
...----------------...
"Bagaimana bisa!? Bagaimana bisa semua file-file perusahaan untuk meeting penting hilang, bukannya semuanya sudah disusun?" Aksa tampak menuding keseluruhan karyawan divisinya yang baru saja melaporkan bahwa meeting penting mereka dibatalkan karena beberapa file tiba-tiba crash. "Sudah! Kalian semua memang tidak becus! Cepat selesaikan hal ini sekarang!"
Aksa tampak menggebrak meja kemudian berjalan keluar dari ruangan divisi, di kepalanya kini kalut, siapa yang harus dia jadikan tersangka atas kasus ini.
"Gralind!" bisik Aksa dalam hatinya, dia berjalan keluar dari kantornya, ia hendak menemui Gralind, tapi tanpa dia sangka baru dia berjalan keluar, dia sudah menemukan Gralind sedang duduk di lobi hotel. "Sedang apa kamu disini?"
Gralind mengangkat kepala, dia tersenyum kemudian berdiri dan berjalan ke arah Aksa dan memperbaiki jas Aksa. "Papa kayaknya capek banget, sampai berantakan gini, kenapa?"
"Kamu ngelakuin apa lagi hari ini? Kamu gak bosan apa balas Papa?" tanya Aksa kepada Gralind, Gralind mengangkat alis kemudian menarik tangan Aksa untuk duduk di sofa.
Aksa duduk dengan kondisi menarik napas panjang, sementara Gralind dia duduk sembari menyandarkan kepalanya di pundak Aksa. "Gatau kenapa hari ini, aku kangen banget sama Papa, emang aku ngelakuin apa?"
"Kamu kan yang bikin file perusahaan crash?"
"Ah? Aku? Aku bahkan gak punya akses ke dalam sana, kenapa Papa menuduh aku?" tanya Gralind memeluk tangan sang Ayah. "Anak Papa memang ngapain sih?"
__ADS_1
"Gausah bohong Gralind, cuma kamu yang mau hancurin Papa, kamu yang terang-terangan ingin balas dendam kepada Papa!"
"Hah! Memang iya, mana mungkin aku membiarkan Ayah yang ingin membunuh putrinya hidup tenang, tapi kejadian hari ini, itu bukan kelakuanku, atau mungkin secara tidak langsung."
Aksa menatap Gralind tajam. "Apa maksud kamu secara tidak langsung?"
Gralind menaruh telunjuk di bibir Aksa kemudian memintanya diam. "Papa banyak bicara akhir-akhir ini, bisa gak kita menikmati waktu sebagai ayah dan anak, setidaknya siang ini."
Hubungan macam apa ini, mereka berperan sebagai Ayah dan Anak tapi sama-sama saling menyimpan dendam, seperti ... Dendam adalah Dendam, tapi ikatan tetaplah ikatan.
"Kamu baru saja membuat onar dan kamu bersikap seolah kamu tidak melakukan apa-apa, kamu gila! Jawab Papa! Apa yang kamu maksud dari kalimat kamu!" tanya Aksa kepada Gralind.
"J-Jadi! Siapa orang dalam kamu dalam keluarga saya, Gralind!"
"Itu adalah pertanyaan satu juta dollarnya, dia jugalah yang menghancurkan'meeting Papa hari ini dan dia juga yang akan memberikan Papa kejutan malam ini."
Gralind berdiri, Sementara Aksa, dia kalut sendiri, diluar perkiraannya, Gralind menyimpan orang dalam untuk menghancurkan Aksa dari dalam, tapi siapa yang berperan untuk itu, Troy, tidak mungkin Troy, Albar bagaimana mungkin apalagi Tania, jadi siapa yang dimaksud Gralind, isi kepala Aksa benar-benar menyerah memikirkan ini.
__ADS_1
Aksa ikut berdiri, dia menghela napas panjang. "Papa terlalu bermain lembut dengan kamu, oke kalau itu mau kamu, kalau Papa menemukan orang itu, Papa akan pastikan kamu juga tidak akan selamat lagi."
"Hah! Lelucon akhir tahun! Saat itu terjadi Papa sudah terlambat karena kita berdua berbeda, aku sudah finish dan Papa baru memulai start, daripada Papa fokus ke aku, lebih baik Papa fokus kepada insiden yang akan terjadi selanjutnya."
"K-Kamu!"
DRT! Ponsel Aksa berdering, ia mengabaikan Gralind kemudian mengangkat telepon itu. "Ada apa?"
"Pak Aksa, maaf kami dari Tim Audit ingin mengabari bahwa ada kebocoran data keuangan dan kekurangan yang cukup besar dibagian akuntansi, dan semuanya masuk ke dalam rekening asing."
Aksa terdiam, dia melirik Gralind, Gralind menepuk pipi Ayahnya. "Lihat kan?" Aksa sadar, Perseteruan antara dirinya dan Gralind serta bebasnya Abraham hanyalah pengalihan isu buatan Gralind, agar Gralind bisa menaruh bom waktu dari dalam.
"Dor-" bisik Gralind kemudian meninggalkan Aksa yang masih kalut.
,
...----------------...
__ADS_1
Dor!