
...----------------...
Troy membuka matanya saat ia merasakan cahaya matahari dari arah jendela balkon menerpa wajahnya, dia menatap sekeliling berusaha memproses apa yang baru saja terjadi.
"Hah!" Troy bangkit dari tidurnya, ia menyibak selimut yang menutupi dirinya dan kembali tercengang karena dia dalam kondisi tanpa busana. "Apa yang terjadi semalam?"
Troy berusaha mengingat semuanya, berusaha menyusun ulang alur cerita tadi malam, dan dia teringat bahwa dia melakukan hubungan dengan Gralind tadi malam.
"Gralind!" Troy bangkit dan berdiri meraih handuk dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, karena dia harus segera menanyakan satu hal kepada Gralind. "Jadi ini rencananya, melakukan hubungan badan di sini, tapi-"
Troy menyimpan semuanya untuk dirinya sendiri, karena dia tidak ingin menebak-nebak apa maksud Gralind sebenarnya, setelah bersih-bersih Troy kemudian segera berpakaian, dia berjalan ke nakas yang ada di samping ranjang untuk mengambil ponselnya, sudah jam delapan pagi, Troy menghela napas sejenak sebelum menelepon Gralind.
"Halo, kamu dimana, Gralind?" tanya Troy kepada Gralind saat sambungan telepon mereka tersambung.
"Di Food Court, mau sarapan, emang kenapa Pak?"
"Saya akan menyusul kesana," Troy mematikan sambungan telepon itu sembari memakai arlojinya, saat dia memakai arlojinya, matanya menangkap sesuatu yang Gralind simpan kemarin. "Testpack?"
Troy meraih Testpack itu dan menatapnya serius. "Dua Garis Biru? Tapi punya siapa?"
Pikiran Troy tiba-tiba kalut, ada dua kemungkinan, ini milik Gralind tapi Troy inget betul kemarin dialah yang pertama kali merebut keperawanan Gralind, dan kemungkinan paling besarnya adalah Tania, ini milik Tania, begitulah isi kepala Troy sekarang.
Sementara itu di area Food Court, Gealind tampak duduk disebuah kursi, dengan rambut tergerai, menatap laptop di hadapannya sembari berbicara dengan sosok yang ada di monitor laptopnya.
"Serius, lo udah ngelakuin itu semalam? Gila! Balas dendam gak main-main sih, terus lo mau ngapain lagi sekarang?" tanya Vinoy pada Gralind yang sedang menopang dagunya dengan kedua tangannya.
Gralind meraih cangkir tehnya kemudian meminumnya sejenak. "Sudah itu rencananya Noy, aku gak akan menyesali menyerahkan kehormatanku kepada Bapak Troy."
__ADS_1
"Karena lo cinta sama dia!"
Uhuk! Gralind terbatuk sendiri jadinya atas ucapan Vinoy, apa itu cinta, dia menyerahkan dirinya untuk kebutuhan rencana bukan karena dia mencintai Troy.
"Omong kosong."
"Sikap lo gabisa bohong, dari semua hal yang terjadi, lo itu cinta sama Bapak Kost lo itu!"
"Kagak!"
"Ngaku aja sih!" Vinoy menuding Gralind tajam membuat Gralind meneguk ludah sendiri. "Ngaku atau gue kirim santet antar negara!"
Gralind menghela napas panjang, dia menyandarkan dirinya dipunggung kursi dan menatap Vinoy balas. "Aku gak tahu sebenarnya, tapi aku sangat berharap gak ada rasa cinta, karena aku gamau ada luka saat perpisahan."
"Setiap perpisahan akan menciptakan luka Gralind, gak mungkin gak ada luka," jelas Vinoy. "Kalau lo gabisa Nerima sakitnya perpisahan nanti, harusnya lo gak main-main sama yang namanya Pertemuan."
"Hah, sudahlah, aku jauh-jauh kesini bukan untuk main-main, jika kamu lupa," ujar Gralind melipat kedua tangannya.
"Udahlah, kenapa bahas aku dan Pak Troy, mending kamu siapin aja semua kebutuhan rencana selanjutnya karena bentar lagi, kami bakal pulang ke Indonesia, rencana disini biar aku yang handle."
Vinoy mengambil tab miliknya kemudian menunjukkan isi tab itu kepada Gralind. "Udah beres aelah! Cuma kemarin sempet kehambat soalnya Bapak Kost lo nemuin gue."
"Hah? Pak Troy ketemu sama kamu?"
"Eh!" Vinoy reflek menutup mulutnya keceplosan. "Ah bukan, btw gue mau nanya aja, kemarin pas kalian main pakai pengaman kan?"
Gralind menggeleng.
"Keluar diluar?"
__ADS_1
"Didalam."
"Hah! Gila! Awas lo bunting gue tampar-tamparin yah!" protes Vinoy atas aksi yang sudah benar-benar nekad.
"Gak mungkin sih, kecil kemungkinannya, apalagi ini cuma sekali, gak mungkin hamil, lagipula aku ngomsumsi pil yang bikin aku gak subur," jelas Gralind.
"Gak ngaruh! Mau lo minum pil sekresek kalau Tuhan bilang hamil yah hamil!"
"Udah ah!" Gralind mengode Vinoy untuk berhenti karena dia melihat Troy tengah berjalan ke arahnya. "Bapak Troy, lagi jalan kesini, nanti lagi ngobrolnya."
"Oke! Gue tunggu kabar garis duanya!" Vinoy menutup sambungan tersebut membuat monitor wajah Vinoy yang tadi muncul berubah menjadi desktop panggilan mereka.
Gralind berusaha bersikap tidak terjadi apa-apa, saat Troy berjalan ke arahnya, Troy memakai kaos putih, tas dan jaket hitam, ia langsung duduk di kursi depan Gralind saat ia tiba disana.
"Saya mau nanya sesuatu, Gralind."
Gralind tersenyum, dia mendorong sebuah gelas kopi yang sudah di pesan untuk Troy, ke hadapan Troy. "Tentang Dua Garis Biru?"
"Kamu tahu?"
Tidak ada jawaban, Gralind mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman suara untuk didengar oleh Troy.
Klik!
...----------------...
Babak Baru Balas Dendam Gralind
__ADS_1
Btw kita udah masuk Bab 50! dan Rank 2 yuhu!
Jangan lupa like, biar Performa Novel ini bisa stabil terus dan Author rajin update!