
Aku mau cerita kalau Performa Karya ini naik banget bahkan bisa tembus 15rb audience dalam sehari, love banget~
Bentar lagi kita Rank 3! Ayok Like jangan kendor, sebelum baca like supaya karya ini bisa tetap panjang kalau bisa sampe mereka punya anak, Ea!
Selamat membaca.
...----------------...
"Hah! Brisbane?"
"Emang di Brisbane kan, jadi maunya dimana?"
"Aku pikir sekitaran Indonesia, Bapak."
Gralind kini sedang mengemasi beberapa pakaiannya saat Troy masuk ke dalam kamarnya dan mengabari hotel tempat mereka menginap, dan disinilah Gralind baru sadar bahwa tujuan mereka adalah Brisbane.
Brisbane sendiri adalah salah satu ibukota dari negara bagian di Australia dan itu banyak memakan waktu pastinya.
"Jauh banget," jawab Gralind.
"Gapapa sekalian liburan, yaudah lanjutin siap-siapnya yah, saya nunggu di luar, pesawatnya berangkat dua jam lagi, kita harus ready di bandara setengah jam sebelum berangkat."
"Oke!"
Troy berjalan keluar dari kamar Kost Gralind, dia meraih ponsel di kantongnya, biasanya saat menunggu dia akan bermain ponsel karena dia bukan tipe pria perokok.
Saat berjalan keluar, ia bertemu dengan Jesicca, Febby dan Rea. "Halo Anak-anak Kostnya, Mister Danta."
"Halo Mister! Enak banget Mister mau jalan-jalan yang diajak cuma Gralind, kita gak diajak, kayak bulan anak Mister Danta aja."
Troy tertawa pelan. "Kalau ngajak kalian bangkrut dong, itu dapur udah Mister stock selama Mister pergi, nah sebagai ganti ga ikut, bulan depan kost Mister gratisin!"
"Hah serius!" Febby beranjak berdiri.
Jesicca dan Rea juga sama. "Emang boleh segratis itu?"
"Oh boleh, dong," jawab Troy membuat mereka bersorak gembira, Troy yang melihat itu langsung mengode mereka untuk diam. "Jangan ribut, nanti ketahuan Tania, aduh riweh."
__ADS_1
"Aman, Mister! Semoga liburannya sukses!" jawab Febby memberi gerakan ala hormat.
Setelah selesai bercakap-cakap dengan anak kostnya, Troy beranjak keluar dari area Kost-an, dimana di area pekarangan terdapat bangku yang bisa di pakai duduk, tapi di saat Troy hendak duduk, dia menangkap sosok yang selama ini dia ingin tanyai.
"Abraham?"
Troy mengangkat kepala sejenak, dia melirik ke kanan dan kiri, sementara Abraham tampak mengode Troy untuk bergerak ke arahnya, Troy berjalan ke arah Abraham yang ada di seberang jalan, sesampainya di depan Abraham, Abraham langsung membuka topi dan maskernya.
"Ada Aksa di rumah kalian, dia tampak berkunjung, aku tidak bisa berbicara banyak, apa keberangkatan kalian ini bagian dari rencana balas dendam?"
Troy menghela napas. "Iya, ini bagian dari balas dendam, memangnya kenapa?"
"Astaga! Aku sudah bilang, jangan dilanjutkan mereka terlalu berbahaya."
Troy menatap Abraham, sejenak, dia menaruh ponsel di sakunya. "Gralind lebih tahu apa yang dia lakukan, lagipula ini untuk keadilan dirinya, ini semua karena salah kalian, dan kamu datang untuk membatalkan semua rencana itu, benar-benar badjingan."
"Aku hanya memperingati kalian, jika kalian berdua bersikeras, aku bisa apa?"
"Bisa berdoa, semoga semuanya baik-baik saja, oh yah aku ingin bertanya, karena aku rasa aku tidak bisa bertanya hal ini lagi dalam waktu dekat."
"Apa?"
Abraham terdiam sejenak, Troy menarik bahu Abraham dan mencengkramnya tajam. "Jawab!"
"Sebenarnya, aku menikahi Tania karena perjanjian dengan Aksa, jika Tania bisa menikah selama 10 Tahun, maka aku tidak berhak menuntut hak Gralind, tapi jika Tania bercerai dalam kurun 10 Tahun, maka Gralind berhak mendapatkan haknya, ini adalah perjanjian yang kami sepakati sebelum Aksa berbuat curang, dan dia menjadikanmu tumbal, karena walaupun aku tiada, perjanjian itu tetap sah, di mata lawyer kami." jelas Abraham. "Aksa pikir, setelah aku hilang perjanjian itu batal, tapi tidak, kini nyawaku dalam bahaya, tapi ini bukan tentang nyawaku, tapi tentang Hak Gralind."
Troy mengusap wajah. "Apapun alasan kalian, sebenarnya kalian sama brengs*knya, lebih baik kau pergi dari sini." Troy melirik dari ujung matanya bahwa Aksa berjalan ke arah mereka.
Sebenarnya, Troy ingin bertanya lebih lanjut, tentang semua perjanjian itu dan beberapa puzzle dari masa lalu yang belum terkuak, tapi situasi dan kondisi tidak memungkinkan, Abraham memakai topi dan maskernya kemudian beranjak pergi dari sana.
Tak lama kemudian, Aksa sudah berada di tempat Troy berdiri. "Siapa dia, Danta?"
"Bukan siapa-siapa Om, dia hanya tetangga disini yang bertanya apakah kamar kost masih ready."
"Serius?"
"Yah, kalau begitu aku kembali ke mobil dulu, Seperti yang lainnya sudah siap," Troy tersenyum dan berjalan meninggalkan Aksa yang kini menatap Troy curiga.
__ADS_1
-
"Saya nitip yah bro, nanti setelah pulang ke Indonesia, saya kabarin lagi!" Troy menyerahkan kunci mobilnya yang dia pakai ke bandara, kepada sahabatnya..
"Aman bro! Hati-hati and Safe Flight!"
"Thanks!" Mobil itu beranjak meninggalkan bandara, menyisakan Troy, Gralind, Tania dan Albar yang sedang duduk di kursi tunggu walaupun tampak berjauhan.
Troy berjalan ke arah Gralind dan tersenyum kepadanya. "Sudah siap?"
"Menurut, Bapak?"
"Sangat, siap?"
Troy mengusap kepala Gralind sengaja membuat Tania berdecak malas, dia membuang muka, entah siapa istri sah disini, setidaknya begitu isi hati Tania.
Disaat Troy berbicara bersama Gralind, tiba-tiba ponsel Troy berdering, dia membaca nama si penelepon. "Saya angkat telpon, dulu." Troy berjalan menjauh sedikit kemudian mulai mengangkat telepon.
"Daddy! Kata Appa sama Amma, Daddy bakal jalan-jalan?"
Suara anak kecil terdengar di seberang sana membuat Troy mengulas senyum. "Urusan kerja, sayang."
"Daddy bakal ke Denmark? Allan bisa ketemu Daddy dong?"
"No, Daddy bakal ke Brisbane, do you know where it is, son?" jawab Troy memberikan pertanyaan.
"Aussie kan?"
"Good Boy! Kalau begitu nanti lagi yah telponnya, Daddy kangen sama kamu, one day, Daddy akan kembali ke Denmark."
"Aku bakal nunggu, Dad," jawab Allan mematikan sambungan telepon di seberang sana.
Troy menghela napas, ia membalikkan badan dan menyadari ada Gralind di belakangnya. "Gralind, kamu sudah lama?"
"Bapak sudah punya anak?"
Deg.
__ADS_1
...----------------...