengakui hal itu.
"Setelahnya?"
"Yah gitu-"
Gralind menatap Troy dalam, dia sudah ingat tentang Tragedi Hujan yang membuatnya hilang ingatan jangka pendek ini bahkan ciuman terakhir mereka, hanya saja dia bingung kenapa dia tidak melupakan sosok Troy, padahal harusnya ingatan terakhir yang dia miliki setelah berusaha mengingat adalah, hanya Hujan, Ciuman dan Pria Asing.
"Permisi?"
Troy dan Gralind menoleh ke arah sumber suara, itu adalah Vinoy, dia datang membawa laptop miliknya. "Maaf menganggu, saya adalah Vinoy temannya Gralind, boleh kami bicara berdua sebentar?"
Troy diam, dia menatap Gralind, enggan rasanya meninggalkan Gralind, tapi Troy tetap berdiri dan beranjak keluar meninggalkan Vinoy bersama Gralind.
"K-Kamu?"
Vinoy tidak menggubris Gralind, dia membuka file ingatan-ingatan dari Gralind untuk di perlihatkan kepada Gralind, tidak butuh waktu lama, jika Gralind bisa mengingat salah satu spesifikasi penting dalam hidupnya, ingatan lain akan pulih sendiri.
"Sorry Noy, biasanya kalau hujan aku selalu ngehindar tapi kali ini-"
"Karena ciuman sama Bapak Kost itu kan?" potong Vinoy pada ucapan Gralind. "Dia kayaknya sudah mulai masuk ke dalam permainan lo, gimana kedepannya?"
Gralind menghela napas. "Aku gak akan ngasih harapan sih, tapi cara agar bisa memanfaatkan dia, aku harus cari cara bisa terikat hubungan dengan dia, semacam jadi simpanan?"
"Gue sih gak maksa yah Lind, kalau itu cara yang lo mau, tapi target lo itu Tania, jangan sampai lo ngehancurin Bapak Kost lo itu dengan cara berpura-pura mencintai dia.",
"Gak Lah, aku bakal nyari cara agar hubungan nanti gak di dasari perasaan."
"Jangan blunder Gralind, cinta itu gak ada yang tahu, kalau Tuhan bilang cinta ya sudah, kamu gak bakal bisa ngapa-ngapain," bisik Vinoy menusuk Gralind dengan ucapan itu.
__ADS_1
...----------------...